
Lin Junda yang melakukan penyelidikan, selain mengungkap pelaku pembunuh istri sahnya, ia juga berhasil mengungkap penyebab kematiannya. Racun diberikan sedikit demi sedikit sejak istrinya mengandung Lin Luyao, dan racun yang semakin menumpuk pada akhirnya menjadi penyebab kematian istrinya.
Sedangkan untuk pria yang telah bermain api dengan istrinya saat ini, Lin Junda sangat mengenali pria itu bahkan selama ini ia sangat menghormatinya. Namun, setelah hari ini berlalu, tak lagi ada rasa hormat darinya untuk orang itu, dan ia juga tak lagi ingin memiliki hubungan apapun dengannya.
Awalnya ia sulit percaya jika pria itu yang telah bermain api dengan istrinya, tapi setelah melihat langsung bagaimana pria itu memburu kenikmatan bersama istrinya di atas ranjang, tak lagi ada alasan untuk tidak mempercayai semua itu, dan sejak hari dimana ia mengetahui kenyataan pahit dalam hidupnya. Lin Junda sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga Lin bersama Lin Luyao.
Namun, luka yang dialaminya membuat semua itu tertunda, tapi sekarang meski belum sepenuhnya pulih dari luka dalamnya, dengan kekuatannya saat ini Lin Junda bertekad pergi meninggalkan keluarga Lin bersama Lin Luyao. Pergi sejauh mungkin dan tak lagi memiliki hubungan dengan keluarga Lin.
Sedangkan Bing Huifei yang sedari awal mendengar perkataan Lin Junda, serta melihat sikap yang saat ini ditunjukkan Lin Junda padanya, ia sadar telah melakukan kesalahan besar pada putranya itu. Bukan hanya pada Lin Junda, tapi ia juga merasa sangat bersalah pada keluarga Lin Feng.
Akan tetapi, ia merasa permintaan maaf saja tidak dapat menebus kesalahannya. Lin Junda kehilangan wanita yang dicintainya, sedangkan kelurga Lin Feng harus tercerai-berai dan entah kapan mereka dapat berkumpul menjadi keluarga utuh. Apalagi setelah mengingat bagaimana ia barusan memaksa Lin Feng menuruti keinginannya, bukannya mengurangi kesalahan, semua itu justru menambah kesalahannya.
Bing Huifei merasa sangat bersalah pada mereka, tapi saat terlintas wajah putra pertamanya, rasa bersalah itu memudar begitu saja, seolah ia tidak pernah merasakannya.
“Kalau kalian ingin pergi, silahkan pergi dari tempat ini! Keluarga Lin sama sekali tidak membutuhkan orang-orang seperti kalian!” teriaknya mengusir semua orang yang ingin pergi meninggalkan keluarga Lin.
“Namun kalian semua harus ingat! Begitu keluar dari kediaman ini, kalian semua adalah musuh keluarga Lin, dan aku mau lihat seberapa lama kalian bisa bertahan dari para pemburu milik keluarga Lin!” lanjut Bing Huifei berkata tapi perkataan diabaikan oleh Lin Feng dan yang lainnya.
Lin Feng dan yang lainnya memilih melangkahkan kaki meninggalkan kediaman keluarga Lin di Alam Sembilan Surga tingkat ke-empat, mengabaikan setiap kata yang terlontar keluar dari mulut Bing Huifei.
...----------------...
__ADS_1
Setelah kepergian Lin Feng dan yang lainnya, dua puluh sosok yang merupakan bagian dari prajurit pemburu milik keluarga Lin muncul di hadapan Bing Huifei. Berlutut dengan salah satu kaki ditekuk, mereka sedang menunggu tugas apa yang akan diberikan Bing Huifei pada mereka.
“Kalian sudah melihat orang-orang yang baru pergi meninggalkan tempat ini. Bunuh saja mereka semua, tapi ingat bawa padaku pemuda bernama Lin Feng dalam keadaan hidup-hidup! Namun kalau ia menolak ikut bersama kalian, bunuh saja ia seperti yang lainnya!” tegas Bing Huifei memberi perintah.
Setiap anggota prajurit pemburu menganggukkan kepala dan setelahnya mereka langsung pergi melaksanakan tugas yang diberikan Bing Huifei. Tak banyak bicara dan secepatnya menyelesaikan perintah, itulah kebiasaan yang tertanam pada diri masing-masing anggota prajurit pemburu milik keluarga Lin.
“Lin Junda, aku sudah memberimu kesempatan hidup yang cukup lama, tapi pada akhirnya kamu juga harus mati sebagai syarat ia kembali ke sisi keluarga Lin. Dengan senang hati kembali ke keluarga Lin setelah seluruh saingannya mati. Putraku, kau harus segera kembali setelah aku memberi kabar kematian Lin Junda padamu!” gumamnya pelan sambil tersenyum membayangkan putra yang dia cintai kembali ke sisinya.
