
Dua sosok kuat muncul di hadapan Lin Feng dan Lin Hua, mereka adalah pemimpin dari iblis dan monster yang sebelumnya telah mati di tangan Lin Jia. Namun, mereka hanya dua dari ratusan pemimpin iblis dan monster yang ada di Alam Sembilan Surga tingkat ke-tujuh.
Aura kekuatan yang mereka tunjukkan sangat mendominasi medan perang. Prajurit Dewa dan delapan orang yang sebelumnya dengan mudah membunuh iblis dan monster, sekarang mereka dipertemukan dengan lawan kuat, yang tak mungkin dapat mereka kalahkan.
Lin Feng menyuruh mereka mundur, tapi tidak dengan Lin Baoshi dan Lin Yanran. Kekuatan keduanya setara dengan musuh, tapi bukan hanya mereka yang ingin berhadapan dengan musuh. Lin Hua juga ingin berhadapan dengan salah satu dari mereka.
Sosok pemimpin monster memiliki wujud manusia tapi setengah bagian tubuhnya adalah harimau dengan taring dan kuku tangan yang sangat tajam. Sedangkan pemimpin para iblis, ia memiliki wujud manusia dengan mata merah menyala, dan rambut panjang berwarna setengah merah setengah hitam.
Lin Hua mengambil tiga langkah maju diikuti Lin Baoshi dan Lin Yanran yang berdiri tepat di belakangnya. Lin Hua ingin melawan pemimpin monster, sedangkan pemimpin iblis menjadi lawan Lin Baoshi dan Lin Yanran. Lin Feng sendiri ia hanya diam menjadi penonton, tetapi ia tak sedikitpun mengendurkan kewaspadaannya terhadap keadaan wilayah sekitar medan pertempuran.
Sadar berada di tengah-tengah wilayah kekuasaan musuh, Lin Feng tidak mungkin ceroboh dan mengendurkan kewaspadaannya. Dengan adanya mata Dewa, ia memang dapat melihat area sekitarnya dengan sangat jelas, tapi sekali saja ia lengah, musuh bisa saja datang dari arah yang tak terduga, dan kedatangan mereka bisa saja membahayakan Lin Hua serta dua orang lainnya.
“Swuusshh...” Tak ingin membuang waktu berharganya, Lin Hua segera melesat maju menyerang lawannya. Memegang erat pedang di tangannya, ia mengayunkan pedangnya menyerang lawan, dan sekali ia mengayunkan pedang dia berhasil membuat luka lebar di tubuh lawannya.
Lin Hua bergerak sangat cepat, membuat lawannya sulit menghindar ataupun menahan serangannya. Selain cepat ia juga lincah, dan membuat lawannya sangat kesulitan menentukan arah serangannya.
Hanya dalah tiga kali serangan Lin Hua berhasil membuat keadaan tubuh lawannya dipenuhi luka, tapi luka-luka di tubuh lawannya perlahan sembuh, dan menghilang seolah tidak pernah mengalami luka.
“Serangan kecil ternyata tidak memiliki efek buruk pada tubuhmu, kalau begitu aku tidak akan sungkan mengakhiri hidupmu dengan serangan berskala besar!” Aura Dewa Semesta Bintang 5 meledak dari tubuhnya, membuat lawannya jatuh tersungkur tak bisa bergerak.
Sosok Lin Hua melesat maju bersama dengan siluet Phoenix Api yang muncul di belakangnya. Sosok Phoenix Api membuat penampilan Lin Hua terlihat sangat mengagumkan dan mengerikan diwaktu bersamaan.
Mengalirkan banyak Qi elemen api miliknya ke pedang di tangannya, kekuatan elemen api yang sangat mengerikan terkumpul di pedangnya, dan begitu ia mengayunkan pedang gelombang api yang mampu memusnahkan segalanya melesat ke arah pemimpin monster.
__ADS_1
Pemimpin monster yang tak begitu saja ingin menyerah, ia meciptakan array perlindungan dengan seluruh kekuatannya, berharap array itu mampu melindunginya dari serangan wanita yang menjadi lawannya.
Gelombang api berbenturan dengan array perlindungan yang diciptakan pemimpin monster, sesaat array mampu menahan gelombang api, tapi tak lama array mulai retak dan setelahnya hancur berkeping-keping tak mampu menahan kuatnya serangan gelombang api.
Pemimpin monster yang tak ingin mati, sekuat tenaga ia mengangkat kedua tangannya, mencoba menahan langsung kekuatan gelombang api. Bukannya berhasil menahan, gelombang api justru menghantam keras tubuhnya, dan hanya dalam dua tarikan napas tubuhnya telah berubah menjadi abu.
Di sisi lain, Lin Baoshi dan Lin Yanran yang berhadapan dengan pemimpin iblis, mereka tak kesulitan menghadapi lawan. Elemen kegelapan milik pemimpin iblis memang membuat mereka cukup kerepotan menghadapinya, tapi semua itu belum cukup untuk melukai mereka.
"Harus aku akui kau memang kuat dan pantas menjadi pemimpin mereka yang sudah lebih dulu mati. Akan tetapi, bertemu dengan kami hanya akan membuatmu segera mati menyusul mereka!” Lin Baoshi menunjuk sekumpulan mayat iblis dan setelahnya ia melesat maju menyerang pemimpin iblis.
