Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Cara Mati Yang Sangat Mengerikan


__ADS_3

Elemen petir, kegelapan, serta api menjadi satu menciptakan aura dahsyat dan sangat mengerikan. Pria yang menjadi lawan Lin Feng dibuat diam mematung di tempatnya, saat ia melihat dan merasakan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki Lin Feng.


Bukan hanya ia yang berhadapan langsung dengan Lin Feng, yang melihat dan merasakan kekuatan besar Lin Feng, melainkan seluruh orang di kediaman keluarga Lin juga melihat dan merasakan semuanya.


Bahkan bagi mereka yang tak cukup memiliki kekuatan, mereka memilih pergi menjauh tapi tetap melihat jalannya pertarungan dari jarak jauh.


Sementara itu, Lin Feng yang telah selesai menghimpun kekuatannya, ia telah bersiap menyerang lawan yang tak sedikitpun bergeming dari tempatnya berdiri.


Berdiri pasrah di tempat menunggu kematian mendatanginya. Itulah yang terlihat dari ia yang menjadi lawan Lin Feng. Namun kenyataannya dia memang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Melihat kekuatan lawan, ia merasa percuma terus melawan. Dia merasa lebih baik pasrah dan mempercepat kematiannya tanpa melakukan perlawanan sia-sia.


“Sepertinya kamu sangat menginginkan kematian dan kalau itu yang kamu mau, dengan senang hati aku segera mengabulkannnya!” Lin Feng langsung saja melesat maju, bergerak ke arah lawannya.


“Aaaargh...” Raungan kesakitan terdengar jelas dari mulut ia yang mejadi lawan Lin Feng, saat seluruh lengan dan kakinya terpisah dari bagian tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala serta badan yang masih menyatu.


Darah mengalir keluar dari setiap luka di tubuhnya, membuat ngeri siapapun yang melihat keadaannya. Namun, ia masih hidup dan tidak kehilangan kesadaran, yang membuatnya dapat merasakan rasa sakit menyakitkan, dalam keadaan tidak berdaya.


“Apa kamu memiliki keinginan terakhir sebelum aku membunuhmu?” tanya Lin Feng yang menghunuskan pedang di tangannya, menempel di leher pria yang menjadi lawannya.


“Ka-kau sebaiknya mati bersamaku!” katanya lirih sambil menahan rasa sakit.


“Kalau itu yang menjadi keinginanmu, jelas aku tidak bisa mengabulkannya karena belum terpikirkan olehku mati dalam waktu dekat!” balas Lin Feng.


Setelahnya, tanpa banyak berkata ia langsung menusukkan pedangnya ke leher lawannya, lalu menggerakkan pedang ke arah bawa, memotong tubuh lawannya, membelahnya menjadi dua bagian.


Dengan tubuh terbelah menjadi dua bagian bersama seluruh organ dalamnya, mustahil baginya bertahan hidup dan pada akhirnya ia mati tak lama setelah Lin Feng menyerap kekuatannya.


“Dia bukan yang terkuat di dalam kelompok pemilik kekuatan elemen kegelapan. Dia yang terkuat berada di Alam Sembilan Surga tingkat kesembilan, dan kekuatannya bisa disetarakan dengan kekuatanku saat ini.” Lin Feng bergumam setelah melihat kenangan di mata pria yang menjadi lawannya.

__ADS_1


“Gege, apa nyawa Tetua Agung masih dapat diselamatkan?” Lin Hua datang menghampiri Lin Feng, menanyakan keadaan Tetua Agung keluarga Lin.


“Nyawanya tidak berada dalam ancaman, tapi kekuatannya mungkin akan turun ke tingkat Dewa Agung Bintang 5, dan butuh usaha keras untuk kembali meningkatkan kekuatannya,” jawabnya.


Lin Feng membeli pil penyembuh dan pil pemulihan dari toko sistem, dan bersamaan ia membuat Tetua Agung menelan kedua pil tersebut.


“Uhuk... Uhuk...” Hanya dalam satu tarikan napas Tetua Agung kembali mendapatkan kesadarannya setelah diawali dengan batuk, serta memuntahkan seteguk darah berwarna hitam.


“Si-siapa kalian?” tanya Tetua Agung setelah kembali sadar dan melihat keberadaan Lin Feng dan Lin Hua.


Melihat keberadaan dua orang asing di dekatnya, Tetua Agung meningkatkan kewaspadaannya. Meski sadar kekuatannya melemah, ia tidak akan segan mengorbankan nyawa untuk melindungi keluarga Lin.


Dengan tingkat kewaspadaan dan pengalaman hidupnya yang sudah berlangsung lama, Tetua Agung bisa merasakan keberadaan sosok keempat dalam ruangan yang sama dengannya, tapi ia tahu kalau sosok keempat bukanlah makhluk hidup, melainkan seonggok mayat.


‘Di-dia sudah mati! Si-siapa yang melakukannya?’ tanyanya membatin dan kembali dia berfokus pada dua orang yang berdiri tegap di hadapannya.


