
Langit tampak menghitam pertanda hujan akan turun. Suara gemuruh bergantian dengan kilat serta halilintar berkelebat di langit. Tak berapa lama hujan yang rintik-rintik pun turun membasahi bumi. Belum habis rintik nya, air dari langit pun membasahi bumi dengan deras. Di dalam seorang wanita paruh baya baru mematikan gawainya. Majikannya mengabari kalau operasi Dira berjalan dengan lancar. Hanya menunggu Dira siuman saja.
Bi Inah sudah bekerja dengan keluarga Dewi Savitri sejak Dira usia 10 tahun. Dia juga saksi bagaimana kelakuan suami majikannya suka main tangan pada istrinya. Dia juga saksi bagaimana saat pak Andreas yang hampir menodai putri bungsunya, Savira. Untungnya kepergok sama Feri. Vira saat itu masih sembilan tahun, tentu saja belum paham apa yang dilakukan papanya salah.
Di mata Bi Inah keluarga Dewi Savitri itu orang baik. Bi Inah dulu bekerja di kediaman Burhanuddin Harahap, Om nya Dewi. Dari Burhan, Inah diminta berkerja di kediaman keponakannya. Dimatanya, Burhan juga orang baik. Sama baiknya dengan Dewi. Hanya saja karena Burhan seorang duda tanpa anak. Serta di rumah hanya dirinya dan salah seorang sopir saat itu, membuatnya sedikit takut. Rumah sebesar itu hanya mereka saja yang tinggal. Burhan jarang dirumah. Serta sopirnya juga pasti ikut majikannya otomatis hanya dia saja di rumah. Saat Burhan menawarkan dirinya untuk bekerja dirumah keponakannya tentu saja tidak menolak.
Kembali ke masa sekarang. Bi Inah yang sedang berada di kamarnya mendengar lengkingan bel rumah. Dengan tergopoh-gopoh bi Inah melihat siapa yang datang melalui layar monitor. Salivanya di telan kembali.
"Polisi?" batinnya.
Bi Inah membuka pintu menyambut tamu yang berjumlah tiga orang. Walaupun dia juga penasaran ada apa pasukan berseragam coklat itu datang kerumah majikannya.
"Assalamualaikum," sapa salah satu petugas kepolisian yang bername tag "Febriansyah". Pria manis yang wajahnya mirip aktor India Ajay Devgan tersebut menyapa bi Inah dengan ramah.
"Waalaikumsalam, pak." jawab Bi Inah dengan santai.
"Selamat sore," rombongan berpakaian coklat pun menyapa bi Inah yang membukakan pintu.
"Sore, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Inah.
"Benarkah ini kediaman Bu Dewi Savitri?" tanya salah satu petugas kepolisian.
"Iya, benar. Ini rumah majikan saya. Ada apa, ya, pak?" tanya bibi masih penasaran.
"Kami dari kepolisian mau menanyakan apakah plat mobil ini punya keluarga ini?"
"Plat mobil?" Bu Inah belum paham.
"Ini photonya. Mobil ini mengalami kecelakaan di daerah mening agung. Saat ini mobil sudah di evakuasi oleh pihak Basarnas. Dan pemiliknya belum di temukan."
__ADS_1
"Ini kayak mobil den Juna. Menantu Bu Dewi. Ya Allah. Den Juna bagaimana, pak?"
"Justru kami tidak menemukan siapapun di dalam mobil." kata pak polisi.
"Maaf, saya hubungi majikan saya dulu. Istrinya saat ini sedang di rawat rumah sakit." pamit Bi Inah.
"Ya Allah, den Juna. Kok bisa tragis begini." ucap bibi berkaca-kaca.
Bi Inah langsung menelepon mengabari tentang yang dialami Arjuna. Dia juga menjelaskan kalau ada polisi yang datang ke rumah. Bi Inah merasakan reaksi keterkejutan majikannya tentang kabar menantunya.
"Ya Allah, Juna. Bagaimana aku menjelaskan pada Dira soal suaminya?" isak Dewi di seberang sana.