Lin Yanran menyusul di belakang Lin Baoshi, tapi dia memilih melakukan serangan dari arah lain. Jika Lin Baoshi menyerang dari arah depan, ia memilih melakukan serangan dari arah belakang. Mendapat serangan dari dua arah yang berbeda, membuat pemimpin iblis kebingungan harus menahan serangan siapa.
“Mati!...” teriak Lin Baoshi sambil menghunuskan tombak di tangannya ke arah tubuh pemimpin iblis. Dari arah belakang, dengan pedang di tangannya, Lin Yanran mengayunkan pedang, mencoba memenggal kepala lawannya. Kedua serangan datang bersamaan, dan membuat pemimpin iblis sulit menghindar.
“Argh...” Dia mengerang kesakitan, tapi suaranya tak terdengar lama karena serangan kedua yang dilakukan Lin Yanran tepat mengenai sasaran, memenggal kepala pemimpin iblis, dan mengakhiri hidupnya.
Lin Feng yang berada di kejauhan, ia tersenyum melihat keberhasilan Lin Hua dan dua orang lainnya dalam menghadapi lawan mereka. Lawan yang dihadapi memang belum seberapa kuat, tapi setidaknya Lin Hua, Lin Baoshi, serta Lin Yanran, ketiganya bisa sedikit serius menghadapi lawan yang kekuatannya sudah berada di tingkat Dewa Semesta.
Lin Feng terlebih dahulu mengirim seribu prajurit Dewa kembali ke Alam Kehidupan, sebelum ia pergi menghampiri Lin Hua dan dua orang lainnya. “Sebaiknya kita mencari tempat untuk istirahat!” kata Lin Feng begitu ia berada di dekat Lin Hua.
Belum juga Lin Hua dan dua orang lainnya membalas, delapan orang yang masih dibuat terkagum-kagum oleh kekuatan Lin Feng dan yang lainnya, mereka datang menghampiri Lin Feng dan yang lainnya.
Mereka datang untuk berterimakasih pada Lin Feng dan yang lainnya atas bantuan yang telah mereka berikan, dan mereka juga bermaksud mengajak Lin Feng serta yang lain pergi bersama-sama ke kota terdekat.
__ADS_1
Melihat ketulusan mereka dan saat ini memang sedang membutuhkan tempat untuk istirahat, Lin Feng tak menolak ajakan mereka, dan pada akhirnya mereka semua pergi bersama-sama mencari keberadaan kota manusia. Meski awalnya delapan orang yang mengajak mencari kota terdekat, tapi pada akhirnya Lin Feng lah yang membantu mereka menemukan keberadaan kota terdekat.
Sekarang mereka berada di luar gerbang Kota Bambu Hijau, satu dari sedikit kota milik manusia yang masih bertahan di Alam Sembilan Surga tingkat ke-tujuh. Dengan penjagaan ketat puluhan ribu prajurit yang rata-rata kekuatannya berada di tingkat Raja Dewa Surgawi dan tingkat Kaisar Dewa Surgawi, Kota Bambu Hijau menjadi yang terlemah di Alam Sembilan Surga tingkat ke-tujuh.
Memasuki Kota Bambu Hijau, Lin Feng dapat melihat jumlah populasi manusia yang didominasi para wanita, bahkan setelah melihat dari jarak yang lebih dekat, kebanyakan prajurit penjaga adalah wanita.
Keberadaan pria memang tidak sulit di temui, tapi jika dibandingkan, makan akan bertemu perbandingan satu berbanding belasan. Satu untuk populasi pria, dan belasan untuk populasi wanita.
“Bagi pria kesepian, tempat ini adalah surga yang sesungguhnya,” ungkap Lin Feng yang terdengar jelas di telinga Lin Hua, yang kebetulan berjalan persis di sebelahnya.
Lin Hua tidak terlalu peduli dengan perkataan Lin Feng karena ia tahu, pria itu hanya memilihnya sebagai wanitanya, dan tak tertarik dengan wanita lain. Kalau ia tertarik dengan wanita lain, daripada memancing kemarahan neneknya, sejak awal pasti ia lebih memilih memuruti keinginan neneknya.
Terus berjalan, akhirnya mereka menemukan kedai makan, yang merangkap sebagai tempat penginapan. Memilih kamar terbaik di lantai tiga, Lin Feng dan Lin Hua langsung pergi menuju kamar mereka untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang tak memakan waktu lama, keduanya turun ke lantai satu untuk menikmati makanan yang ada di Alam Sembilan Surga tingkat ke-tujuh.
Lin Baoshi dan Lin Yanran sudah menyiapkan tempat untuk Lin Feng serta Lin Hua, dan kebetulan tempat yang mereka siapkan tak jauh dari tempat delapan orang, yang sebelumnya bersama-sama dengan mereka pergi ke Kota Bambu Hijau.
Makanan dan minuman telah tersaji di atas meja, dan semua mulai menikmati makanan masing-masing.
Di tengah acara makan bersama, suara teriakan terdengar dari luar kedai, “Iblis dan monster datang! Segera pergi ke benteng kota untuk bersama-sama melindungi kota!” jelas teriakan itu terdengar oleh Lin Feng dan yang lainnya.
“Kita singgah dan menikmati makanan di kota ini. Setelah semua itu, kurang lengkap rasanya kalau kita tidak membantu mereka melindungi kota ini!” kata Lin Feng.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.