
Saat senja atau sore hari jadi waktu paling favorit bagi sebagian orang. Menikmati pemandangan langit yang berubah kemerahan saat matahari tenggelam, memang sangat menenangkan. Terlebih, jika pemandangan itu dinikmati di tempat yang tenang seperti di gunung atau tepi pantai.
Senja yang muncul di sore hari menuju petang sering kali membuat kita melamun tanpa sadar. Saat melihat langit senja, kita sering terbawa suasana merenungi perjalanan hidup selama ini. Berbagai hal manis dan pahit yang pernah dilalui.
"Kenapa dengan senja, Mas?" tanya Dira sambil merebahkan kepalanya diatas pangkuan suaminya.
"Karena kamulah yang membuat senja itu menjadikan indah," Juna melabuhkan kecupan diatas dahi istrinya.
"Masa? dulu ada yang pernah bilang begini? Delia itu senja yang terindah turun dari langit. Dan sekarang aku atau pengalihan isu,"
"Sewaktu aku bilang begitu bagaimana perasaanmu?" Juna balik bertanya.
"Sakit tapi tidak berdarah, tapi aku cuma bisa berharap di pertemukan seorang lelaki yang bisa menggantikan kamu. Nyatanya, pesona kamu kalah dengan para lelaki itu? sampai aku bertanya kenapa harus Arjuna, kenapa bukan Antara yang kata kak Feri suka sama aku, kenapa bukan Wawan yang lebih dewasa, dan kenapa sosok Rian tetap tidak bisa menggeser seorang Arjuna? why?"
"Karena di sini," Juna menunjuk ke dada istrinya.
"Sama seperti yang kamu rasakan. Sewaktu Delia pulang aku juga berpikir bisa membenahi hubungan kami. Tapi kenapa aku merasa sakit saat kamu di bohongi Wawan, kenapa aku bahagia saat kamu putus dari Rian. Itu karena aku sadar kalau cinta ini buat seorang Dira bukan Delia," Dira tertawa kecil.
"lalu waktu jadi Sandi kamu menikmati cinta yang di berikan Naura, kan?"
"Tidak. Aku menghormati Naura sebagai ibu dari Jimmy saat itu. Saat masih jadi Sandi, ada rasa tanggung jawab pada Jimmy, meskipun aku merasa tidak dapat chemistry para Naura ataupun Jimmy,"
"Oooo...."
"Kok gitu sih tanggapannya?"
"Terus aku harus bagaimana, Mas?"
__ADS_1
"Terus harusnya begini," Juna menarik dagu istrinya. Namun Dira melepaskan diri dari suaminya.
"Malu, Mas," Dira mengedarkan pandangannya ke setiap sudut pantai. Jangan sampai hanya karena asyik berdua, mereka lupa keberadaan ketiga anak mereka.
Ketiga, Setelah Mentari usia dua tahun, Dira kembali di percayakan hamil kembali dan melahirkan anak lelaki yang Muhammad Angkasa Bramantyo. Sekarang usia Fajar sudah tujuh tahun, sementara Mentari berusia enam tahun dan Angkasa berusia empat tahun.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Aku cari Fajar, Mentari dan Angkasa, Mas. Nanti mereka mainnya jauh. Kan kalau jauh susah di pantau,"
"Astaga, Mereka tadi sama mama dan Om Dirga. Kamu tenang saja. Lagian Fajar sudah kelas satu SD, dia bisa .... Yang, aduh gini nih kalau anak nomor satu dan suami jadi nomor terakhir," omel Juna. Lelaki itu mengikuti arah langkah istrinya.
Ada Harry dan Hermina, ada Andara putri tunggal Vira yang berusia Empat tahun. Sebelumnya bayi pertama yang di kandung Vira meninggal dunia setelah beberapa menit lahir. Tidak berapa lama setelah satu tahun kosong mereka di beri kepercayaan kembali. Itu berbarengan dengan kehamilan ketiga Dira. Bahkan usia Andara dan Angkasa hanya berkelang satu jam. Andara Lebih dulu lahir di susul Angkasa.
Dewi Savitri duduk memangku Andara. Gadis kecil itu sangat lengket sama Oma nya. Di samping Dewi ada Dirga dan juga Helena yang ikut bergabung. Gadis kecil sibuk dengan headset yang menempel di telinganya. Kepalanya di geleng-geleng sendiri, sambil berkata "Saranghaeyo, Saranghaeyo,"
"Dia seperti Vira, persis sekali kelakuannya sama mamanya. Dulu waktu dia masih taman kanak-kanak, make up ku sering di umpetit Vira. Terus pas pulang sekolah aku periksa tas nya. semua make up ku ada di tas. termasuk parfum yang saat itu limited edition.
