
Pergi ke danau alami yang berada di sisi utara Kota Petir, Xiong Hu dan yang lainnya menikmati keindahan danau dengan air bening yang memantulkan bayangan bagaikan sebuah cermin alam raksasa.
“Rasanya sudah lama kita tidak menikmati waktu bersantai seperti ini,” ungkap Huang Zou.
“Selama ini kita menghabiskan waktu untuk tumbuh kuat supaya bisa menjadi pelindung tuan. Jadi wajar saja kalau kamu merasa kita sudah lama tidak merasakan suasana seperti ini,” balas Xiong Hu, sedangkan Xiao Lan dan tiga wanita lainnya, mereka tengah asik bermain air di pinggiran danau.
Siang ini sebenarnya banyak orange yang menikmati suasana santai di pinggiran danau, tapi terlihat mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Saat matahari bersinar tepat diatas kepala, suasana pinggiran danau sedikit lebih sepi dari sebelumnya. Sebagian besar orang memilih menghindari cuaca panas, tapi tidak dengan Xiong Hu dan yang lainnya, yang tak terpengaruh dengan cuca panas.
Mereka masih menikmati suasana bersantai di tepian danau, bahkan saat ini Xiong Hu dan Huang Zou bergabung dengan para wanita bermain air di pinggir danau.
Tanpa mereka sadari di sisi lain telihat Lin Wucin dan empat orang lainnya juga sedang bersantai di pinggiran danau. Mereka semua benar-benar menikmati suasana santai yang sudah cukup lama tak dirasakan.
“Swush...” Lin Feng dan Lin Huang muncul di tepian danau tak jauh dari mereka yang sedang bersantai.
Setelah menyapa Lin Mofeng dan Bing Hualing di kediaman, keduanya memutuskan menikmati waktu bersantai, dan danau di Kota Petir mereka pilih sebagai tempat bersantai.
Melihat sekitar dengan pandangan yang mampu melihat apapun dalam radius puluhan kilometer, Lin Feng dapat melihat keberadaan para bawahan serta para binatang kontraknya yang sedang bersantai tak jauh darinya.
Tak ingin mengganggu mereka, Lin Feng membawa Lin Hua ke sisi lain danau yang cukup jauh dari mereka. Dia tahu kalau mereka melihat keberadaannya, mereka pasti tidak akan bisa bebas menikmati waktu bersantai, dan akan lebih banyak mengarahkan perhatian pada dirinya.
Terdapat sebuah perahu yang dapat digunakan untuk menikmati suasana danau dari tengah-tengah danau. Lin Feng memutuskan membawa Lin Hua menaiki perahu, tentu mereka menyegel seluruh aira kekuatan, dan tak lupa keduanya sama-sama menggunakan topeng untuk menutupi identitas masing-masing.
Menyewa satu perahu untuk berdua, Lin Feng mulai mendayung perahu menuju tengah danau. Ikan-ikan kecil yang hidup di danau terlihat mengikuti kemanapun perginya perahu yang dinaiki Lin Feng dan Lin Hua. Ikan kecil berwarna-warni yang jumlahnya ratusan, membuat tak keduanya menikmati perjalanan menuju tengah danau, yang mana di tengah danau terdapat pulau kecil yang hanya terdiri dari padang rumput dan pepohonan sebagai peneduh.
Lin Feng dan Lin Hua bukan satu-satunya pasangan yang pergi ke pulau kecil di tengah danau, melainkan ada pasangan lain yang memiliki tujuan yang sama, termasuk pasangan para bawahan dan para binatang kontrak Lin Feng.
“Aku tidak menyangka mereka memiliki tujuan yang sama dengan kita,” kata Lin Feng pada Lin Hua saat melihat orang-orang yang dikenalnya pergi ke tempat yang sama dengannya.
__ADS_1
“Mungkin mereka pergi ke tempat ini karena tempat ini terlalu indah untuk diabaikan,” balas Lin Hua.
“Kamu benar, tempat ini memang terlalu indah untuk diabaikan, apalagi jika mereka adalah sepasang kekasih, ataupun sepasang suami istri,” ungkap Lin Feng.
“Tempt itu memang terlihat indah dari kejauhan, dan aku tidak menyangka jika ada tempat seindah ini di Kota Petir,” kata Lin Hua.
Lin Feng yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala dan dia terus mendayung menuju pulau yang sudah terlihat jelas di depan mata.
Sampai di pulau yang menjadi tujuannya, Lin Feng membantu Lin Hua turun dari perahu yang menjadi kendaraan mereka, dan membantunya berjalan menuju daratan. Tak ada kekuatan yang mereka gunakan, sepenuhnya mereka terlihat selayaknya manusia biasa yang harus melakukan usaha untuk sampai di tengah-tengah danau.
Bisa dibilang saat ini mereka sedang berperan sebagai manusia biasa, dan mencoba menikmati apa yang biasa dinikmati oleh para manusia pada umumnya, yang mana mereka tak memiliki kekuatan seorang kultivator.
