
Lin Feng menyuruh wanita bercadar dan empat orang lainnya segera bangun, dikarenakan ia tidak pernah menyukai keberadaan orang yang bersujud ataupun berlutut di hadapannya.
Kembali berdiri, dengan kepala tertunduk wanita bercadar bicara pada Lin Feng, “Kalau saya boleh tau, kemana tujuan Tuan Muda dan apa yang ingin Tuan Muda lakukan di tempat itu?” ia sangat penasaran dengan tujuan dan apa yang ingin dilakukan Lin Feng di tempat itu.
“Aku ingin mengunjungi kediaman keluarga Lin karena ada urusan dengan beberapa orang di tempat itu,” jawab Lin Feng tak bermaksud sedikitpun menutupi apa yang menjadi tujuannya pada wanita bercadar, yang mana hanya dari sekilas melihat sorot mata wanita itu, ia dapat menyimpulkan wanita bercadar bukanlah sosok dengan sifat buruk.
“Jika tujuan Tuan Muda adalah kediaman keluarga Lin di Alam ini, kebetulan kita memiliki tujuan yang sama. Bagaimana kalau kita semua pergi bersama-sama ke tempat itu?” ujar wanita bercadar.
Tidak langsung memberi tanggapan, Lin Feng justru lebih dulu mengarahkan pandangan pada Lin Hua dan dua orang lainnya, meminta tanggapan mereka. Melihat ketiganya kompak menganggukkan kepala, tak ada alasan baginya menolak pergi bersama dengan kelompok yang dipimpin wanita bercadar.
Sedangkan wanita bercadar yang melihat interaksi antara Lin Feng dan Lin Hua, ia menebak kalau ada hubungan khusus diantara mereka, dan itu bukanlah sekedar hubungan diantara teman.
‘Tuan Muda adalah pria yang sangat sempurna, tapi sayang ia terlahir di keluarga Lin yang tidak mungkin sesama anggota keluarga Lin memiliki hubungan khusus apalagi hubungan pernikahan, dan sepertinya Tuan Muda telah memiliki tambatan hatinya,’ katanya membatin dan sesekali ia melirik Lin Hua yang aura kecantikannya tak berkurang sekalipun memakai cadar.
Lin Cia, wanita bercadar memimpin empat anggotanya bergerak di depan rombongan Lin Feng.
Meski gerakan mereka terasa lambat bagi Lin Feng dan anggota kelompoknya, tak ada sedikitpun keinginan bergerak mendahului mereka. Bagi Lin Feng dan anggota kelompoknya, meski mereka lambat, setidaknya mereka tahu jalan terdekat menuju kediaman keluarga Lin.
Tak sampai setengah hari akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Lin. Menunjukkan lencana masing-masing pada prajurit penjaga sebelum memasuki kediaman keluarga Lin, seluruh prajurit penjaga ingin berlutut begitu melihat lencana Lin Feng tapi aura kuat muncul dan menahan tubuh mereka tetap berdiri.
“Jangan berlutut di hadapanku karena aku tidak menyukainya! Kalau ingin berlutut, lakukan itu pada orangtua kalian atau pada para leluhur!” kata Lin Feng masih menggunakan aura kekuatannya menahan mereka untuk tetap berdiri.
__ADS_1
Lin Feng baru menarik aura kekuatannya begitu mereka mengerti perkataannya, dan tak lagi berkeinginan berlutut di hadapannya.
Apa yang dilakukan Lin Feng telah memancing sedikit keramaian di gerbang kediaman keluarga Lin, dan itu menarik perhatian Lin Luyao yang kebetulan sedang menikmati waktu bersantai dengan berjalan di sekitaran kediaman, dan saat ini ia berada tak begitu jauh dari gerbang utama kediaman keluarga Lin.
“Swuusshh...” Lin Luyao dan dua pelayannya muncul tak jauh dari keberadaan kelompok Lin Feng. Melihat keberadaan Lin Feng dan yang lainnya, ia segera menghampiri mereka sambil menunjukkan senyuman kebahagiaan di wajahnya.
“Saudara, saudari, akhirnya kalian datang,” katanya senang menyambut kedatangan Lin Feng, Lin Hua dan dua orang lainnya, ia tidak menyangka urusan mereka di keluarga Jiang cepat terselesaikan, dan sekarang mereka telah berada di kediaman keluarga Lin.
“Urusan dengan keluarga Jiang dapat terselesaikan lebih cepat dari perkiraanku, jadi aku bisa lebih cepat berkunjung ke tempat ini,” kata Lin Feng dan ia tersenyum melihat bagaimana Lin Luyao yang begitu antusias menyambut kedatangannya dan yang lainnya.
