SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 218


__ADS_3

Vira duduk diteras belakang menatap langit gelap yang bertabur bintang. Menenggelamkan kakinya di dalam kolam renang. Menghirup udara malam yang semakin dingin. Vira mengelus lengannya tanda mulai kedinginan.


Tiba-tiba ada jas yang menutupi tubuhnya. Ekspresinya kagetnya terpancar diwajah Vira. Tidak menyangka lelaki itu ikut mengikuti dirinya sampai ke teras belakang. Bahkan dengan hati-hati Dawa ikut turun mengikuti apa yang di lakukan Vira.


"Kamu ingat saat pertama kali kita di pertemukan waktu di rumah sakit,"


"Iya, seorang Pandawa Danuarta yang sok care sama kak Dira, rajin menjenguk kak Dira, terus sering main ke rumah dengan alasan mogoklah, ada urusan dari rumah teman lah, dan banyak alasan yang sebenarnya aku merasa tidak masuk akal,"


"Semua masuk akal karena memang begitu adanya. Bukan di buat-buat, termasuk soal perasaan seorang Danu pada adik kecilnya,


Ada yang bilang, saat kamu mencintai seseorang dan orang itu memiliki perasaan yang sama denganmu, saat orang itu juga balas mencintaimu, itu seperti keajaiban dalam hidup.


Ketika kamu mencintai seseorang, kamu ingin melakukan yang terbaik buatnya. Kamu melakukan hal-hal yang mereka inginkan dan adalah yang terbaik, kamu belajar untuk berkorban, dan membuat cintamu bahagia,"


"Ra, aku mau tanya sama kamu?"


"Pasti soal tadi kan? itu sudah keputusan saya kak Danu. Kakak harus terima kalau kita akan jadi saudara tiri,"


"Ra, lihat mata ku, dan katakan kalau apa yang kamu bilang tadi bukan dari hati yang paling dalam. Katakan sambil menatap mataku," Dawa meminta Vira memandang kearah dirinya. Vira melempar pandangan ke lain arah.


"Aku ngantuk kak, kakak bukannya tadi mau pulang?" Vira berjalan meninggalkan kolam renang. Dawa menahan tangan Vira, lama keduanya terdiam di tempat masing-masing. Kaki Dawa belum terlalu kuat memaksakan tegak dan berdiri. Akan tetapi lelaki itu tetap memaksakan untuk berdiri di hadapan Vira.


Tanpa mempedulikan Pandawa, gadis itu tetap beranjak meninggalkan area kolam renang. Dia sudah mantap mengalah sama mamanya. Walaupun hati kecilnya sesak di rasa.


BYUUUURRRR!


Vira mendengar suara air gemericik besar. Kakinya terhenti menoleh ke belakang. Sosok Pandawa sudah tidak ada di dekat kolam renang.


"Paling juga dia sudah pergi?" batinnya.


"Eh, sebentar? bukannya kak Danu kakinya belum kuat jalan. Tidak mungkin dia sudah pergi duluan," Vira langsung berlari ke arah kolam renang.


"KAK DANU!"


Suara Vira terdengar lantang di area kolam renang. Melihat tubuh Dawa perlahan menghilang ke dalam air. Jantung Vira berdegup kencang diiringi dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Ketakutan demi ketakutan terus memenuhi pikirannya.


Kak, please jangan main-main, ini nggak lucu! Kak Danu!" Vira masih memekik memanggil nama Danu. Raut wajah cemas melanda gadis berusia 21 tahun.


Adegan ini membuka ingatannya saat melihat Dawa berlumuran darah. Mengingat bagaimana lelaki itu mengakui keburukannya sebelum pada akhirnya terkapar tak berdaya di hadapan Vira. Tanpa berpikir panjang Vira langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang. Mencoba menyelematkan Pandawa, tentu tubuh Dawa yang lebih besar dari Vira, membuatnya kesulitan menarik ke dasar kolam. Akan tetapi dengan usahanya akhirnya Vira bisa membawa Dawa ke tempat lebih aman.


"Kak Danu! sadar, Kak!" Vira sudah membawa Dawa ke pinggir kolam. Menekan dada Pandawa agar cepat sadar.


"Ya Allah, ini Danu kenapa Vira," tanya Deka.

__ADS_1


Siapa yang tidak cemas melihat sang anak tak sadarkan diri basah kuyup.


"Kayaknya kak Danu jatuh karena kakinya belum kuat untuk berdiri," tebak Vira.


"Danu, sadar, Nak?" Deka melihat Danu mengedipkan matanya.


Deka akhirnya mengajak Dewi dan Feri membiarkan Vira mengatasi sendiri.


"Hah! enggak! aku nggak setuju, ngapain biarkan mereka berdua saja. Orang kalau berdua di tengahnya ada setan," protes Dewi.


