Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Lin Feng sudah mengetahui identitas dua siluman penjaga tanaman yang ingin dia ambil, tapi ia masih penasaran bagaimana bisa sosok Dewa Perang Semesta memiliki hubungan baik dengan bangsa siluman, sedangkan di masa lalu bangsa siluman adalah rekan dari mereka yang ingin memusnahkan seluruh makhluk hidup penghuni Alam Semesta.


Namun untuk saat ini ia memilih mengabaikan semua itu karena dengan kedua matanya sendiri, ia menemukan kesetiaan yang tertanam di dalam diri dua sosok siluman yang masih berlutut di hadapannya.


“Apa kalian akan menghalangiku kalau saat ini juga aku ingin mengambil tanaman rumput keabadian dan tanaman rumput langit, yang selama ini kalian jaga?” tanya Lin Feng sambil memperhatikan dua siluman di hadapannya.


Bersamaa keduanya menggelengkan kepala dan salah satu dari mereka berkata, “Kedua tanaman sejak awal memang milik Yang Mulia, dan tidak ada hak kami menghalangi Yang Mulia mengambil apa yang bukan milik kami.”


Lin Feng menganggukkan kepala mendengarnya. “Kalian berdua bisa bangun dan karena tugas kalian telah berakhir, kalian bisa pergi meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan kehidupan!” ujarnya.


Bukannya bangun dari sikap berlutut, keduanya justru bersujud dengan kening menyentuh tanah. “Yang Mulia, kami sudah berjanji pada kedua orangtua kami untuk senantiasa menjadi pengikut penerus Dewa Perang Semesta, begitu ia datang ke tempat ini...”


“Yang Mulia telah datang, jadi bagaimana mungkin kami justru pergi meninggalkan Yang Mulia? Kami hidup untuk Yang Mulia, dan kami ingin mengakhiri hidup ini dengan berada di sisi Yang Mulia,” ungkap salah satu siluman penuh dengan ketulusan.


Keinginan keduanya mengikuti Lin Feng sangatlah kuat, dan orang yang ingin mereka ikuti dapat merasakan keinginan mereka. Melihat ketulusan dan besarnya keinginan mereka menjadi pengikutnya, sulit bagi Lin Feng menolak keberadaan mereka.


“Bukannya dulu kalian adalah salah satu bagian dari mereka yang ingin memusnahkan seluruh makhluk hidup di Alam Semesta, lalu kenapa kalian sekarang ingin menjadi pengikutku?” tanya Lin Feng.


“Yang Mulia, dulu leluhur serta orangtua kami memang memiliki keinginan memusnahkan seluruh makhluk hidup penghuni Alam Semesta, tapi itu semua karena hasutan mereka yang berasal dari Alam Kegelapan.”


“Mereka makhluk yang berasal dari Alam Kegelapan mengatakan kalau keberadaan makhluk hidup di Alam Semesta adalah ancaman bagi kami para siluman, yang saat itu tinggal di Alam Bintang. Termakan hasutan mereka, leluhur dan orangtua kami memutuskan membantu mereka memusnahkan makhluk hidup penghuni Alam Semesta.”


“Leluhur dan orangtua kami baru sadar kalau mereka telah dimanfaatkan makhluk yang berasal dari Alam Kegelapan, setelah kekuasaan siluman di Alam Bintang secara perlahan disingkirkan oleh mereka yang berasal dari Alam Kegelapan.”


“Mulai dari situ para siluman tahu kalau sejak awal mereka hanya dimanfaatkan oleh makhluk dari Alam Kegelapan, dan mulai hari itu juga mereka mulai melawan balik.” Siluman yang sedang bercerita sejenak menjeda ceritanya sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


Setelah beberapa saat terdiam, ia kembali berkata, “Saat mereka sadar semua telah terlambat. Alam Bintang telah jatuh ke tangan mereka yang berasal dari Alam Kegelapan, dan keberadaan bangsa siluman sepenuhnya telah dibenci seluruh makhluk hidup yang ada di Alam Semesta.”


“Akan tetapi, saat sebagian besar mkhluk hidup di Alam Semesta membenci dan memusuhi kami bangsa siluman, lain halnya dengan Dewa Perang Semesta. Dia menerima bangsa siluman dan menempatkan kami di wilayah-wilayah khusus. Setelah apa yang dilakukan Dewa Perang Semesta, kami bangsa siluman sepakat menjadi pengikutnya, dan hanya padanya serta pada penerusnya kami siap memberikan kesetiaan.” Siluman itu mengakhiri ceritanya, bertepatan dengan kedatangan Lin Luyao dan sepuluh orang lainnya.


Dua siluman di hadapan Lin Feng bereaksi ganas saat mereka merasakan keberadaan orang asing, tapi mereka sedikit tenang saat merasakan aura Lin Luyao mirip dengan aura Lin Feng.


