SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 65


__ADS_3

"Kamu sudah sadar, nak?" Bu Halimah melihat Sandi sudah duduk di tempat tidurnya.


"Apa yang terjadi?"


"Kamu tadi pingsan di tengah sawah, nak."


"Pingsan?" Sandi masih memegang kepalanya. Rasanya masih terlalu berat untuk berpikir.


"Iya, sekarang kamu istirahat. Ibu panggil Jimmy, kamu tahu, nak. Jimmy sangat cemas melihat ayahnya."


"Ayah?" suara kecil itu masuk ke dalam kamar Jimmy.


"Nak, terimakasih sudah mencemaskan ayah."


"Ayah kenapa pingsan? Jimmy takut terjadi sesuatu pada ayah. Jimmy nggak mau kehilangan ayah lagi."


"Nak, ayah nggak apa-apa. Kamu lihat sendiri kan, ayah sudah bangun artinya sudah sehat."


"Ayah, jangan sakit lagi." Jimmy memeluk erat tubuh Sandi.


"Ibumu mana?"


"Ke puskesmas, yah. Tadi diantar om Awan."


"Oh, berarti mbak Dira sendirian di rumah?"


"Tante Dira sudah pulang tadi, yah."


"Pulang?" Jimmy mengangguk.


"kemana?"


"Ke Jakarta,yah."


"Keeee... Jakarta?" nada suara Sandi meninggi.


"Ayah mau kemana?"


Sandi tidak memperdulikan panggilan dari Jimmy. Dia berlari mengambil kunci motor. Tubuhnya yang masih lemas di paksakan untuk menaiki motornya. Dalam pikirannya hanya satu. Memperjelaskan pada Dira kalau dia bukan suami Naura. Memperjelaskan pada Dira kalau dia sudah ingat sebagian. Meskipun masih separuhnya.


Sandi tidak memperdulikan panggilan dari Jimmy. Dia berlari mengambil kunci motor. Tubuhnya yang masih lemas di paksakan untuk menaiki motornya. Dalam pikirannya hanya satu. Memperjelaskan pada Dira kalau dia bukan suami Naura. Memperjelaskan pada Dira kalau dia sudah ingat sebagian. Meskipun masih separuhnya.


Motor melaju ke rumah Naura. Padahal tadi Jimmy sudah mengatakan kalau Dira sudah berangkat. Tapi tetap saja Sandi masih mencoba memeriksa rumah Naura. Berharap Dira masih ada di sana.


Sandi mengepalkan tangannya kearah dinding rumah. Sesekali kepalanya di jedotkan ke dinding. Penyesalan yang begitu mendalam. Terlambat mengungkapkan apa yang dia alami pada wanita itu.


Lelaki itu menjatuhkan kakinya ke lantai. Dia sudah terlambat mengejar cintanya. Sebuah tangan bertumpu pada pundak lelaki itu. Sontak Sandi menoleh, melihat sosok pemuda tampan berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Wan, kamu tidak ikut sama Dira?"


"Tidak. Urusanku disini belum selesai." jawab Awan.


"Urusan?" Sandi belum paham.


"Kamu tidak lupa Sandi, saya akan mengembalikan kamu pada keluarga aslimu. Termasuk pada istrimu. Bukankah itu pembahasan kita kemarin? apa kamu sudah lupa?" Sandi berdiri searah sejajar di depan Awan.


"Wan, kamu tahu sesuatu tentang aku, kan?"


"Kenapa? kamu ingin tahu siapa kamu sebenarnya? Kamu ingin tahu kenapa kamu bisa ada di desa ini, Arjuna Bramantyo?"


"Kamu tahu namaku? kenapa kamu tidak menjelaskan pada keluarga pak Rohim? Jawab Awan!"


"Terlalu gampang kalau kamu cepat sembuh, Kak Juna?" tawa Awan.


"Kak?"


"Iya, kak. Kita ini saudara sepupu. Kamu dan aku saudara yang beda nasib. Kamu hidup dengan bergelimang harta. Saya hidup dengan nasib yang tidak karuan."


"Kamu kenapa bicara seperti itu, Wan?"


BUUUUUGH!


Awan melayangkan tangannya ke perut Sandi. Sebuah bogem melayang ke wajah mulus sandi.dua pasang mata saling bertatapan penuh amarah. sekali lagi hantaman itu menembus wajah Sandi.


Sandi menatap Awan dengan penuh emosi. Lalu menghajar lelaki itu demi membalas apa yang baru saja menimpanya. Satu bogem di balas dengan bogeman. Tak ada rasa takut diantara keduanya.


"Cukup!" pekik Naura.


Sandi dan Awan berhenti setelah mendengar teriakan Naura. Bu Halimah menuntun Sandi duduk di kursi bambu. Sementara Awan tubuhnya sudah lemas terduduk di depan pintu rumah Naura.


"Apa yang kalian lakukan itu seperti anak kecil? apa tidak malu nanti dilihat Jimmy?"


"Aku tadi kesini dia datang-datang marah padaku?" Adu Sandi.


