
Ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang tidak pernah berhenti mengucapkan bait-bait doa indah kepada anaknya. Menahan segala rasa sakit tanpa mengeluh sedikit pun demi menjaga dan memperjuangkan kehidupan anaknya.
Terkadang, ia bahkan lebih peduli bagaimana kondisi anaknya daripada dirinya sendiri. Berhati tulus dan mulia tiada kata lelah demi sang anak tercinta. Tidak jarang sang anak membuat sang ibu sedih dan terluka. Namun, kata maaf masih saja mudah diberikan oleh sang ibu
Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama.
Tiada orang yang lebih menyayangi dirimu kecuali ibumu, tiada yang paling peduli dan khawatir tentang keadaanmu kecuali ibumu, ia lebih sering mengucapkan namamu di dalam doanya daripada dirinya sendiri. Kasih sayang seorang ibu tiada tandingannya.
Rasa tulus dan pengertian kepada anaknya yang selalu berusaha melakukan apa pun demi kebahagiaan dan keberhasilan anaknya. Tidak peduli walau panas terik matahari ia lewati demi menyekolahkan anak-anaknya. Di balik senyuman yang manis melihat anaknya berhasil tersimpan luka-luka dan air mata untuk menuju titik keberhasilan anaknya.
Salma duduk di sudut ranjang. Menatap sang cucu yang tertidur lelap di tempat tidurnya. Seharian cucunya rewel, sementara Ayu keluar rumah lama pulangnya. Setahu Salma, Ayu masih memberikan ASI untuk Salsa meskipun sudah masuk tahap MPASI. Usia Salsa sudah hampir masuk tujuh bulan. Perkembangannya lumayan pesat.
"Cucu Oma sudah MPASI, sebentar lagi bisa belajar berjalan. Kalau mama dan papa kamu jadi pindah Oma bakal kesepian. Tidak punya hiburan lagi. Oma bakal kangen sama kamu, Nak.
Eh, tapi Oma sama Om Juna bakal sering main tempat kamu. Apalagi katanya mama kamu sudah mau kerja lagi. Oma pasti banyak waktu main sama kamu." Salma mengecup kening sang cucu.
Salma hendak mengembalikan Salsa ke kamar Ayu. Di depan pintu kamar dia berpapasan dengan Tio yang baru saja pulang.
"Sudah pulang, nak" sapa Salma pada menantunya.
"Sudah, Ma." Tio memandang Salsa dalam gendongan mertuanya.
"Salsa baru tidur apa sudah lama, Ma?"
"Belum lama juga, mama dengar Ayu sudah pulang. Makanya mama mau kasih Salsa ke kalian. Soalnya Salsa sempat rewel, mama pikir dia butuh ASI. Nggak lama Salsa tidur. Mama rasa dia rewel tadi karena mengantuk"
"Ma, ..." Tio menatap iba kearah mertuanya.
Sebenarnya dia tidak tega pindah meninggalkan ibu mertuanya. Perempuan yang baik mau menerima dirinya sebagai menantu. Beda dengan papa mertuanya yang masih memandang dirinya sebelah mata hingga akhir hayatnya.
Sebelumnya Tio pernah diajak Arjuna untuk kerja di pabrik teh mereka. Tapi papanya bilang tidak ada lowongan, Tio malah kerja di showroom mobil, terakhir kerja di salah satu pabrik rokok, berkat bantuan tuan Shabab.
Itupun belum bisa membuat Tio di anggap menantu bagi Johan.
__ADS_1
"Ma, aku bawa Salsa ke kamar, ya. Ayu ada kan di dalam?"
"Iya, nak. Takutnya Salsa bangun dan cari mama dan papanya."
"Ma,..." Tio kembali memanggil mama mertuanya.
"Iya, Nak"
"Terimakasih sudah mau menemani Salsa. Tio minta maaf kalau selama ini sering menyusahkan mama."
"Kok kamu ngomong begitu, mama tidak pernah merasa di susahkan kalian. Mama malah senang kalau semua anakku tinggal di dekat. Apalagi sejak papa kalian meninggal dunia. Mama merasa kesepian sekali.
Apalagi saat Juna hilang dalam kecelakaan. Mama merasa semakin hampa, hanya kamu dan Ayu yang menjadi teman mama di usia senja ini."
"Ciiih... Juna lagi Juna lagi! bisa kah mereka tidak melulu membawa Juna dalam setiap pembicaraan." batin Tio.
