Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Membunuh Putra Tetua Agung Keluarga Suci Guo


__ADS_3

Seorang diri Lin Feng menyusuri jalanan Kota Rantai Surgawi yang dipenuhi ribuan orang. Tujuan utama dia berkunjung ke Kota Rantai Surgawi adalah keluarga Suci Guo, tapi sebelum berurusan dengan mereka, terlebih dulu dia ingin mengumpulkan informasi tentang seberapa besar kekuatan keluarga Suci Guo di Alam Sembilan Surga tingkat pertama.


Melihat kedai makan dengan banyak pengunjuk, Lin Feng merasa tempat seperti itu sangat cocok untuk mengumpulkan informasi, tapi tak sembarangan kedai makan yang ingin dia datangi.


Setidaknya dia ingin mendatangi kedai makan terbesar yang ada di Kota Rantai Surgawi, dan tempat seperti itu hanya bisa dia temui di pusat keramaian kota.


Tak banyak berpikir, dia segera melangkahkan kaki menuju pusat keramaian kota. Di tengah suasana gelap malam yang hanya diterangi pencahayaan dari kristal cahaya, bukannya sepi, keadaan Kota Rantai Surgawi justru semakin ramai.


Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan menuju pusat kota yang menjadi titik teramai di Kota Rantai Surgawi, Lin Feng akhirnya menemukan apa yang dia cari.


Akan tetapi, sebelum memasuki kedai yang menjadi tujuannya, dia dibuat tertarik dengan kerumunan orang tak jauh dari tempatnya berdiri. Penasaran apa yang sedang terjadi di tempat itu, dia memutuskan pergi melihat.


Meski terhalang banyaknya orang, dengan keistimewaan mata Dewa miliknya, tidak sulit baginya melihat apa yang sedang terjadi di balik kerumunan orang, yang berada di hadapannya.


Kerutan terlihat di kening Lin Feng saat dia melihat apa yang ada di depan sana, “Ternyata cuma seorang putri yang ingin mencari jodoh,” gumamnya pelan lalu dia bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, tapi entah datang darimana tiba-tiba seorang pria dengan jubah bermotif naga terlilit rantai muncul di depannya.


Mengabaikannya, Lin Feng bergeser ke sisi kanan menghindari pria itu, tapi tangan kokoh pria itu tiba-tiba mencengkram bahunya.


“Aku tidak pernah menyinggung ataupun mengganggu apa yang sedang Tuan Muda lakukan. Jadi, katakan kenapa Tuan Muda menggangguku?” tanya Lin Feng dengan pandangan lurus kedepan.


Mendengar itu, pria yang mencengkram bahu Lin Feng, dia semakin memperkuat cengkraman tangannya. Akan tetapi, bukannya melukai Lin Feng, dia justru merasakan tangannya seperti sedang mencengkram besi kokoh, yang tak mungkin dihancurkan olehnya.


Mengetahui sosok pria berjubah merah bukan sosok sederhana yang mudah ditindas, pria itu buru-buru melepas cengkramannya, tapi dia tidak begitu saja melepaskan pria yang sudah ditandainya.


“Aku tidak bermaksud mengganggumu, apa yang aku lakukan semata hanya ingin memperkenalkan kamu pada adikku yang merupakan putri kesayangan Tetua Agung keluarga Suci Guo,” kata pria itu, yang mana dari perkataannya Lin Feng tahu kalau pria itu adalah putra Tetua Agung keluarga Suci Guo.


Mendengarnya Lin Feng hanya menggelengkan kepala, lalu berkata, “Aku sama sekali tidak tertarik dengan adik Tuan Muda sekalipun dia merupakan putri kesayangan Tetua Agung keluarga Suci Guo! Lagi pula aku sudah memiliki istri yang jauh lebih sempurna darinya.”

__ADS_1


Guo Yong, putra ketiga Tetua Agung yang sebelumnya mencengkram bahu Lin Feng, seketika dia marah saat ada yang berani membandingkan adiknya dengan wanita lain. Bukan hanya dia yang marah, orang-orang yang selama ini mengagumi kecantikan adik Guo Yong juga marah setelah mendengar perkataan pria asing yang tak mereka kenal.


Mengeluarkan seluruh niat membunuh yang mereka miliki, semua orang mengarahkan niat membunuhnya pada pria yang telah memancing amarah mereka.


Lin Feng yang merasakan niat membunuh dari banyak orang, dengan tenang dia menghentakkan kaki, mengeluarkan tekanan kuat aura yang membuat semua orang di sekitarnya jatuh tersungkur tak kuasa menahan kekuatan auranya.


Bahkan Guo Yong yang kekuatannya sudah berada di tingkat Dewa Agung Bintang 2, dia kesulitan bertahan dari tekanan aura yang dikeluarkan Lin Feng.


“Apa kalian pikir hanya dengan niat membunuh, kalian dapat membunuhku? Kalau hanya dengan niat membunuh dapat membunuhku, mungkin aku sudah mati sebelum bertemu dengan kalian,” kata Lin Feng lalu dia kembali melangkahkan kakinya menjauhi kerumunan orang.


