SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 172


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Jo?" tanya Hamdan pada Jordy.


"Aku mau pulang ke Jakarta, Pak." jawab Jordy.


"Jakarta? menemui perempuan itu? kamu jangan gila, Nak. Mereka itu keluarga berbahaya. Kalau kamu masih menemui mereka yang celaka adalah keluargamu."


"Om, lupa, istriku itu lagi hamil. Dan Aku rasa ini sudah masuk bulan kesembilan. Mana mungkin aku bisa diam saja."


Hamdan langsung tertawa. Dia tidak lupa bagaimana down nya Jordy saat tidak bisa menemui Kayla. Dia tidak lupa betapa hancurnya Jordy saat wanita yang dianggap istri memilih lelaki lain yang lebih kaya. Hamdan menggelengkan kepalanya.


"Kau yakin itu anakmu? kalau dia benar-benar mengandung anakmu, untuk apa jatuh ke pelukan lelaki lain. Jangan-jangan itu ayah bayi yang di kandungnya. Jangan bodoh! papa nya saja bisa selicik itu apalagi anaknya."


"Maaf, om. Aku tidak bisa. Ini bukan perkara soal Kayla. Tapi soal anak yang di kandung Kayla. Itu adalah anakku. Aku yakin 100 persen. Tolong jangan halangi aku, Pakde."


"Terserah kamu, Jordy! saya sudah memperingatkan kamu. Jika terjadi sesuatu pada keluargamu. Jangan minta tolong sama kami. Karena kamu sendiri susah diatur." Hamdan meninggalkan Jordy sendirian di teras kediamannya.


"Ya Allah, apa aku salah? tapi aku harus menyelamatkan Kayla sesuai dengan apa yang di katakan wanita tadi." Jordy menarik nafas dalam-dalam. Dia pun akhirnya memantapkan untuk menyusul Kayla.


Mobil travel pun sudah menunggunya di depan rumah kediaman Hamdan. Tak ada yang mengantarkan dirinya di depan rumah. Bisa jadi karena mereka masih marah pada dirinya.


"Kak gondrong?" sapa gadis muda yang berlari memanggilnya.


"Mili," sapa nya


"Kakak benar mau pulang ke Jakarta" Jordy mengangguk kecil.


"Yah, tapi kakak pulang tidak kesini lagi?" tanya gadis seperti penuh harap.


"Yah, lihat keadaan, Mili. Istri kakak mau melahirkan."


"Jadi dia sudah punya istri?" batin Mili seakan menelan kekecewaan.


"Oh, ya, kak. Ini ada oleh-oleh buat bawaan kakak. Maaf ya Mili cuma bisa kasih ini." Mili menyerahkan satu tandan pisang ambon.


"Terimakasih, Mili, saya pamit dulu." Jordy masuk ke travel sambil melambaikan tangan di kaca mobil.


Setelah mobil yang membawa Jordy hilang dari pandangan mata. Mili berlari ke pondok tak jauh dari rumahnya. Dia hanya bisa melepaskan tangisan setelah tahu lelaki itu ternyata sudah beristri.


Bu Mike hendak pergi ke kebun melihat anaknya menangis di pondok seberang. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang membuat anaknya yang berusia 16 tahun itu sangat bersedih.


"Nak,"


Mili menoleh kearah ibunya. Langsung menghapus air matanya.

__ADS_1


"Ambu,"


"Kamu kenapa, nak?"


"Kak Jo sudah pulang ke Jakarta, Bu." adu nya.


"Jadi kamu tidak jadi kasih pisang sama dia gitu?" Mili menggeleng.


"Justru kebetulan pas dia mau berangkat aku kasih pisangnya,bu."


"Lalu apa yang buat anak ambu sedih. Dia pasti balik lagi, kok."


"Dia pulang karena istrinya mau melahirkan,Bu. Dia sudah punya istri."


"Ambu sudah dari pak Hamdan kalau dia sudah menikah. Selama ini Ambu bersikap baik sama dia, karena Ambu tidak punya anak cowok. Bukan berarti ibu pengen dia punya jadi mantu ibu. Kan teteh kamu sudah punya Oka."


"Bu, kalau punya jantung baru apa sifat kita berubah?"


"Ya enggaklah, Nak."


"Tapi kenapa teteh sekarang dekat sama Bu Dira, dulu nggak gitu."


"Ya nggak apa-apa, asal jangan sama suaminya." tawa Bu Mike.


"Maafkan aku, Kayla. Selama ini aku terlalu lembek memperjuangkan kamu. Seharusnya aku tidak goyah dengan ancaman papa kamu. Tapi maaf untuk saat ini aku memperjuangkan anakku, bukan untuk kamu lagi. Aku sudah sabar selama bertahun-tahun menjadi yang orang di belakangmu. Tapi sekarang perasaan itu sedikit terkikis seiring dengan waktu." ucap Jordy dalam hati.


...****...


