
Lin Feng menceritakan kekuatan matanya pada Bing Hualing dan secara otomatis semua orang yang ada di tempat itu ikut mendengar ceritanya, tapi selain mereka yang dapat dipercayainya, Lin Feng sudah memastikan tak ada orang lain yang mendengar ceritanya.
Mata Dewa miliknya selain dapat digunakan untuk melihat kenangan masa lalu yang tersimpan dalam mata orang lain, dengan kekuatan mata Dewa ia juga dapat melihat niatan buruk yang dimiliki orang lain, bisa digunakan untuk membedakan kejujuran serta kebohongan, dan dengan mata Dewa musuh tak memiliki kesempatan menyembunyikan kekuatan darinya.
Masih banyak kegunaan lainnya dari kekuatan mata Dewa. Kalau saja ia terlahir dengan sifat liar, kekuatan mata Dewa sangatlah berguna untuk memanjakan keinginannya sebagai seorang pria. Apalagi keinginan terbesar pria normal kalau tidak ingin melihat keindahan dibalik kain yang menutupi bagian tubuh seorang wanita.
“Putraku, kamu sangat luar biasa,” kata Bing Hualing tak sungkan memuji apa yang dimiliki Lin Feng.
Mendapatkan pujian dari ibunya tidak membuat Lin Feng berpuas diri. Dia masih harus tumbuh menjadi lebih kuat dari sekarang untuk dapat melindungi semua yang pantas ia lindungi.
Dia sadar banyak bahaya yang mengancam kehidupannya. Selain keluarga Suci Guo dan semua yang tunduk pada mereka, ia masih harus mewaspadai musuh utamanya yang berasal dari Alam Kegelapan, dan kemungkinan tak lama lagi sosok itu datang dengan niat buruk pada Alam Semesta tempat tinggalnya.
Bing Hualing yang telah melepas pelukannya dan mulai mengarahkan pandangannya ke arah lain, ia melihat wanita cantik dengan aura kuat yang berdiri tepat di belakang Lin Feng. “Putraku, apa kamu tidak ingin memperkenalkan ibu dengannya? Dari auranya yang mirip denganmu, ibu yakin hubungan kalian sudah melangkah ke jenjang tertinggi dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita,” ujarnya.
“Ibunda, perkenalkan istriku, Lin Hua.” Lin Feng memperkenalkan alin Hua pada Bing Hualing dan kembali dia berkata, “Ibunda, istriku adalah putri Jiang Bo, kepala keluarga Jiang. Akan tetapi karena pria itu menyambut kedatangan kemi dengan sambutan yang tidak menyenangkan, ia masih senantiasa menggunakan nama keluarga Lin yang merupakan pemberianku.”
“Itu tidak masalah, banyak wanita dari luar keluarga Lin yang menikah dengan anggota keluarga Lin, dan setelahnya mereka mengganti nama menjadi nama keluarga Lin.” Bing Hualing menghampiri Lin Hua, dan ia memberikan pelukan hangat pada wanita yang telah menjadi menantunya.
“Sungguh wanita yang sangat cantik dan kuat. Sepertinya keberadaanmu di Alam Semesta ini memang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup putraku,” kata Bing Hualing memuji kecantikan dan kekuatan yang dimiliki Lin Hua, yang mana kekuatan Lin Hua saat ini telah setara dengan kekuatannya, tingkat Dewa Semesta Bintang 3.
“Ibunda terlalu memuji. Kecantikanku masih kalah dari Ibunda. Sedangkan untuk kekuatan, aku memang memilikinya, tapi kuat saja tidak cukup tanpa adanya pengalaman untuk memaksimalkan kekuatan yang aku miliki,” kata Lin Hua merasa pujian Bing Hualing padanya sedikit berlebihan.
__ADS_1
Bing Hualing tersenyum mendengar semua itu lalu berkata, “Pengalaman dapat dicari seiring perjalanan waktu, tapi kekuatan yang kamu miliki belum tentu dapat dimiliki wanita di usia yang sama denganmu. Ibu saja belum lama ini bisa memiliki kekuatan setara denganmu, dan itu bukanlah waktu yang sebentar untukku yang sudah hidup selama ratusan tahun!”
“Semua pencapaianku saat ini tak lepas dari apa yang diberikan suami padaku,” kata Lin Hua mengungkapkan kebenaran asal kekuatan yang dimilikinya.
Bing Hualing mengangguk, lalu ia membawa Lin Hua, mempertemukannya dengan Bing Huifei. “Ibu, bukannya putraku diberkati keberuntungan karena berhasil menemukan wanita yang begitu luar biasa? Selain cantik, di usia yang masih begitu muda kekuatannya sudah setara dengan kekuatanku, yang jelas jauh lebih tua darinya,” kata Bing Hualing begitu ia berada di hadapan Bing Huifei.
Bing Huifei tersenyum mendengarnya dan berkata, “Memang wanita yang sangat cantik dan luar biasa dalam kekuatan, tapi apa satu wanita cukup untuk menjadi pendamping putramu? Setidaknya dia butuh satu atau dua wanita lagi untuk memberinya kepuasan, dan aku mengusulkan Lin Cia sebagai salah satunya.”
