SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 229


__ADS_3

Waktu sudah memasuki sore hari, beberapa tamu undangan sudah memadati area lokasi. Semua yang ada disana mengetahui kalau yang menikah adalah putri bungsu Dewi Savitri. Bukan hanya kolega dekat Dewi yang datang, teman sekelas Vira pun datang ke acara tersebut. Sudah pasti Elsa lah yang menginstruksikan teman-temannya.


Salah satu tamu yang datang adalah Panji. Bersama sang istri juga ibu mertuanya. Mereka duduk di salah satu kursi. Panji sudah mendengar kalau Vira akan menikah melalui Feri. Hanya saja dia juga penasaran siapa lelaki yang akan meminang mantan kekasihnya itu.


"Wah, Cha, Ji. Ini mah pesta orang gedongan," Bu Lakshmi menatap kagum.


"Buat pesta kok di dekat pantai, apa nggak takut nanti kena tsunami atau apa gitu. Ibu lihat video band yang kena tsunami pas manggung saja sudah merinding,"


"Insyaallah enggak, Bu. Mereka pasti sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Malah keren lo bisa bikin pesta di luar. Para undangan bisa melihat sunset secara langsung," kata Panji.


"Orang zaman sekarang aneh, ya. Kok ngelihat matahari terbenam sudah heboh. La wong tiap matahari naik dan terbenam," cerocos Bu Laksmi.


Echa tertawa mendengar ocehan ibunya. Kaki nya yang tinggi berdiri di hadapan suaminya.


"Ini dasinya sudah betul kok kacau lagi, Mas. Aku kan pengen lihat sekali-sekali suamiku terlihat keren. Ya walaupun kamu sudah ...." Panji menutup bibir Istrinya dengan jari telunjuk.


"Kamu jangan sering memuji suami di depan banyak orang. Nanti yang ada malah mereka pada jatuh cinta sama suamimu yang ganteng ini," Panji meringis mendapat cubitan kuat menyasar di perutnya.


"Sudah punya istri masih saja narsis. Yang aku takutkan bukan orang yang jatuh cinta sama kamu, Mas. Tapi kamu malah meladeni mereka yang mencoba menggodamu. Sudah rapi, paling tidak nggak malu-maluin,"


Echa melihat seorang lelaki berjalan kearah mereka. Memberi kode pada suaminya akan ada menyambangi mereka.


"Kak Panji," sapa Arjuna.


Panji memutar badannya. Menyapa balik lelaki mantan calon kakak iparnya. Juna mendekati mereka sambil mengemong Fajar.


"Wah, adek ganteng namanya siapa?" sapa Echa.


"Fajar, Tante," jawab Juna menirukan gaya bicara anak kecil.


"Wah, mau gendong sama Tante," Fajar membalikkan badannya. Menggenggam erat kerah baju papanya. Dagunya bersembunyi di balik pundak Arjuna.


"Maaf, ya. Anak saya belum biasa sama orang lain,"


"Nggak apa-apa, Pak Juna," Echa harus menahan diri memegang Fajar. Jujur dia gemas melihat imutnya Fajar. Echa memang suka sama anak kecil.


Juna langsung menyampaikan tujuannya mendekati Panji. Dia meminta Panji menjadi saksi pernikahan Vira nantinya. Sebenarnya bisa saja dia yang jadi saksinya. Tapi beberapa hari ini dia terkena morning sickness efek kehamilan istrinya.

__ADS_1


"Aku?" Panji kaget.


"Iya, itu permintaan mama Dewi,kak. Kalau nggak percaya tanya langsung sama yang bersangkutan," kata Juna.


"Gimana, sayang?" Panji meminta izin kepada istrinya.


"Emang yang nikah ini siapa nya kamu, Panji?" Tanya Bu Laksmi.


"Mantan tunangan mas Panji, Bu. Tapi hubungan dia sama keluarga ini sudah seperti orangtua sendiri," jelas Echa.


"Aduh, kamu kok nggak cemburu sama suamimu. Kalau ibu di posisi kamu sudah pasti ibu larang suami dekat sama mantannya," cerocos Bu Laksmi.


