
"Ma, apa ada koko Juna di kamar." kata Juna
Salma masuk kedalam untuk mengecek apa yang di tanyakan Juna. Dia juga mengajak Dira, biar menantunya tahu barang Juna di kamar lamanya. Dira memasuki kamar Juna yang 3x4 ukurannya. Kamar layaknya lelaki single, dengan kasur ukuran 160x200.
"Ma, biar aku saja yang mencari." kata Dira
Salma pun menghentikan aktivitasnya. Dia duduk di ranjang untuk melihat cara kerja Dira. Salma tahu Dira selama ini terbiasa di layani karena rumah menantunya ada pembantu.
Beda dengan keluarganya yang memiliki asisten hanya di Lembang saja. Sedangkan di rumah lama nya tak memakai pembantu sama sekali.
"Ini kan Koko nya." Dira mengeluarkan baju berwarna putih.
Salma mengangguk. Dira pun membereskan pakaian Juna yang ketarik saat mengambil baju. Selesai membereskan lemari, Dira tidak melihat mama mertuanya di kamar. Tebakannya mama Salma sudah keluar dari kamar.
Dira menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa grogi saat pekerjaannya di perhatikan oleh mertuanya. Memang mama Salma tidak banyak komentar. Akan tetapi yang namanya di awasi mertua tidaklah enak.
Selama ini yang dia tahu mama Salma itu baik sebagai mertua. Tidak pernah cerewet ataupun banyak komentar tentang rumah tangganya. Itu dia buktikan saat mereka satu minggu di Lembang di pernikahan satu tahun yang lalu.
Mama Salma selalu memperlakukan dirinya seperti anak dan juga teman. Begitu juga dengan Ayu. Ya mungkin kalau Ayu dia sudah berteman sejak kecil. Itu juga pagi-pagi mereka masak bareng. Mama Salma juga mengajak dirinya jalan pagi.
"Sayang." Lamunan Dira buyar saat suaminya sudah ada di depannya.
Dira langsung memberikan Koko putih milik Arjuna. Menutup pintu kamar suaminya. Dengan telaten dia membuka kancing baju lelaki itu. Juna terus memandang istrinya.
"Kok lihatnya gitu?" Dira risih dengan tatapan suaminya. Tatapan genit.
"Apa aku sedang bermimpi?" kata Juna.
"Maksudnya?"
"Apa aku sedang bermimpi bertemu bidadari turun dari langit? bidadari cantik yang rasanya tidak akan aku lepas selamanya."
__ADS_1
"Mulai, deh." Dira memakaikan kancing baju koko suaminya.
"Ya kan itu dari hati yang paling dalam. Suara hati seorang suami." Dira merasa balungan tangan Juna semakin erat. Sambil menjentik hidung Dira.
Setelah selesai memakainya baju untuk suaminya Dira keluar dari kamar. Diikuti dengan Arjuna yang sudah rapi dengan Koko putih dan celana hitam dasar. Dira mengambil selendang untuk pergi ziarah.
Setelah pamit dengan dua mama. Juna pun mengajak Dira pergi ziarah ke makam papa Johan juga Delia. Karena makan keduanya masih satu kompleks.
Sampai di makam, mereka menemukan Rian yang duduk termenung di makam Delia. Ada rasa kasihan melihat Rian yang masih sangat berduka. Juna pun mengajak Dira ke makam papa Johan yang terletak di depan pagar utama.
Keduanya jongkok sambil membersihkan rumput di sekitar makam. Makam Johan yang terakhir Juna lihat masih semen polos kini sudah di ganti marmer berwarna hijau lumut.
"Assalamualaikum, pa. Ini Juna datang bersama Dira, menantu papa." sapa Juna.
"Assalamualaikum, pa. Ini Dira. Maaf kalau Dira baru bisa jenguk papa sekarang. Banyak yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini. Dira juga minta maaf jika selama ini belum jadi menantu idaman papa. Dira juga minta maaf kalau selama ini ada sikap yang mungkin menyinggung perasaan papa baik sengaja atau tidak di sengaja."