Bing Huifei tiba-tiba saja muncul begitu Lin Feng selesai berkata, membuat semua orang di tempat itu segera berlutut setelah melihat kedatangannya, dan hanya menyisakan Lin Feng serta dua wanita yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
Tak lama setelah kemunculan Bing Huifei yang begitu tiba-tiba, muncul sosok wanita dewasa dengan kecantikan yang mampu membuat wanita cantik lainnya iri saat memandangnya, dan dengan gerakan yang sulit terlihat mata wanita itu saat ini sudah erat memeluk tubuh Lin Feng.
Di sisi lain, melihat Lin Hua yang bingung dengan adegan di depan kedua matanya, Lin Luyao segera menghampirinya dan membisikkan sesuatu padanya. Setelah mendengar bisikan Lin Luyao, kebingungan yang dirasakan Lin Hua segera menghilang, digantikan perasaan haru melihat pertemuan antara Lin Feng dan wanita yang masih menangis sesenggukan.
“Gege, dia adalah Bibi Bing Hualing, ibu kandung Gege,” kata Lin Jia berbicara di dalam pikiran Lin Feng dan setelah mendengar semua itu, Lin Feng tak lagi sungkan membalas pelukan wanita yang sedang memeluknya, dan sekarang dia tahu kenapa dadanya terasa sesak melihat tangisan wanita dipelukannya.
Setelah cukup lama berpelukan dan berhasil memenangkan dirinya. Bing Hualing, wanita yang memeluk Lin Feng perlahan melepas pelukannya, tapi pandangan kedua matanya tak sedikitpun teralihkan dari sosok pemuda yang begitu ia rindukan.
“Hanya melihat wajahmu, aku tahu kamu adalah putraku yang selama ini sangat aku rindukan. Nak, maafkan ibu yang tidak bisa menemanimu tumbuh menjadi pria tangguh seperti saat ini!” Bing Hualing yang merasa sangat bersalah pada Lin Feng, ia ingin berlutut, tapi sepasang tangan kokoh menyentuh lembut tubuhnya, menahannya untuk tidak berlutut.
__ADS_1
“Ibu tidak perlu berlutut di hadapanku karena Ibu tidak pernah melakukan kesalahan padaku,” kata Lin Feng tulus pada Bing Hualing dan tak sungkan ia menunjukkan senyuman di wajahnya.
Melihat adegan diantara cucu dan menantunya, Bing Huifei yang lainnya pergi membubarkan diri, hanya menyisakan mereka yang memiliki hubungan dengan Lin Feng. Lin Cia yang merupakan satu-satunya murid Bing Huifei, ia tidak pergi melainkan memilih berpindah tempat di belakang gurunya.
Bing Hualing yang memandang Lin Feng, ia tersenyum setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Lin Feng. Dia tidak menyangka putranya memiliki hati yang begitu lembut, bahkan tak sedikitpun terlihat kemarahan pada dirinya, meski sedari kecil ia sebagai seorang ibu tidak memberikan kasih sayangnya padanya.
“Nak, apa kamu sudah tahu kejadian apa yang membuat kita terpisah sangat jauh di waktu cukup lama?” tanya Bing Hualing ingin tahu apa putranya telah mengetahui kejadi yang terjadi di masa lalu.
“Ibunda, sudah banyak yang menceritakan padaku, tentang apa yang terjadi di masa lalu, dan karena itulah aku tidak menyalahkan Ibunda.” Bukan hanya dari cerita orang lain, tapi Lin Feng jelas mengetahui peristiwa di masa lalu dari kenangan yang tersimpan di kedua bola mata milik ibunya.
“Aku juga tahu kebenaran tentang ayah, yang tentunya tidak sama dengan apa yang selama ini diketahui orang-orang.” Kata-kata yang keluar dari mulut Lin Feng sejenak membuat Bing Hualing maupun Bing Huifei terkejut, tapi keduanya tersenyum tipis diwaktu bersamaan karena mereka tak perlu menjelaskan pada Lin Feng kebenaran tentang ayahnya.
“Nak, bagaimana kamu bisa tahu kebenaran tentang ayahmu? Apa ada orang lain yang mengatakan semua itu padamu?” tanya Bing Hualing penasaran.
“Apa Ibunda percaya jika aku dapat mengetahui semua itu, hanya dari melihat kedua mata Ibunda?” Bukannya memberi jawaban, Lin Feng justru bertanya balik pada Bing Hualing.
Sementara Bing Hualing yang mendengar pertanyaan Lin Feng, ia teringat keistimewaan sepasang mata yang dimasa lalu pernah dimiliki leluhur keluar Bing. Konon katanya mata itu dapat melihat kenangan orang lain, hanya dengan melihat mata orang yang masa lalunya ingin diketahuinya, dan mata itu bernama mata Dewa.
Bing Hualing menebak Lin Feng memiliki mata itu, dan ia sangatlah senang karena banyak keistimewaan yang dimiliki putranya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.