
Flashback on
POV mama Dewi
"Tante, aku mencintainya. Aku bahkan sedang menyemai benih hasil cinta kami." Tidak seperti gadis yang lainnya, yang sedih menyadari ada kehidupan baru dalam tubuhnya. Padma bahkan terlihat bahagia mengabari hubungannya dengan lelaki itu. Entah lelaki mana yang sudah merenggut milik anak angkatku.
"Padma, kenapa kamu mudah memberikan sesuatu yang belum halal. Kamu itu perempuan yang baik, sukses. Tante memang bukan orangtua kamu tapi kami sudah menganggap kamu seperti keluarga." Itu nasihat pertama yang aku berikan padanya.
Selama ini aku tidak pernah mau ikut campur dengan urusan asmaranya. Karena bukan hak ku mengatur kehidupan pribadinya. Selama dia bekerja dengan baik, tidak mengusik keluarga kecilku itu sudah cukup. Bahkan meskipun aku memperlakukannya seperti anak sendiri, aku tetap memberi batasan agar tidak memasuki ranah pribadiku.
Padmawati itu yang ku tahu namanya. Dulu dia datang ke kantor melamar kerja. Melewati seleksi dari beberapa pelamar. Aku sudah suka sama dia saat memperlihatkan hasil kerjanya. Sama seperti saat Mas Andre kerja di kantorku. Orangnya lincah dan cekatan.
Seperti biasanya aku selalu menitipkan Vira pada Padma. Bukan karena tidak mau mengurus. Tapi sebagai seorang direktur kesibukan sangat padat. Suamiku adalah wakil direktur. Tapi rutinitas kantor tak terlalu banyak. Biasanya mas Andre jam 2 keatas sudah pulang ke rumah. Menemani ketiga anakku belajar atau mengulang pelajaran di sekolah tadi.
Saat ini aku sudah berada di sebuah lobby perusahaan. Diikuti Padma sebagai sekertarisku. Kami berencana menemui klien untuk urusan kerja. Panggilan alam ku membuat langkah kaki meninggalkan meja di lobby. Aku pamit sama Padma untuk ke toilet.
Baru saja aku tinggalkan ke toilet, ku temukan Padma berbincang dengan lelaki yang aku kenal. Ada rasa was-was pada sekretarisku. Jangan-jangan dia ini adalah mata-mata lelaki itu. Lelaki yang dulu banyak membantuku di perusahaan. Ternyata nikam perusahaan dari belakang.
"Tapi, Om kenapa harus aku?"
"Kan memang itu tujuan kita, kan? kalau nggak seperti itu rencana kita jalan di tempat."
"Om tahu kan kalau Tante Dewi mau membiayai semua dana sekolah untuk Danu. Tante Dewi juga mau menjodohkan Danu dengan salah satu anak perempuannya. Jadi tanpa rencana itu kita sudah sampai pada tujuan utama. Aku lihat Danu sayang sama Vira. Lagian Tante Dewi mana dia tahu kalau aku menjalin hubungan dengan suaminya."
"Keren. Tidak salah aku memasukkan kamu dalam perjalanan itu. Dewi tidak curiga kan sama kamu kan?"
__ADS_1
Aku mendengar jelas percakapan itu. Bahkan sangat jelas. Mereka yang asyik tanpa menyadari kehadiranku. Sakit rasanya, bagai di tusuk jarum. Rasanya pedih sekali. Perempuan yang aku anggap seperti anak sendiri ternyata antek-antek Irul.
Aku langsung menelepon salah satu staf kepercayaan melalui telepon model lama. Karena zaman itu belum ada telepon genggam seperti sekarang.
"Pak Januar, saya minta cabut semua akses beasiswa untuk Danu, adiknya Padma. Kalau bisa tutup akses dia di terima sekolah favorit yang lain. Dan bilang sama pihak HRD menyiapkan surat pemecatan Padma tanpa pesangon. Informasikan pada semua klien kita agar Padma tidak di terima di perusahaan manapun." Aku rasa sudah cukup untuk memberi pelajaran pada Padma.
Dan pagi esoknya Padma datang ke rumah dengan wajah bersimbah air mata. Bersujud di kakiku.
"Tante, kalau memang aku ada salah selama bekerja tolong tegur saja. Selama ini aku merasa pekerjaanku baik-baik saja. Tapi kenapa aku di pecat. Salahku apa?"
"Apakah kamu bekerjasama dengan Irul? kalian sekongkol untuk menjatuhkan perusahaan saya. Kamu mau mengelak apalagi? Saya sudah dengar semuanya. Bahkan hubungan kamu sama suami saya pun sudah terendus."