Dira ingat saat satu minggu berada di Lembang setelah menikah. Papa Johan masih bersikap dingin kepadanya. Dira sadar kalau dari awal hubungan mereka, sang papa mertua tidak bisa menerima dirinya. Karena bagi Johan menantu idamannya adalah Delia.
"Sayang, aku minta maaf atas mewakili papa. Jika ada sikap papa yang selama ini menyinggung perasaanmu. Aku juga tahu selama ini papa belum menerima kamu sebagai menantunya. Kamu mau kan maafin papa?"
"Mas, aku sudah maafin papa. Lagian dia juga tidak pernah benci sama aku. Hanya saja kami tidak terlalu dekat. Aku yakin papa itu orang baik. Sama seperti anaknya yang sangat baik."
Cup!
Juna mendaratkan kecupan di dahi Dira. Dira membulatkan matanya. Pasalnya mereka sedang berada di makam. Sempat-sempatnya Juna malah buat adegan mesra di depan makam.
"Mas," Dira melototi suaminya.
"Kok gitu ekspresinya. Aku kan gemes sama kamu, yang."
"Nggak bagus kayak gitu di depan makam. Kata orang tua zaman dulu, bersikaplah yang sopan di tempat sakral. Seperti di makam."
__ADS_1
"Iya, maaf. Itu kan sebagai bukti cintaku padamu, sayang."
"Ayo kita doa, Mas. Setelah itu aku mau jenguk Delia. Kan nanti sore bakal ada tahlilan di tempat Delia." Juna dan Dira pun akhirnya menyelesaikan ziarahnya di makam papa Johan.
Mereka berpindah ke sebuah makam yang masih baru. Makam seorang yang mereka anggap sudah seperti saudara sendiri. Makam seorang wanita yang pernah ada di hati Arjuna.
Tak ada lagi sosok Rian di sekitar makam Delia. Mereka berpendapat kalau Rian masih butuh waktu untuk sendiri.
Dira duduk di sebelah nisan Delia. Dira membawa satu keranjang bunga untuk taburan di atas makam Delia.
"Assalamualaikum, Del. Apa kabar? terakhir kita ketemuan waktu kamu akan berangkat ke Singapura untuk berobat. Aku tidak menyangka kalau itu pertemuan terakhir kita. Maafin aku ya, Del. Terakhir aku sempat memarahi kamu.
Aku tahu kemarahan kamu waktu itu karena sedih atas meninggalnya kak Juna. Tapi dia tidak pergi, Del. Dia sudah pulang, dia sudah pulang Del. Juna yang kita cintai kini sudah kembali.
Del maafin aku jika selama ini ada salah sama kamu. Maafin aku jika pernah jadi duri dalam hubungan kamu dan kak Juna. Aku janji Del. aku jaga kak Juna sepenuh hati. Aku janji." Dira menangis mengingat sahabatnya telah tiada.
Seburuk-buruknya Delia, dia pernah menjadi sosok Dira kagumi. Seperti apapun Delia di masa lalu, dia pernah meminjamkan bahunya saat Dira down soal Wawan. Dia juga pernah membela Dira saat di bully sekolah.
"Assalamualaikum, Del. Apa kabar? aku tidak menyangka kamu pergi secepat ini. Aku minta maaf jika pernah melukai hatimu. Mungkin aku adalah pria jahat dimatamu. Walaupun aku sering bilang sama kamu, ada usaha ada juga titik lelah.
Del, semoga kamu tenang disana. Kamu sebenarnya orang baik. Aku senang pernah mengenalmu lebih dekat. Aku senang punya adik banyak seperti Kamu, Dira dan juga Eka." Kata Juna sambil mengusap papan nisan bertuliskan "Adeliana Shahab."
Mereka pun akhirnya meninggalkan area pemakaman. Tampak Dira terdiam tanpa sepatah kata pun.
"Sayang,"
"Iya, mas."
"Apa kamu marah dengan ucapanku pada Delia?"
"Tidak, Mas. Aku tahu kalian memang punya kenangan yang lebih banyak. Jadi buat apa aku harus marah."
__ADS_1
Juna tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia lega kalau Dira tidak merasa cemburu pada Delia.