Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Perang Perebutan Wilayah


__ADS_3

Hari berlalu, minggu berlalu, dan tak terasa satu bulan sudah berlalu setelah jatuhnya kekuasaan Lun Yuzhou sebagai penguasa agung keluarga Lin. Selama satu bulan ini keluarga Lin berada di bawah penguasa agung baru, dan penguasa agung baru itu adalah Lin Junda.


Dibantu Lin Mofeng dan Bing Hualing, yang merupakan kedua orangtua Lin Feng, keadaan keluarga Lin saat ini telah mengalami banyak perkembangan. Selain peningkatan besar dalam hal kekuatan, wilayah keluarga Lin yang sebelumnya secara paksa diambil keluarga Suci Guo juga telah berhasil diambil kembali.


Di sebuah tempat yang masih menjadi perebutan keluarga Lin dan keluarga Suci Guo, Lin Baoshi serta Lin Yanran yang belum lama ini berhasil menerobos ranah Dewa Sejati tingkat menengah, mereka sedang berhadapan dengan prajurit keluarga Suci Guo.


Dengan kekuatan di ranah Setengah Penguasa tingkat rendah, tak satupun prajurit keluarga Suci Guo yang dapat menghentikan mereka.


Ranah Setengah Penguasa sendiri berada di atas tingkat Dewa Semesta, dan kenapa Lin Feng tidak lebih dulu menerobos ranah Setengah Penguasa, itu semua karena Lin Feng mendapatkan kekuatan dari kehidupan masa lalunya, yang membuat dia langsung menerobos ranah Penguasa, dan lagi dia mewarisi hukum penciptaan yang membuatnya menjadi seorang Penguasa Sejati.


"Swush...”


Seorang pria dan seorang wanita datang menyerang Lin Baoshi dan Lin Yanran dengan Qi elemen angin yang mereka miliki. Kekuatan angin menghempaskan apapun yang ada di sekitar Lin Baoshi dan Lin Yanran, tapi keduanya masih tegak berdiri, tak sedikitpun tergeser dari tempatnya.


“Apa hanya itu kekuatan yang kalian miliki? Sebagai seseorang yang sudah menerobos tingkat Dewa Semesta Bintang 8, kalian berdua masih sangat lemah!” kata Lin Baoshi.


Dua orang yang datang menyerang Lin Baoshi dan Lin Yanran adalah tetua pertama dan tetua kedua keluarga Suci Guo, dan bisa dikatakan kekuatan mereka sedikit lebih lemah dibandingkan kekuatan penguasa agung keluarga Suci Guo, bahkan tetua agung yang lebih dulu mati, dia lebih lemah dibandingkan keduanya.


Keduanya sadar kekuatan musuh lebih kuat, dan mereka sama sekali tidak bisa mengukur seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak musuh.


Memandangi musuh yang masih terlihat tenang meski saat ini prajurit keluarga Suci Guo mengungguli dalam hal jumlah, keduanya merasa musuh yang mereka hadapi tak memiliki ketakutan pada jumlah prajurit keluarga Suci Guo. Melihat itu membuat rasa takut itu justru muncul pada diri mereka.


“Tetua kedua, apa perlu kita menarik mundur prajurit dan membiarkan tempat ini kembali jatuh ke tangan mereka?” tanya tetua pertama pada tetua kedua, yang tepat berada di sebelahnya. Melihat kekuatan musuh meski dirinya memiliki keunggulan dalam jumlah, membuat tetua pertama ragu dapat mengalahkan musuhnya.


“Mundur? Bukannya kalau kita mundur justru akan membuat mereka lebih cepat mencapai wilayah yang sejak dulu telah menjadi wilayah kekuasaan keluarga Suci Guo?” kata tetua kedua yang merasa mundur bukanlah pilihan terbaik.


“Daripada mundur dan membuat musuh bebas bergerak maju, sebaiknya kita segera meminta bantuan! Mungkin dengan menambah jumlah prajurit yang berada di sisi kita, kita dapat memukul mundur musuh!” lanjutnya.


“Aku sudah meminta bala bantuan, tapi tak ada balasan dari penguasa agung,” ungkap tetua pertama.


“Mungkin penguasa agung sedang menyiapkan bala bantuan dan tidak memiliki banyak waktu memberi balasan. Sebaiknya kita bertahan sampai datang bala bantuan!” balas tetua kedua sambil memegang erat pedang di tangannya.


“Baiklah, aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku untuk bertahan dari serangan musuh, dan semoga kita masih hidup saat bala bantuan datang!” kata tetua pertama dan aura kuat meledak dari tubuhnya membuat banyak prajurit keluarga Lin mundur menjauhinya.


“Kalian semua mundur! Dua orang ini adalah lawan kami!” teriak Lin Baoshi.

__ADS_1


Semua prajurit keluarga Lin segera menjauhi kedua tetua keluarga Suci Guo, dan kembali mereka melawan prajurit keluarga Suci Guo. Untuk menghadapi dua tetua keluarga Suci Guo, cukup Lin Baoshi dan Lin Yanran yang menghadapi mereka.


“Kalian berdua memang kuat, tapi jangan harap kami mudah di kalahkan!” kata tetua kedua yang merupakan seorang wanita, dan dia akan berhadapan satu lawan satu dengan Lin Yanran.


“Hanya kematian yang akan menunjukkan siapa yang pantas menjadi pemenang!” teriak tetua pertama, mengarahkan seluruh auranya mencoba menekan Lin Baoshi.