Akan tetapi, lagi dan lagi ada yang menghentikan paksa langkah kakinya, dan kali ini ada dua pria yang menghentikannya. Satu pria dengan kekuatan tingkat Dewa Agung Bintang 4, dan pria lainnya satu tingkat lebih lemah dari rekannya.


Lin Feng tidak tahu apa tujuan mereka menghentikan langkah kakinya, tapi melihat jubah mereka sama persis dengan yang dipakai pria sebelumnya, dia merasa kalau mereka semua berasal dari kelompok yang sama.


Bukan kelompok, tepatnya mereka semua berasal dari keluarga Suci Guo.


“Kalaupun kamu ingin pergi, setidaknya hancurkan dulu kultivasimu, dan patahkan kedua tangan serta kedua kakimu!” kata Guo Niu, putra kedua Tetua Agung keluarga Suci Guo.


Guo Yong yang jelas mendengar apa yang dikatakan kedua kakaknya, dia tersenyum senang meski dalam keadaan menahan aura kuat yang sedang menekan kekuatannya.


Sementara itu, Lin Feng yang saat ini dikelilingi oleh para putra Tetua Agung keluarga Suci Guo, tiba-tiba saja sosoknya menghilang dari tempatnya.


Bukannya kabur melarikan diri menggunakan teknik teleportasi, Lin Feng hanya berpindah tempat, dan saat ini dia berdiri tepat dibelakang Guo Niu dan Guo Duyi.


“Tidak sulit bagiku membunuh kalian berdua. Jadi sebaiknya kalian jangan menggangguku!” kata Lin Feng membuat Guo Duyi dan Guo Niu segera melompat ke dua arah berbeda sambil membalikkan badan.


Melihat pria berjubah merah yang semula berada di depan mereka ternyata sudah berpindah tempat, apalagi pria itu berpindah tempat ke belakang mereka tanpa meninggalkan jejak aura, keduanya tak lagi menganggap remeh kekuatan pemuda itu.

__ADS_1


Guo Yong yang telah terbebas dari tekanan aura yang menekan kekuatannya setelah aura itu tiba-tiba saja menghilang, segera dia membantu kedua kakaknya melawan pria berjubah merah yang kekuatannya sangat misterius.


Jelas pria itu usianya jauh lebih muda dari kedua kakaknya dan juga dirinya, tapi hanya merasakan tekanan kuat aura kekuatannya, Guo Yong merasa pria itu lebih kuat dari dirinya maupun kedua kakaknya.


“Aku akui kamu kuat, tapi menghadapi kami bertiga kamu belum tentu bisa bertahan dari dua serangan yang kami lakukan!” ujar Guo Duyi.


Lin Feng menggelengkan kepala mendengarnya, “Sekalipun aku mengatakan kekuatan kalian bertiga tidak sebanding dengan kekuatanku, aku yakin kalian tidak bakal mempercayainya. Jadi, sebaiknya kita buktikan dengan melakukan pertarungan!”


“Akan tetapi, terlebih dulu aku ingin mengingatkan pada kalian, aku tidak pernah membiarkan lawanku hidup di akhir pertempuran,” kata Lin Feng memperingati ketiga putra Tetua Agung keluarga Suci Guo.


“Oh, itu sangat kebetulan karena kami juga tidak pernah membiarkan hidup siapapun yang sudah kami anggap musuh,” kata Guo Duyi sambil melirik kedua adiknya, lalu setelah melihat keduanya menganggukkan kepala, dia segera melakukan serangan yang diikuti oleh kedua adiknya.


Melesat maju bagaikan kilatan cahaya, ketiganya mengeluarkan pedang yang merupakan senjata pusaka tingkat Dewa. Dengan senjata pusaka yang sekali di ayunkan dapat membelah lautan, mereka bermaksud ingin mencincang tubuh lawannya.


Lin Feng tetap tenang berdiri di tempatnya tanpa melakukan gerakan untuk mengantisipasi datangnya serangan yang dilakukan ketiga putra Tetua Agung keluarga Suci Guo.


Semua orang mengira Lin Feng telah pasrah menerima kematiannya, tapi tak lama perkiraan mereka semua terbantahkan saat ketiga putra Tetua Agung keluarga Suci Guo dihempaskan angin yang keluar dari tubuh Lin Feng, saat pedang di tangan mereka hampir mengenai tubuh Lin Feng.


Melihat ketiga lawannya terhempas angin yang dikeluarkannya, Lin Feng tak menyia-nyiakan kesempatan melakukan serangan balik.


Melesat ke arah Guo Yong, hanya dengan kekuatan fisiknya, dia melayangkan pukulan ke dada pria itu. Kuatnya pukulan yang menghantam tubuhnya, membuat Guo Yong terpental mundur dengan dada berlubang bekas pukulan yang dilakukan Lin Feng.


“Satu sudah tumbang, sekarang hanya tersisa kalian berdua...”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2