
“Apa ini Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan? Aku merasa keberadaan tempat ini jauh berbeda dari tingkatan Alam Sembilan Surga yang lebih rendah,” kata Lin Feng yang baru kali pertama merasakan aura Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan.
“Tuan Muda, Alam ini memang Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan, tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa maksud Tuan Muda mengatakan Alam ini jauh berbeda dari tingkatan Alam Sembilan Surga yang lebih rendah,” kata Lin Baoshi, yang menurutnya hanya ada sedikit perbedaan antara Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan dengan tingkatan Alam Sembilan Surga lainnya.
“Apa kalian tidak bisa merasakan kalau Qi elemen dengan sendirinya menghampiri kalian, meski kalian tidak sedang berkuktivasi?” tanya Lin Feng sambil membiarkan Qi elemen memasuki tubuhnya, dan secara perlahan berubah menjadi poin pengalaman untuk meningkatkan kekuatannya.
“Gege, aku sana sekali tidak merasakan adanya Qi elemen yang dengan sendirinya masu ke dalam tubuhku,” ungkap Lin Hua tak merasakan apa yang dirasakan Lin Feng, dan kejadian yang sama seperti Lin Hua juga di alami dua orang lainnya.
“Sepertinya hanya Tuan Muda yang merasakan semua itu, dan itu semua mungkin dikarenakan Tuan Muda adalah putra dari sosok yang dulunya merupakan penguasa mutlak Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan,” kata Lin Baoshi.
Ayah Lin Feng adalah penguasa mutlak wilayah Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan. Sebagai penguasa yang telah diakui, tanpa ia minta kekuatan Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan senantiasa menjadi bagian dari kekuatannya.
Namun racun yang saat itu mengunci kekuatannya membuat ia melemah dan sekalipun ada kekuatan Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan di sisinya, ia tetap saja kalah karena racun yang membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.
Kalau saja petarungan berlangsung secara adik, bisa dipastikan tak satupun musuh dapat mengalahkannya, sekalipun penguasa keluarga Lin turut serta menyatukan kekuatan menyerangnya.
Bisa dikatakan ia adalah sosok terkuat di masanya, dan hanya kelicikan yang mampu mengalahkannya. Orang yang sangat ia percayai telah berkhianat karena ancaman musuh, yang telah berhasil menangkap dan menyandera semua anggota keluarganya.
Meski orang itu telah memutuskan bunuh diri setelah melakukan pengkhianatan, selamanya ia tak akan bisa menghapus kesalahannya karena kesalahan yang ia lakukan telah menghancurkan keluarga yang banyak berjasa untuk kehidupannya.
...----------------...
“Long Baoshi, apa kau tahu tempat yang dulu merupakan kediaman keluargaku?” tanya Lin Feng begitu ia dan yang lainnya bergerak, melihat-lihat keadaan Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan.
“Tuan Muda, aku tahu persis dimana tempat itu, tapi setahuku tempat itu saat ini telah diambil alih oleh anggota keluarga Lin yang ditunjuk penguasa keluarga Lin sebagai penguasa baru Alam ini, meski orang itu tak mendapatkan pengakuan dari Alam ini,” ungkap Lin Baoshi.
“Itu, bukannya merawat dan menjaga peninggalan putranya yang hilang entah kemana, bagaimana mungkin kakek justru menyerahkan kediaman putranya sendiri pada orang lain?” Lin Feng tidak terima dengan keputusan kakeknya, dan ia akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya sekalipun harus mengambil secara paksa.
“Aku akan mengambil apa yang seharusnya hanya menjadi milikku, dan aku akan menyingkirkan siapapun yang tak mau menyerahkan kembali semua milik keluargaku!” Tekadnya sudah bulat, dan tak akan ada orang yang mampu menghentikannya.
__ADS_1
Setelahnya ia meminta Lin Baoshi mengantarkannya pergi ke kediaman milik keluarganya. Kata Lin Baoshi tempat itu tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Dalam setengah hari mereka akan sampai di tempat itu.
“Alam ini terasa begitu damai, di sepanjang jalan aku tidak melihat adanya keributan. Namun dari wajah orang-orang yang berpapasan dengan kita, aku dapat merasakan mereka sangat tertekan oleh sesuatu,” kata Lin Feng mengingat ekspresi wajah orang-orang yang beberapa kali berpapasan dengan kelompoknya.
"Tuan Muda, mungkin itu semua karena peraturan mutlak penguasa baru Alam ini yang melarang siapapun membuat keributan jika tidak ingin mendapatkan hukuman mati. Namun hukum itu tidak berlaku untuk orang-orang yang memiliki hubungan baik dengannya. Orang-orang itu bebas melakukan apapun, sekalipun mereka melanggar hukum yang berlaku,” ungkap Lin Baoshi.
“Peraturan yang hampir mirip dengan yang ada di Kota Lentera Emas, dan peraturan itu sangat tidak dibenarkan karena senantiasa memihak salah satu pihak sekalipun pihak itu yang melakukan kesalahan,” kata Lin Feng.
