
Dua bulan kemudian
Suasana pagi di kediaman Dewi Savitri terlihat ramai. Tentu saja dengan kehebohan suara bayi saling bersahutan satu sama lain. Dewi melihat Dira masih memakai daster sambil menggendong Fajar. Sementara Juna masih memakai kaos oblong dengan lekuk badan. Tubuhnya setengah basah seperti mandi keringat.
"Anak papa, Ci Luk Daaaaa..." Juna mencium pipi Fajar saking gemesnya. Dira melototi suaminya yang dari indera penciuman aroma tubuh tak enak.
"Mandi!" Dira melototi Juna.
"Bentar aku kangen sama Juna junior. Lihat hidungnya, kayak siapa? kayak papa, ya kan, nak,"
"Mas, mandi, aaah! jangan dekat-dekat Fajar kalau masih apek. Lagian joging sampai mana, sih?" Dira menjaga jarak agar anaknya tidak dekat dengan Juna.
Juna melihat kesewotan istrinya tersenyum penuh arti. Entah ide apa yang terlintas di pikiran lelaki itu. Hingga pada akhirnya jeritan Dira yang risih sama bau badan suaminya. Tangan Juna sudah melingkar di pinggang istrinya, menutupi punggung Dira.
"Mas, mandi! masa kalah sama Fajar, ini anak kita sudah wangi, kamu malah nempel kayak, cepat mandi!" perintah Dira.
"Baru dua bulan jadi emak udah bawel," gerutu Juna.
"Nggak ada ibu yang tidak bawel kalau menyangkut anaknya," balas Dira.
"Iya, aku mandi. Mamanya juga mandi dong,"
"Iya, nanti aku mandi. Aku mau ajak Fajar berjemur di depan. Kak Feri saja sudah ajak Harry dan Mimi jalan pagi. Lah kamu malah jalan pagi sendirian,"
__ADS_1
"Aku merasa berat badanku naik banyak, Sayang. Makanya tadi aku coba joging keliling kompleks." ujar Juna sambil mengambil segelas air putih di meja makan.
Sejak Dira memberi ASI pada Fajar, nafsu makannya bertambah. Biasanya itu memang terjadi pada ibu menyusui. Menyusui berpengaruh pada nutrisi yang didapatkan bayi dan juga berpengaruh pada kecukupan nutrisi tubuh ibu sendiri.
Sejak melahirkan, Dira berpikir bisa kembali pada tubuh idealnya. Sempat mencoba mengurangi asupan makanannya agar tubuh tetap sempurna meskipun sudah mempunyai anak. Apalagi saat baru seminggu dia melahirkan, bobot tubuhnya cepat naik. Sekarang sudah dua bulan jadi bobot tubuhnya belum juga turun. Saat ada niat untuk diet Juna melarangnya, karena katanya nanti mempengaruhi hormon ASI nya.
Setelah melahirkan, banyak ibu yang berpikir untuk mengurangi asupan makannya agar berat badan berlebih yang didapatkan saat kehamilan mulai menghilang. Namun, apa benar diet setelah melahirkan adalah ide yang bagus?
Mungkin tidak, karena justru setelah melahirkan ibu masih membutuhkan energi dan nutrisi tambahan. Hal ini karena ibu masih harus memberikan ASI yang cukup untuk bayinya selama 6 bulan.
"Kalau aku gemuk nanti kamu ngelirik cewek lain, Mas," keluh Dira.
"Kalau aku seperti itu sudah dari kemarin-kemarin kulakukan. Tapi aku tetap disini, di samping wanita yang aku cintai," mendengar ucapan Juna tak serta-merta membuatnya tenang. Kisah-kisah yang dia baca di novel online, dimana istri tak menarik lagi bagi suaminya, tak pelak membuat Dira di rundung kegelisahan. Apalagi dia pun merasa tubuhnya berisi dengan berat badan yang meningkat.
"Kamu percaya sama aku, sayang. Tidak akan yang ada bisa menggeser posisi kamu sebagai nyonya Arjuna Bramantyo. Dan Juga tidak akan ada yang bisa menggeser posisi Arjuna Bramantyo sebagai suami kamu.
"Terimakasih, Mas. Sekarang kamu mandi, ya. Aku mau jemurkan Fajar dulu," Dira meninggalkan Juna menuju teras depan.
Dira sudah berada di teras depan. Sinar cahaya matahari di pagi hari seperti menyambut kehadirannya dan putranya. .
Dengan menjemur bayi, sinar matahari pagi dapat membantu memecah bilirubin dalam darah bayi, sehingga kadarnya menurun dan kembali normal. Selain itu, cahaya pagi juga mengandung spektrum cahaya biru yang dapat mengurangi kadar bilirubin yang berlebihan di dalam tubuh.
Menjemur bayi sudah menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Hal ini juga didukung dengan kondisi iklim tropis di negeri ini, yang umumnya menyediakan paparan sinar matahari sepanjang tahun.
__ADS_1
Hanya saja, menjemur bayi sebenarnya harus dilakukan dengan saksama dan penuh pertimbangan. Pasalnya, sinar matahari dapat menjadi kawan tetapi juga lawan.
Juna selesai mandi langsung menuju teras. Melihat istrinya sedang asyik bercengkrama dengan bayi mereka yang berusia dua bulan. Senyumnya mengembang, hidupnya sudah lengkap. Punya istri dan anak, kebutuhan mereka sudah tercukupi.
"Sayang, kamu sekarang mandi biar Fajar sama aku saja," Juna menghampiri Dira di teras depan.
"Kamu sama papa dulu, ya. Mama mau mandi, udah bau acem gara-gara papa tadi," cerocos Dira.
"Iya, Sayang. Waktunya main sama papa. Minggu depan kita ketemu Oma di Lembang. Oma sudah nanyain kamu tuh kapan pulang ke Lembang,"
Dira dan Juna sudah dua bulan masih berada di kediaman Dewi Savitri. Tadinya Juna akan membawa Dira pulang ke Lembang setelah habis empat puluh hari. Tapi ternyata Dira minta waktu satu bulan untuk menstabilkan kondisinya. Juna mau tidak mau pun menuruti keinginan istrinya. Demi kebaikan anak dan juga istrinya.
Fajar menggeliat tubuhnya, menatap sosok dewasa sedang tersenyum kepada bayi dua bulan itu. Pelan-pelan dia pun ikut tersenyum ketika mendengar nada-nada dari bibir lelaki yang menyebut dirinya papa.
"Uluhhh... anak papa senyumnya manis. Sama kayak papanya, iyalah Fajar Bramantyo gitu looo..." celoteh Juna.
"Juna, sarapan dulu yuk. Fajar biar sama Uti saja. Dira mana?" tanya Dewi menyapa sang menantu di teras.
"Dira mandi, Ma. Tadi dia sempat kasih ASI sama Fajar, terus jemur bayi dulu baru sekarang bisa mandi,"
"Yasudah kamu sarapan dulu, Nak," ajak mama Dewi. Juna masuk ke dalam rumah sambil menggendong Fajar.
Tak jauh dari posisi mereka Feri pun baru sampai ke rumah. Tadi dia mengajak kedua anaknya untuk jalan pagi. Apalagi Tina sempat kelelahan setelah begadang subuh bergantian menyusui anak kembarnya.
__ADS_1
Tina sudah berdiri di depan teras menanti kedatangan suami dan anaknya. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.
"Mas, kamu sarapan dulu. Biar aku yang mandikan si kembar,"