"Aku percaya sama mas Panji nggak aneh-aneh. Bukankah ibu juga sudah kenal mas Panji dari kecil. Ibu yang mengasuhnya dulu. Omongan ibu seakan baru kenal sama mas Panji,"


"Ibu percaya sama Panji, Cha. Hanya saja masih aneh di mata ibu tentang kedekatan Panji dan keluarga mantannya. Takutnya jadi duri dalam rumah tangga kalian,"


"Echa kenal sama Savira. Dia perempuan baik-baik, pokoknya ibu percaya sama kami, Insyaallah kalau ibu mendoakan anaknya yang baik berefek sama kebahagiaan kami," ucap Echa sambil melingkar di pinggang Bu Laksmi.


"Iya, ibu percaya. Tapi ibu boleh kan tinggal sama kalian di Jakarta. Kamu tahu sendiri kalau di rumah ibu hanya sendirian," Echa mengangguk menyanggupi permintaan ibunya. Apalagi suaminya juga tidak keberatan.


visual Fajar



"Kenapa lihatnya begitu? pasti aku tampan sekali kan,"


"Idihhh, GeEr benar! kenapa kakak yang maju padahal tidak di panggil juga!" cibir Vira.


"Sudahlah, jangan gengsi akui saja kalau masih terpesona, tapi sayang aku sudah menemukan ibu untuk anak-anakku," Panji mengedarkan pandangannya ke arah salah satu kursi tamu. Tampak seorang wanita cantik melambai ke arah Panji.


"Ya, mudah-mudahan kak There punya stok sabar punya suami seperti anda," Vira menjulurkan lidahnya.


Setelah mereka beradu debat, keduanya tertawa lepas mengenyampingkan yang pernah terjadi diantara mereka.


"Ya, ampun kalian ini acara penting masih sempat berdebat," Mama Dewi menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara Vira dan Panji.


"Assalamu'alaikum, Tante Dewi. Terimakasih sudah bersedia menjadikan saya saksi pernikahan adik cantikku ini," sapa Panji sambil menyalami mama Dewi.

__ADS_1


"Vira, saya bisa berdiri disini atas permintaan Tante Dewi. Saya juga ingin mengawal adik saya ini menuju gerbang pernikahan. Mengantarkan kamu pada seorang lelaki yang akan mendampingi kamu hingga akhir hayatnya.


Kamu itu sudah seperti adikku sendiri. Sebagai seorang kakak tentu aku ingin melihat adikku berbahagia karena telah menemukan seseorang yang akan membawanya pada fase kehidupan selanjutnya.


Maka izinkan saya menjadi saksi atas kebahagiaan kalian,"


Vira terkejut saat matanya di tutup. Pandangannya menjadi gelap seketika. Langkahnya di tuntun untuk turun dari panggung. Sebuah tangan tanpa henti mengantarkannya di suatu tempat.


Yang dia dengar suara deburan ombak sangat jelas. Dia merasakan kalau saat ini tubuhnya sudah di daratkan pada sebuah kursi. Tanpa dia sadari di sebelahnya sudah ada seorang lelaki yang akan menghalalkannya. Lelaki itu juga sama penasaran siapa wanita yang akan di nikahinya.


"Sebelum penghulu memulai akad nikah, akan lebih baik penutup matanya di buka. Biar mereka saling mengetahui pasangan masing-masing,"


Elsa selaku pendampingan pengantin pun membuka tali yang membelit indera penglihatan Savira. Begitu juga dengan Pandawa yang di dampingi salah satu asisten Deka, juga ikut di buka penutup matanya.


Pelan-pelan keduanya memulihkan pandangan masing-masing. Dawa kaget di hadapannya ada Feri dan juga Panji. Pandangannya menoleh kearah sosok yang ada di sampingnya. Vira masih enggan menaikkan kepalanya.


"Sapi," suara itu otomatis memancing Vira untuk menegakkan kepala.


Kepala mereka yang tadinya menunduk kini


terangkat. Keduanya pun akhirnya saling


menoleh. Hening, itulah terjadi diantara


keduanya. Tatapan mereka belum beranjak


kearah penghulu. Raut wajah mereka


menggambarkan kebahagiaan, antara rasa tidak


percaya, bahwa pasangan yang akan mereka


nikahi adalah pacarnya sendiri.


Terdengar instruksi dari penghulu.


"Saudara Pandawa Danuarta, Apakah anda sudah

__ADS_1


siap?"


__ADS_2