SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 55


__ADS_3

Dira melabuhkan tubuhnya di kursi bambu rumah Naura. Dia memilih pergi dari rumah pak Rohim daripada membiarkan rasa sakitnya lebih besar. Kakinya dilipat menekuk sejajar oleh dagunya.


Langit malam tampak memikat. Dia pun memandang kearah hamparan sawah yang terlihat karena lampu penerangan. Lagi-lagi ada keinginan dia ingin berjalan di tengah sawah. Namun sebagian hati kecilnya takut kalau terjadi sesuatu. Dia harus bertahan. Demi membuktikan kalau lelaki yang dia lihat memang suaminya bukan Sandi seperti yang mereka lihat.


"Kalau aku waktu kecil dulu suka sekali memandang langit malam. Kata ayah Bintang itu adalah kumpulan malaikat yang sedang mengawasi tindak tanduk umatnya." Awan tiba-tiba muncul duduk di sebelah Dira.


"Bukannya malaikat punya tugas masing-masing. Tidak sempat berkumpul. Jadi itu belum tentu malaikat. Bisa jadi emang bintang." jawab Dira


"Kalau yang kudapat cerita saat kecil begitu, non." jawab Awan sambil membuka beberapa kudapan yang dibelinya sekitar rumah Sandi tadi.


"Kamu kok nggak bawa Jimmy?"


"Jimmy dan Naura menginap di tempat mertuanya. Tapi aneh ya? kalau mereka suami istri kenapa dia tidak memanggil lelaki itu dengan sebutan mas atau apalah. Cuma panggil Sandi saja. Lagian ibunya aneh, kalau belum muhrim di biarkan menginap."


Dira berjalan meninggalkan rumah Naura. Awan mengejar atasannya. Takut kalau terjadi sesuatu, dia yang kena getahnya. Mereka berjalan mengitari persawahan sekitar pedesaan.


"Saya tahu, non. Kalau lelaki yang katanya suami non Dira itu adalah Sandi, suaminya Naura. Tapi saya akan bantu non Dira untuk membuktikan kalau itu bukan Sandi."


"Caranya?"


"Akan ada waktunya semua bisa terbukti non. Non Dira sabar saja."


Dira membalas tatapan kearah asisten opanya. Tadi dia berharap kalau lelaki itu akan membantunya, ternyata cuma mau bilang begitu.


"Tadi kirain kamu mau bantu aku, Awan. Karena ini menyangkut rumah tanggaku. Paling tidak statusku jelas. Dan jika memang dia bukan suamiku, aku siap menerima kenyataan kalau sekarang statusku adalah janda mati."


"Jadi rencana non apa?"


"Mencari sandi yang asli!"


Awan menoleh sekilas kearah Dira. Tampak wanita itu yang tadinya muram sekarang terlihat ceria. Apa mungkin karena sudah bertemu suaminya. Atau hal yang lain dia tidak tahu.


"Non istirahat, ya. Sudah malam." Awan mengajak Dira masuk kedalam.


"Aku bingung tidur dimana? nggak enak masuk kamar Naura. Terus kamu dimana tidurnya?"


"Saya tidur di ruang tamu bisa. Yang penting non Dira istirahat di kamar." Awan menuntun Dira di kamar Jimmy.


"Terimakasih, wan."

__ADS_1


"Sama-sama, non. Itu sudah tugas saya. selamat istirahat." Awan meninggalkan Dira di kamar Jimmy. Wanita itu tak bisa memejamkan matanya. Memandang arah rembulan yang membulat sempurna.


Dira memandang langit kamar Jimmy. Ada mainan menyerupai bintang-bintang. Kalau dimatikan lampunya akan menjadi cahaya sendiri. Senyumnya mengembang seakan melupakan yang tadi dia alami.


*


*


*


*


Azan subuh berkumandang. Dira bangkit demi menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Alam mulai bersahutan dengan mengagungkan kebesaran Allah. Fajar menyingsing membuatnya takjub dengan kebesaran nama Allah. Sejak dirinya bangun dari komanya, Dira selalu menanti fajar tiba, dengan harapan ada seseorang yang muncul di depan pintu rumah, menyambut dirinya, mengucapkan selamat pagi. Meskipun dia tahu kalau itu tidak mungkin.


Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah. Fajar perlahan menyingsing, terdengar suara kicauan burung, menandakan hari sudah siang. Beberapa saat kemudian tubuhnya bangkit. Ada rasa nyeri dalam dadanya, tampaknya dia masih ditempat yang sama. Tempat dimana sosok yang di yakininya adalah suaminya. Namanya Sandi, tapi Dira merasa itu bukan Sandi. Melainkan Arjuna. Biasanya feeling-nya tak pernah salah. Dan semoga saja itu tidak salah. Kalau memang itu suaminya dan ternyata sudah punya istri, Dira sudah menyiapkan perceraian pada Juna.