"Iya, wajar aku marah! kamu sudah menyakiti perasaan non Dira. Kenapa nggak bilang sama non Dira kalau kamu dan Naura belum menikah. Kenapa kamu tidak menahan non Dira untuk tetap disampingmu? non Dira itu istri sah mu!"


"Awan, kenapa kamu ngomong seperti itu? dia itu ayah ..."


"Dia bukan ayah Jimmy, Naura! dia itu Arjuna Bramantyo, suaminya non Dira! kamu harusnya buka mata!"


"Dia anak saya!" kata Bu Halimah dengan lantang.


"Iya, dia anak ibu. Dari dulu, Bu. Ibu selalu membanggakan dia. Karena dia lebih gagah dari saya, karena dia lebih berprestasi dari saya. Saya paham, Bu. Saya paham sekali.


Kata orang naluri ibu ke anaknya lebih kuat. Tapi saat bertemu saya ibu seperti orang asing dimata saya. Ingin saya bilang pada ibu, saya anak ibu yang sebenarnya bukan dia. Saya Awan atau Sandi Kurniawan, bu. Bukan dia!

__ADS_1


Dia keponakan yang selalu ibu banggakan. Bukan saya yang selalu dianggap tukang buat onar!"


"Awan, dia ibu kamu!" Sandi tidak terima melihat sikap Awan pada Bu Halimah.


Bu Halimah terdiam mendengar ucapan Awan. Benarkah dia terlalu sibuk dengan sosok yang mirip dengan anaknya? benarkah dia tidak peka kalau Sandi yang asli ada didekatnya? Bu Halimah terduduk lemas.


"Bu, maafkan saya. Saya sudah terlalu nyaman menjadi Sandi. Saya ..."


"Saya tidak tahu harus berbuat apa? saya tidak tahu kalau ternyata kamu anaknya Salma. Maafkan saya yang sempat membuat kamu dan non Dira berpisah. Maafkan saya yang pernah mengancam non Dira agar dia pergi dari hidupmu."


"Bu, saya yang harusnya berterimakasih pada ibu, bapak dan juga Naura. Kalian sudah menyelamatkan saya dari maut. Meskipun sampai saat ini ingatan saya belum pulih. Tapi paling tidak sepotong momen ada sedikit dalam ingatan saya."


Awan atau Sandi yang asli hanya menatap sinis kearah keduanya. Dia memilih pergi dari rumah Naura daripada menonton adegan yang bikin sesak nafas. Tangan lembut itu menahannya, sosok mata coklat menatap lekat dirinya.


"Mau apa?"


"Mau minta penjelasan atas semua yang kamu bilang tadi."


"Bukankah sudah jelas? kamu juga lebih peduli dengan lelaki itu, kan?"


"Iya, karena dia lebih peduli dengan Jimmy ketimbang ayah kandungnya sendiri. Bukan lelaki yang tiba-tiba datang, merasa playing victim seolah dia yang menderita.


Kamu tahu kenapa aku belum menikah? karena aku berharap Sandi pulang dan mengakui Jimmy sebagai anaknya. Bukan Sandi yang datang sok sibuk dengan urusan majikannya. Walaupun dia bukan ayah kandung Jimmy, tapi dia lebih peka pada anakku. itu poinnya."


Awan tetap pergi meninggalkan kediaman Naura. Bukan karena dia masih sakit hati atau ketidakpekaan ibunya. Ia hanya perlu menenangkan diri setelah semua yang terjadi. Awan belum pulang ke rumah orangtuanya. Ia memilih bermalam di pondok kebun pak Rohim.


"Wan," Awan tersentak saat ada yang menyapanya.


"Sandi eh maaf kak Juna."


"Kamu pulang ya?" Awan menggeleng.


"Terus kamu mau nya apa?"


"Aku juga tidak tahu kak Juna."


"Jadi sekarang kamu memanggilku Juna? bukan Sandi lagi?"


"Saat pertama kali aku terbangun mereka memanggilku dengan sebutan Sandi. Aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan bisa sampai di desa ini. Tapi setiap malam aku sering bermimpi berada di dalam mobil yang terperosok dalam genangan air.


Aku tidak pernah merebut orang-orang terdekatmu. Aku juga tidak pernah mengambil Naura dari sisimu. Apa kita sebegitu nya mirip sampai orang tidak bisa membedakan?"


"Kak Juna, maafkan aku tadi. Aku tadi emosi karena memikirkan non Dira. Aku kasihan sama non Dira yang begitu terguncang mengira kakak dan Naura sudah menikah. Bahkan dia sudah menyiapkan proses perceraian kalian."


"Cerai!" Juna kaget mendengar kabar kalau Dira mempersiapkan perceraian mereka.


"Wan, tolong bantu saya untuk pulang ke Jakarta. Tolong saya,Wan. Saya ingin memperbaiki rumahtangga saya dengan Dira.Disini saya masih buta akses."

__ADS_1


" Tidak bisa sekarang, kak. Saya harus menyelesaikan urusan dengan Naura."


"Saya mohon, Wan." sujud Juna di kaki Awan.


__ADS_2