SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 128


__ADS_3

"Assalamualaikum" suara salam terdengar dari depan rumah.


Dira yang sedang memasak pun meninggalkan dapur untuk menyambut tamunya. Setelah mematikan kompor dan melepaskan celemek masak Dira pun membuka pintunya. Tampak sepasang suami istri yang berdiri di depan pintu. Wanita di depannya masih muda bahkan seperti sepantaran Dira. Lelaki di hadapannya sudah terlihat dewasa. Bahkan di tebak usia lelaki itu sekitar 50-an.


Dira merasa asing dengan kedua tamunya. Tapi tetap saja dia berusaha ramah dengan keduanya.


"Ada yang bisa saya bantu?" sapa Dira.


Lelaki itu mendekati Dira. Menangkup wajah sang empunya rumah. Air matanya menetes seakan ada yang di mintanya pada Dira.


"Pak, maaf." Dira melepaskan tangkupan tangan dari lelaki itu.


"Kamu Dira, kan? istrinya Arjuna." Dira mengangguk kecil.


"Kalian siapa?" Dira masih was-was dengan dua orang yang datang ke rumah.


"Saya Antoni, dan ini adalah istri saya Angel. Kami adalah orang tua dari Maria. Saya datang kesini mau bertemu dengan Arjuna. Apa Arjuna nya ada?"


"Mas Juna sedang ke pabrik, pak. Silahkan masuk dulu nanti saya kabari suami saya."


Antoni dan Angel memasuki ruang tamu di kediaman Arjuna. Antoni sedikit tahu tentang keluarga istrinya Arjuna. Perempuan yang berasal dari keluarga berada. Mau tinggal di areal perkebunan. Jauh dari kemewahan. Dia berharap suatu saat Maria bisa seperti Dira.


Dira datang membawa minuman hangat dan cemilan keripik singkong. Antoni merasa tidak enak karena Dira menjamu mereka dan baik. Bahkan sebenarnya dia merasa malu muncul di depan keluarga ini. Tapi demi anaknya dia rela menyampingkan rasa malunya.


"Sebenarnya ada apa bapak dan ibu kesini?" Dira menanyakan maksud kedatangan orangtua Maria.


"Maaf kalau kedatangan kami mendadak. Tapi kami tidak tahu minta tolong sama siapa lagi. Karena kalianlah kunci dari permasalahan ini. Saya cuma minta tolong sama Arjuna. Tolong bebaskan anak saya. Saya tahu dia ada salah sama kalian, tapi bukankah kesalahan dia hanya jatuh cinta dengan Arjuna. Itu di luar konteks pekerjaan saya terima."

__ADS_1


"Sebelumnya saya jelas duduk perkaranya yang sebenarnya. Maria putri anda di tahan karena memang perkara pekerjaan. Saat suami saya baru pulang setelah kejadian satu tahun yang lalu. Dia memberhentikan Maria karena mencoba memasuki rumah tangga kami. Itu antisipasi yang sudah di lakukan suami saya."


Pak Antoni tidak terima penjelasan dari Dira. Dia menganggap hal itu tidak etis sebagai alasan pemecatan anaknya. Selama Arjuna tidak tergoda, hal itu tidak akan jadi masalah. Selama si empunya rumah tidak terpengaruh dengan godaan yang datang. Lelaki yang kuat iman tidak akan goyah pada badai yang menghantam.


"Tapi suami anda tidak tergoda kan? jadi tidak masalah kalau Maria punya perasaan. Apa mungkin Arjuna takut dia akan jatuh cinta sama Maria? apa anda tidak tahu kalau SMA dulu mereka..."


"Pak, saya tidak punya waktu untuk memikirkan bagaimana Maria dan suami saya di masa lalu. Tapi satu yang harus anda tahu. Maria, putri anda, itu mendatangi semua klien kami mengatasnamakan pabrik PT Bramantyo. Padahal dia sudah di berhentikan. Banyak kerugian pabrik akibat ulah Maria. Termasuk pemerasan yang dia lakukan bersama pak Suprapto.