Sejak awal Bing Huifei memang berkeinginan menjodohkan cucunya dengan Lin Cia yang merupakan murid sekaligus putri teman lamanya yang bukan bagian dari keluarga Lin maupun keluarga Bing. Akan tetapi karena kebaikan suaminya yang merupakan kepala keluarga Lin, ia diizinkan memberikan nama Lin pada muridnya.
“Cukup atau tidak, bukan aku yang menentukannya, tapi semua itu keputusannya.” Bing Hualing menatap Lin Feng sambil tersenyum dan kembali dia berkata, “Kalau ia ingin, tentu dia bisa mengambil wanita lain untuk menjadi wanitanya, tapi kalau ia merasa cukup dan tidak menginginkan wanita lain, kita harus menghargai keputusannya.”
Bing Huifei yang mendengar balasan Bing Hualing, tersirat ketidak puasan di wajahnya, tapi ia tidak menunjukkan semua itu padanya, melainkan ia menunjukkannya pada Lin Hua. “Aku yakin cucuku tidak mungkin menolak kecantikan seperti Lin Cia, dan kamu sebagai wanita harus rela berbagi suami dengan wanita lain,” katanya memuji apa yang dimiliki Lin Cia.
Lin Feng melangkah maju, berdiri sejajar bersebelahan dengan Lin Hua dan berkata, “Nenek, aku tidak pernah menginginkan keberadaan wanita lain, selain wanita yang saat ini telah menjadi istriku. Secantik apapun wanita yang ingin Nenek tunjukkan padaku, bagiku wanita tercantik setelah ibuku hanyalah ia yang sudah menjadi istriku!” jelas semua orang mendengar perkataannya.
“Cucuku, kamu belum melihat kecantikan yang dimiliki Lin Cia, bagaimana bisa kamu menolak sebelum melihatnya?” Bing Huifei pelan membuka cadar yang menutupi wajah Lin Cia, dan menunjukkan kecantikan yang selama ini tersembunyi di balik cadar.
Wajah Lin Cia sendiri memerah karena secara tiba-tiba gurunya membuka cadar, yang selama ini ia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya. Akan tetapi, ia yang diam-diam berharap Lin Feng mau menerimanya, ia yakin pria itu dapat menerimanya begitu melihat kecantikannya.
Melihat wajah Lin Cia, Lin Feng mengakui kecantikan wanita itu dan jika pria lain yang melihatnya, ia yakin pria itu dengan senang hati menerima keberadaannya. Akan tetapi, baginya yang sudah sering melihat kecantikan melampaui apa yang dimiliki Lin Cia, kecantikan wanita itu terasa biasa-biasa saja.
__ADS_1
“Nek, Lin Cia memang cantik, tapi aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menambah wanita dalam hidupku. Bagiku cukup satu wanita, dan selamanya akan terus seperti itu,” kata Lin Feng tegas dan dia menarik lembut Lin Hua untuk merapat kearahnya.
“Hanya memiliki satu wanita di sepanjang hidupmu, apa kamu tidak ingin memberi banyak keturunan untuk keluarga Lin?” tanya Bing Huifei dengan suara meninggi.
“Tentu saja aku ingin memiliki keturunan, tapi keturunanku adalah untuk meneruskan garis keturunan keluargaku dan bukan semata-mata demi keluarga Lin.” Lin Feng mulai tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan Neneknya.
Tak memberi sambutan baik seperti yang dilakukan ibunya dan juga Lin Luyao, wanita yang dipanggilnya Nenek justru menyambut kedatangannya dengan sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
“Kamu adalah Tuan Muda keluarga Lin, tentu kamu dan seluruh keturunanmu harus berguna untuk keluarga Lin!” ungkap Bing Huifei.
Lin Feng menggelengkan kepala mendengar itu, “Kenapa juga aku harus membuat keturunanku berguna untuk keluarga Lin, sementara saat keluargaku membutuhkan bantuan, kalian terus saja menunda memberi bantuan pada keluargaku, seolah kalian membiarkan keluargaku berjuang seorang diri melawan seluruh pengkhianat keluarga Lin?” ujarnya.
Lin Feng melihat semua yang terjadi di masa lalu dari gambaran kenangan yang tersimpan dalam penglihatan Bing Huifei. Semua terlihat jelas, dan ada kesan keluarga Lin mengabaikan keberadaan keluarganya saat terjadi pemberontakan belasan tahun yang lalu.
Bing Huifei yang mendengar ke seluruh perkataan Lin Feng, kedua matanya membulat sempurna mengetahui Lin Feng tahu kejadian di masa lalu, dan ia sejenak melupakan kalau Lin Feng memiliki kekuatan mata yang mampu melihat apa yang pernah dilihat orang lain.
Bing Hualing sendiri yang baru mengetahui semua itu setelah mendengar perkataan Lin Feng, ia mengarahkan sorot mata tajam pada Bing Huifei. Sulit baginya untuk tidak mempercayai perkataan putranya, sedangkan ia tahu keistimewaan mata yang dimiliki putranya.
“Sekarang semua jelas kenapa waktu itu tiba-tiba kediaman utama sulit dihubungi, bahkan bantuan yang dalam sekejap bisa datang dengan adanya portal teleportasi, bantuan yang dinanti justru datang setelah semuanya hancur. Ibu, ternyata kamu dan ayah sama saja, kalian lebih menyayangi dia yang seorang pengkhianat, dibandingkan kami yang senantiasa setia pada keluarga Lin!” teriak Bing Hualing marah.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.