Di banding Dira yang cuek apa adanya, Vira malah lebih modis dari kakaknya. Dulu dia pernah minta di belikan gaun ulang tahun mirip pengantin. Eh terus Padma ngadu kalau Vira pakai baju itu di rumahnya. Dan Danu di jadikan pangerannya,"
"Sekarang mereka bukan lagi pangeran dan puteri, melainkan raja dan ratu yang akan selalu bersama sampai maut memisahkan," kata Deka.
Memang sudah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya yang telah merawat serta mendidik dengan penuh kasih sayang mulai dari kecil hingga beranjak dewasa. Kebahagiaan yang diharapkan orang tua dari anak-anaknya tidak semuanya terfokus pada soal materi saja. karena tidak semua orang tua menilai bahwa kebahagiaan terletak pada materi. Ada hal lain yang jauh lebih berharga yang pastinya lebih bernilai dibandingkan dari sebuah materi.
Dewi memandang para cucunya yang tengah bermain pasir pantai. Tampaknya senja sebentar lagi akan berganti malam. Dira dan Juna, Tina dan Feri, mereka memerintahkan anak-anaknya untuk masuk ke dalam Vila.
Tapi dimana Pandawa dan Vira ....
__ADS_1
"Kamu suka?"
Vira memandang takjub apa yang dia lihat. Hamparan laut diatas kapal yacht tempat dia berpijak saat ini. Rasa takjub dengan bentuk ciptaan Allah terus berdecak dalam pandangannya. Mereka berjalan menuju ujung kapal lalu duduk berhadapan. Senyum merekah di wajah keduanya.
"Mas," Vira masih tidak percaya apa yang dia lihat.
"Ini hadiah untuk kamu, Sayang," Bisik Dawa.
"Aku? kan aku tidak sedang ulang tahun, Mas,"
"Untuk orang yang selalu membangkitkan semangat kerjaku. Orang yang selalu bawel supaya tidak lalai dalam bekerja, dalam menjadi ayah dan suami yang baik. Ya, walaupun ada yang pernah ngambek sampai nggak mau pulang dari rumah mamanya. Tapi itulah proses sayang. Bumbu dalam kehidupan," Dawa melabuhkan kecupan di dahi Vira.
Vira berdiri di kabin kapal menatap buih air laut yang bergelombang. Untung rambutnya pendek sebahu sehingga Pandawa bisa puas memandang punggung istrinya yang sedikit terlihat. Saat ini Dawa belum bisa banyak menuntut cara berpakaian istrinya. Dawa paham istrinya masih muda, yang penting Vira tidak berpakaian sexy di depan banyak orang.
Vira menyapu pandangan ke arah laut lepas. Hamparan laut membentang luas dengan siluet sinar matahari membuat air laut berkilau tanpa disadarinya bentangan tangannya ikuti bentangan tangan lain menutupi jarinya. Bentangan yang berubah menjadi pelukan menutupi perutnya. Mereka saling menatap ditambah dengan senyuman mengukir di wajah mereka.
Dunia serasa milik berdua, Ya teman-teman.
"Pak kita kembali ke cottage, sudah mau Magrib," titah Dawa pada orang yang membawa kapal kecil mereka.
Jika semesta merestui kami, Tuhan pasti memuluskan semua yang kita jalani. Terkadang, ekspektasi dalam menjalani kehidupan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal tersebut membuat kita merasa kecewa.
Selama hidup di dunia, setiap harinya kita selalu menerima rezeki dan nikmat dari Tuhan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selalu bersyukur. Sebab dengan mengucapkan syukur, rezeki dan nikmat yang kita terima akan lebih berkah. Dengan rasa syukur, kita juga akan lebih merasa cukup sehingga dijauhkan dari perasaan iri dengki saat melihat orang lain terlihat lebih.
Terkadang, ekspektasi dalam menjalani kehidupan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal tersebut membuat kita merasa kecewa. Kekecewaan yang berlarut-larut dapat mendorong kita ke dalam keputusasaan atau kehilangan semangat.
Namun, kamu harus mengingat, kendati apa yang kamu rencanakan tidak selamanya berjalan lancar, yakinilah Tuhan akan memberikan semuanya pada waktu yang tepat. Itu semua karena segala rencana yang Tuhan miliki pastil akan lebih baik dari segala rencana yang kita susun.
__ADS_1
Apa pun yang terjadi dengan hidupmu saat ini, yakinlah Tuhan telah merencanakan hal terbaik untuk kita. Jika tidak untuk saat ini, sesuai waktu-Nya, kita mendapatkan hal terbaik dari-Nya.