
Vira baru saja sampai ke rumah. Setelah tadi diajak hangout sama teman kampusnya. Merayakan selesainya ujian semester mereka. sebentar lagi tahun baru. Liburan pun sudah ada di depan mata.
Baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru saja dia akan memejamkan matanya. Suara handphone pun berdering.
"Ra, kamu lagi apa?" Itu suara Elsa, sahabat kentalnya.
"Nggak ngapa-ngapain? ini baru pulang jalan sama Eno."
"Deuuuh, nggak ajak aku. Kamu jahat! kamu jahat!" rengek Elsa terdengar manja.
Vira hanya tertawa kecil mendengar rengekan Elsa.
"lh, lebay. Kayak anak kecil merengek minta permen sama emaknya."
"Kan kamu emang emakku kalau di luar rumah."
"Sudah, kamu ngapain nelpon aku jam segini? mau ajak bergosip."
Vira sudah hapal kalau Elsa menelepon pasti ada berita menghebohkan. Entah tentang kampus, teman kampus bahkan ngomongin cogan sekalipun.
"Ada, aku dapat info dari papa kalau SMA kita mau adain reuni Akbar. Katanya sih EO nya punya kak Rian, mantan calon kakak ipar kamu."
"Oh, berarti masuk tv, dong."
"Oh, jelas. Kamu tidak lupa kalau kakak kelas kita ada yang jadi seleb setelah ikut kontes masak. Nah dia yang mensponsori acara tersebut.
Temanya back to school. Jadi dress code nya seragam SMA kita. Kalau mau aku daftarin?"
"Boleh. Tapi aku cari seragam dulu. Siapa tahu yang sekarang nggak muat lagi."
"Bukannya sekarang kamu lebih kecil dari Vira yang dulu. Pasti muat dong."
"Makanya aku check dulu. Yasudah, Sa. Aku mau istirahat. Capek banget."
Vira mendapatkan kabar sekolahnya mengatakan reuni besar. Salah satu syaratnya harus memakai baju SMA mereka dulu. Tentu saja ini jadi kesempatan Vira untuk melepaskan rindu pada teman-teman sekolahnya dulu.
Vira mencari seragam sekolahnya yang lama. Memasuki gudang barang yang penuh barang-barang lama. Termasuk barang milik papanya juga disimpan disana. Dulu baju-baju bekas Dira yang dia pakai. Tapi karena bobot tuh Dira lebih kecil dari Vira. Hanya satu semester dia memakai seragam sang kakak. Vira yang mulai suka makan sejak SMA mengalami kenaikan berat badan sebanyak lima kilo. Bobot Vira yang dulunya 45 malah sekarang naik 50 kilo. Membuat gadis itu membeli seragam baru sesuai dengan ukurannya. Di tambah dengan tinggi Vira yang 160 tidak membuat dia terlihat gemuk. Tapi berbodi.
__ADS_1
Tiba di gudang, Vira melihat banyak barang disana. Setiap box atau kardus barang di labeli nama. Seperti barang milik kakak-kakaknya, ada punya Feri, ada punya Dira. Perkakas dapur, alat pecah belah. Sebagian barang juga sudah di hibahkan ke orang yang lebih membutuhkan.
Vira menurunkan bobot tubuhnya ke sebuah tiga box atas nama dirinya. Ada rasa penasaran kenapa punya dirinya masih banyak. Sementara punya kakaknya hanya sisa satu box saja. Dia menebak-nebak kalau punya Feri dan Dira berupa pakaian masa SMA atau masa kuliah. Karena kedua kakaknya kuliah di Jakarta semua. Hanya Dira yang ambil S2, sementara Feri hanya batas S1 karena keburu nikah sama Meyra.
Box pertama dia temukan berupa surat-surat berwarna pink muda yang sudah memudar. Vira menggaruk-garuk kepalanya, sejak kapan dia punya banyak surat amplop pink. Selama dia pacaran sama Satria, belum ada mantannya pake kirim surat segala. Kalaupun ada tidak mungkin dia simpan di gudang.
"Ini dari siapa sih?" batin Vira.
Bukan itu saja, Vira menemukan beberapa photo masa kecilnya bersama seorang pria remaja. Photo dengan aksen menggemaskan. Membuat Vira semakin penasaran siapa lelaki itu.
"Wajahnya seperti tidak asing. Tapi dia siapa ya? apa dia termasuk sepupu aku? kenapa tidak pernah ikut acara keluarga?"
"Apa aku tanya sama mama saja, ya?"
Vira menyimpan barang-barang yang masih membuatnya penasaran. Masih dengan segudang keraguan. Keluar dari gudang, layaknya detektif Vira keluar gudang dengan mengendap-endap.
