
Seminggu Kemudian
Pagi ini Dewi membuka jendela kamar. Udara pagi sudah mulai menghangat. Matahari terbit saat pagi dan terus bersinar sepanjang hari, hingga petang datang. Ketika bersinar cerah, matahari memudahkan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk menjalankan aktivitas.
Seperti yang Dewi lakukan saat ini. Menerima seseorang yang pernah menyakiti perasaannya. Bukan menerima dalam arti kembali pada sosok itu. Saat ini Dewi mencoba membuang egonya demi anak-anaknya. Menerima sosok itu untuk tinggal bersama di rumah mereka.
Dalam kehidupan ini, siapa yang tidak pernah salah. Setiap manusia, bahkan sampai nabi pun pernah membuat kesalahan. Sebab apabila manusia tidak berbuat salah sudah dapat dikatergorikan makhluk yang seperti ini bukan lagi manusia tetapi sudah dapat dikategori malaikat.
Tidak mampu lagi mengendalikan hawa nafsunya maka muncullah berbagai masalah. Mereka yang seperti ini selalu memanfaatkan akal pikirannya untuk mencapai hawa nafsunya. Dan, ketika hidup manusia sudah diatur oleh hawa nafsu, maka hal ini paling sulit untuk dihentikan. Hal inilah yang menyebabkan manusia sebagai makhluk Tuhan selalu berbuat kesalahan. Namun, itu akan terminimalisir bila hawa nafsu.
"Mas, bangun sudah pagi." Dewi membangunkan Andre yang sudah seminggu tinggal di rumahnya.
"Ah, iya. Maaf,ya." Andre terbangun melihat sosok cantik duduk di hadapannya.
"Mau duduk, ya. Sini biar aku bantu." Dewi menuntun tubuh Andre agar bisa bersandar di tempat tidur.
"Terimakasih, Dewi. Kenapa kamu yang bangunkan aku? biasanya Feri." Andre berkata seperti itu karena dia tidak enak pada mantan istrinya.Biasanya Feri lah yang membangunkan dirinya.
"Feri masih istirahat. Dia lembur baru pulang tengah malam. Tidak apa kan kalau saya yang bangunkan kamu?"
"Nggak apa-apa, saya berterimakasih kalau sudah merepotkan kalian semua."
"Nggak ada yang di repotkan, Mas. Ini di lakukan Feri sebagai baktinya seorang anak. Kamu mau sarapan? aku bantu ke kursi roda ya." Andre hanya mengangguk saja. Dia masih lemas setelah operasi seminggu yang lalu. Sesaat dia sudah duduk di kursi roda.
"Assalamualaikum, pa." sapa Dira yang sudah dua hari pulang kerumah.
"Waalaikumsalam,nak. Kamu kok sendiri, suamimu mana?" tanya Andre.
"Mas, Juna belum bangun, pa." jawab Dira yang menggantikan Dewi membimbing kursi roda Andre.
Di meja makan, Andre memandang satu persatu semua orang yang ada di meja makan. Dira menyiapkan hidangan di meja, Dewi sibuk di dapur, sedangkan Vira tanpa dosa mencomot beberapa makanan yang ada di meja.
__ADS_1
Melihat Dira dan Vira tumbuh menjadi sosok yang cantik. Melihat Feri dan Juna muncul, dua pria yang bersahabat sejak kecil. Dua pria yang tumbuh menjadi sosok gagah dan tampan. Tawa bahagia sambil bercanda ria. Tina pun sudah tidak canggung berbaur dengan Dewi dan dua anak perempuannya.
Seketika Andre merasa malu, mereka masih menerima dirinya. Padahal kalau di flashback dia lah yang paling jahat selama ini. Dia merasa menjadi benalu di rumah ini.
"Tina," sapa Andre.
"Iya, pa." jawab Tina
"Saya minta maaf atas yang saya lakukan dulu sama kamu. Saya tahu kalau itu yang membuat kamu terlihat buruk di hadapan Feri. Saya dan lelaki itu, ah siapa namanya aku lupa. Wajah rada bule, papa lupa siapa namanya, ..."
"Glen." jawab Feri.
"Iya Glen. Dia yang meminta papa menghubungi kamu memakai nomor Feri. Papa dan dia bekerjasama supaya Feri benci sama kamu. Karena menurut Glen kamu itu perempuan nakal. Jadi papa percaya saja.