"Tante salah paham. Itu tidak seperti yang anda kira. Saya tidak kenal dengan lelaki yang anda sebut."
"Kamu pikir saya bisa di bohongi. Saya dengar dengan jelas apa yang kalian bicarakan. Kalian tega ya sama saya. Setelah apa yang saya berikan pada kamu dan adikmu. Ini balasannya? Sekarang kamu keluarga dari rumah saya. Saya muak pada pengkhianat seperti kamu."
Santai dia bilang baik-baik saja. Dia lupa beberapa bulan ini perusahaan mengalami kemerosotan. Akibat perbuatan mas Andre, kalau memang iya dia memakai uang perusahaan untuk perempuan ini. Aku pastikan dia akan menerima ganjarannya. Ku buat hidupnya tidak akan tenang. Aku jamin itu.
"Oke, kalau itu keputusan Bu Dewi. Saya terima, tapi anda jangan lupa, dalam perut benih ada anak dari suami anda. Jika terjadi sesuatu pada anakku. Saya bersumpah akan ada balasannya. Bisa jadi anak anda akan mengalami hal yang sama dengan. Suatu saat akan ada orang yang datang membalas semua yang kalian lakukan padaku! INGAT ITU TANTE DEWI APA YANG ANDA LAKUKAN PADA SAYA! APA YANG ANDA LAKUKAN PADA ADIK SAYA! DAN APA YANG SUAMI ANDA LAKUKAN PADA SEMUA WANITA AKAN ADA BALASANNYA!"
Flashback off
Vira mendengarkan cerita dari mama Dewi tentang awal mula hubungan Padma, Irul dan Danu. Hanya saja dia masih bingung, kenapa mamanya menyembunyikan tentang Danu pada dirinya.
"Kenapa mama takut sekali aku di dekati Danu? terus apa ini ada hubungannya dengan Kayla? apa itu yang membuat mama melarang aku dekat dengan Kayla?" Dewi mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu apakah si Danu itu pernah menemui mama? sehingga mama takut sekali aku dekat dengan dia."
Dewi mengeluarkan sebuah photo Danu di masa sekarang. Vira membulatkan matanya saat tahu siapa Danu sebenarnya.
"Apa aku bilang, ma! saat dia pertama kali masuk ke keluarga kita. Aku sudah punya feeling tidak enak." cerocos Vira.
"Apa karena itu mama menceraikan papa?" Dewi menoleh kearah Feri. Seakan minta pendapat dari anak sulungnya.
"Sebenarnya ini yang mau kami ceritakan sama kamu, Vira." Jelas Feri.
"Mama menceraikan papa. Karena ..." Feri masih belum yakin reaksi Vira. Dia juga takut adiknya menjadi trauma seperti yang pernah dialami Dira.
"Karena apa, kak?"
"Karena papa mau melecehkannya kamu, nak. Bagi mama kalau dia selingkuh dengan wanita masih bisa tidak masalah, asalkan jangan sama anaknya sendiri." Vira kaget mendengar cerita kakak dan mamanya. Sejahat itukah papanya selama ini.
Vira berjalan mundur. Masih tidak percaya apa yang di jelaskan mamanya. Dia hanya ingat papanya pergi dari rumah entah apa sebabnya. Bahkan masih sempat hendak melakukan KDRT pada mamanya. Tidak disangka kalau dialah yang membuat kedua orangtuanya bercerai.
"Pantas saja mama selama ini lebih istimewa kak Dira daripada aku. Karena aku yang sudah buat mama cerai dari papa. Aku lah batu sandungan di rumah."
"Kamu kenapa bicara seperti itu Vira. Mama melakukan ini karena dia mau menyelamatkan kamu dari kelakuan papa. Bagi seorang ibu biarlah dia kehilangan suami dari kehilangan anaknya.
Dan kamu menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Seharusnya kamu bersyukur karena papa belum sempat menjamah kamu."
Kaki Vira bertekuk lutut di hadapan mama Dewi. Ada rasa bersalah karena sudah marah-marah pada mamanya.
__ADS_1
"Maafkan Vira, Ma. Vira tidak ada maksud bikin mama kecewa. Aku hanya merasa berdosa karena menjadi penyebab mama dan papa bercerai." Mama Dewi langsung memeluk Vira dengan lembut.
"Jadi kamu yang bernama Danu, Pandawa. Aku pastikan kamu tidak bisa masuk ke keluargaku." Batin Vira.