Kamu tahu, Mas. Setiap membuka mata aku selalu berharap kalau kamu masih disini. Masih menyambut pagi dengan semua perhatianmu. Pagi kita selalu mual-mual bareng. Aku rindu masa itu, mas. Rindu melihat kamu sigap sama aku.


Setelah sholat subuh Dira pun masih menatap langit. Di bukanya jendela lebar-lebar agar bisa menghirup udara segar.


Meninggalkan kamar Dira berjalan menuju dapur. Memeriksa bahan buat dimasak. Dia tahu kalau hanya dirinya dan juga Awan berada di rumah. Dira mencari Awan dan tidak menemukan lelaki itu di kamar atau pun di ruang tamu.


Dira berlari ke kamar mendengar gawainya berbunyi. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam, nak. Alhamdulillah, nak. mama bisa dengar suara kamu lagi. Semalam kamu tidak bisa di hubungi. Mama pikir terjadi sesuatu sama kamu. Alhamdulillah kamu baik-baik saja."


"Iya, maaf, ma. Handphone Dira lowbat semalam. Pas sampai Dira diajak jalan-jalan sama yang punya rumah. Malam baru sempat istirahat." kilah Dira.


"Yasudah, mama dengar kamu baik baik saja sudah Alhamdulillah. Mama cemas semalaman kamu tidak bisa di hubungi. Kamu nginap dimana?"


"Di rumah keponakan bi Inah ma."


"Ra, tadi mama transfer uang untuk tanda terimakasih sama yang punya rumah. Soalnya mama lihat ATM kamu ada di kamar."


"Iyakah, ma. Ya ampun, aku belum cek dompet. Terimakasih, ma. Dira minta maaf kalau sudah merepotkan mama lagi."


"Nak. Mama tidak pernah merasa di report kan. Kamu anak mama, jadi wajar dong mama memberikan perhatian ke kalian bertiga. Kamu sudah sholat?"

__ADS_1


"Sudah, ma. Ini Dira sudah di dapur mau masak. Mbak Naura sedang di tempat mertuanya nginap disana. Suaminya sakit dan di bawa ke rumah orangtuanya. Apa mungkin karena ada Dira dan Awan makanya mereka memindahkan suaminya."


"Yasudah, nak. Mama mau ke rumah Rian. Mau ngomong sama papa kamu agar datang ke nikahan Feri. Tadi malam Feri sudah sepakat menerima papamu untuk datang ke pernikahannya. Cuma ya itu, Feri menganggap sebagai tamu bukan keluarga."


"Ya Allah kak Feri. Masih aja keras kepala. Ma, sudah dulu, ya. Dira mau masak. Kasihan nanti yang punya rumah datang nggak ada apa-apa." Dira menutup teleponnya.


"Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam, Nak. Pokoknya kamu harus jaga diri baik-baik. Jangan aneh-aneh di tempat orang. Paham!"


"Paham, ma. Bye mama."


Selesai menutup teleponnya Dira pun kembali berkutat di dapur. Menyiapkan sarapan untuk yang punya rumah. Dari menanak nasi karena tidak ada magic com. Membuat sup untuk Jimmy dan juga ikan goreng bumbu.


Dira terhenti sesaat. Ikan goreng bumbu adalah masakannya yang membuat Juna lahap.


"Apa harus aku masak ini?" batin Dira.


Setelah selesai masak Dira berdiri di depan pintu rumah. Netranya beralih ke photo yang terpampang jelas di dinding ruang tamu. Dira mengambil photo tersebut lalu memeluknya.


Setelah melepaskan rindu pada photo tersebut. Dira kembali memasang di tempat semua.


"Tante," suara Jimmy riang.


"Hey, Jimmy kamu sudah pulang. Sudah mandi belum. Tadi Tante sudah siapkan baju sekolah Jimmy."


"Terimakasih Tante, Jimmy sudah mandi di rumah kakek. Jimmy sekolah jam 10, Tante."


"Ibu kamu mana?"


"Itu ..." Tampak Naura sedang mengobrol dengan Sandi yang masih duduk di atas motor.


"Mas kenalkan ini mbak Dira. Majikannya bi Inah." Naura datang memperkenalkan Dira pada Sandi.


Atmosfir dingin di rumah Naura terasa begitu hangat. Meskipun sebenarnya udara dingin menyergap desa tersebut. Nafasnya yang mulai menyergap dadanya, mendapati sosok yang terduga berdiri di depan mata. Bukan hanya Dira yang merasakannya, Lelaki dihadapannya merasakannya hal yang sama. Debaran jantung terasa begitu kencang.


Kenapa wanita itu seperti tidak asing bagiku. Siapa dia? kenapa jantungku berdetak kencang.


"Ehmmm..." deheman Naura membuat keduanya tersadar. Apalagi jabatan tangan mereka yang belum lepas.

__ADS_1


Keduanya berada diruang yang sama, tak ada ekpresi apapun dari mereka. Saling terdiam, saling menatap, suasana pun terlihat tegang.


__ADS_2