
"Halo, assalamualaikum, Pa," sapa Elsa di telepon.
"Waalaikumsalam, anak papa kapan pulang?"
"Sebentar lagi, pa. Elsa pamit dulu sama kak Dira, ada Tante Dewi dan Vira disini. Emang kenapa, Pa?"
"Maaf, papa bicara seperti ini di telepon. Tapi papa dan mama kamu sepakat untuk menunda pertunangan kalian sampai waktu yang tidak di tentukan."
"Kenapa, Pa?"
"Mama mendengar kabar kalau kakaknya Dawa itu perempuan perusak rumah tangga orang lain. Mama kamu cemas, takut teman arisannya tahu siapa calon menantunya,"
"Tapi, Pa. Itu sudah masa lalu kakaknya Dawa sudah meninggal dunia. Buat apa kita mencari kesalahan orang yang sudah meninggal dunia,"
"Tentu saja buat kebahagiaan kamu, nak. Papa sudah tahu kalau perusahaan yang dia pegang disponsori Khairul, teman papa. Dia bahkan meninggalkan anaknya Khairul tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Itu namanya tidak tahu di untung. Pokoknya kamu pulang dan kita bicarakan di rumah."
"Dan satu lagi, papa lebih setuju sama keponakannya Adrian. Yang punya PT. Madu Berkah. Dia mapan dan tampan. Kalau soal usia papa tidak masalah. Yang penting...."
"Bibit bebet dan bobot, Ya kan, pah. Elsa dah bosan dengarnya" Elsa menutup telepon dari papanya.
Elsa berjalan gontai setelah mendapat telepon dari papanya. Dia tidak heran kalau papanya bisa menyelidiki semuanya. Mata-mata papanya banyak, apapun dan dimana pun yang diinginkan papanya pasti akan cepat dapat. Elsa tidak kaget kalau papanya cepat tahu tentang asal usul Pandawa. Tapi kalau dia cerita sama Vira sama saja bunuh diri.
"Sa," Elsa mengenal suara manis yang menyapanya. Elsa menunduk ketika sosok itu mendekatinya. Nyalinya ciut ketika mendapati sosok itu sudah berdiri di hadapannya dekat.
"Ra, aku tahu kamu mau marah sama aku soal identitas kamu. Aku tahu aku salah, tapi izinkan aku memakainya untuk bisa dekat dengan kak Danu. Izinkan aku mencintai kak Danu. Lagipula kamu sudah mengembalikan barang itu yang artinya kamu tidak mau berurusan lagi dengan kak Danu"
"Aku nggak masalah kalau kamu mencintai kak Danu ataupun sebaliknya. Yang aku pertanyakan kenapa harus memakai nama itu. Kenapa harus menggunakan nama "Sapi". Kalau dia cinta sama kamu dia pasti menerima kamu apa adanya. Bukan embel-embel kenangan masa lalu.
Aku kecewa sama kamu, Sa. Aku pikir kamu benar-benar sahabatku, ternyata aku salah!" Vira meninggalkan Elsa sendiri tak jauh dari mobil Elsa.
"Kamu munafik, Savira. Kamu juga cinta sama kak Danu. Kamu yang buat kak Danu mengira aku adalah Sapi. Coba kalau seandainya kamu tidak menjadikan aku umpan masalah pribadimu. Tidak akan jadi begini. Sekarang saat kak Dawa memilih aku. Kamu yang panas. Mau kamu apa, Vira!"
"Aku sudah bilang, tidak masalah kalau kamu dan dia saling mencintai. Tapi jadilah diri sendiri, bukan jadi orang lain, Melsana. Mau kamu sama siapapun aku dukung. Tapi....
__ADS_1
Sudahlah, percuma juga ngomongin sama orang mabuk cinta!" Vira meninggalkan Elsa di depan mobilnya.
...****...
Waktu terus berjalan. Sudah menunjukkan pukul 18.00 dimana umat Islam menjalankan ibadah sholat Maghrib. Mama Dewi baru selesai berwudhu, dia mengetuk pintu kamar Vira. Putri bungsunya sudah mengenakan mukena. Mama Dewi tampak takjub melihat anak bungsunya.
"Vira," Mama Dewi masuk ke kamar Vira.
"Masuk saja, Ma. Tidak di kunci," seru Vira.
