SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 85


__ADS_3

"Kay, kamu kok belum siap?" tanya Dawa.


Dawa menjemput calon istrinya untuk undangan pesta keluarga Dewi Savitri. Gadis muda itu tampak pucat hanya memakai sweater berwarna hitam.


"Kamu sakit? pucat sekali."


"Iya, kak. Kepalaku pusing, rasanya mau muntah. Kayaknya maagku kumat."


"Yasudah, kita tidak usah pergi ke pesta. Kamu istirahat, biar aku cari obatnya."


"Nggak usah, kak. Tadi papa kesini terus aku di bawakan obat banyak banget. Bingung mana yang mau di minum."


"Atau kita ke dokter?" Dawa masih berusaha memberikan perhatian.


"Nggak usah. Lagian besok juga sembuh. Itu papa beli obat pakai resep dokter langganan."


"Kamu istirahat di kamar, ya. Kakak tunggu di luar saja."


"Kak," Kayla menahan tangan Dawa.


"Temani aku di kamar, ya. Aku takut banget."


"Maaf, sayang. Aku nggak mau kebablasan nantinya. Aku di ruang depan saja. Kalau ada apa-apa, kamu...."


Kayla menarik tubuh Dawa ke dalam kamar. Entah kenapa dia merasa sedikit berhasrat pada lelaki itu. Sementara Dawa berusaha keluar dari kamar Kayla. Tapi tetap di tahan oleh gadis itu.


"Kay, please. Aku tidak bisa seperti ini. Kita bukan muhrim."


Kayla hanya tersenyum kecil. Dia masih berusaha merangsang lelaki itu. Itu pun dia lakukan agar Dawa mau mengakui kandungannya. Walaupun dia tahu kalau Jordy mau tanggung jawab. Tapi Kayla tidak mau ambil resiko kalau papanya murka. Dia lebih mengikuti keinginan papanya agar calon anaknya lebih terjamin.


Sarapan bibir akhirnya terjadi. Kayla terus berusaha merangsang Dawa agar lebih agresif. Mereka pun telah berada diatas ranjang.


Dawa mendorong tubuh Kayla kearah ranjang. Dia sadar, sebelum terlalu jauh lebih baik di hindari. Lelaki itu bangkit dari ranjang. Membenahi pakaiannya.


"Maaf, Kay. Aku tidak bisa." Dawa meninggalkan Kayla yang sudah berpakaian kusut di kamar.


"Tapi kita sebentar lagi akan menikah. Nggak masalah, kan?"


"Kay, kita memang akan menikah. Tapi nggak gini juga caranya. Kalau seandainya kita melakukannya terus kamu hamil. Itu sama saja mencoreng nama papamu. Kita seharusnya menikah dan kamu menyerahkan pada malam pertama nanti. Bukan saat sebelum akad."

__ADS_1


"Kak Dawa kok seperti ini sekarang. Berubah, bukan kakakku yang penuh ambisi seperti yang kukenal. Apa karena kakak bergaul dengan keluarga Vira? kan aku sudah bilang sejak awal, kak. Jangan jatuh cinta sama ..."


"Aku tidak jatuh cinta pada perempuan manapun, Kayla. Perempuan yang aku cintai sampai saat ini hanya kamu. Hanya Kayla Carolina seorang. Kenapa kamu selalu mengkambinghitamkan oranglain hanya karena kecemburuanmu itu."


"Lalu kenapa kakak masih mencari si sapi itu? kenapa kakak masih menyimpan gelang kecil itu? apa hubungan kakak dengan anak itu?"


Dawa memang pernah menceritakan soal pencariannya pada gadis kecil itu. Gadis kecil anak atasan kakaknya. Jangankan nama aslinya, dimana kakaknya kerja saja dia tidak tahu. Saat ini dia pun belum dapat petunjuk apapun.


"Kakak mau kemana?" Kayla mengejar Dawa sampai depan pagar rumah.


"Aku mau pulang." jawab Dawa.


"Tapi, kak. Aku sedang sakit. Masa ditinggal sendirian." rengek Kayla.


"Nanti aku minta orang buat temani kamu. Tapi maaf aku tidak bisa lama disini. Apa bedanya aku sama lelaki itu kalau meladeni mau kamu?"


"Lelaki itu? maksud kakak siapa? Kak, ..." Kayla masih mengejar Dawa yang sudah menjalankan mobilnya.


