
Jiang Bo melihat bagaimana prajurit keluarga Jiang mati di tangan Lin Feng dan Lin Hua. Dari ratusan ribu prajurit dalam sekejap mata hanya tersisa kurang dari setengahnya yang masih bertahan.
Akan tetapi, dengan kekuatan yang dimiliki Lin Feng dan Lin Hua, Jiang Bo merasa tak lama lagi seluruh prajurit keluarga Jiang bakalan mati di tangan keduanya.
“Dengan kekuatan mereka berdua, ratusan ribu prajurit keluargaku bukanlah lawan sepadan untuk mereka.” Dengan wajah sendu ia menatap putri dan menantunya yang tanpa ampun membunuh prajurit keluarga Jiang.
“Kalau saja sejak awal aku menurutinya dan tidak menuruti apa yang menjadi keinginan keluarga Suci Guo, semua ini pasti tidak terjadi pada keluargaku,” gumamnya lirih dan pada akhirnya ia memejamkan mata, tak lagi sanggup melihat apa yang terjadi pada prajurit keluarganya.
Sementara itu, Lin Feng dan Lin Hua yang terus memburu prajurit keluarga Jiang, tak satupun prajurit keluarga Jiang mampu menghentikan mereka. Bukannya menghentikan keduanya, pada akhirnya mereka para prajurit yang justru mati di tangan keduanya.
“Kalian semua harus mati di tempat ini!” teriak Lin Feng dengan suara lantang dan ia terus melayangkan pukulan serta tendangan, merubah prajurit keluarga Jiang menjadi kabut darah.
Lin Hua sendiri tanpa banyak bicara ia terus membunuh musuh-musuhnya. Dengan pedang kecil di tangannya bisa dipastikan tak ada yang dapat selamat darinya. Setiap melihat musuh, ia akan memburu dan membunuhnya, dan sampai saat ini setidaknya sudah ribuan orang mati di tangannya.
“Tuan Muda dan Putri Hua sudah marah. Mereka semua yang seharusnya tidak perlu mati sia-sia di tempat ini, pada akhirnya mereka harus mati untuk menebus kesalahan kepala keluarga Jiang,” ungkap Xiong Hu.
“Semua itu pantas mereka dapatkan karena bagaimanapun juga, kepala keluarga Jiang telah melakukan kesalahan yang teramat besar!” kata Huang Zou dan ia terus memperhatikan Jiang Bo yang tergeletak tak berdaya di atas permukaan tanah.
“Boom... Boom... Boom...” Suara ledakan terus terdengar saat pukulan dan tendangan Lin Feng berhasil merubah musuhnya menjadi kabut darah, dan saat ini hanya tersisa kurang dari seribu orang prajurit keluarga Jiang yang masih bertahan hidup.
Lin Feng tidak terpikirkan membiarkan mereka hidup. “Kalian semua harus mati di tanganku dan itu adalah bayaran untuk apa yang ingin dilakukan Jiang Bo pada istriku!”
Kembali hanya dengan pukulan tangan kosong dan tendangan kedua kalinya, Lin Feng melesat bagaikan kilatan cahaya membunuh sisa-sisa prajurit keluarga Jiang. Lin Hua yang tidak ingin mengganggu suaminya bersenang-senang, ia memilih menyingkir dan mengawasi jalannya pertempuran dari kejauhan.
“Sungguh kematian sia-sia,” gumam Lin Hua sambil ia menghela napas panjang.
Jiang Bo tidak melihat apa yang sedang terjadi karena saat ini kedua matanya terpejam. Meski tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, tapi ia tetap bisa merasakan keberadaan prajurit keluarga Jiang yang jumlahnya semakin sedikit dan tak lama kemudian, ia benar-benar tak lagi merasakan keberadaan prajurit keluarga Jiang.
Setelah tak lagi merasakan keberadaan prajurit keluarga Jiang, ia memilih membuka kedua matanya, dan saat ini yang terlihat olehnya adalah akhir dari pertempuran.
__ADS_1
Jelas ia bukan pemenang di akhir pertempuran, tapi ia menjadi si pesakitan karena harus menanggung kekalahan dan kehilangan tiga seperempat kekuatan yang dimiliki keluarga Jiang.
Kehilangan yang begitu mendalam dirasakan Jiang Bo, saat ia yakin tak satupun prajurit ataupun tetua keluarga Jiang yang berada di medan pertempuran berhasil selamat dari kematia. Kehilangan mereka adalah kerugian sangat besar, dan sekarang keluarga Jiang tak lagi memiliki pondasi kuat untuk tetap bertahan di Alam Sembilan Surga tingkat ke-empat.
“Swuusshh... Swuusshh...” Lin Feng dan Lin Hua menghampiri Jiang Bo yang saat ini sudah sanggup duduk, tapi ia masih belum mampu bergerak berpindah tempat.
Lin Feng mengambil satu langkah maju mendekati Jiang Bo dan berkata, “Kalau kau masih memiliki niat buruk pada istriku, aku tak akan segan melenyapkan keluarga Jiang!”
Jiang Bo menatap Lin Feng dan Lin Hua. Terlihat dia seolah ingin mengatakan sesuatu pada mereka, tapi pada akhirnya tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Kalau kamu ingin menuntut balas, aku menunggu kedatanganmu di kediaman keluarga Lin,” kata Lin Feng.