Maafkan papa, Tina. Karena sudah berbuat salah sama kamu. Maafkan papa, Tina." Andre bersujud di kaki Tina.
Tina mengangkat tubuh papa mertuanya. Dia tidak memiliki dendam apapun pada Andre. Tina juga kaget saat mengetahui ada kerjasama antara Andre dan Glen. Tidak menyangka kalau ada campur tangan mantan suaminya.
"Dewi," Andre pun menatap mantan istrinya.
Perempuan yang baik hati. Masih menerima dirinya. Andre kembali turun dari kursi roda. Bersujud di bawah kaki mantan Istrinya. Dosa terbesarnya adalah menzolimi anak dan istrinya.
"Mas,"
"Dewi maafkan aku atas apa yang terjadi selama ini. Aku bukan suami yang baik, bukan ayah yang baik buat mereka bertiga. Aku tidak minta apa-apa, hanya maaf dari kalian itu saja. Memang aku tidak pantas di maafkan."
"Aku sudah memaafkan kamu, mas." jawab Dewi datar.
"Vira,"
Dewi mendadak cemas ketika Andre akan bicara sama Vira. Dia takut Vira tahu yang sebenarnya. Mereka sudah sudah susah payah menyimpan rahasia itu. Dan sekarang Andre akan meminta maaf. Sudah pasti akan membuka luka lama yang di simpan rapat-rapat.
__ADS_1
"Mas," cegah Dewi.
"Iya,"
"Aku mau bicara sama kamu." Dewi membawa Andre ke teras belakang.
Sekarang mereka duduk di dekat kolam renang. Dewi harus bilang pada Andre soal rahasia itu.
"Kami tahu kamu mau minta maaf sama Vira. Saya juga tahu apa yang sudah kamu lakukan sama Vira. Semua yang di rumah juga tahu. Tapi tidak dengan Vira. Dia tidak pernah tahu apa yang terjadi. Saat kejadian itu,Vira sempat nangis nanyain kamu. Saya tahu, sejak kecil Vira dekat sama kamu. Cuma saya tidak habis pikir, kenapa kamu malah mencoba menodai Vira? dimana otak kamu, Andre!" amuk Dewi.
"Maafkan aku, Dewi. Saat itu otakku di penuhi dengan hawa nafsu. Aku juga merasa menyesal setelah kejadian itu. Aku mencoba mencari perlindungan pada Padma, tapi ternyata dia sudah tidak tinggal disana. Bahkan katanya adiknya di adopsi sama Khairul."
"Irul?" jawab Dewi kaget.
"Iya, Dewi. Aku juga melihat Khairul di pesta pernikahan Feri waktu itu dengan seorang pemuda. Dan pemuda itu adiknya Padma, yang bernama Pandawa Danuarta. Alias Danu."
"Cukup! kita membahas soal Vira bukan Padma ataupun Irul. Tapi yang aku minta sama kamu hanya satu. Jangan bahas soal kejadian itu. Aku mohon jangan ungkit soal kamu pernah mencoba menodai Vira." Dewi bersujud di kaki Andre.
Dia rela membuang rasa malu nya bersujud di kaki mantan suaminya. Asalkan mereka tidak membuka soal percobaan pelecehan itu.
"Dewi jangan begini, iya aku minta maaf kalau sudah mencoba mengungkit soal Vira. Aku terus di kejar rasa bersalah bertahun-tahun. Mungkin ini cara aku melepaskan beban yang menghimpit. Aku mohon jangan seperti ini."
Setelah semua selesai, Andre pun diantar ke kamar oleh Feri. Dira dan Juna berencana menjenguk opa Han yang kurang sehat. Sekaligus menengok Radit anaknya Eka.
"Feri," panggil Dewi.
"Iya, Ma." Feri pun mengikuti mamanya masuk ke ruang kerja.
"Mama minta kamu batalkan kerjasama perusahaan dengan GLOBAL MACHINE. Semua yang berhubungan dengan mereka kamu batalkan. Termasuk menarik saham yang sudah kita tanamkan di perusahaan itu."
"Kenapa, Ma? kita bahkan sudah berhubungan baik dengan Pandawa. Apa yang salah dengan mereka?"
__ADS_1
"Dia itu adik dari seorang pengkhianat. Sudah pasti dia masuk ke keluarga kita buat percobaan yang sama. Seperti kakaknya dulu. Jadi mama minta cabut semua aset yang pernah kita bantu." kata Dewi.