SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 129


__ADS_3

"Assalamualaikum," suara itu terdengar dari pintu rumah.


Ayu mendengar suara kakaknya langsung keluar dari kamar Dira. Ketiga tamu yang sudah menunggu pun menoleh kearah suara. "Kak, Dira tadi pusing-pusing. Sebaiknya kakak temui Dira dulu baru menemui tamu. Kasihan Dira sepertinya pucat sekali."


"Sebenarnya ada apa mereka kesini?" tanya Juna.


"Mereka minta Maria di bebaskan." bisik Ayu.


"Gila!" Arjuna mengusap wajahnya kasar. Dia tidak habis pikir dengan isi otak orang-orang itu.


"Sudah, kak. Lebih baik kakak ke kamar. Temui Dira dulu. Biar aku urus soal mereka. Karena yang mereka tipu adalah suamiku." Ayu terus mendorong Juna masuk ke kamar.


Juna membuka pintu. Hatinya di rundung cemas melihat keadaan istrinya sedang berbaring terpejam. Juna duduk disamping Dira, mengusap rambut istrinya yang sudah pendek sebahu. Padahal dia lebih senang dengan rambut panjang istrinya. Tapi saat Dira memutuskan memotong rambutnya, alasannya rambutnya sering rontok dan gampang gerah.


"Sayang" Bisik Juna sembari melabuhkan kecupan di dahi Dira.


Mata Dira terbuka perlahan. Pandangan pertama saat membuka mata adalah sosok lelaki tampan halalnya. Sebisa mungkin Dira menyunggingkan senyum. Di bangkitkan tubuhnya, Juna kembali membaringkan Dira diatas ranjang.


"Kamu sudah pulang, Mas." ucap Dira lirih.


"Aku kan janji tadi kalau mau pulang, sayang. Kamu kenapa, apa efek kehamilan? kita ke dokter ya?" Dira menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, Mas. Mending kamu temui mereka di luar. Kasihan dari tadi sudah menunggu kamu."


"Tapi, sayang..."


"Mending diselesaikan daripada berlarut-larut. Mas mau kan masalah ini cepat selesai."


"Kalau itu maunya istriku, paduka akan turuti kemauan ratu. Aku kedepan dulu, sayang." Juna melabuhkan kecupan di pipi istrinya.


Juna melangkah keluar meninggalkan istrinya sendiri di kamar. Walaupun dia sedikit cemas melihat kondisi Dira. Tapi dia harus menyelesaikan masalah antara Maria dan pak Suprapto.


"Nak, Juna." sapa pak Antoni.


Juna menyilahkan tamu nya kembali duduk di kursi. Pasangan suami-istri itu pun duduk di kursi tamu. Masih ada Ayu yang berdiri di sebelah Tania. Juna mengintruksikan pada Ayu untuk menemani Dira. Berselang setelah Ayu masuk ke dalam bersama Dira.

__ADS_1


"Tania, kamu juga duduk di dekat mereka." perintah Juna.


Tania pun duduk di kursi berhadapan dengan pasutri tersebut. Dia datang bukan untuk meminta bantuan membebaskan papanya. Karena setelah tahu papanya sempat indehoy dengan Maria. Mamanya meminta cerai. Pak Suprapto memohon pada istrinya agar tidak jadi bercerai. Tapi keputusan Bu Suprapto sudah bulat. Dan Tania pun mendukung keinginan mamanya.


"Maaf, kamu kesini pasti meminta bebaskan pak Suprapto kan?" tebak Juna.


"Tidak. Aku kesini bukan untuk meminta pak Suprapto bebas. Aku malah berterimakasih sama kamu karena sejak papa di penjara, satu persatu borok papa ketahuan. Salah satunya sudah tidur dengan Maria." jelas Tania.


"Tidur dengan anak saya? Nggak mungkin! anak saya tidak serendah itu. Kamu jangan mengada-ada. Mana mungkin anak saya mau sama tua bangka seperti bapak kamu!" amuk pak Antoni.


"Bukan papa saya yang mengaku, tapi anak anda sendiri yang bilang ke mama saya kalau mereka sudah seranjang. Bahkan dia meminta saya mengecek cctv di hotel tempat mereka bertemu. Saya punya bukti cctv nya. Anak anda juga yang menghasut papa saya untuk ikut dalam rencananya." cerita Tania.


Antoni merasakan kepala pusing setelah mendengar cerita Tania. Angel memapah suaminya yang hampir ambruk. Angel sebenarnya sudah pernah tahu soal gaya hidup Maria. Sejak satu kampus dengan anak tirinya.