"Bi Inah ajak Vira ke dalam, kasihan basah kuyup. Nanti malah masuk angin," titah Dewi. Inah langsung menuruti permintaan atasannya.


"Dan kamu, Dirga. Bawa anakmu pulang sekarang!" Dewi melengos tanpa menunggu jawaban Dirga.


"Sepertinya perjuangan kita masih panjang, Nak. Untuk meluluhkan kekerasan hati seorang Dewi Savitri," batin Deka.


Waktu terus berjalan, dewa malam pun memilih beristirahat di gantikan oleh sang Surya. Suara cicitan burung terdengar lebih jelas di pinggir kamar balkon Vira.


Pelan-pelan tubuhnya bangkit, entah kenapa rasa lelah masih menerpa dirinya. Apa yang membuat seluruh tubuhnya rontok seketika. Kerja berat pun tidak.


Vira keluar dari kamarnya. Suara dari bawah terdengar ramai sekali. Apakah masih ada opa Han? bisa jadi. Karena tidak mungkin opa nya pulang ke Margonda malam-malam.


"Di makan nasi gorengnya, den," sapa Bi Inah.


"Itu suara kayak ..." Vira langsung turun dari lantas atas.


"Pagi, Sapi," sosok itu menyapa Vira dengan santai.


"Kak ... kok disini," masih mode kaget.


"Kok bengong, itu Bi Inah sudah siapkan sarapan. Rezeki jangan di anggurin,"


"Mama mana, Bi?"


"Bu Dewi sudah berangkat ke Surabaya sama den Feri, Non,"


"Surabaya? ngapain?"


"Pak Andre masuk rumah sakit, Non," kata Bi Inah.


"Mama ngapain masih sibuk urusin papa. Biarin saja papa di urus keluarganya. Kak Feri kan sudah bantu biaya untuk papa," Vira terus mencerocos.


"Ra, Tante Dewi cuma menemani Feri. Sebagai bentuk empati meskipun mereka sudah berpisah,"

__ADS_1


"Nimbrung saja, kalau nggak tahu apa-apa mending diam!" Vira masih bersikap ketus sama Pandawa.


"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Vira pada Bi Inah.


"Kamu ingat Savira, kalau alam semesta merestui kemana pun kamu menghindar kita tetap di pertemukan,"


"Semesta? heh, nggak ada semesta yang merestui orang suka modus seperti anda tuan Pandawa, jangankan semesta Tuhan saja belum tentu merestui anda," Vira meninggal Dawa di ruang makan.


Vira memasuki kamarnya sambil membanting pintu. Entah kenapa sejak Dawa di daulat jadi calon kakak tirinya dia makin sering uring-uringan. Apa mungkin karena sebentar lagi status mereka akan berubah.


Vira langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan handuk sudah menempel di tubuhnya. Pandangannya menerawang ke langit dinding kamar. Tangannya meraba handphone, sudah hampir satu minggu " Pengagum Sepanjang Masa" tidak pernah mengirim pesan kepadanya.


Vira menempelkan benda pipih ke daun telinganya. Suara wanita yang selalu memberikan jawaban yang sama. Bibirnya maju satu centi, rasa kesalnya kembali meluap. Ibarat sudah ke langit ke tujuh, dan sekarang di hempaskan ke dasar bumi. Seketika dia melempar handphonenya hingga ke lantai.


"Kenapa aku semarah ini sih? apa jangan-jangan aku mau kena haid kali ya?" umpat Vira.


Ting!


Status apakah itu penting. Status akan merubah seseorang menjadi berbeda. Tapi apalah hati perlu status juga? perlu sih.


Tapi satu yang perlu kamu tahu, apapun yang merubah status tidak akan mengubah hati seseorang.


"Aku akan di jodohkan dengan lelaki lain," balas Vira.


"Selamat kalau begitu, tapi kalau perlu bantuan aku akan bersedia," jawabnya pengagum Sepanjang Masa.


"Bantuan? maksudnya?"


"Bantuan untuk menggagalkan perjodohan itu," balas nya lagi.


"Dasar aneh, ketemu saja belum sok-sokan mau bantu,"


Vira beranjak dari tempat tidurnya. Lalu masuk ke kamar mandi. Hari ini dia ada satu mata kuliah remedial.


"Kamu mau ke kampus?" tanya Dawa.


"Menurut anda saya mau kemana? ke pasar?"


"Kenapa kamu ketus sekali sama saya, kita kan ..."


"Jangan mimpi kamu di terima jadi saudara,"


"Kalau begitu ayo kita yang menikah, aku akan bilang sama papa dan juga Tante Dewi soal kita. Aku cuma mau menikah dengan satu orang yaitu kamu,"

__ADS_1


__ADS_2