Suami saya tidak akan mempidanakan seseorang tanpa dasar bukti yang kuat. Dan Maria terbukti melakukan penipuan pada beberapa klien. Anda seorang pengusaha juga kan, pasti anda paham masalah seperti ini." kata Dira tegas.


Antoni dan Angel pun terdiam. Angel sebenarnya setuju dengan pendapat Dira. Seharusnya suaminya mencari tahu dulu, jangan mengandalkan pemikiran Maria. Bisa jadi itu hanya alibi Maria saja supaya papanya mau membebaskan. Tapi saat ini posisinya hati suaminya sedang panas. Hati yang sedang panas akan susah di padamkan.


...****...


Indonesia saat ini adalah produsen teh terbesar ketujuh di dunia. Kendati begitu, karena prospek bisnis yang menguntungkan dari kelapa sawit, hasil produksi teh telah menurun di beberapa tahun terakhir karena beberapa perkebunan teh telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, sementara perkebunan-perkebunan teh yang lain telah menghentikan produksi untuk memproduksi sayuran atau produk pertanian lain yang lebih menguntungkan. Meskipun ada penurunan luas lahan, jumlah produksi teh tetap relatif stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa perkebunan-perkebunan teh yang tersisa menjadi lebih produktif.


Salah satunya yang berhasil mendapatkan beasiswa ada Cahaya. Gadis usia 18 tahun yang juga kekasih Oka, kakaknya Delia. Bahkan Johan pun menyiapkan beasiswa kuliah untuk Cahaya. Beruntung gadis itu berprestasi di sekolahnya. Usia Oka yang 33 tahun dengan Cahaya memang sangat jauh. Tapi namanya cinta tidak pandang usia. Itu yang terjadi sama mereka.


"Oh ya bagaimana dengan pendidikan Cahaya?" tanya Juna pada Seto, staf bagian administrasi.


"Cahaya masih dalam pemulihan, pak. Jadi dia belum bisa masuk kerja." lapor Seto.


Cahaya memang belum lama ini menyelesaikan sekolahnya sebelum di berangkatkan ke Singapura. Juna tahu Cahaya punya masalah di jantung sejak kecil. Beruntung gadis itu mendapatkan donor jantung dari salah satu pasien disana. Selama menunggu masa pemulihan, dan sambil mencari tempat kuliah Cahaya minta dia ikut bekerja di pabrik teh. Juna pun menyetujui permintaan Cahaya.


Dering telepon dari istrinya pun memecahkan konsentrasinya. Ada 12 anak yang akan mengikuti jejak Cahaya untuk di berikan beasiswa.


"Iya, sayang. Ada apa?"

__ADS_1


"Mas, bisa pulang cepat?" suara Dira seperti berbisik.


"Ada apa? kamu kangen sama aku. Sampai minta pulang cepat. Apa anak kita yang kangen sama papanya."


"Mas, ini bukan waktunya menggombal. Ini ada pak Antoni dan Bu Angel yang mencari kamu. Kayaknya ini ada urusannya dengan Maria."


"Ya Allah, mereka tidak menyerah sepertinya. padahal aku sudah bilang kalau kesalahan Maria itu fatal."


"Tapi bukan hanya mereka yang datang nyari kamu, Mas."


"Siapa lagi?"


"Ada Tania yang juga mau ketemu kamu. Aku sudah panggil Ayu buat ngadepin mereka. Tapi sampai sekarang ayu belum datang juga."


"Tania pasti minta ayahnya di bebaskan." tebak Juna.


"Enggak, Mas. Tapi dia ngotot mau ketemu kamu. Aku harus bagaimana?"


"Aku pulang. Kamu jangan suruh mereka pulang dulu."


"Iya, mas."


Dira menutup teleponnya. Kepalanya sedikit pusing. Beruntung Ayu lekas datang. Melihat Dira yang sedikit pucat, Ayu meminta Dira di kamar saja.


"Mereka jangan di usir, yu. Tadi mas Juna bilang dia akan pulang buat menyelesaikan masalah ini.'' suara Dira terdengar lirih.


"Kenapa, Yu? setiap aku hamil selalu kepalaku pusing. Aku takut, Yu. Takut seperti dulu lagi. Aku takut, Yu kehilangan anakku lagi."

__ADS_1


__ADS_2