SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 222


__ADS_3

Helena berjalan menuju ke mobilnya. Mencari sang sopir tidak berada di dalam mobil. Kepalanya sedikit pusing, sebenarnya dia merasa kurang sehat. Akan tetapi Helena mencoba melawan kondisi tubuhnya. Dia yakin kalau diajak beraktivitas pasti akan sembuh dengan sendirinya.


Helena tidak tahu meminta tolong pada siapa. Area kompleks terlihat sepi, dia takut akan ada orang jahat. Seperti jambret, rampok dan sebagainya. Menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Beberapa kali dia menelepon sang sopir tetap saja tidak diangkat. Helena mengintip di balik kaca mobil. Tampak benda pipih berkedip-kedip di dekat setir mobil.


"Pantas saja tidak diangkat, handphonenya tinggal di mobil. Haduh, Parto mana sih. Bisa pingsan aku di jalan," keluh Helena.


Di depan butik Vira dan Elsa Berjalan menuju mobil. Tadinya ada sopir yang membawa mobil. Akan tetapi setelah sampai sang sopir di minta pulang karena Elsa mau bawa mobil sendiri. Dia juga mau bebas jalan-jalan bareng Vira.


Pandangan Vira beralih pada wanita paruh baya yang hampir ambruk. Dengan sigap dia berlari diikuti Elsa menuju ke tempat Helena berdiri. Elsa tadinya melarang Vira untuk mendekati sosok wanita tua tersebut. Menurutnya di tempat sepi banyak yang modus dan berakhir perampokan.


"Nenek tidak apa-apa?" sapa Vira.


"Kepala saya pusing sekali," keluh sang nenek.


"Sa, kamu cari air mineral botol," perintah vira.


"Dimana, Ra. Nggak ada kelihatan penampakan warung," Elsa mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekitar daerah butik.


Lingkungan butik yang berada di sekitar perumahan elit membuat Elsa kesulitan mencari air minum.


"Sa, coba minta air minum sama mbak yang di butik tadi,"


"Kamu aja, deh!" Elsa sudah malas bolak-balik ke butik tadi.


"Kamu jaga nenek ini, Sa. Aku cari bantuan dulu," Vira sudah berlari memasuki butik. Meminta segelas air putih.

__ADS_1


"Mbak,saya minta satu gelas air putih, di depan ada seorang nenek yang hampir pingsan,"


"Nenek-nenek, Nona?" nada suara terdengar kaget.


"Iya,"


"Neneknya bagaimana, Nona? Kalau dia pemulung jangan di tolong,"


"Eh, Mbak, Jangan sombong. Mentang-mentang statusnya pemulung anda pilih-pilih buat menolong, dia juga manusia sama seperti anda. Baru jadi karyawan saja dah sombong," Vira meninggalkan butik tersebut.


"Bagaimana?" tanya Elsa


"Mbaknya nggak mau kasih minum,"


Vira melihat ada rumah makan yang baru buka. Dengan cepat dia mendekati si pemilik rumah makan tersebut.


Si pemilik langsung mengambil segelas air putih yang diminta Vira. Bukan itu saja, sang pemilik rumah makan meminta Vira membawa Oma Helena ke warung makannya. Vira dan Elsa memapah Helena untuk di istirahatkan dalam rumah makan tersebut.


Setelah sedikit tenang, Helena pun di beri nasi Padang sama sang pemilik. Itu pun tadinya dia menolak dengan alasan sudah makan.


"Nenek harus makan, wajah anda pucat sekali," desak Vira.


"Dia orang kaya kayaknya, mungkin malu makan yang seperti ini," kata pemilik rumah makan.


"Nenek mau makan nasi Padang?" Helena mengangguk.

__ADS_1


"Pak pesan nasi Padang untuk tiga orang," Elsa ikut bicara.


"Terimakasih, Nak. Kamu baik sekali. Andai saja cucu saya tidak punya pilihan sendiri. Sudah pasti kamu akan aku daulat jadi cucu menantuku. Siapa nama kamu, nak?"


"Vira, Nek,"


"Wah, kamu sudah cantik baik hati pula. Semoga kamu murah rezeki ya, nak,"


"Terimakasih,Nek,"


Beberapa saat kemudian seorang lelaki berbaju setelan hitam berlari ngos-ngosan. Dia minta maaf kalau sempat tidak berada di tempat. Alasannya karena kebelet ke toilet.


"Bu Helena saya minta maaf buat ibu lama menunggu," Parto muncul menemui majikannya.


"Kamu kemana saja, Parto? saya tadi hampir pingsan, untung saja ada nak Vira. Kalau tidak saya sudah mati di tengah jalan,"


"Maafkan saya, Bu. Saya tadi ke toilet di seberang sana. Pas saya kesini ibu tidak ada. Saya masuk lagi ke toko, ternyata ibu sudah keluar. Tadi ada yang bilang lihat ibu masuk rumah makan. Makanya saya bisa sampai disini. Sekali lagi saya minta maaf,"


"Nenek pulang saja. Biar bisa istirahat di rumah. Saya antar nenek sampai ke mobil ya," Helena mengangguk sambil di tuntun oleh Vira menuju ke mobil.


"Terimakasih, Nak. Maaf nenek sudah merepotkan kamu,"


"Enggak, Nek. Aku tidak merasa di repotkan,"


"Saya berangkat pulang dulu. Kalau kita jodoh pasti bertemu lagi,"

__ADS_1


"Semoga, Nek," Vira menyalami Helena sebagai tanda hormatnya.


__ADS_2