Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Keberadaan Sang Pencipta


__ADS_3

“Putriku, bagaimana kalau kamu tidak ikut dalam peperangan ini? Aku khawatir kamu akan terluka jika memaksakan diri ikut terlibat dalam peperangan in. Bagaimanapun juga peperangan ini belum tentu dapat kita menangkan,” kata Bing Hualing pada Lin Hua, yang mana dia sangat mengkhawatirkan keadaan Lin Hua.


Bukan hanya Lin Hua yang dia khawatirkan, dia juga mengkhawatirkan Lin Jia, Lin Luyao, putranya, suaminya, serta orang-orang yang memiliki hubungan dengannya. Kalau saja dirinya memiliki kekuatan lebih untuk mengalahkan musuh, jelas dia akan melarang mereka semua terlibat dalam peperangan, dan memilih seorang diri menghadapi musuh.


Namun semua itu hanya angan-angannya karena pada kenyataannya dia jauh lebih lemah dibandingkan Lin Hua dan Lin Jia, maupun dengan Lin Feng. Saat ini hanya Lin Luyao yang memiliki kekuatan setara dengannya.


“Ibunda, aku harus terlibat dalam peperangan ini dan membantu Feng’gege mengalahkan musuh! Aku justru akan merasa telah kalah sebelum pergi berperang kalau tidak terlibat dalam peperangan ini.” Lin Hua ingin berjuang bersama Lin Feng dan karena semua itu, tidak mungkin baginya untuk tidak terlibat dalam peperangan.


Susah senang ingin dia lalui bersama Lin Feng, dan jika kekalahan yang didapat dalam peperangan kali ini dia rela mati bersama pria yang sangat dicintainya.


“Apa itu artinya kamu akan berada di barisan terdepan bersama suamimu?” tanya Bing Hualing pada Lin Hua.


Lin Hua menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan Bing Hualing. “Ibunda, sebenarnya bukan aku saja yang akan berada di garis depan bersama Gege. Jia’meimei dan juga saudari Luyao juga akan berada di baris terdepan, dan untuk memimpin prajurit wanita semua serahkan tanggungjawab itu pada Ibunda.”


“Kalau kalian berperang di garis depan, aku juga ikut bersama kalian!” kata Bing Hualing.


Lin Hua, Lin Jia, serta Lin Luyao yang mendengar itu bersamaan mereka menggelengkan kepala.


“Berperang di garis depan? Apa Ibunda ingin membahayakan adik kecil yang ada di dalam perut Ibunda?” ungkap Lin Jia tahu kalau Bing Hualing sedang hamil muda.


Meski usianr lebih dari seratus tahun, untuk ukuran kultivator Bing Hualing masih terbilang sangat muda, dan wajar jika dia hamil apalagi jelas dia memiliki seorang suami.


“I-itu, bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanya Bing Hualing pada Lin Jia, yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.


“Ibunda, kebetulan aku memiliki kekuatan mata seperti yang dimiliki Feng’Gege, jadi tidak sulit bagiku mengetahui semua itu,” jawab Lin Jia lalu dia tersenyum.


Memandangi bergantian Lin Hua dan Lin Luyao, Bing Hualing bertanya pada mereka, “Apa kalian juga sudah mengetahui semua itu?”

__ADS_1


Keduanya menganggukkan kepala, dan mereka mengetahui semua itu dari Lin Jia. Kemarin Lin Jia menceritakan keadaan Bing Hualing pada mereka, dan setelah tahu kehamilan Bing Hualing, mereka sepakat melarangnya ikut berperang di garis depan. Semua itu mereka lakukan untuk melindungi janin di kandungan Bing Hualing.


“Ibunda mulai sekarang harus menuruti kami! Kalau Ibunda menolak menurut, kami akan memberitahu ayah tentang keadaan Ibunda, dan kami yaki ayah akan membawa Ibunda kembali ke kediaman!” ungkap Lin Hua.


Bing Hualing hanya bisa menghela napas mendengar semua itu, dan pada akhirnya dia menuruti dua wanita yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. Daripada Lin Mofeng tahu keadaannya dan jelas dirinya akan dikirim pulang sehingga tak bisa melihat langsung jalannya peperangan, memang lebih baik dia menuruti keinginan Lin Hua dan yang lainnya.


Sekarang persiapan para wanita juga telah selesai, dan kapanpun kekuatan mereka dibutuhkan, mereka akan datang memberi bantuan. Meski mereka adalah prajurit wanita, tak tegur lihat adanya ketakutan di wajah mereka. Semuanya sangat bersemangat dan yakin dapat mengalahkan musuh yang datang.


...----------------...


Malam hari saat Lin Feng sejenak memejamkan kedua matanya, tiba-tiba saja kesadarannya ditarik sebuah kekuatan menuju suatu tempat.


