
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.
...****************...
Pernikahan merupakan momen dalam kehidupan yang sangat ditunggu-tunggu dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut mengalir bukan hanya bagi kedua insan yang menikah, namun juga bagi keluarga dan para sahabat yang menyaksikannya. Pernikahan adalah salah satu momentum yang paling ditunggu dalam kehidupan normal seseorang. Ketika jodoh sudah datang dan dua keluarga sudah memberi restu maka akad nikah sudah menanti dirimu. Siapapun akan berbahagia ketika belahan jiwa yang selama ini selalu dinanti kini akan segera kita sanding di pelaminan.
Seseorang yang siap menikah berarti ia juga sudah siap menghabiskan seluruh hidupnya bersama pasangan tersebut. Tidak hanya kelebihan, dalam kehidupan pernikahan mereka juga akan menemukan kekurangan dari masing-masing pasangan. Oleh karena itu, mereka harus ikhlas dan ridha menerima bahwa pasangannya bukanlah orang yang sempurna.
Hari yang dinanti sudah tiba. Dua pasang pengantin sedang berada di ruangannya masing-masing. Tina yang tadi malam di jemput sama Alif, sang adik sepupu. Dira dan Feri yang berada di kamar masing-masing. Arjuna yang sekarang di rumah opa Han.
Di sebuah ruangan kecil, tampak seorang wanita yang baru saja selesai di dandani. Wajahnya terlihat ayu meskipun sudah di poles. Tangannya tidak berhenti membolak-balik. Dekorasi kamar yang tidak merubah aksennya. Tidak ada kamar pengantin disana, karena Tina akan menginap di rumah mama Dewi.
"Kakak cantik sekali." Puji Amar melihat sang kakak tertunduk malu.
"Terimakasih, Mar." Tina memegang tangan adik bungsunya.
"Kalau kakak menikah, aku mau pindah ke pesantren saja, kak. Biar sekalian belajar agama." kata Amar.
"Kenapa mendadak?"
"Tidak apa-apa, kak Amar pengen mandiri." jawab Amar dengan tenang.
"Apa ada yang menekan kamu, dek?" Amar menggeleng. Ini sudah keputusannya. Tidak ada yang memaksa.
"Nanti kita bahas lagi, ya, Mar." Amar mengangguk lalu kembali duduk di dekat sang kakak.
"Tina mobil iringan pengantin sudah tiba." panggil Mayka.
Mayka membimbing Tina untuk keluar dari kamar. Gadis itu merasakan tangan adiknya yang berkeringat.
"Jangan tegang, harus berpikiran positif. Kalau tanganmu berkeringat nanti inainya luntur." kata Mayka.
__ADS_1
"Sudah siap, Nak?" tanya Bude sambil berdiri disamping keponakannya.
"Sudah, bude." Tina tersenyum pada budenya.
"Kamu cantik sekali, nak. Akhirnya kami bisa membawa kamu pada lelaki yang mencintaimu. Maryam lihatlah putrimu cantik sekali. Sama seperti kamu dulu. Mey kamu lihat kakakmu sangat cantik memakai baju pengantinmu. Mama tahu kalian berdua akan tersenyum melihat kebahagiaan mereka."
"Mama, jangan bahas yang sedih-sedih. Nanti kalau pengantinnya ikut sedih kan nggak seru acaranya." Protes Mayka.
Tina hanya bisa mengulum senyum. Keluarganya kembali utuh. Dimana Mayka dan Amran sudah bisa menerima calon suaminya, Feri Andreas.
Tina berjalan menuju ruang tengah dimana keluarga besarnya sudah berkumpul. Semua takjub melihat kecantikan keponakannya. Termasuk Jamal yang akan menjadi pendamping pengantin pria.
"Kamu cantik sekali, Na." Puji Jamal.
"Ehmmm..." Mayka memberi kode pada Jamal yang masih terpesona pada kecantikan pengantin.
Tina memasuki mobil iringan pengantin. Hari ini statusnya akan berubah. Bukan lagi sebagai Tina yang hidup sendiri, keluarganya bukan lagi hanya Amar. Tapi ada Feri dan keluarga Dewi Savitri, sebagai keluarga suaminya.
Ingatan Tina yang melayang saat dia menikah dengan Glen dulu. Dimana tidak ada pesta, hanya ada bapak penghulu saja. Tidak ada gaun pengantin, yang ada hanya memakai kebaya dengan dandan seadanya. Giana juga hanya mendandani dirinya make up kadarnya.
"Tina kita sudah sampai." Bude membuyarkan lamunannya.
Sebuah gedung yang megah menyambut dirinya. Tina di tuntun memasuki aula acara. Diiringi beberapa panitia acara menginstruksikan kalau pengantin wanita harus dalam ruangan khusus.
Ternyata bukan hanya Tina yang berada di ruangan khusus. Ada Dira yang sudah terlebih dahulu berada disana. Tina tahu kalau Dira akan menikah kembali dengan Arjuna. Tina juga tahu kalau Dira sempat menjalani masa Iddah sebagai janda di tinggal meninggal.
Feri dan Arjuna sudah duduk di kursi yang sama. Mereka akan melakukan ijab kabul kembali. Bagi ini pelapasan masa dudanya, tapi bagi Juna ini adalah masa dimana dia akan rujuk kembali dengan istrinya.
"Saudara Feri Andreas, Saya nikahkan kamu dengan anak kami Martina Priscilla Agatha binti Heru Triawan. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Martina Priscilla Agatha binti Heru Triawan. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah!"
__ADS_1
"Saahh!" teriak para tamu.
"Sekarang kita akan menikahkan pasangan yang satu lagi. Bapak Andreas, silahkan anda duduk di meja akad." Andre pun berdiri memasuki aula akad. Pria paruh baya itu duduk berhadapan dengan Arjuna.
Tak berapa lama tangannya sudah berjabat dengan Andreas.
"Saudara Arjuna Bramantyo saya nikahkan dan kawinkan putri saya yang bernama Medhira Utami binti Andreas Dermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Medhira Utami binti Andreas Dermawan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah!"
"Saaah!"
Setelah akad nikah di langsungkan. Baik Feri maupun Juna mengucapkan akad dengan lancar tanpa keraguan. Dira dan Tina mendengar dari ruang khusus meneteskan air matanya. Tina sudah sah menjadi istri Feri Andreas. Sedangkan sudah sah rujuk kembali dengan Arjuna.
Feri dan Juna pun merasakan hal yang sama. Mereka lega akhirnya bisa melewati momen ini. Siapa yang tidak bahagia karena akhirnya bisa bersama dengan orang yang dicintai.
"Selamat datang ke keluarga kami, Tina. Mulai hari ini kamu adalah anak mama. Mama sekarang punya tiga bidadari di rumah." Mama Dewi memeluk wanita yang sudah sah menjadi menantunya.
"Terimakasih, ma. Sudah menerima saya sebagai menantu mama."
"Ma," suara Dira memecahkan keheningan antara keduanya.
"Ya, Nak."
"Apa sudah bisa keluar dari ruangan?" Mama Dewi mengangguk. Meminta beberapa panitia menuntun para pengantin wanita agar bisa di sandingkan dengan pasangannya.
Dira berjalan menuju lelaki yang kembali menjadi suara. Langkahnya terhenti melihat Arjuna yang malah berdiri tegap menanti dirinya.
"Jadi mas Juna sudah bisa berdiri?" batin Dira.
Tangan itu meraih dirinya. Degupan jantung yang masih terasa kencang.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau menjadi istriku lagi."