“Gege, sepertinya penguasa baru yang menggantikan ayah mertua telah menyalahgunakan jabatannya,” kata Lin Hua, dibalas anggukan kepala Lin Feng.
“Karena itu aku akan mengambil jabatannya, dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki!” ungkap Lin Feng dan ia terus bergerak menuju tempat yang menjadi tujuannya, sebelum ia berkumpul di lembah hijau.
...----------------...
Di sebuah kediaman, Lin Cong yang merupakan penguasa baru di Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan, satu-satunya Alam yang masih berada di bawah kekuasaan keluarga Lin, sekalipun terdapat keberadaan keluarga Suci Guo.
Terlihat Lin Cong sedang meremas buah dada milik gadis muda yang saat ini sedang memberi kenikmatan padanya. Gadis muda itu duduk di atas pangkuannya, dengan tubuh polos tanpa busana dan bagian bawahnya telah menyatu dengan milik Lin Cong.
“Milik gadis muda memang sangat nikmat,” katanya begitu terpuaskan, dan menyemburkan benih-benih kenikmatan ke dalam rahim gadis muda yang dilemparnya dari pangkuan, begitu memberi dirinya kepuasan.
“Kalian bisa menikmatinya!” katanya pada lima pengawalnya yang sejak tadi melihatnya memburu kenikmatan.
Membiarkan kelima pengawalnya bersenang-senang, ia keluar dari ruangan tempat adegan panas sedang berlangsung, tentunya setelah ia memakai pakaiannya.
“Yang Mulia, para bangsawan sudah menanti di aula pertemuan,” kata prajurit begitu Lin Cong keluar dari ruangan.
“Oh, ternyata mereka sudah tidak sabar bertemu denganku!” katanya dan ia bergegas melangkahkan kaki menuju pertemuan yang tempatnya tak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
“Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu yang terjadi di Alam ini selama aku bersenang-senang?” tanyanya pada prajurit yang saat ini berjalan di belakangnya.
__ADS_1
“Tidak ada kejadian penting. Hanya ada beberapa bangsawan yang dihukum mati karena mencoba melawan peraturan yang sudah ditetapkan Yang Mulia,” jawab prajurit.
Lin Cong menganggukkan kepalanya puas mendengar semua itu. “Mereka yang tidak taat peraturan memang pantas mati!” katanya dan ia terus melangkah menuju aula pertemuan.
Sementara itu, di gerbang Kota Langit yang merupakan kota terbesar di Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan sekaligus kota tempat tinggal penguasa Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan, Lin Feng, Lin Hua, serta dua orang lainnya baru saja memasuki kota.
“Kota ini terlihat dalam keadaan baik-baik saja, dan semua orang sibuk menjalani kehidupan mereka masing-masing,” kata Lin Feng menilai keadaan Kota Langit.
Selesai memberi penilaian, ia meminta Lin Baoshi mengantarnya langsung ke kediaman yang merupakan kediaman keluarganya, yang saat ini telah diambil orang lain yang sebenarnya tak ada hak menempati kediaman itu.
Saat sampai di kediaman keluarganya dengan mengikuti petunjuk Lin Baoshi, kedatangan mereka disambut tidak ramah oleh prajurit yang berjaga.
“Orang-orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke kediaman penguasa!” kata salah satu prajurit, tapi detik selanjutnya ia jatuh tak sadarkan diri tanpa seorangpun tahu apa penyebabnya.
Prajurit yang mencoba mengecek keadaan prajurit yang tak sadarkan diri, ia memastikan prajurit itu mati dengan seluruh organ dalam hancur, tapi ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Namun ia mencurigai semua itu perbuatan empat orang di hadapannya.
“Katakan padaku! Apa semua ini perbuatan kalian?” tanya prajurit itu dan ia bersiap meminta bantuan pada prajurit lainnya yang berada di tempat terdekat darinya.
“Aku yang melakukannya dan kamu juga akan mengalaminya jika masih berdiri di hadapanku, dan melarang aku masuk ke dalam!” kata tegas Lin Feng, dan ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya.
Mendengar itu, bukannya mengindahkan perkataan Lin Feng, ia justru memanggik bala bantuan dan menyerang Lin Feng bersama-sama dengan bala bantuan yang terus berdatangan.
Tak ingin membuang-buang waktunya menghadapi satu-persatu orang-orang yang setia pada penguasa saat ini, Lin Feng mengumpulkan kekuatan di lengannya, lalu ia melambangkan lengannya, memusnahkan siapapun yang ia anggap sebagai musuh.
Ratusan prajurit mati dalam sekali serang, dan keributan yang dilakukannya sukses memancing kedatangan ia yang ingin ditemuinya.
“Tanpa harus bersusah-payah mencari keberadaannya, ternyata dia sendiri yang datang menemuiku,” gumamnya dengan sorot mata tajam tertuju pada Lin Cong yang datang setelah mendengar suara keributan.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.