“Dimana ini? Kenapa aku merasa tempat ini jauh lebih indah dari semua tempat yang pernah aku lihat?” Saat ini Lin Feng berada di tempat yang dipenuhi dengan keindahan. Pepohonan dengan daun berkilau, bunga-bunga yang sedang bermekaran, air sungai jernih bagaikan cermin, dan masih banyak lagi keindahan ditempatnya saat ini.


“Tempat yang benar-benar indah!” kata Lin Feng melihat sekeliling, dan dia hanya melihat semua yang terlihat indah di kedua matanya.


“Kamu akhirnya sampai ke tempat ini.” Sebuah suara merdu muncul di langit dan membuatnya sangat terkejut.


“Aku adalah kamu, dan aku adalah aku. Kita adalah sosok yang sering dipanggil Sang Pencipta, dan keberadaan kita adalah perwujudan sosok tertinggi di semesta dan di semua tempat yang terdapat kehidupan,” jawab suara di langit.


“Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku? Apa kamu tidak sedang membohongiku?” ujar Lin Feng.


“Tidak ada gunanya aku membohongiku, tapi saat ini aku hanyalah pecahan kekuatan yang kamu tinggalkan, sebelum kamu mencoba menikmati kehidupan menjadi manusia biasa. Namun sekarang sudah saatnya kekuatan ini kembali padamu, dan kamu akan kembali menjadi Sang Pencipta!”


“Dengan kamu kembali menjadi Sang Pencipta, seluruh makhluk hidup akan menundukkan kepala saat melihatmu, dan tak akan ada yang dapat mengalahaknmu karena semua makhluk hidup diciptakan dari tetesan darahmu!”


Lin Feng sama sekali tidak memiliki ingatan tentang siapa itu Sang Pencipta, tapi dia merasakan keakraban dengan aura kekuatan sosok yang saat ini sedang berbicara dengannya, meski sosok itu tak terlihat olehnya.

__ADS_1


“Penguasa sejati alam semesta hanyalah sedikit kekuatan yang kamu miliki, tapi begitu aku kembali menjadi milikmu, kekuatanmu yang sesungguhnya akan kembali, dan keberadaan sistem di dalam tubuhmu akan menjadi sempurna.”


Lin Feng terkejut suara di langit tahu tentang keberadaan sistem di dalam tubuhnya.


“Kamu tidak perlu terkejut karena aku tahu tentang keberadaan sistem. Aku adalah pecahan kekuatanmu, sedangkan sistem adalah pelayan pribadi yang kamu ciptakan khusus untuk membantumu selama menjalani kehidupan sebagai manusia, dan terbukti dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik meski dia hanya memiliki tak lebih dari seperempat kekuatanmu.”


Mendengar semua itu Lin Feng mulai percaya jika suara yang didengarnya merupakan bagian dari dirinya, atau lebih tepatnya suara itu adalah pecahan kekuatannya sebagai Sang Pencipta.


“Kalau kamu adalah pecahan kekuatanku, bagaimana caraku menyatukan kembali seluruh kekuatan yang aku miliki?” tanyanya, ingin tahu bagaimana menyatukan seluruh kekuatan miliknya.


“Swush...” Bola cahaya dengan aura kuat tapi terasa sangat menyenangkan muncul di hadapan Lin Feng, dan setelahnya bola cahaya emas itu melesat masuk ke dalam tubuh Lin Feng.


“Aaargh...” Lin Feng teriak menahan rasa sakit saat kekuatan yang luar biasa menyatu dengan tubuhnya. Merasakan rasa sakit yang belum pernah dirasakan olehnya dan tak ada cara yang bisa dilakukan untuk menahan rasa sakit. Dia hanya bisa berteriak kesakitan, sambil mencoba bertahan supaya tak kehilangan kesadaran.


Tubuhnya seperti terbakar, tapi kadang terasa seperti dibekukan. Kekuatan petir terus menyamnar tubuhnya tanpa henti, serta kekuatan elemen lain yang terus berdatangan, dan memberi siksaan pada dirinya.


Dia merasa tubuh dan jiwanya sedang dibersihkan dari segala jenis hal buruk, sampai akhirnya dia menjadi sosok agung dengan kemurnian jiwa serta tubuh yang suci.


Sedangkan tubuh Lin Feng yang berada di padang kehampaan, keringat dingin membasahi tubuhnya, tapi tak ada yang tahu, apa yang saat ini terjadi padanya.


Lin Hua yang berada di dekat Lin Feng, dia melihat keringat yang membasahi tubuh Lin Feng, tapi tak menemukan keanehan, dia tak khawatir pada keadaan Lin Feng.


Semua orang tidak ada yang tahu, apa sebenarnya yang sedang di alami Lin Feng, dikarenakan mereka tak melihat adanya keanehan dari apa yang mereka lihat.


Lin Feng terlihat tenang duduk bersila. Meski tubuhnya dibanjiri keringat, semua itu wajar bagi kultivator yang ingin meningkatkan kekuatan jiwanya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, tapi dengan auranya yang begitu tenang, aku yakin dia dalam keadaan baik-baik saja,” gumam pelan Lin Hua.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2