Sistem Sang Penguasa

Sistem Sang Penguasa
Sosok Wanita Impian


__ADS_3

Lin Feng membantu Tetua Agung berdiri setelah memberinya waktu berlutut di hadapannya, meski Tetua Agung masih menundukkan kepala setidaknya ia sekarang tak lagi berlutut di hadapannya.


Keadaan Tetua Agung yang telah sanggup berdiri sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Efek dari pil yang diberikan Lin Feng padanya telah memulihkan sebagian besar kekuatannya dalam waktu singkat, tapi pil itu tidak meningkatkan kekuatannya.


“Tetua Agung, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini dan biarkan orang-orang membersihkan tempat ini!” kata Lin Feng lalu dia membawa Tetua Agung keluar dari ruangan yang masih dipenuhi bau amis darah.


Tetua Agung menuruti perkataan Lin Feng dan perlahan dia mulai berjalan menuju ruangan utama aula kediaman keluarga Lin, yang keadaannya berantakan akibat pertarungan Lin Hua, Lin Baoshi, serta Lin Yanran yang melawan empat bawahan pemimpin kelompok pemilik kekuatan elemen kegelapan yang mati di tangan Lin Feng.


Dari empat orang yang menjadi lawan Lin Hua, Lin Baoshi dan Lin Yanran, dua diantara mereka mati, sedangkan dua lainnya yang saat dalam keadaan terluka, mereka berada di cengkraman Lin Baoshi, dan sewaktu-waktu mereka bisa saja mati kalau masih ada niatan untuk melakukan perlawanan.


“Kenapa kalian tidak langsung mengakhiri hidupnya?” tanya Lin Feng pada Lin Baoshi dan Lin Yanran, setelah melihat dua lawan mereka masih hidup.


“Kami menahan mereka karena menganggap ada informasi penting, yang bisa Tuan Muda dapatkan dari mereka,” ungkap Lin Baoshi.


“Pemimpin mereka sudah memberi banyak informasi padaku. Kalian bisa melakukan apapun pada mereka,” balas Lin Feng sekilas melirik dua orang di cengkraman Lin Baoshi.


Sedangkan Lin Baoshi yang mendengar itu, mengabaikan keberadaan Tetua Agung, ia langsung saja mematahkan leher dua orang di cengkraman tangannya.


“Krek...” Suara leher patah terdengar bersama dengan kematian dua orang tanpa memberi kesempatan mereka membuka suara.


Tetua Agung yang melihat itu, ia hanya bisa menghela napas dan beranggapan kalau Lin Feng dan semua orang yang bersamanya adalah orang-orang yang senantiasa bertindak kejam pada musuh.


‘Sifat kejam Tuan Muda pada musuhnya, sama persis seperti sifat Tuan Agung di masa hidupnya. Ayah dan anak memiliki sifat yang tak jauh berbeda, tapi dari segi kekuatan aku merasa Tuan Muda telah melampaui pencapaian Tuan Agung, meski usianya masih sangat muda,’ ungkap Tetua Agung membatin.

__ADS_1


“Tetua Agung, tempat ini sepertinya butuh perbaikan total dan untuk sementara waktu tidak akan bisa digunakan untuk kepentingan keluarga Lin,” kata Lin Feng melihat keadaan aula kediaman keluarga Lin, yang setengah bagiannya telah hancur.


“Tuan Muda tidak perlu memikirkan apa yang terjadi di tempat ini, biarkan para petinggi yang mengurus kerusakan di tempat ini.” Bukan maksud mengabaikan keadaan aula keluarga Lin, Tetua Agung saat ini lebih mengutamakan membawa Lin Feng dan yang lainnya ke tempat yang nyaman.


Tetua Agung berencana membawa Lin Feng ke rumahnya dan untuk sementara waktu ia akan membiarkan Lin Feng dan yang lainnya tinggal di tempat itu. Rumahnya cukup luas, selain kamar yang ditempati istri dan anaknya, masih terdapat belasan kamar lain yang dapat ditempati Lin Feng dan yang lainnya.


Lin Feng mengikuti kemana Tetua Agung membawanya, tapi baru juga keluar dari aula kediaman keluarga Lin, Lin Luyao dan Lin Yuan datang menemuinya.


“Putri Lin Luyao.” Tetua Agung yang melihat keberadaan Lin Luyao, segera dia mengenalinya karena dia sudah sering bertemu Lin Luyao dan kedua orangtuanya, meski saat ini hanya tersisa ayah dari Lin Luyao.


“Paman, maaf aku terlambat datang dan tidak bisa membantu banyak saat Paman berada dalam bahaya!” Lin Luyao menghampiri Tetua Agung dan mengatakan semua itu tepat di hadapannya.


Tetua Agung cepat menggelengkan kepala dan berkata, “Putri tidak perlu meminta maaf! Apa yang terjadi pada saya, semua itu murni karena kecerobohan saya yang mempercayai orang asing, dan membawanya tinggal di kediaman keluarga Lin. Hanya karena ia menjanjikan kekuatan besar pada saya, semua itu membuat saya lengah dan membiarkannya tinggal di kediaman ini tanpa terlebih dahulu mencari tahu asal-usulnya,” ungkapnya.