Sementara itu Lin Feng dan yang lainnya, yang baru saja pergi meninggalkan kediaman keluarga Lin, saat ini mereka bergerak melakukan perjalanan menuju laut kehampaan. Selain menggunakan portal penghubung sembilan tingkatan Alam Sembilan Surga, ada jalanan kuno di ujung laut kehampaan yang bisa mereka gunakan untuk pergi ke tingkat yang lebih tinggi.
Tiba di ujung daratan sebelum memasuki kawasan laut kehampaan, Lin Feng tiba-tiba berhenti diikuti yang lainnya. “Mereka datang, dan seluruh dari mereka memiliki kekuatan di tingkat Dewa Semesta Bintang 1,” kata Lin Feng pada semua orang.
“Mereka pasti prajurit pemburu keluarga Lin yang diperintahkan nenek untuk memburu kita!” ungkap Lin Luyao penuh dengan keyakinan.
“Paman tidak perlu khawatir, jumlah mereka memang banyak dan kekuatan mereka bukanlah sesuatu yang dapat kita remehkan. Akan tetapi, dengan kekuatan yang aku miliki, mereka sama sekali tidak ada kesempatan melukai kita!” kata Lin Feng mengatakan kebenaran.
“Kalau suamiku kewalahan menghadapi mereka, masih ada aku yang bisa membantunya.” Kali ini giliran Lin Hua yang berkata, dan ia sangat yakin mengalahkan musuh yang lebih lemah darinya.
“Hah... kalian berdua masih begitu muda, bagaimana mungkin kalian bisa melawan mereka yang sudah kaya akan pengalaman dan lagi kekuatan mereka sangat kuat? Meimei, sebaiknya kamu jaga mereka, dan biarkan aku yang menghadapi seluruh prajurit pemburu!” ujar Lin Junda dan ia mengarahkan pandangan pada Bing Hualing.
Bing Hualing pelan menggelengkan kepala dan berkata, “Percayakan saja melawan mereka pada putra dan menantuku! Lagipula, kekuatanmu belum pulih, melawan mereka tentu bukan sesuatu yang dapat kamu lakukan seorang diri!”
__ADS_1
Lin Junda sebenarnya bukanlah sosok yang dapat diremehkan oleh siapapun. Dengan kekuatan di tingkat Dewa Semesta Bintang 5, ia dapat dikatakan menjadi salah satu sosok kuat di Alam Sembilan Surga. Namun itu semua keadaan sebelum ia terluka, setelah terluka dan baru saja sembuh, kekuatannya memang tidak mengalami penurunan tapi kekuatannya belum pulih seperti sediakala.
Jangankan menghadapi dua puluh musuh di tingkat Dewa Semesta Bintang 1, menghadapi salah satu dari mereka saja, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan menang. Kematian, itulah yang didapatkannya jika bersikeras melawan musuh, yang tak lama lagi datang.
“Paman, aku memang masih muda, tapi sekalipun kekuatan Paman telah sepenuhnya pulih, jika terjadi pertarungan satu lawan satu antara kita, bukan hal sulit bagiku untuk mengalahkan Paman!” kata Lin Feng dan begitu saja ia menunjukkan aura kekuatan tingkat Dewa Semesta Bintang 6 di hadapan semua orang.
Lin Junda sangat terkejut dengan apa yang ditunjukkan Lin Feng padanya, ia tidak menyangka di usia yang masih sangat muda, keponakannya telah tumbuh menjadi sosok sangat kuat, bahkan lebih kuat darinya saat seluruh kekuatannya pulih.
“Apa sekarang Paman percaya padaku kalau aku dapat mengalahkan mereka?” tanya Lin Feng yang seketika menyadarkan Lin Junda dari keterkejutan.
Lin Junda cepat menganggukkan kepalanya lalu berkata, “Mimpi buruk bagi mereka karena datang menemui kita! Jangankan mereka, sekalipun wanita itu datang, tak ada kesempatan untuknya dapat mengalahkanmu.”
Dengan kekuatan yang dimiliki Lin Feng saat ini, Lin Junda yakin di keluarga Lin saat ini hanya ayahnya yang dapat dibandingkan dengannya, tapi sangat tidak mungkin ayahnya rela meninggalkan Alam Sembilan Surga tingkat kesembilan hanya untuk memuaskan keinginan istrinya.
“Swuusshh... Swuusshh...” Dua puluh sosok pria bertopeng rubah yang tak lain adalah prajurit pemburu milik keluarga Lin datang, dan menghadang tepat di hadapan Lin Feng dan yang lainnya. Sorot mata mereka terlihat begitu tajam dan niat membunuh keluar, mengarah pada Lin Feng dan yang lainnya.
Lin Feng mengambil dua langkah maju mendekati mereka, dan satu langkah di belakangnya berdiri Lin Hua serta Bing Hualing yang bersiap memberi bantuan padanya. Mereka siap bertarung kapanpun musuh datang menyerang.
Sedangkan di sisi prajurit pemburu, mereka merasa kekuatan tak biasa dari pemuda yang harus mereka bawa hidup-hidup ke hadapan Bing Huifei. Menatap mata hitam pemuda itu, tiba-tiba saja tubuh mereka bergetar ketakutan, seolah baru saja melihat mata milik sang Dewa Kematian.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.