Angel sering melihat gaya pacaran Maria yang terbilang bebas. Dia bisa saja mengadu dengan suaminya. Dia bisa saja mengatakan yang sebenarnya. Tapi mulutnya selalu terkunci ketika Maria mengancamnya bisa di depak dari rumah. Bukan karena harta, tapi memang dia sangat mencintai suaminya.


"Lalu buat apa kamu kesini, Tania?" suara Juna membuyarkan lamunan Angel.


"Saya..." Tania bersujud di kaki Arjuna.


"Izinkan saya menemui Dira." lanjut Tania.


"Untuk apa kamu mau ketemu Dira. Buat menghina dia lagi? hah! Nggak akan aku izinkan kamu menemui Dira. Heeeey!" Juna kaget Tania langsung memasuki kamar pribadi Juna.


Dira di kejutkan dengan kedatangan Tania ke kamarnya. Gadis itu bersimbah air mata bersujud di kaki Dira. Apa yang membuat Tania seperti itu?


"Kamu kenapa main masuk saja! tidak sopan!" amuk Ayu.


"Ra, saya minta maaf jika banyak salah sama kamu. Saya minta jika selama ini sering membuat kamu terkucil saat di kampus. Tapi saya minta maaf jika permintaan saya menyakiti perasaanmu."


"Permintaan?"


"Ra, aku bisa minta tolong." tangisan Tania semakin menjadi.


"Tania, kalau kamu minta tolong minta papamu di bebaskan. Itu keputusan di Arjuna bukan sama saya. Jadi kamu jangan minta tolong sama sama saya."

__ADS_1


"Dira, aku hamil. Lelaki yang menghamili aku meninggal dunia karena kecelakaan. Aku rela, Ra. Asal anak yang aku kandung ada ayahnya. Aku minta restu sama kamu agar mengizinkan Arjuna untuk menikahi aku sebagai istri kedua."


"Tania, kamu gila!" amuk Ayu.


"Aku sudah gila, sudah sangat gila. Mamaku stress saat tahu papa kepergok dengan Maria. Mama ku sakit-sakitan saat tahu calon suamiku meninggal dunia dan aku sedang mengandung.


Hanya kalian yang bisa membantuku. Hanya kalian satu-satunya orang yang bisa kutemui sekarang." Tania kembali bersujud di kaki Dira.


"Enggak akan pernah aku izinkan suamiku berbagi dengan wanita lain. Sekalipun itu alasannya untuk menolong. Tidak akan pernah aku rela suamiku menikah lagi dengan wanita manapun."


"Kamu dengarkan, Tania. Istri saya tidak mengizinkan kamu masuk dalam rumah tangga kami. Dan saya juga tidak akan sudi membagi cinta dengan wanita lain. Sekarang kamu pergi dari sini! sebelum kesabaran saya habis."


"Enggak! saya nggak akan pergi sebelum Dira mengizinkan saya menjadi istri kedua kamu. Om Johan sudah janji sama saya dan kedua orangtua saya untuk menikahkan aku sama kamu, Arjuna. Janji itu harus di tepati. Janji itu adalah hutang, Arjuna."


Ayu ternyata membawa beberapa orang untuk mengusir Tania. Amukan Tania tidak membuat Juna tergugah sedikitpun. Juna masih menunjukkan amarahnya pada wanita di hadapannya. Dira merasakan pandangannya mulai buram. Kepalanya terasa berat.


"Sayang," pekik Juna. Dengan sigap Juna menahan tubuh Dira yang hampir ambruk. Juna memegang dahi Dira, panas. Lelaki itu membaringkan istrinya di atas ranjang.


"Bagaimana dengan Dira?" Ayu kembali menyusul ke kamar kakaknya.


"Badannya panas, yu. Tolong panggilkan bidan Ratih."


"Baik, kak."


"Yu," panggil Juna.


"Iya, kak."


"Bagaimana dengan Tania? apa sudah di pastikan dia tidak akan ganggu Dira lagi."


"Tania, sudah di bawa sama pihak keamanan. Aku heran sama dia. Dari dulu suka sekali cari masalah sama Dira. Mana mungkin papa berjanji sama keluarga mereka?"


"Papa memang pernah meminta aku menerima Tania, yu. Saat aku baru putus sama Delia. Papa bahkan meminta aku menerima Tania jika aku tidak cocok dengan cucunya opa Han."


"Ya Allah, sudah sejauh itukah." Ayu masih tidak menyangka papa nya masih seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2