Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Menceritakan Semua Pada Lin Hua


__ADS_3

“Hua’er, apa kamu masih ingin tahu siapa aku yang sebenarnya?” tanya Lin Feng pada Lin Hua begitu mereka selesai menghadiri acara makan siang bersama Lin Mofeng dan Bing Hualing.


Makan siang kali ini juga dihadiri ayah Lin Hua, yang mana hubungan Lin Hua dan pria itu telah membaik selayaknya hubungan keluarga Lin dan keluarga Suci Guo.


“Kalau Gege ingin menceritakan semua padaku, dengan senang hati aku akan mendengarnya,” kata Lin Hua.


Lin Feng tersenyum, lalu dia mulai bercerita. Cerita dia awali dengan kehidupannya di bumi, sampai akhirnya dia berpindah alam.


Setelah berpindah alam, dia menjalani kehidupan sebagai kultivator dengan bantuan kekuatan luar biasa yang bernama sistem penguasa.


Sistem membantunya menjadi sosok kuat, dan dengan sistem dia membuat orang-orang di sekitarnya tumbuh kuat bersama dengannya.


Lin Feng turut menceritakan tentang Lin Jia yang merupakan wujud manusia dari kekuatan sistem yang menyatu dengan jiwanya.


“Jadi, semua hal luar biasa yang selama ini Gege gunakan untuk membantu banyak orang meningkatkan kekuatan, semua berasal dari sitem?”


Lin Feng menganggukkan kepala. “Semua itu memang berasal dari sistem, tepatnya aku membeli semua itu dari toko sistem, yang menjual banyak hal liar biasa.” Lin Feng menunjukkan apa itu yang dinamakan toko sistem.


Dikarenakan dia telah membangkitkan kekuatan Sang Pencipta, dia bisa menunjukkan apa itu toko sistem pada Lin Hua, dan wanita itu sangat kagum dengan apa yang dijual toko sistem.


“Sekarang aku sudah tahu darimana semua hal luar biasa yang Gege miliki, tapi aku masih belum tahu identitas Gehe yang sebenarnya, dan aku yakin penguasa alam semesta bukanlah identitas Gege yang sebenarnya,” kata Lin Hua sangat penasaran dengan identitas asli Lin Feng.


Mendengar itu, Lin Feng menjentikkan jari dan sekarang dia dan Lin Hua muncul di istana megah milik Sang Pencipta.


“Istana yang paling megah, yang pernah aku lihat. Apa ini istana milik Gege?” tanya Lin Hua setelah melihat keindahan di sekitarnya.


“Ini memang istanaku tapi sekarang ini adalah istana kita, dan para penguasa di masa lalu mengenal istana ini sebagai istana Sang Pencipta,” kata Lin Feng menjawab apa yang ditanyakan Lin Hua.


“Jadi, Gege bukanlah penguasa alam semesta, melainkan Sang Pencipta yang telah menciptakan segalanya?” ujar Lin Hua, dan dia penasaran dengan balasan Lin Feng.

__ADS_1


Bryan menganggukkan kepala. “Aku memang sosok Sang Pencipta, tapi aku juga merupakan sosok suamimu, dan setengah kekuatanku adalah milikmu.” Tiba-tiba jari telunjuk Lin Feng menyentuh kening Lin Hua.


“Ini, aku merasa kekuatanku telah meningkat dari sebelumnya,” kata Lin Hua setelah jari Lin Feng tak lagi bersentuhan dengan keningnya.


“Hua’er, aku telah memberikan setengah kekuatanku padamu, dengan memiliki setengah dari kekuatanku kamu telah menjadi sosok abadi sepetiku. Setelah ini, tak akan ada kekuatan yang dapat mendatangkan kematian untukmu. Selamanya kita bisa hidup bersama, dan saat kita bosan dengan suasana tempat ini, kita bisa memilih menjadi makhluk apapun untuk menikmati kehidupan lainnya,” kata Lin Feng menjelaskan apa yang baru dia lakukan pada Lin Hua.


“Great, bagaimana kalau suatu saat nanti kita menjalani kehidupan di tempat yang bernama Bumi? Aku sangat penasaran dengan tempat itu,” kata Lin Hua.


“Bumi? Aku sebenarnya sudah tak lagi berpikir untuk kembali ke tempat itu, tapi kalau Hua’er ingin pergi ke sana, aku tak keberatan menemani Hua’er menikmati kehidupan di Bumi,” balas Lin Feng.


“Sudah diputuskan, jika suatu saat nanti kita bosan dengan kehidupan di tempat ini, kita akan pergi ke tempat yang bernama Bumi. Meski di tempat itu kita tak bisa bebas menggunakan kekuatan yang kita miliki, setidaknya kita dapat menikmati kehidupan sebagai manusia di tempat itu,” ungkap Lin Hua.


Lin Feng hanya menanggapi ungkapan Lin Hua dengan anggukan kepala, lalu dia membawa Lin Hua berkeliling menikmati kemegahan, kemewahan, serta keindahan istana Sang Pencipta.


“Tempat ini benar-benar indah, tapi sayang tempat ini sangat sepi,” kata Lin Hua yang tak menemukan siapapun di istana Sang Pencipta.