Mobil Dawa sudah menghilang dari pandangan. Kayla hanya menatap kosong, nafasnya terengah-engah. Kayla menegakkan badannya, memegang perutnya yang sedikit nyeri. Kehamilannya yang sebentar lagi masuk bulan keempat. Untungnya sampai saat ini perutnya masih tidak terlihat.


Kaki Kayla terhenti melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pagar rumahnya. Lelaki itu tersenyum menunggu Kayla berjalan kearah dirinya.


"Aku kangen sama anakku." Jordy menjongkok tubuhnya. "Hai anak ayah. Apa kabar? Ayah kesini mau ketemu kamu nak. Jangan bandel ya, jangan nyusahin ibu."


"Jo, aku pengen bicara?"


"Ayok, aku juga mau membahas sesuatu." Jo menuntun Kayla masuk ke rumah.


Kayla meminta Jo duduk di ruang tamu. Sementara dirinya membuat minuman untuk kekasihnya itu. Jo memutar ruangan. Netranya berkerut melihat kamar Kayla sangat berantakan.


"Kamu baru bangun, Kay. Tumben kesiangan biasanya kamu cepat bangunnya." Sambil berbicara Jo merapikan tempat tidur Kayla. Setelah rapi Jo kembali duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya aku sudah bangun tadi. Cuma kamu tahu sendiri kalau ibu hamil bawaannya lemas. Jadi banyak tidurannya."


"Kalau anak ini lahir nanti aku akan mengurus pernikahan kita. Kamu tahu wanita hamil tidak boleh menikah atau meminta talak pada suami. Kamu mau kan menunggu. Kita kan sudah nikah siri, jadi tinggal pengesahannya."


"Jo, maaf." Kayla memindahkan tangan lelaki sirinya.


"Apa, kay? ada yang sakit? kamu kayaknya pucat sekali."

__ADS_1


"Jo, mulai saat ini jangan temui aku lagi. Aku akan menikah dengan kak Dawa bulan depan. Kamu tahu itu kan? jadi kita akhiri saja semua ini. Anak ini hidupnya akan lebih terjamin." kata Kayla.


Jordy masih mengganggap ucapan Kayla hanya ngelantur. Kalau memang Kayla mau pisah, kenapa tidak dari dulu. Dari sebelum mereka terlanjur jauh. Jo masih mencoba santai, tapi tidak dengan Kayla, Sikap Jo yang santai malah dianggap memiliki rencana lain. Segera dia menepis prasangkanya itu, dia percaya Jo bukan orang seperti itu.


Mobil Dawa berhenti di depan gedung hotel ternama. Setelah memarkirkan mobilnya, Dawa pun turun menuju aula pesta. Dengan jas silver muda setelan dengan celana warna senada. Penampilan Dawa menyerupai pengantin menjadi sorotan para undangan.


"Dawa," sapa suara bariton dari belakang.


"Om Irul," sapa Dawa saat melihat siapa yang menyapanya.


"Iya, ini saya. Katanya bareng Kayla. kenapa sendirian?"


"Kayla demam kayaknya, Om. Tadi saya kesana dia pucat sekali. Makanya saya pergi sendiri."


"Harusnya kamu tidak usah datang, Dawa. Temani Kayla, takutnya dia butuh sesuatu. Atau ada apa-apa nantinya."


"Maaf, om. Saya dan Kayla belum muhrim tidak baik berduaan seperti itu."


"Sok suci ini anak. Dia lupa kakaknya bahkan sukarela menjajakan tubuhnya pada lelaki lain." batin Irul.


"Om sudah bertemu dengan keluarga pengantin?"


"Belum, kita barengan saja."


Dawa dan Irul berjalan menuju mama Dewi yang sedang asyik mengobrol dengan tamunya.


"Tante," sapa Dawa.


Mama Dewi menyambut Dawa dengan ramah.


"Hai Pandawa, kamu sendirian saja. Calonmu tidak ikut?"


"Tidak, tante. Calonku lagi kurang sehat. Aku sama calon mertua. Om perkenalkan ini Tante Dewi."


Netra Dewi beralih pada lelaki di belakang Pandawa. Sontak Dewi terdiam melihat siapa calon mertua rekan bisnisnya.


"Hai, Dewi. kamu apa kabar?" sapa Irul.


Dewi masih mematung di depan Irul. Tangannya bergetar seakan ada luka lama yang kembali terbuka.

__ADS_1


__ADS_2