“Setelah dilihat dari jarak dekat tempat ini jauh lebih indah dari apa yang terlihat dari kejauhan,” kata Lin Hua menikmati keindahan pulau kecil yang tak hanya terdapat rumput dan pepohonan.
Bunga beraneka warna, serta kupu-kupu yang indah dipandang mata juga terdapat di pulau, dan kupu-kupu itu saat ini terbang mengelilingi Lin Hua.
Semua itu tak terjadi secara alami tapi semua itu terjadi karena perbuatan Lin Feng.
Melihat sekeliling, dia melihat para bawahan dan para binatang kontraknya memilih mendarat di daratan Pulau berseberangan dengan yang ditempatint, dan entah kenapa dia merasa mereka mengetahui keberadaannya tapi memilih pura-pura tidak tahu.
‘Lebih baik aku juga berpura-pura tidak menyadari keberadaan mereka, dan menikmati waktu bersantai dengan Hua’er,’ katanya dalam hati dan kembali dia fokus dengan wanitanya.
Sedangkan di tempat Xiong Hu, Lin Wucin, dan yang lainnya. Seperti yang dikatakan Lin Feng dalam hati, mereka telah mengetahui keberadaanmu, tapi pura-pura tidak tahu karena tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan Lin Feng dan Lin Hua.
“Ternyata Tuan dan Nona Hua juga sedang menikmati waktu bersantai seperti yang kita lakukan,” kata Lin Wucin yang menjadi sosok pertama sadar keberadaan Lin Feng dan Lin Hua.
“Wajar jika Tuan dan Nona Hua juga menikmati waktu bersantai seperti yang kita lakukan. Bagaimanapun juga mereka juga merasakan apa yang kita rasakan. Terus berjuang untuk tumbuh semakin kuat demi melindungi alam semesta,” ungkap Huang Zou.
“Biarkan Tuan dan Nona Hua menikmati waktu bersantai mereka, dan kita bisa menikmati waktu bersantai yang kita miliki,” kata Xiong Hu dan semua orang mengangguk setuju.
__ADS_1
Mereka semua benar-benar menikmati waktu santai meski tak bisa mengelilingi seluruh kawasan pulau, dikarenakan keberadaan Lin Feng dan Lin Hua di sisi lain pulau. Meski hanya bisa menikmati keindahan setengah bagian pulau mereka puas dengan apa yang saat ini bisa mereka nikmati.
Sedangkan untuk orang lain yang berada di pulau, mereka sama sekali tidak peduli dengan Xiong Hu dan yang lainnya. Mereka memiliki kesibukan sendiri, dan memilih mengacuhkan keberadaan orang lain.
Siang seperti ini juga biasanya menjadi waktu yang tepat untuk melihat kemunculan ikan terbang yang hidup di danau. Biar dinamakan ikan terbang oleh orang-orang Kota Petir, ikan itu bukannya terbang tapi hanya sesaat melayang di atas permukaan danau.
Meski berukuran besar, keberadaan ikan terbang bukanlah ancaman karena mereka tak pernah menyerang manusia, kalaupun ada manusia yang tak sengaja tertelan oleh mereka, ikan terbang akan memuntahkan manusia itu dalam keadaan hidup.
Mereka hanya memakan tumbuhan yang tumbuh di dasar danau dan jika tak sengaja memakan manusia sampai menelannya, sama saja merka sedang melakukan bunuh diri karena daging adalah racun mematikan bagi mereka.
“Saatnya melihat pertunjukan!” kata Lin Feng yang tahu pasti kapan ikan terbang akan keluar dari dalam danau dan sejenak melayang diatas permukaan danau.
Mereka yang sudah mengetahui kapan kemunculan ikan terbang, mereka telah mengosongkan danau supaya tak ada kejadian yang tidak diinginkan.
“Swush... Swush... Swush...” Belasan ikan terbang muncul dari dalam air dan melayang di atas permukaan air danau. Tubuh besar mereka yang basah terlihat berkilauan saat bertemu dengan cahaya matahari.
Kejadian itu tak berlangsung lama, tapi kemunculan ikan terbang semakin menyempurnakan keindahan siang ini.
Ikan terbang telah kembali berenang ke dasar danau dan berakhir sudah pertunjukan singkat yang mereka lakukan.
“Lain kali aku ingin melihatnya lagi!” kata Lin Hua yang cukup senang melihat kelakuan ikan terbang penghuni danau di Kota Petir.
“Kita memiliki banyak waktu untuk menikmati pertunjukan mereka, tapi untuk sekarang sepertinya kita harus kembali karena ibi sudah mengirim pesan supaya kita cepat kembali, dan makan siang bersama,” kata Lin Feng.
Mendengarnya Lin Hua segera menganggukkan kepala dan segera keduanya kembali ke pinggir danau.
Setelah mengembalikan perahu yang mereka sewa pada pemiliknya, keduanya tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak membuat terkejut pemilik perahu.
“Ternyata mereka bukan manusia biasa sepertiku,” gumam pelan pemilik perahu.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.