Lin Feng menjelaskan siapa Lin Luyao dan yang lainnya pada kedua siluman di hadapannya, dan sebaliknya ia juga menjelaskan pada Lin Luyao dan yang lainnya siapa dua sosok yang bersujud di hadapannya.


Sekarang Lin Luyao dan yang lainnya serta kedua siluman sudah saling mengenal. “Kalian berdua bangun, dan katakan padaku siapa nama kalian!” kata Lin Feng pada dua siluman di hadapannya.


“Yang Mulia, kemu dua bersaudara tidak memiliki nama dan kata orangtua kami, hanya Yang Mulia yang berhak memberi nama pada kami,” kata salah satu dari mereka begitu berdiri di hadapan Lin Feng dengan kepala tertunduk.


“Jadi, aku yang harus memberi nama pada kalian?” tanya Lin Feng dan keduanya bersamaan menganggukkan kepala.


Keduanya menangkupkan kedua tangan sambil sedikit membungkukkan tubuh. “Kami senantiasa melayani Yang Mulai sampai napas terakhir, yang keluar dari tubuh kami,” kata keduanya.


Lin Feng mengangguk lalu berkata, “Apa dia yang sedang bertarung melawan para kultivator adalah saudara kalian?”


“Yang Mulia, dia bukan bukan saudara yang terlahir dari rahim yang sama dengan kami, tapi karena tumbuh besar bersama, kami dan dia memiliki hubungan selayaknya hubungan saudara kandung,” kata Lin Cang menjawab pertanyaan Lin Feng.


“Kalau kalian mengatakan dia adalah saudara, rasanya aku akan merasa sangat bersalah kalau tidak memberi bantuan padanya. Bagaimanapun juga saudara dari saudaraku juga akan aku anggap sebagai saudara.” Lin Feng ingin pergi menyelamatkan mereka, tapi Lin Cang dan Lin Chi segera menghentikannya.


“Yang Mulia, biarkan kami yang membantu mereka! Sebaiknya Yang Mulia segera mengambil apa yang sudah ditakdirkan menjadi milik Yang Mulia,” ungkap Lin Chi.


“Lagipula mereka adalah sekumpulan kultivator dengan hati sak sebersih hati milik Yang Mulia, dan diri mereka dipenuhi dengan keburukan. Membunuh orang-orang seperti mereka hanya akan mengotori tangan Yang Mulia,” kata Lin Cang.

__ADS_1


“Kalau begitu lakukan apa yang ingin kalian lakukan, dan secepatnya bawa saudara kalian padaku karena aku merasa luka si tubuhnya cukup parah!” ungkap Lin Feng tegas.


Keduanya mengangguk mendengar itu. “Baik Yang Mulia, segera kami membawa dia ke hadapan Yang Mulia,” kata keduanya bersamaan lalu sosok mereka begitu saja menghilang dari pandangan Lin Feng dan yang lainnya.


Meski cepat, pergerakan mereka masih terlihat jelas di mata Lin Feng. “Semoga saja mereka tidak terlambat,” gumamnya lirih dan segera ia mengarahkan pandangan pada Lin Luyao.


“Saudari, sebaiknya kita segera mengambil apa yang ingin kita ambil!” kata Lin Feng pada Lin Luyao. “Untuk kalian, tetap berjaga ditempat ini!” lanjutnya berkata tegas pada sepuluh prajurit pengawal Lin Luyao.


Lin Luyao segera pergi mengikuti Lin Feng yang sudah lebih dulu melangkahkan kaki menuju tempat keberadaan tanaman rumput keabadian dan tanaman rumput langit. Sedangkan sepuluh prajurit pengawal Lin Luyao, menuruti perkataan Lin Feng, mereka hanya diam di tempat tak melakukan sedikitpun pergerakan.


“Saudara, apa benar ini jalan menuju tempat tumbuhnya tanaman yang kita cari?” tanya Lin Luyao menatap ngeri sekelilingnya yang dipenuhi tumpukan tengkorak manusia. Bukan hanya puluhan tengkorak ditumpuk menjadi satu, tapi setidaknya ada ribuan dan mungkin lebih banyak dari itu.


“Jalan ini akan membawa kita ke tempat tujuan, dan cobalah untuk bertahan dari rasa takut di sepanjang perjalanan!” ungkap Lin Feng sadar dengan ketakutan yang dirasakan Lin Luyao.


“Saudara tenang saja, aku masih bisa mengatasi ketakutanku dan demi ayah, aku pasti dapat sampai ke tempat itu dan mengambil apa yang menjadi tujuanku.” Menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan, Lin Luyao mencoba menenangkan dirinya.


Setelahnya tidak ada pembicaraan diantara keduanya dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan.


“Tempat ini sangatlah luar biasa,” kata Lin Feng menilai tempat tumbuhnya tanaman rumput keabadian dan tanaman rumput langit.


“Akan sangat memberi banyak keuntungan padaku, kalau aku bisa memindahkan tempat ini ke Alam Kehidupan,” gumamnya.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2