Vira merasakan udara yang segar setelah merasakan sesak dan pengab. Gudang barang milik keluarganya. Di hirupnya udara segar dalam-dalam. Vira tidak membawa barang itu ke kamarnya melainkan ke kamar Dira. Kamar kakaknya yang lebih luas dengan pemandangan langit yang luas. Vira duduk di teras balkon membuka barang yang di bawanya. Dia lupa tujuan utamanya ke gudang. Matanya tertuju pada botol kaca yang sudah berdebu.
Vira mencuci Botol tersebut. Tampak gulungan kertas disana. Tapi dia masih penasaran sama surat pink yang berjumlah 8. Sebuah surat kecil pertama dia buka.
Dear, adik kecilku.
Kalau tidak salah kamu masuk SD kan. Waaah, adek kakak pasti sudah pake seragam merah putih. Sudah bisa baca tulis ya, dek.
Padahal pas kakak ajarin kamu baca tulis kamu banyak dramanya. Tapi kakak harap kamu jadi anak yang rajin ya, dek.
Salam dari kak Danu.
"Kak Danu? loh ini bukannya kakak yang suka ajak aku jalan-jalan. jadi ini dari dia?" Vira mencocokkan dengan photo yang dia temukan.
"Jadi ini namanya kak Danu? lumayan sih. Ganteng juga. Tapi mungkin dia sudah dewasa sekarang. Paling juga sudah berkeluarga. Dari photo ini sepertinya aku dan Danu dekat. Tapi kenapa aku tidak ingat soal dia ya?"
Vira akhirnya membuka surat di dalam botol. Tulisannya sudah banyak yang kabur. Tapi masih bisa di baca. Vira membaca surat dengan hati-hati.
Dear adik kecilku,
Maaf, ya. Kakak belum bisa menemui kamu. Saat ini kakak tinggal dengan salah satu famili. Sementara kak Padma sedang kerja di luar. Kakak sudah SMA sekarang sebentar lagi selesai SMA kakak mau kuliah di Jakarta.
__ADS_1
Vira sudah kelas tiga SD kan. Wah sebentar lagi adik kakak sudah masuk remaja. Kamu ingat dulu yang pernah kamu ucap saat masih TK.
Kamu pernah bilang kalau besar nanti mau jadi pengantin kakak. Dan jika kakak sukses nanti. Aku akan datang mewujudkan impian kamu.
menjadi pengantin kakak yang paling cantik. Tunggu kakak, dek. Kakak akan datang setelah kamu dewasa nanti.
Vira membanting surat yang baru saja di bacanya. Berasa asing dengan sosok pemilik surat itu.
"Ini orang sinting kali ya? kenal enggak tahu-tahu ngajak nikah. Kalau iya aku pernah bilang masa iya dia tidak bisa membedakan omongan anak kecil. Dasar pedofil!" kata Vira dengan kesal.
Lama dia menatap photo itu. Entah kenapa putaran kenangan berputar dalam ingatannya. Kenangan seorang lelaki yang selalu menemaninya ketika kesal melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Kepalanya terasa pusing. Seketika menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Adek sapi kakak, mau nggak ikut kakak jalan-jalan sambil makan es krim."
"Nggak mau!"
"Loh, kenapa?"
"Kalau kakak masih panggil aku sapi, aku tidak mau jalan." Vira membalikkan badan.
"Ayolah adek kecil kak Danu. Iya kakak janji nggak panggil kamu dengan sebutan sapi." Vira masih tetap dengan merajuknya.
"Nak, ayo kita pulang." seorang wanita muda datang menjemputnya.
"Tante Yuni, Aku pulang sama kak Danu saja. Katanya mau ajak aku jalan-jalan."
"Kamu dengar, ya. Mama kamu sudah pesan sama Tante supaya tidak boleh ketemu sama dia. Dia itu orang jahat,Vira. Kakaknya saja jahat, bikin mama dan papa kamu bertengkar."
"Enggak Tante, Kak Danu nggak jahat. Dia bukan orang jahat! dia orang baik. Bahkan lebih baik dari kak Feri." Vira masih merengek sama Tante Yuni.
"Dan kamu, bilang sama kakak kamu supaya tidak usah ganggu keluarga kakak saya. Sekarang saya minta jangan temui keponakan saya lagi! jangan-jangan kamu pedofil, suka sama anak kecil untuk tujuan terselubung. Enggak Kakak enggak adik sama saja." Maki Tante Yuni.
"Haaaaaah!" Vira terbangun melihat mama dan Feri sudah duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, Nak? kenapa kamu memanggil nama Danu?" tanya mama Dewi.
"Ma, Danu itu siapa? kenapa dia datang ke dalam mimpiku tadi?"
__ADS_1
"Sepertinya kita harus cerita yang sebenarnya sama Vira biar jelas semuanya." kata Feri.
"Mama takut, nak. Mama takut kalau dia terhasut sama Danu. Dengan mengandalkan cerita cinta pertama, mama takut dia terpengaruh."