Bi Inah tahu bagaimana hubungan Dira dan Juna yang sangat bahagia. Tapi Tuhan menguji mereka dengan kecelakaan ini. Dalam hatinya Bi Inah berharap Juna selamat dan bisa kembali ke rumah
Bi Inah pun kembali ke ruang depan menjelaskan pada ketiga polisi kalau sudah mengabari majikannya.
"Kecelakaan terjadi sepertinya pengaruh cuaca. DI daerah tempat kecelakaan memang sedang hujan lebat dan bisa menyebabkan banjir. Terlebih lagi disana memang rawan kecelakaan. Kalau tidak tadi ada yang melaporkan melihat mobil itu masuk danau, mungkin kami tidak bisa mengabari kalian. Dari platnya tercatat ke alamat sebelah. Tapi kata si pemilik rumah, si pemilik mobil sudah tidak tinggal disini dan menjadi menantu disini.
Tapi untuk lebih lanjutnya, kami akan selidiki lebih lanjut lagi."
"Iya, pak dulu den Juna tinggal di sebelah sejak kecil. Tapi orang tuanya pindah ke Bogor dan setelah menikah Juna menetap disini." jelas Bi Inah.
"Tolong sampaikan dengan Bu Dewi agar segera ke Polsek Metro Jaya. Kami akan menjelaskan bagaimana kronologi kejadian." jelas petugas kepolisian.
Ketiga polisi itu pamit sedangkan bibi masih duduk di teras pintu. Masih tidak menyangka apa yang dialami Arjuna.
"Ya Allah, jika memang den Juna belum ditemukan. Saya berharap dia selamat. Mas Juna itu orang baik, saya mengenalnya sejak kecil. Saat dia sering main bareng dengan den Feri. Dia tidak sombong walaupun tinggal di rumah gedongan. Kenapa ya kalau jadi orang baik banyak cobaannya?"
Bi Inah masuk kedalam rumah. Hujan semakin lebat. Meskipun sudah berusia 53 tahun dia juga takut sakit. Kalau dia sakit tentunya tidak bisa bekerja. Melayani keluarga Dewi Savitri yang sangat baik padanya.
__ADS_1
*
*
*
Feri sudah tiba di Polsek Metro Jaya. Setelah mendapat kabar dari bibi kalau ada polisi yang mengabarkan kecelakaan yang dialami adik iparnya. Feri memarkirkan mobilnya di pelataran kantor Polsek. Dengan gagah dia mendatangi kantor tersebut untuk mengecek kebenarannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang petugas.
"Saya Feri Andreas. Tadi saya dapat kabar kalau mobil yang kecelakaan di mening agung adalah mobil milik adik ipar saya. Maka saya mau lihat apakah benar yang mengalami kecelakaan itu adalah adik ipar saya."
"Oh iya, sebentar saya panggilkan pak Febri karena dia yang di kabari oleh Polsek Bekasi." petugas yang bername tag "Syamsul Bahar".
Petugas tersebut memanggil rekannya di dalam ruangan khusus. Tak berapa lama Feri diminta menemui ke dalam ruangan tersebut.
"Anda keluarga korban?" tanya Bripda Febri.
"Benar, pak. Korban adalah adik ipar saya." jawab Feri.
"Begini barusan saya mendapat kabar pihak dari kepolisian Bekasi kalau dari kotak hitamnya memperlihatkan ada dua kendaraan bermotor yang berusaha menyalip mobil dan memukul kaca sebelah sopir. Tapi kami belum memastikan apa motif dari penyalip tersebut. Apakah murni begal atau mungkin ada motif lain saya belum bisa memastikan." jelas Bripda Febri.
"Adik ipar saya dalam perjalanan menuju ke Bandung karena mendapat kabar orangtuanya yaitu ayahnya sakit dan dirujuk ke Bandung. Sementara adik saya saat ini sedang di rawat karena keguguran." jelas Feri.
"Oke, berarti dari keterangan anda bisa kami jadi salah satu kronologi kejadian."
"Boleh saya lihat photo mobilnya, sehingga saya bisa memastikan apakah itu mobil adik ipar saya atau bukan." Bripda Febri memperlihatkan photo mobil yang di yakini milik Arjuna.
"Ya Allah itu benar mobil Juna." Feri menangkupkan kedua tangan diatas kepalanya.
__ADS_1