“Kalau begitu kita akan bertarung sampai mati, dan mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir petarungan!” kata Lin Baoshi tak takut melakukan pertarungan sampai mati.


Aura tetua pertama sama sekali tidak mempengaruhi Lin Baoshi, dan tak lagi ingin membuang waktu berharganya dia langsung saja melesat maju menyerang tetua pertama. Hal yang sama juga dilakukan Lin Yanran, dimana dia langsung maju menyerang tetua kedua.


"Swush... Boom... Boom...”


Pertarungan besar terjadi antara kedua pemimpin prajurit dua keluarga yang saat ini sedang berperang. Medan peperangan yang biasanya merupakan tempat yang dipenuhi ketenangan, kini tempat itu di penuhi darah dan mayat.


“Boom... Boom...”


Tetua kedua terdorong mundur setelah beradu pukulan dengan Lin Yanran, dan terlihat tangan kanannya hancur. “Dia memang kuat dan jelas aku bukan lawan sepadan untuknya. Jika bala bantuan tidak kunjung datang, dalam lima serangan dia dapat membunuhku,” gumamnya pelan.


"Apa kamu ingin menyerah? Namun sayangnya kamu tak memiliki hak untuk menyerah selain kematian!” kata Lin Yanran mulai melihat keputusasaan musuhnya.


“Bang... Bang... Boom...”


Beberapa serangan berhasil dihindari tetua kedua, dan beberapa berhasil dia tahan. Namun serangan Lin Yanran yang tertuju ke perutnya gagal dihindari maupun di tahan, dan dengan keras serangan itu menghantam perutnya.


Tubuh tetua kedua terpental jauh, dan begitu berhenti dia memuntahkan darah segar sangat banyak dari mulutnya. Beberapa organ dalamnya hancur, tapi karena kekuatannya telah mencapai tingkat Dewa Semesta, perlahan organ dalamnya yang hancur kembali ke bentuk semula.


Namun Lin Yanran tidak begitu saja membiarkan tetua kedua memulihkan dirinya. Dia kembali melesat maju melakukan serangan.


“Jangan harap dapat pulih dari luka yang aku buat!” kata Lin Yanran dan dia mengayunkan tinjunya ke arah wajah tetua kedua.


“Boom...”


Seperempat wajah tetua kedua hancur, dan darah segar mengalir deras dari lukanya. Tetua kedua mengerang kesakitan tapi, rasa sakitnya saat ini belum seberapa.


“Aku rasa itu belum terlalu sakit, bagaimana kalau aku menunjukkan padamu seperti apa itu rasa sakit?”

__ADS_1


Lin Yanran kembali memukul wajah tetua kedua, dan kalian ini bukan hanya wajah yang hancur, tapi sebagian kepala tetua kedua ikut hancur.


Tetua kedua yang tak lagi berdaya, dia hanya pasrah menanti kematian saat Lin Yanran melayangkan pukulan bertubi-tubi kepadanya.


Wajahnya tak lagi berbentuk, kepalanya hilang sebagian, dan tubuhnya dipenuhi luka menganga lebar. Tingkat kultivasinya membuat luka-luka itu perlahan membaik, tapi banyaknya darah yang keluar tak menjamin dirinya bertahan hidup lebih lama.


“Pada akhirnya akulah yang keluar menjadi pemenang!” Lin Yanran memukul kepala tetua kedua sampai hancur, dan pukulan terakhir yang dilakukannya telah mengakhiri hidup tetua kedua. Sekarang dia mengarahkan pandangan pada Lin Baoshi yang sedang menghajar habis-habisan tetua pertama keluarga Suci Guo.


“Bang... Bang... Boom...”


Tubuh tetua pertama yang sebelumnya melayanh, tubuh itu meluncur jatuh menghujam tanah.


Melihat tetua pertama masih hidup setelah tubuhnya menghujam tanah, Lin Baoshi melesat turun dan kembali menghajarnya.


Lin Baoshi mengeluarkan pedang besar dari cincin penyimpanannya, lalu dia menggunakan pedang itu untuk membelah tubuh tetua pertama menjadi beberapa bagian.


“Sungguh kejam!” ungkap Lin Yanran yang sosoknya muncul di dekat Lin Baoshi.


Lin Baoshi hanya tersenyum mendengar itu. “Bagaimana dengan musuhmu, apa kamu sudah mengalahkannya?”


“Tentu saja aku mengalahkannya! Aku memukuli dia sampai mati, dan setidaknya aku tidak sekejam kamu saat mengakhiri hidup musuh!” kata Lin Yanran setelah melihat kekejaman Lin Baoshi.


Lin Baoshi terkekeh pelan. “Sesekali aku ingin bersikap kejam seperti yang sering dilakukan tuan muda pada musuhnya, dan ternyata bersikap kejam pada musuh memberi kepuasan tersendiri padaku.”


Lin Yanran tidak membantah itu karena dia sendiri juga merasa adanya kepuasan saat begitu kejam membunuh musuh-musuhnya, dan sebenarnya dia maupun Lin Baoshi memiliki perilaku kejam yang sama pada muauh mereka.


“Nanti kita bisa lanjut berbicara! Untuk sekarang sebaiknya kita bunuh sisa musuh di tempat ini,” kata Lin Baoshi, dan Lin Yanran hanya mengangguk sebagai balasan.


...----------------...


Bersambung.


Yuk mampir ke novel author yang lainnya...


__ADS_1


__ADS_2