
Setelah selesai fitting gaun, Vira diminta mama Dewi untuk datang ke kantor. Sebenarnya dia malas untuk pergi ke kantor. Mending di rumah, banyak yang bisa dia lakukan termasuk bersembunyi di balik selimut.
Elsa memilih tidak ikut Vira, alasannya dia pun punya acara lain bersama mamanya. Keduanya pun berpisah di depan kantor PUTRA NUSA. Vira memandang gedung menjulang tinggi. Sebuah gedung di tengah kota yang menjulang tinggi menunjukkan kemewahannya. Vira memandang gedung tersebut hingga puncaknya.
Kakinya melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Di sambut sapaan ramah dari dua satpam. Mereka mempersilahkan Vira masuk, kebetulan ruang kerja mama dan kakaknya berada di lantai 5. Sedangkan lantai tujuh dan enam adalah lobby serta rooftop.
"Nona Savira silahkan masuk, sudah di tunggu sama ibu Dewi dan keluarga calon suaminya," kata salah satu staf.
"Bareng saja, Vira," suara bariton muncul di belakangnya.
"Iya," Vira menanggapi lelaki itu dengan sikap datar.
"Terimakasih," ucapnya saat Vira menuntun masuk ke lift.
Di dalam lift hanya mereka berdua. Saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Keduanya hanya membuang muka ke lain arah.
"Kamu apa kabar, sapi,"
"Bisakah tidak memanggil dengan nama itu?"
"Tidak. Itu nama kesayangan yang aku beri untuk kamu,"
"Aku orang, bukan hewan!"
"Iya aku tahu, kok. Cuma ya itu aku suka manggilnya,"
"By the way, kenapa sendirian. Biasanya di kawal sama om Dirga,"
"Tadi aku bertemu teman SMA. Ternyata dia kerja disini sudah lama. Hanya saja dia jadi OB,bukan staf. Kami mengobrol lama, semacam reuni,"
"Oh,"
JEGLEEEKKK!
Baik Vira maupun Pandawa kaget mendengar suara entah dari mana. Seketika life berhenti dan lampu pun ikut padam. Vira yang berdiri di sudut spontan menahan tangannya di dinding lift. Belum lama dia dengar berita wanita yang jatuh dari lift di bandara. Ketakutan itu muncul bersamaan dengan nafasnya sesak.
"Kak," Vira memanggil Dawa. Rasa panik mendera.
"Iya, aku disini," suara itu terasa dekat.
"Ini kenapa bisa begini?"
"Aku juga tidak tahu, Vira," Dawa memencet tombol open tapi tidak bisa di buka.
__ADS_1
"Ini gimana sih, bisa macet kayak gini," omel Vira.
"Ya, namanya juga mesin, adakalanya dia punya problem. Kayak manusia kadang sehat kadang sakit,"
"Mama, Vira takut," suara isak tangis terdengar.
Dawa meraba dinding lift mencoba menenangkan Vira yang masih panik.
"Mama," Dawa langsung mendekap Vira.
"Tenang ada aku disini,"
Sambil menunggu petugas datang kedua duduk berdampingan. Berbarengan dengan degupan jantung yang berdetak sangat kencang. Dawa masih menggenggam erat tangan Vira. Itu pun dia lakukan itu menenangkan Vira agar tidak cemas.
"Jadi kak Danu juga di undang mama?"
"iya, aku diundang Tante Dewi. Sebenarnya papa yang diundang. Tapi kata papa aku wajib ikut karena ini juga melibatkan kita sebagai anak-anaknya. Kamu habis dari mana?"
"Dari butik bareng sama Elsa. Fitting gaun buat acara mama," ucap Vira sambil memijit kakinya.
"Kaki kamu pegel? sini aku pijitin," Dawa langsung bergerak menuju ke pergelangan kaki Savira.
"Eh, emang kakak bisa?"
"Bisa, dong. Begini-begini saya pernah jadi OB terus belajar mijit dari teman sesama OB. Waktu itu saya masih kerja sambil kuliah di perusahaan om Irul," Dawa mengenang masa-masa susahnya dulu.
