
Lin Feng dengan tenang melihat keadaan pos jaga yang terdapat setidaknya dua puluhan prajurit penjaga.
“Katakan padaku, kenapa kalian membuat keributan?” tanya prajurit yang membawa Lin Yanran dan yang lainnya ke pos jaga.
“Wanita itu tiba-tiba menyerang salah satu teman kami, dan saat aku mau menolongnya pria ini menghentikanku!” kata pria yang serangannya ditahan Lin Baoshi.
Prajurit penjaga segera mengarahkan pandangan pada Lin Yanran dan Lin Baoshi.
“Apa benar yang dikatakannya kalau kamu duluan, yang telah menyerang salah satu rekannya?“ Dia bertanya pada Lin Yanran dan ingin mendengar keterangan dari kedua kubu yang bertikai.
“Aku memang menyerang rekannya lebih dulu, tapi apa yang aku lakukan tentu ada alasannya, dan alasanku karena rekannya memaksa memegang pergelangan tanganku!” jawab Lin Yanran dengan tenang.
“Ingin memegang tanganmu, dan hanya karena itu kamu menyerangnya? Bukannya alasan kamu melakukan tindakan penyerangan terlalu mengada-ngada? Hanya dipegang tidak akan memberi kerugian apapun padamu!” kata si prajurit.
“Lalu apa aku harus diam saja saat ada pria yang ingin menyentuh anggota tubuhku sedangkan aku jelas tidak menyukai apa yang ingin dilakukannya?” ujar Lin Yanran.
“Tentu kamu berhak menolak apa yang ingin dilakukan pria itu padamu, tapi penolakan itu tidak perlu dengan kekerasan dan bahkan memancing keributan. Kamu bisa menolaknya secara baik-baik dan aku yakin ia bisa mengerti,” katanya sambil melirik pria yang tangannya sedang disembuhkan oleh salah satu rekannya.
“Aku sudah cukup baik hanya meremukkan tangannya. Biasanya, siapapun yang melakukan tindakan tidak menyenangkan padaku, hanya kematian yang ia dapatkan,” kata Lin Yanran masih tenang meski ia mulai emosi.
Semua orang sejenak terdiam setelah mendengar semua itu, termasuk si prajurit yang kali ini berperan sebagai hakim.
“Ini adalah Kota Lentera Emas, dan di kota ini ada hukum yang melarang siapapun melakukan pertarungan apa lagi membuat kekacauan. Membunuh bisa dilakukan di luar kota, tapi di dalam kota siapapun yang melakukan pembunuhan atau melanggar peraturan kota, orang itu akan mendapatkan hukuman setimpal!” kata prajurit.
“Apa sekarang kamu menganggap aku telah melanggar peraturan kota, dan ingin menjatuhkan hukuman padaku?” tanya Lin Yanran.
“Dari apa yang aku dengar kamu memang bersalah, dan hukuman yang akan kamu terima adalah menuruti satu keinginan orang yang telah terluka olehmu!” tegas prajurit berkata.
Lin Feng yang hanya diam tiba-tiba tersenyum. “Prajurit ini secara tidak langsung justru membenarkan perbuatan mereka yang salah,” gumamnya pelan, dan hanya Lin Hua yang dapat mendengarnya.
“Aku ingin wanita ini menjadi budakku untuk selamanya!” teriak pria yang tangannya sudah setengah pulih. “Hanya dengan dia menjadi budakku, itu bisa menebus kesalahannya padaku,” lanjutnya berkata.
__ADS_1
“Hukum harus di tegakkan dan karena hukuman untukmu sudah di tentukan, mulai hari ini kamu akan menjadi budaknya, dan sebagai budak kamu harus menuruti semua keinginannya!” kata prajurit memberi keputusan akhir.
Baru juga prajurit itu menutup mulutnya ledakan aura yang sangat mengerikan, meledak dari tubuh Lin Yanran bersama amukan kekuatan petir yang seketika menghancurkan keberadaan pos jaga.
“Aku Lin Yanran menolak tegas hukum di kota ini, dan tidak mungkin bagiku menjadi budak orang yang lebih lemah dariku. Daripada mematuhi hukum yang tidak masuk akal dan menjadi budak orang sepertinya, lebih baik aku melenyapkan keberadaan kalian dan kota ini!” kata Lin Hua dengan suara lantang, dan ia mengeluarkan tekanan aura Dewa Semesta Bintang 3 yang membuat semua orang jatuh tersungkur tak bisa bergerak.
“Di-dia berasal dari keluarga Lin, dan kekuatan ini bukan kekuatan Dewa Agung melainkan kekuatan seorang Dewa Semesta,” kata pelan prajurit penjaga yang merasakan ketakutan karena telah menyinggung orang, yang seharusnya tak ia singgung.
Kalau sejak awal ia tahu sedang berhadapan dengan anggota keluarga Lin, ia akan membiarkan wanita itu melakukan apapun, sekalipun ia membunuh pria yang sebelumnya ia bela.
“Ma-maafkan saya yang tak sadar sedang berhadapan dengan salah satu anggota keluarga Lin! Hu-hukum di kota ini tidak berlaku untuk seluruh anggota keluarga Lin, dan Nona bebas melakukan apapun pada pria itu!” Prajurit mencoba meminta maaf pada Lin Yanran, dan membiarkannya melakukan apapun pada pria yang sebelumnya ingin menjadikannya sebagai budak. Dengan begitu ia berharap nyawanya bisa terselamatkan, dan hal buruk tak akan terjadi pada Kota Lentera Emas.
Mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah bersinggungan dengan mereka dan mendengar perkataan prajurit, kelompok pria yang sebelumnya merasa berada di atas angin, kini mereka melihat nasib buruk berada di depan mata.
“Aku tidak hanya menginginkan nyawa pria itu, tapi aku menginginkan nyawa seluruh rekannya!” Belum juga semua orang bereaksi dengan perkataan Lin Yanran, tiba-tiba sosok Lin Yanran sudah menyerang mereka yang pantas mati di tangannya.
Tak sampai satu menit lima pria mati dengan kepala terpenggal dan hanya menyisakan tiga wanita, yang saat ini justru tersenyum senang setelah melihat kematian lima pria anggota kelompok mereka.
“Nona, terimakasih telah membebaskan kami dari mereka!” kata ketiganya bersamaan.
Lin Yanran hanya mengangguk, lalu ia mengarahkan pandangannya pada prajurit penjaga. “Urusanku sudah selesai di tempat ini, dan aku harap di masa yang akan datang kamu atau siapapun yang berada di kota ini tak lagi salah dalam menentukan sebuah hukuman!” kata Lin Yanran dan ia segera menghadap Lin Feng. “Tuan Muda, maaf telah membuang banyak waktu berharga milik Tuan Muda!” kayanya.
“Tidak masalah, dan sebaiknya sekarang kita bergegas pergi ke portal penghubung seluruh Alam di Alam Sembilan Surga!” kata Lin Feng, lalu ia membawa Lin Hua dan yang lainnya pergi meninggalkan pos jaga yang telah hancur.
Setelah kepergian Lin Feng dan yang lainnya, para prajurit penjaga segera melakukan bersih-bersih, termasuk membersihkan mayat lima pria yang mati di tangan Lin Yanran.
“Wanita itu jelas anggota keluarga Lin dengan kekuatan petir yang sangat mengerikan. Melihat ia yang begitu kuat memanggil Tuan Muda pada pria yang dari tubuhnya sama sekali tidak memiliki aura seorang kultivator, aku yakin pria itu statusnya di keluarga Lin lebih tinggi darinya.”
“Tidak memiliki aura seorang kultivator bukan berarti ia lemah, bisa saja ia sengaja menyembunyikan kekuatannya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang.”
“Sudah, jangan lagi bahas mereka. Sebaiknya kita segera bereskan mayat-mayat ini, daripada memancing mereka kembali datang dan merobek mulut kalian satu-persatu!”
__ADS_1
Mendengarkan apa yang dikatakan salah satu rekan mereka, para prajurit penjaga tak lagi membicarakan keberadaan Lin Feng dan yang lainnya. Saat ini mereka hanya berfokus melakukan pembersihan.
Sementara itu, Lin Feng, Lin Hua, serta dua orang lainnya, saat ini mereka telah sampai di tujuan, dan tinggal menunggu dua antrean untuk bisa memasuki portal.
“Tuan Muda, Alam sembilan surga tingkat berapa yang menjadi tujuan anda?” tanya pria tua begitu giliran kelompok Lin Feng memasuki portal.
“Senior, aku dan mereka yang bersamaku ingin pergi ke Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan.” Lin Feng menunjukkan lencana miliknya, dan membayar sesuai ketentuan.
Pria tua penjaga portal yang melihat lencana Lin Feng, buru-buru ia ingin berlutut, tapi Lin Feng lebih dulu berhasil menahannya.
“Tu-Tuan Muda, sebagai salah satu anggota keluarga Lin, maafkan pria tua ini yang tidak menyambut kedatangan Tuan Muda!” kata pria tua.
“Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dimaafkan, tapi kalau aku boleh tahu, pada siapa senior mengabdikan diri di keluarga Lin?” tanya Lin Feng.
Mendengarnya, pria tua tersenyum dan berkata, “Saya sangat mengenali lencana Tuan Muda, dan meski ada perubahan yang mencolok saya tahu siapa pemilik lencana itu sebelumnya. Dia adalah Tuan saya, dan selamanya akan seperti itu.”
Sekali mendengar, Lin Feng tahu pada siapa pria tua di hadapannya mengabdikan diri, di keluarga Lin.
“Aku tidak menyangka dapat bertemu salah satu dari mereka yang masih memiliki kesetiaan pada keluargaku. Senior, apa kamu tahu keberadaan orang-orang yang masih memiliki kesetiaan pada keluargaku?” Pria tua mengangguk mendengarnya.
“Karena senior mengetahui keberadaan mereka, apa senior bisa membantuku menyuruh mereka berkumpul di lembah hijau yang ada di ujung timur Alam Sembilan Surga tingkat kedelapan?” ujar Lin Feng.
“Dengan senang hati saya akan melakukannya,” balas pria tua tenang, meski di dalam hati ia sangat senang karena dipertemukan dengan Tuan Mudanya.
Lin Feng sendiri mempercayai pria tua setelah ia memastikan pria tua sebagai orang yang setia, dan kenapa ia tidak ragu membicarakan semua itu dengannya karena saat ini di tempatnya hanya ada pria tua, dirinya, serta anggota kelompoknya.
“Kalau begitu, sampai bertemu sepuluh hari lagi!...”
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1