Tetua Agung tentunya melihat apa yang ditunjuk Lin Feng, dan dia tahu kalau orang itu baru saja mati dengan cara yang sangat mengerikan. Seluruh bagian tubuh terpencar serta organ dalam berhamburan keluar. Dari apa yang dilihatnya, Tetua Agung tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami pria itu sebelum datangnya kematian untuknya.


“Dia adalah orang yang telah mencelakai Tetua Agung, dan dia juga yang menyebabkan kekuatan Tetua Agung melemah. Identitas orang itu tak lain adalah pemimpin kelompok pemilik kekuatan elemen kegelapan di Alam ini,” ungkap Lin Feng memberi penjelasan.


“Ja-jadi dia yang telah menyelakaiku?” tanya Tetua Agung memastikan.


Lin Feng menganggukkan kepalanya. “Dia memang yang telah mencelakai Tetua Agung, tapi bukan dia seorang diri yang berhasil menyusup masuk ke dalam kediaman keluarga Lin.”


“Setidaknya ada puluhan orang yang berhasil menyusup ke dalam kediaman keluarga Lin, tapi aku yakin saat ini mereka semua telah berhasil ditangkap oleh anggota keluarga Lin,” kata Lin Feng.


Lin Feng yakin mereka semua hanya di tangkap oleh anggota keluarga Lin, meski tak menutup kemungkinan banyak yang mati diantara mereka, termasuk beberapa dari mereka yang mati di tangannya.


“Lalu, kalian ini siapa sebenarnya?” kembali Tetua Agung bertanya.

__ADS_1


“Tetua Agung, aku Lin Feng dan dia istriku, Lin Hua,” jawab Lin Feng memperkenalkan dirinya juga Lin Hua.


Kerutan muncul di kening Tetua Agung setelah mengetahui identitas Lin Feng dan Lin Hua. Selama ini di keluarga Lin yang ada di Alam Sembilan Surga tingkat kedua tidak ada sosok yang dikenalinya bernama Lin Feng maupun Lin Hua.


Tak mengenal keduanya dan nama mereka yang masih asing di telinganya, Tetua Agung menyimpulkan keduanya bukan berasal dari Alam Sembilan Surga tingkat kedua, dan dari kekuatan keduanya ada kemungkinan mereka berasal dari Alam yang lebih tinggi.


“Apa Tuan Muda dan Putri berasal dari Alam yang lebih tinggi?” Tetua Agung sangat ingin membuktikan identitas asli yang dimiliki Lin Feng maupun Lin Hua.


Lin Feng tidak langsung memberi jawaban, ia memilih menunjukkan lencana emas miliknya dan setelahnya dia baru menjawab, “Tetua Agung, aku tidak berasal dari Alam yang lebih tinggi, tapi lencana ini bisa membuktikan kalau aku adalah bagian dari keluarga Lin.”


Lin Feng tenang mengatakan semua itu pada Tetua Agung, sedangkan ia, Tetua Agung yang mendengar perkataannya, dia jelas mendengar semua perkataan Lin Feng, tapi kedua matanya masih saja tertuju pada lencana emas di tangan Lin Feng.


“Tu-Tu-Tuan Muda,” kata Tetua Agung sambil ia berusaha bangkit dan berlutut di hadapan Lin Feng.


Akan tetapi sigap Lin Feng mencegah apa yang ingin dilakukan olehnya. “Tetua Agung masih perlu banyak istirahat, jadi jangan lebih dulu melakukan sesuatu yang tidak penting!” katanya tegas.


Tetua Agung masih memiliki keinginan berlutut di hadapan Lin Feng dan Lin Hua, tapi ia hanya menuruti keinginan Lin Feng karena sadar akan kondisi tubuhnya. “Tu-Tuan Muda, apa Tuan Muda putra dia Yang Agung Tuanku Lin Mofeng dan Putri Bing Hualing?” Tetua Agung sangat berharap kalau Lin Feng adalah putra dari kedua orang yang di masa lalu sempat dia layani, tapi karena sebuah bencana ia harus kehilangan keduanya untuk selamanya.


Lin Feng yang sudah tahu identitas asli kedua orangtua kandungnya dari Lin Baoshi dan Lin Yanran, ia dengan pasti menganggukkan kepala setelah mendengar Tetua Agung menyebutkan nama asli kedua orangtuanya. “Benar, mereka adalah kedua orangtuaku,” ungkapnya.


Tetua Agung adalah orang yang tegar dan tak pernah berlinang air mata meski dalam situasi sedang kesakitan, tapi tahu siapa sosok di hadapannya, ia tak lagi sanggup menahan air matanya. Deras air mata mengalir keluar dari kedua sudut matanya.


Akan tetapi, semua itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan itu semua adalah air mata kebahagiaan karena pada akhirnya ia dapat bertemu dengan putra di dua orang yang sangat dihormatinya. Menguatkan tubuhnya dan tak ada yang bisa mencegahnya, Tetua Agung perlahan bangkit dan berlutut penuh dengan penghormatan di hadapan Lin Feng dan Lin Hua.


Lin Feng benar-benar tidak bisa mencegah Tetua Agung melakukan semua itu dan pada akhirnya ia hanya bisa membiarkannya melakukan apa yang ingin ia lakukan.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2