“Tempat ini sekarang memang masih sepi, tapi begitu seluruh keluarga kita pindah ke tempat ini, aku yakin mereka akan membuat tempat ini menjadi ramai, dan aku juga tak melarang orang luar sekedar mengunjungi area luar istana utama.”


“Kalau begitu, sebaiknya kita segera membawa mereka semua ke tempat ini! Aku yakin ibu akan sangat senang berada di tempat ini,” ungkap Lin Hua.


“Aku berencana membawa mereka ke tempat ini setelah pernikahan Xiong Hu dan yang lainnya,” balas Lin Feng.


Lin Hua setuju dengan apa yang menjadi keinginan Lin Feng, dan harus diakui dia belum tahu banyak tentang ancara pernikahan Xiong Hu dan yang lainnya.


“Gege, kapan rencananya pesta pernikahan mereka dilakukan? Apa aku harus turun tangan langsung membantu mempersiapkan acara pernikahan terbaik untuk mereka?” tanya Lin Hua.


“Dua hari lagi adalah hari yang aku tentukan untuk menggelar acara pernikahan mereka, dan orang-orang penting di alam sembilan surga juga telah menerima undangan. Seluruh acara pernikahan, maupun tempat pernikahan telah dipersiapkan oleh seluruh anggota keluarga Lin, jadi kita hanya perlu menikmati berlangsungnya pesta.”


“Meski acara pernikahan mereka telah dipersiapkan, aku tetap harus menyiapkan hadiah untuk mereka. Apa Gege tahu kira-kira apa yang sebaiknya aku hadiahkan pada mereka?”

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita menghadiahkan mereka waktu berlibur yang lama? Aku rasa itulah hadiah yang paling tepat untuk mereka, dan aku sudah menyiapkan ini untuk anak-anak mereka.” Lin Feng menunjukkan empat buah cincin penyimpanan.


“Cincin penyimpanan? Kenapa Gege sudah lebih dulu menyiapkan cincin penyimpanan untuk anak-anak mereka?” tanya Lin Hua penasaran.


“Cincin penyimpanan ini berisikan sumberdaya yang dapat membuat anak-anak mereka segera menerobos tingkat Kaisar Dewa Surgawi.”


“Jika masing-masing dari mereka memiliki lima anak, aku rasa sumberdaya di dalam cincin ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka akan sumberdaya,” kata Lin Feng.


Lin Hua setuju dengan hadiah yang telah dipersiapkan Lin Feng, tapi dia ingin mengatakann sesuatu pada suaminya itu. “Gege, sepertinya dibandingkan mereka, kita akan lebih dulu memiliki bayi lucu,” katanya sambil mengelus perutnya yang rata.


Lin Feng sejenak terdiam meresapi kata-kata yang keluar dari mulut Lin Hua, dan seketika kedua matanya tertuju pada perut Lin Hua.


“Hua’er, Jangan-jangan usaha keras kita selama ini telah membuahkan hasil?” Lin Feng dan Lin Hua belum menerima penyucian dari petir penyucian, jadi mereka belum sepenuhnya menjadi sosok tunggal yang tak bisa memiliki keturunan.


Namun meski saat ini mereka sudah dapat dikatakan sosok abadi, anak yang kelak lahir dari rahim Lin Hua, dia hanya akan memiliki setengah keabadian kedua orangtuanya.


Dia masih bisa mati, dan dia tak bisa menjadi makhluk abadi selayaknya kedua orangtuanya. Kematian bisa sewaktu-waktu mendatanginya jika dipertemukan dengan sosok yang membawa takdir dewa kematian untuknya.


“Gege, aku memang sedang mengandung, tapi ini masih terlalu muda dan aku harus menjalani dengan sangat berhati-hati. Meski rahimku sangat kuat, aku tetap harus berhati-hati karena aku tak ingin ada yang menyakitinya!” ungkap Lin Hua.


Lin Feng menganggukkan kepala mencoba memahami keadaan istrinya, tapi dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena tak lama lagi dia akan memiliki keturunan, meskipun ini mungkin akan menjadi satu-satunya penerus keturunannya.


“Oh iya, Gege juga harus bersabar tentang masalah itu!” Lin Hua menunjuk milik Lin Feng dibalik kain yang menutupinya. “Sebelum kandunganku benar-benar kuat, tempat itu terlarang untuk dimasukin milik Gehe!” kata tegas Lin Hua.


Lin Feng yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut. Selain datangnya kabar gembira setelah mendengar kehamilan Lin Hua, ternyata ada kabar buruk yang membuatnya harus menahan keinginan memberi kepuasan pada miliknya. Di saat seperti ini dia kembali teringat hari-harinya saat hidup di Bumi saat tak ada kekasih yang memberi kehangatan padanya.


‘Apa mungkin aku harus menggunakan tanganku sendiri untuk memberi kepuasan pada milikku?’ tanyanya dalam hati, dan dia menggelengkan kepala tanpa sepengetahuan Lin Hua yang sedang fokus melihat arah lain.


‘Hah, aku tidak benar-benar harus melakukan semua itu jika membutuhkannya, tapi kalau memang sudah tidak tahan, aku bisa melakukan itu sendiri, atau mungkin aku bisa meminta bantuan Hua’er. Setidaknya ada sensasi lain saat tangannya yang melakukan itu,’ lanjutnya sembari terkekeh pelan.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2