"Ehmmm .. kenapa tiba-tiba bahas Kayla?"
"Lagian kenapa kalau aku nanya Kayla? bukannya kakak dan dia pernah menjalin hubungan bahkan hampir mau menikah. Kakak pasti ingin tahu bagaimana kabar Kayla,"
"Enggak, aku cuma takut kamu masih benci sama aku terkait soal aku dan Kayla. Iya kan?"
"Kenapa aku harus benci? bukan urusan aku juga!" Vira membuang muka.
"Tapi wajah kamu kayak sewot gitu? nah, jangan bilang kamu cemburu sama Kayla,"
"Enak saja!" Vira langsung bangkit dari posisi duduk.
Dan lagi-lagi ...
JEGLEEEKKK!
Seketika tubuh Vira langsung ambruk bersamaan tubuhnya jatuh di pangkuan Dawa. Kedua mata saling bertabrakan. Lama mereka terdiam meresapi momen yang terasa mendadak. Tanpa sadar tangan Vira bertumpu pada leher Pandawa. Meskipun kakinya belum kuat berdiri, anehnya dia bertahan di saat menggendong Savira.
__ADS_1
Ya Allah kenapa aku merasa dia setampan ini.
Ah tidak Vira, jangan mikir kayak gitu! ingat kalau dia bakal calon kakak tirimu! batin Vira.
Kenapa aku jadi seperti ini!
Ya Allah jantungku rasanya berdetak kencang. Sayangnya kami tidak berjodoh. batin Dawa.
Keduanya masih fokus dengan pikiran masing-masing. Vira semakin erat mengalungkan tangannya di leher Dawa, sedangkan Danu melayangkan kecupan di dahi Vira.
Dawa menurunkan tubuh Vira hingga bersandar di dinding lift. Dekapan pinggang semakin erat, keduanya pun saling bertukar saliva semakin dalam. Vira lupa rasa kesalnya pada Pandawa, lupa akan status mereka bakal jadi kakak adik.
Vira terkesan menikmati apa yang di berikan Pandawa. Seakan dia pun menyambut apa yang di rasakan lelaki. Seakan dia juga merasa hal yang sama.
"Please, menikahlah denganku. Jangan terima lelaki pilihan Opa Han," ucap Dawa lirih.
TIING!
"Non tidak apa-apa?" suara sekuriti mendapati pemandangan gratis dua sejoli.
Terlebih Feri melihat adegan keduanya membuat lelaki itu tersulut emosi.
"Sini Kamu!" Feri menarik kasar Pandawa keluar dari pintu lift.
"Kak!" Vira melerai sang kakak yang sudah tersulut emosi.
"Kamu diam! kakak akan kasih pelajaran sama lelaki itu!"
"Kak Feri,Please!" pekik Vira.
Feri tadinya akan menghajar Dawa kini berganti menarik adiknya jauh dari lelaki itu. Kakak mana yang marah melihat lelaki lain mencumbu adiknya. Pertama kalinya dia melihat kemarahan besar dari kakaknya. Sungguh kejadian dalam lift tadi di luar kendalinya.
Feri mendorong Vira ke ruangan lain. Sekaligus mengunci pintu. Meluapkan amarah pada sang adik.
"Kakak," suara Vira lirih.
"Bisa-bisanya kamu mau di perlakukan seperti itu sama dia,"
"Maaf," Vira hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maaf, katamu! untung saja tadi cuma sekuriti yang lihat. Coba kalau pegawai lain bisa di viralkan. Dan siapa yang kena imbasnya. Mama, Vira! Mama!"
"Tapi itu juga gara-gara lift macet kak. Kejadiannya juga tidak terduga,"
__ADS_1
"Jadi karena itu kalian bisa bebas melakukan hal yang tidak senonoh tadi,"
"Itu bukan tidak senonoh, kak," Vira masih bersikeras membantah setiap ucapan Feri.