SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 132


__ADS_3

"Selamat, Bu Tina. Anda saat ini sedang hamil dua minggu. Janinnya masih kecil jadi belum kelihatan. Tetap harus di jaga istrinya pak. Jangan banyak aktivitas dulu." Dokter Melati masih menggerakkan alat USG nya di perut Tina.


Suatu kebahagiaan yang tak terkira. Di usia pernikahannya baru satu bulan sudah di kasih kepercayaan menjadi calon orangtua. Setelah mendengarkan pengumuman dari dokter Melati, mereka pamit pulang.


"Terimakasih, dokter." Feri menjawab sambil sumringah.


"Ini saya kasih vitamin buat penguat kandungan. Setiap bulan harus di periksa rutin ya."


"Mas aku lapar." keluh Tina.


Feri tersenyum kecil. Tangannya berpindah ke perut istrinya yang masih rata. "Anak papa mau makan apa?" Feri bertanya sambil menciumi perut Tina.


Tina menggeliat geli karena risih. Pelan-pelan dia memindahkan tangan suaminya menjauh dari perutnya.


"Ih, mama nackal ya gangguin kita berdua. Mama tuh iri, sayang. Soalnya papa lebih sayang sama kamu sekarang." Feri melirik istrinya yang sudah berubah ekspresi.


"Iya, nak. Sebentar lagi mama bakal jadi gendut perut buncit. Pasti papa bakal malas di dekat mama." Feri mengecup kening Tina.


Ucapan Tina terdengar cemburu padahal Feri hanya bercanda saja. Perkataan Feri tentang dia lebih sayang sama anaknya ketimbang dengan dirinya. Bayangan Tina tentang perubahan fisiknya saat hamil dan setelah melahirkan.


Selama masa kehamilan dan setelah melahirkan, seorang ibu kerap menghadapi berbagai tantangan. Selain berdampak pada psikis, masa hamil dan pasca melahirkan juga berpengaruh terhadap fisik seorang ibu.


Seorang ibu hamil biasanya mengalami perubahan fisik, baik saat masa kehamilan maupun setelah melahirkan. Perubahan fisik tersebut dapat berupa melasma atau mask of pregnancy, stretch mark, linea nigra, dan bahkan obesitas.


Feri menyipitkan matanya kearah Tina. Tangan Feri mengacak rambut istrinya seperti pada anak dan ayah. Tina mengambil sisir di laci mobil. Feri kembali menghidupkan mobilnya.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Feri.


"Pulang." Tina masih di rundung kekesalan pada suami. Mau tidak mau Feri pun mengikuti kemauan istrinya. Daripada istrinya lebih parah ngambeknya.

__ADS_1


Selesai drama ambekan ibu hamil, Feri memutar mobilnya menuju sebuah restoran China. Perutnya sudah berdemo karena antrian panjang di rumah sakit tadi.


Tak sampai 15 menit dia memarkirkan mobilnya di parkiran cafe yang katanya milik seorang publik figur. Feri membuka pintu mobil supaya Tina bisa turun. Tapi nyatanya pasangan halalnya tidak mau turun dari mobil.


"Yasudah, kalau kamu masih mau di mobil. Aku duluan, sudah lapar. Sayang, kamu baik-baik ya sama mama. Papa makan dulu." Feri berjalan menjauhi mobil.


"Mas," sahut Tina.


"Iya," Feri berhenti tapi tidak berbalik.


"Jadi aku di tinggal?" rengek Tina suara di buat manja.


"Enggak!" Feri melipat tangannya berlagak sok cuek.


"Kan tadi aku minta pulang. Kok malah kesini? kamu nggak ada janjian sama perempuan-perempuan lain kan?"


Feri terkikik mendengar ucapan Tina. Kecemburuan bawaan hamil sepertinya mempengaruhi hormon istrinya. Ya kalau dia mau ketemuan sama perempuan, masa harus bawa istri.


"Oooo ... kalau tidak sama aku kamu pasti ketemuan sama perempuan lain."


"Enggak, kok. Suer di samber gledek, deh!"


Tetap saja balasan tatapan Tina masih tetap menyelidik. Lelaki itu merangkum wajah istrinya dengan gemas.


"Jika aku seperti yang kamu takutkan, aku ikhlas kalau kamu mau pergi dari hidupku. Kamu ingat dulu, Tina yang diam-diam memberikan aku perhatian saat SMA. Tina yang suka memandang aku dari jauh. Saat aku di kucilkan satu sekolah.


Aku senang dengan perhatian yang kamu beri."


"Mas,aku ..."

__ADS_1


"Aku tahu Tina, kamu pasti mau bilang tidak akan pernah meninggalkan aku. Terimakasih, sayang kamu sudah jadi istri yang baik buat aku. Kamu kasih hadiah terindah untuk awal pernikahan kita."


"Mas, aku cuma mau bilang kalau aku lapar." Tina melewati Feri masuk ke dalam Restoran.


"Bilang aja baper. Gengsi amat mengakui perasaan." batin Feri.


...****...


Mama Dewi duduk di teras belakang rumahnya. Pandangannya mengedarkan di setiap sudut ruangan. Kenangan demi kenangan muncul dalam ingatannya. Dulu rumahnya sangat ramai, Dira selalu bersama dua temannya Eka dan Ayu. Delia termasuk jarang main ke rumahnya. Kalau dulu Vira suka bawa Cindy, keponakan Arjuna. Sementara Feri lebih sering bersama Arjuna.


Dewi ingat setiap weekend rumahnya selalu ramai kumpul antara famili. Sanak saudara yang masih tinggal di sekitar Jakarta. Hanya hari Sabtu Dan Minggu mereka bisa berkumpul. Hubungan kekeluargaan mereka dulunya sangat baik. Tidak se- ricuh sekarang.


Mereka mulai memanas saat Andre ketahuan berselingkuh dengan Padma. Seorang wanita yang sudah seperti anaknya sendiri. Seorang wanita yang bertahun-tahun mengabdikan diri. Awalnya setelah Padma menghilang, Dewi memaafkan suaminya. Saat ini Dewi menganggap kalau Andre bisa berubah. Semua keluarga besar sangat marah. Cacian makian mereka timpakan pada keputusan Dewi. Sampai ada yang bersumpah tidak akan mau menginjakkan rumah Dewi kalau masih ada Andre.


Lagi-lagi dia berusaha legowo. Tak peduli apa nasihat orang.


Hingga saat Andre kepergok bersama Vira di kamar. Putri bungsunya yang masih berusia 9 tahun. Malapetaka yang merenggangkan hubungan kekeluargaan Agung Laksono, sang kakek.


"Ma," suara Vira membuyarkan lamunannya.


"Iya, kenapa, nak?" dewi mengalungkan kedua tangannya di pinggang putri bungsunya.


"Vira malam ini mau nginap di rumah Kayla, ya. Sama Elsa juga."


"Kayla? anaknya Khairul?" Vira mengangguk.


"Kasihan, ma. Dia tidak jadi menikah. Padahal sudah menghitung hari. Vira mau hibur dia."


"Vira, kamu jangan bergaul sama anaknya Khairul."

__ADS_1


"Kok? Emangnya kenapa?" Vira bingung dengan sikap mamanya.


"Pokoknya kamu tidak boleh pergi ke rumah Kayla. Titik!"


__ADS_2