Dawa berdiri di depan gedung perusahaan PT. PUTRA NUSA. Memberanikan diri meminta restu Dewi Savitri selaku ibu dari gadis yang dia cintai. Memang dia dan Vira belum ada terikat hubungan apapun. Dia punya janji pada Vira saat masih kecil dulu.


Dawa memasuki gedung tersebut. Dalam hatinya dia merasa sedikit gugup karena sepertinya Dewi Savitri tidak menyukainya. Sudah lama pertanyaan itu muncul di benaknya. apa dan kenapa wanita itu bersikap seperti itu.


"Maaf, Bu Dewi, ada yang ingin bertemu dengan anda?" Eta menyampaikan pesan untuk atasannya.


"Siapa?"


"Pak Pandawa, Bu."


"Suruh dia masuk." Eta yang duduk di kursi sekretaris pun menyilahkan Dawa untuk masuk ke dalam.


Sebelum masuk ke dalam ruang kerja Dewi Savitri dia berdoa terlebih dahulu. Berharap bisa bicara dari hati ke hati. Tentang dirinya juga Vira.


"Assalamualaikum, Tante." sapa Dawa.

__ADS_1


"Duduk, ada apa kamu mau menemui saya? apakah mau meminta pekerjaan? maaf disini tidak ada lowongan untuk orang seperti anda."


"Orang seperti saya? maksudnya?"


"Seharusnya kamu tahu maksud saya, Danu." Dewi menyebutkan nama asli pemuda sambil menatap seperti mengejek.


"Tante saya tahu kalau anda pasti membenci kakak saya. Sampai saat ini saya sendiri tidak paham apaOm yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua. Sejak kakak saya kerja pada anda, saya selalu di suguhkan cerita tentang kebaikan anda. itu juga saya cukup kaget saat kakak saya bilang kalau dia di pecat dengan tidak terhormat. Kakak saya pun adalah korban dari suami anda."


"Waaaaaw, cerita yang cukup dramatis. Cerita jualan air mata yang menakjubkan. Kamu bilang kakakku korban." Dewi bertepuk tangan penuh semangat. Tawanya menggelegar di dalam ruang kerjanya. Wanita itu berputar mengelilingi tempat duduk tamunya.


Dawa hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Apa yang dia ucapkan bukan karangan belaka. Memang itu yang selama ini dia dengar dari kakaknya. Tentang kebaikan atasannya selama ini. Namun dia mendengar keburukan Dewi Savitri versi Irul, bagaimana suami Dewi Savitri menghancurkan hidup kakaknya.


"Kamu sebenarnya tahu apa yang diperbuat Padma, ya kan? kamu tidak mau kakakmu di salahkan padahal dia memang salah. Dan kamu muncul seakan membuat aku terbuka soal satu hal."


"Apa itu, Tante?"


"Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kamu butuh berapa?"


"Maksudnya apa ini, saya tidak meminta uang."


"Bilang berapa yang kamu mau dan jangan muncul di hadapan keluarga saya. Terutama Vira.


Kamu tahu kenapa saya memilih Panji? karena dia berasal dari bibit yang bagus, bukan bibit pengkhianat seperti kamu dan kakakmu."


"Tante, saya ... Saya disini bukan untuk anda. Tapi untuk Vira, saya sangat mencintai Vira sejak dulu. Sejak kami masih bersama-sama saat kecil. Berkat dia aku mulai sayang terhadap anak-anak. Padahal dulu saat kecil, aku muak menjadi anak-anak. Sering di bully karena aku tidak mirip dengan kedua kakakku.


Memang saya sempat membenci keluarga anda karena Andre. Tapi setelah saya berbaur dengan kalian, saya menemukan keluarga sesungguhnya."


"Apakah dengan bicara seperti ini kamu pikir saya akan menyetujui kamu dan Vira. Tidak! Mungkin Vira dan Panji tidak berjodoh, tapi saya akan tetap mencari calon lain yang pastinya bukan kamu. Sekarang saya minta kamu keluar dari sini!" usir Dewi.


...****...


Dawa baru saja meninggalkan gedung perusahaan PT Putra Nusa. Mengenyampingkan rasa malunya demi gadis yang dia cintai. Makian demi makian dia dapatkan dari wanita itu. Rupanya kebencian yang sudah mendarah daging membuat wanita itu sangat membencinya.


Tak perlu di jabarkan bagaimana Dewi mengeluarkan semua pandangannya tentang Pandawa. Hanya akan membuat dia merasa sesak mengingatnya. Seburuk itu kah kakaknya. Dawa tidak paham lagi.


Sekarang dia sudah berada di depan apartemen Panji. Rasanya tubuhnya sangat lengket dengan peluhan keringat. Beda dengan dulu yang selalu aman dari panasnya sinar matahari.


Baru dia hendak masuk kamarnya. Dawa di kagetkan dengan munculnya Panji di kamarnya. Lelaki itu tampak memeriksa barang miliknya.


"Kak Panji kapan pulang? kok tidak memberi kabar? kalau tahu aku pasti akan ...."


BUUUUUGH!

__ADS_1


__ADS_2