Setelah Tio masuk kedalam kamar membawa Salsa. Salma pun duduk di teras, memandang langit yang mulai menguning, matahari pun sudah tak nampak lagi.
Salma hanya tersenyum memandang cahaya kemerahan mulai menghitam sedikit demi sedikit. Kakinya terhenti saat mendengar pembicaraan anak nya di kamar. Sungguh tak ada maksud dia mau menguping. Tapi arah pembicaraan mereka yang membuat dia tetap berdiri.
"Jangan keras-keras, nanti kalau mama dengar aku jadi tidak enak." kata Tio.
"Ya nggak apa-apa, mama tahu juga dia nggak akan melarang. Toh kamu katanya mau mandiri kan, tidak mau di katakan bersaing sama kak Juna. Sekarang kesempatan itu terpampang nyata, Mas. Tugasku sebagai istri hanya bisa mendukung kamu. Asal jangan melakukan tindak kriminal saja."
"Tapi uang nya belum cukup sayang. Aku hanya mampu di perumahan murah yang tidak jauh dari sini. Kan kalau dekat bisa main sama mama. Kalau perumahan Ambar itu jauh, Yu. Masih sepuluh kilometer dari rumah ini."
"Kalau ambil rumah dekat buat apa kita pindah, Mas. Nggak dapat suasana baru. Tetap saja ketemu sama orang-orang disini. Aku pengen suasana baru, Mas. Sama orang-orang baru pastinya." Ayu sedikit bersuara lantang. Tio meminta istrinya pelan, mengingat anak mereka sedang tidur.
"Sehabis Magrib, mas Juna minta kita ke rumahnya" jawab Ayu sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Kamu ngadu apa sama mas Juna?"
"Nggak ada, Mas. Aku juga tidak tahu. Lebih baik kita datang kesana saja. Siapa tahu kak Juna bahas soal lain"
__ADS_1
Salma langsung masuk ke dalam kamar saat pintu kamar di buka. Terdengar suara pintu kamar mandi di buka. Kalau memang anak dan menantunya mau pindah dia bisa apa. Sudah sepatutnya mereka mandiri.
Tapi begitu mendengar Ayu ingin lokasi yang jauh dari rumahnya. Kenapa rasanya sakit sekali, seakan jika dekat akan menambah beban anaknya. Salma tidak menyangka pemikiran Ayu seperti itu.
"Ma," terdengar suara Tio dari luar.
"Iya," Salma hanya bisa menjawab dari dalam. Dia malu menampakkan wajah sembabnya pada menantunya.
"Nanti sehabis Tio dan Ayu mau ke rumah kak Juna. Kami titip Salsa, Ma."
"Iya, Mama saja yang temani Salsa. Tapi gimana kalau Salsa bangun cari mama dan papanya. Emang ada apa di rumah Juna?"
"Kami juga tidak tahu, Ma. Kak Juna cuma bilang suruh ke rumah, penting katanya." kata Tio.
"Yasudah, kalau begitu. Mama mau sholat dulu" Salma merasa tidak ada jawaban dari Tio. Dianggapnya menantunya sudah tidak di depan kamarnya.
Setelah sholat Magrib, Salma membuka tabungannya. Teringat kalau sang menantu belum cukup uang untuk membeli rumah sesuai keinginan Ayu. Entah cukup atau tidak Salma merasa sudah membantu anaknya.
"Yu," sapa Salma saat menyiapkan makan malam untuk anak dan menantunya.
"Iya, Ma. Kita makan dulu, yuk. Mama tadi sore sempat masak gulai pindang ikan. Itu ada lalapan kesukaan Tio. Makan dulu, yuk. Baru pergi ke tempat Juna"
"Nanti saja, Ma. Keburu malam nantinya."
"Tapi suami kamu baru pulang, Lo. Dia pasti belum makan."
"Assalamualaikum," suara sapaan dari depan pintu.
"Itu kayak suara kak Juna. Kok dia kesini, ya." tebak Ayu.
"Biar aku yang lihat ke depan"
"Kak Juna, kami baru saja mau ke rumah" sapa Tio.
__ADS_1
"Dira bilang pengen main sama mama. Hmmm ... mama buat pindang ya. Kangen banget sama pindang buatan mama. Yuk sayang kita ke dalam." ajak Juna.