"Mama sholat bareng kamu ya, sekalian ada yang mama bicarakan,"
"Pasti soal Panji, tapi kalau memang itu yang buat mama senang. Tidak masalah," batin Vira.
Mama Dewi dan Vira akhirnya shalat bersama di kamar. Setelah selesai shalat Vira pun melipat mukenanya. Mama Dewi menatap putri bungsunya.
Tidak terasa usiamu sudah masuk 20 tahun. Ah iya, sudah masuk 2023. Itu tandanya kamu sudah masuk 21 tahun. Perasaan baru kemarin aku kaget dia ada di rahim. Karena sempat terpikir untuk steril setelah melahirkan Dira. Sekarang kamu sudah besar. Tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Kamu tahu, kan tradisi keluarga kita. Tradisi Sayembara jodoh. Mama tahu kamu pasti tidak kaget dengan pembicaraan ini. Dan mama harap, kamu mendengarkan mama."
"Mama tidak mau kamu sama adiknya Padma. Kamu tidak lupa kan bagaimana Padma datang menghancurkan keluarga kita. Jadi mama ..."
"Kenapa mama bahas dia? mama tahu aku tidak terlalu mengenal si Danu. Ya mungkin aku dan dia pernah dekat waktu kecil. Tapi itu dulu, Ma. Mama lihat sendiri kan kalau dia sekarang milih Elsa. Jadi mama tidak usah mikir kejauhan."
"Ma, Vira belum mau menikah. Vira masih ingin kuliah dan menjadi wanita karier seperti Mama. Kalau mama mau maksa Vira untuk menikah cepat. Sama seperti yang mama lakukan pada kak Dira dulu."
"Mama harap kamu sama Panji. Dia baik, perhatian sama keluarga ini. Sudah mapan dan tampan. Track recordnya bagus. Mama kenal sama om nya Panji yang namanya Adrian. Jadi mama harap kamu mau menerima Panji sebagai calon suamimu"
Vira tercekat, mama sepertinya memberi sinyal agar dirinya menerima Panji. Kalau Vira bisa berkata tidak mau memilih keduanya. Tapi percuma dia pun kalah suara.
"Lusa ikut mama pulang ke Jakarta. Kamu harus lebih cepat tunangan sama Panji. Mama tidak mau tahu dan tidak mau dengar alasan kamu!"
"Mama egois!"
__ADS_1
"Mama, Vira, makan malam sudah siap" kata Arjuna dari luar kamar.
Mama Dewi dan Vira langsung membereskan mukena mereka. Mereka meninggalkan kamar dan berkumpul di meja makan.
Beberapa menu makan malam seperti soto babat, perkedel kentang dan juga teh hangat. Karena udara lumayan dingin efek musim hujan.
Acara makan malam berlangsung dengan lancar. Hening tak ada yang memulai pembicaraan. Baik Dira maupun Juna saling memberi kode untuk memulai pembicaraan. Selesai makan malam, Vira membantu membersihkan meja makan.
"Ma, aku mau bicara," Dira memulai pembahasan utama.
"Kamu mau bicara apa, sayang?" mama Dewi menggenggam erat jemari Dira.
"Mama baca ini, ya. Biar jelas semuanya." Dira menyerahkan amplop kertas putih.
"Mama buka, ya" kata mama Dewi sambil membuka amplop putih.
"Alhamdulillah kamu hamil, nak." Mama Dewi langsung memeluk Dira dengan erat. Pelukan bahagia seorang ibu. Ketika mendapat kabar bahagia tentang kehamilan putrinya.
"Iya,Ma. Aku hamil sudah enam minggu." jawab Dira.
"Mama kabari, Feri, ya," Mama Dewi langsung mencoba menghubungi Feri.
"Ma, kak Feri dan kak Tina sudah tahu kalau Dira hamil," Jawab Dira takut-takut.
Mama Dewi meletakkan handphonenya diatas meja makan. Kini wajah ramahnya sudah tak terlihat. Tangan melipat diatas menutupi dadanya.
"Apa yang kalian sembunyikan dari mama? kenapa hal seperti ini mama malah tidak tahu. Malahan menjadi yang terakhir mengetahui soal ini, Dira''
"Apa keluarga Arjuna sudah lebih tahu terlebih dahulu daripada mama?"
"Ma, dengar dulu penjelasan kami," sela Arjuna.
"Diam kamu, Juna! Saya bicara sama anak Saya! bukan sama kamu!" bentak mama Dewi.
__ADS_1