“Tenang saja, aku tak akan melibatkan keluarga Lin karena permasalahan diantara kita murni permasalahan pribadi, tapi lain cerita kalau kamu membawa serta keluarga Suci Guo di belakangmu.”
“Kalau kamu datang menuntut balas dengan membawa kekuatan keluarga Suci Guo, aku tidak bisa menjamin keluarga Lin untuk tidak terlibat dalam permasalahan diantara kita.”
Lin Feng kembali ke dekat Lin Hua setelah mengatakan semua itu pada Jiang Bo, dan setelahnya keduanya begitu saja pergi meninggalkan seseorang yang sebelumnya ingin mereka kunjungi.
Sedangkan Jiang Bo yang ditinggal seorang diri, ia tak bisa menahan tangisnya melihat kepergian Lin Feng dan Lin Hua. Sebagai seorang ayah dirinya sangatlah mengecewakan, dan pantas anaknya sendiri membenci keberadaannya.
Menyesal, tentu ia menyesal, tapi penyesalannya tak berguna karena semua telah terjadi, dan tak mungkin baginya mengulang apa yang sudah terjadi.
“Swuusshh... Swuusshh...” Dua tetua keluarga Jiang yang ditugaskan Jiang Bo menjaga para wanita dan anak-anak datang, dan bersama-sama mereka membawa Jiang Bo ke kediamannya untuk mendapatkan perawatan.
Luka Jiang Bo tidak ada yang serius, tapi tetap saja ia membutuhkan perawatan sesegera mungkin untuk mempercepat pemulihannya.
Melihat ada yang membawa Jiang Bo. Lin Feng maupun Lin Hua tidak mempedulikannya. Mereka memilih bergegas pergi meninggalkan kediaman keluarga Jiang, dan tujuan mereka selanjutnya adalah kediaman keluarga Lin yang ada di Alam Sembilan Surga tingkat ke-empat.
“Swuusshh... Swuusshh...” Lin Feng mengirim kembali orang-orang kembali ke Alam Kehidupan termasuk Lin Cang dan dua orang lainnya yang sangat penasaran dengan Alam Kehidupan.
__ADS_1
Sekarang hanya menyisakan Lin Baoshi dan Lin Yanran yang menemani perjalanan Lin Feng dan Lin Hua, dan segera saja mereka pergi menuju kediaman keluarga Lin.
Dengan kecepatan puncak tingkat Dewa Senesta Bintang 1, setidaknya mereka butuh waktu selama sehari semalam untuk sampai di kediaman keluarga Lin.
Meski baru melakukan pertempuran, tak satupun dari mereka berempat yang merasakan kelelahan. Sekalipun harus menempuh perjalanan jauh selama sepuluh hari sepuluh malam, mereka masih sanggup melakukannya.
Sementara itu, Lin Luyao yang sudah berada di kediaman keluarga Lin, dengan ditemani Bing Huifei yang tak lain adalah neneknya dan juga nenek Lin Feng, ia sedang menunggu ayahnya yang baru saja menelan obat untuk menyembuhkan lukanya.
“Cucuku, kamu tenang saja, ayahmu akan baik-baik saja apa lagi ia telah meminum pil yang diracik dari bahan-bahan khusus,” ungkap Bing Huifei sambil mengusap lembut rambut Lin Luyao.
“Nenek, aku hanya khawatir di masa depan ada orang yang datang dan kembali ia membuat ayahku celaka.” Lin Luyao sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya.
“Dengan penjagaan orang-orang yang selama ini nenek latih, yakinlah tak akan ada yang mampu kembali mencelakai ayahmu,” kata Bing Huifei.
Mendengarnya, Lin Luyao menganggukkan kepala, tapi tiba-tiba saja ia memukul keningnya sendiri karena melupakan sesuatu yang sejak awal sangat ingin ia ceritakan pada Bing Huifei.
“Cucuku, kenapa kamu memukul kepalamu sendiri?” tanya Bing Huifei merasa aneh dengan apa yang dilakukan Lin Luyao.
Lin Luyao cepat menggelengkan kepala dan berkata, “Nenek, aku tidak apa-apa. Oh iya, Bibi dimana Nek? Kenapa sejak kembali aku tidak melihatnya?”
“Bibimu itu sedang berada di ruang pelatihan sejak beberapa hari yang lalu, dan mungkin hari ini ia akan keluar dari ruang pelatihan,” kata Bing Huifei memberi jawaban.
Lin Luyao tersenyum mengetahui keberadaan Bibi nya. “Apa Nenek ingin tahu siapa yang aku temui di Alam Sembilan Surga tingkat kedua dan yang juga membantuku mendapatkan bahan pil terakhir untuk mengobati ayah?” tanyanya.
“Kamu belum menceritakan semua itu pada Nenek, apa sekarang kamu mau menceritakannya?” ujar Bing Huifei.
“Orang yang aku temui dan yang telah membantuku adalah putra Bibi,” kata Lin Luyao sambil tersenyum senang.
Sedangkan Bing Huifei yang mendengarnya, kedua matanya terbuka lebar karena terkejut dan buru-buru ia ingin mendengar keseluruhan cerita Lin Luyao.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.