Setelah Lin Luyao berada di sebelah Lin Hua, tiga orang datang sambil menyeret seseorang yang sebelumnya telah menyamar sebagai Tetua Agung. Tiga orang yang datang tak lain adalah Lin Cang dan dua saudaranya. “Tuan Muda, apa kita sudah boleh mengakhiri hidup orang ini?” tanya Lin Cang yang sudah tidak sabar mengakhiri hidup lawannya.


“Lakukan apa yang menjadi keinginan kalian!” kata Lin Feng mengabaikan keadaan orang yang sebelumnya menyamar sebagai Tetua Agung, tapi kini semua orang dapat melihat penampilan sesungguhnya dari orang itu.


Lin Cang dan dua orang lainnya menganggukkan kepala, lalu tanpa berkedip ketiganya membunuh orang itu dengan tangan kosong. Ketiganya mengarahkan pukulan ke arah kepala orang itu, dan dihadapan banyak orang orang itu mati dengan kepala hancur.


“Tetua Agung, silahkan lanjutkan perjalanan!” kata Lin Feng dan dibawah kepemimpinan Tetua Agung, rombongan Lin Feng melanjutkan perjalanan termasuk Lin Cang serta dua orang lainnya yang baru saja membunuh musuh di hadapan banyak orang.


Lin Yuan sendiri tidak ikut kemana Tetua Agung membawa rombongan Lin Feng, sebagai salah satu Tetua kelurga Lin di Alam Sembilan Surga tingkat kedua, dia memimpin puluhan anggota keluarga Lin membereskan sisa-sisa kekacauan, termasuk mulai melakukan perbaikan pada bangunan aula yang setengah bagiannya mengalami kehancuran.

__ADS_1


“Tuan Muda, Putri Lin Hua dan Putri Lin Luyao, selamat datang di kediaman sederhana saya!” kata Tetua Agung begitu ia dan rombongan Lin Feng sampai di kediaman, yang sudah ratusan tahun ditempatinya.


Tak lama setelah kedatangan Tetua Agung dan rombongan Lin Feng, dua wanita yang merupakan istri Tetua Agung datang bersama dua pria yang dari usia tak terpaut jauh dari Lin Feng, tapi usia mereka lebih dewasa.


Kedua istri Tetua Agung menyambut kedatangan mereka, tapi saat melihat sosok Lin Luyao, mereka segera berlutut memberi penghormatan. “Hormat kami pada Putri Lin Luyao!” kata keduanya bersama dengan dua putra mereka.


Lin Luyao segera menyuruh mereka bangkit. “Bibi dan kedua adik, aku ingin memperkenalkan saudaraku pada kalian, ia Lin Feng putra Paman Lin Mofeng dan Bibi Bing Hualing,” katanya sambil menunjukkan siapa yang dia maksud Lin Feng.


Mendengar semuanya, kedua istri Tetua Agung segera mengarahkan pandangan pada Lin Feng dan seketika mereka sama-sama melihat wajah yang mirip dengan wanita, yang dimasa lalu mereka layani. Seperti apa yang tadi di alami Tetua Agung setelah mengetahui identitas Lin Feng, keduanya tak bisa menahan tangis kebahagiaan, tapi saat keduanya ingin berlutut, muncul aura kuat yang menahan mereka tetap berdiri tanpa membuat keduanya merasakan kesakitan.


Keduanya melirik Lin Feng karena mereka tahu aura itu berasal darinya. “Bibi, kalian tidak perlu memberi penghormatan padaku dengan cara berlutut! Aku justru akan merasa sangat bersalah saat membiarkan wanita baik seperti kalian berlutut di hadapanku,” ungkap Lin Feng.


Kedua wanita itu mengangguk pelan dan menunjukkan senyuman di wajahnya. ‘Sifat Tuan Muda yang begitu lembur pada wanita, mengingatkanku pada sosok Nyonya Agung,’ batin keduanya di waktu bersamaan.


Sementara itu, dua putra Tetua Agung yang tidak ingat siapa itu sosok Lin Mofeng dan Bing Hualing, mereka hanya sekedar menghormati keberadaan Lin Feng, tapi kedua mata mereka tak lepas dari keberadaan Lin Hua yang misterius tapi memiliki daya tarik yang kuat, dan sesekali mereka melirik Lin Luyao yang cantik jelita dan terlihat semakin cantik sejak terakhir pertemuan mereka.


“Gege, bukannya wanita itu memenuhi seluruh kriteriamu? Kecantikan misterius dan terlihat tidak lemah, aku rasa keberadaannya di tempat ini memang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu,” bisik putra kedua Tetua Agung pada kakaknya.


Putra pertama Tetua Agung yang mendengar perkataan adiknya, ia hanya tersenyum dan menganggukkan pelan kepalanya. “Dia memang sosok wanita impian yang selama ini aku cari, dan aku pasti mendapatkannya!” gumamnya dan tak sedikitpun ia mengalihkan pandangan pada sosok Lin Hua.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2