Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kedatangan Dion Dari Luar Negeri


__ADS_3

Jam delapan pagi, mobil mewah berhenti di depan rumah Luna. Lintang yang memang ada di depan langsung berdiri dari tempat duduknya, apalagi saat ia melihat orang yang ia kenal turun dari mobil membawa dua koper besar.


Lintang langsung membantunya membawa koper itu ke dalam.


"Kok baru datang hari ini, Kak?" tanya Lintang.


"Iya kemaren sibuk. Mbak Luna mana?" tanyanya sambil memegang pinggannya yang terasa sakit karena ia langsung ke sini setelah perjalanan jauh.


"Ada di belakang. Aku panggilkan dulu ya," ujarnya. Dion pun menganggukkan kepala sambil duduk di ruang tamu sambil selonjoran, meluruskan kakinya yang terasa kaku.


Tak lama kemudian, Luna pun datang dari belakang.


"Mas Dion," panggil Luna.


"Hey, Lun. Uh kangen banget aku sama dirimu," ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya, namun malah di tepis oleh Luna.


"Ck ... belum halal," ucapnya mengingatkan.


"Hehe ... ya ya, lupa aku. Lama banget sih pengen ngalalin kamu. Rasanya aku sudah gak tahan," ujarnya dengan menampakkan wajah sedihnya.


"Udah deh, gak usah lebay. Aku fikir akan datang nanti jam sepuluh, gak taunya jam delapan udah datang."


"Iya, tadi dari bandara langsung ke sini. Kangen banget aku, makanya tadi tak suruh sopirnya ngebut."


"Oh, pasti capek banget ya. Mau istirahat dulu?" tanyanya.


"Emang boleh? Kepalaku pusing banget dari tadi."


"Boleh, kok. Tidur aja di kamar aku." ujarnya tak tega melihat wajah pucat Dionn.


"Hmm ... aku gak enak ke orang tua kamu tapi," tuturnya.


"Enggak papa, nanti aku bantu jelaskan."


"Baiklah, oh ya itu ada oleh oleh buat Lintang, kamu dan buat calon mertua aku juga," godanya.


"Kok sampai dua koper?" tanyanya melihat dua koper besar di ruang tamu.


"Ya satu koper buat kamu, dan satunya buat Linta dan kedua orang tua kamu," ucapnya.


"Boleh aku bongkar sekarang?" tanya Luna hati hati.


"Boleh. Aku numpang istirahat bentar ya, aku mau tidur bentar aja, paling lama sejam deh, sampai rasa pusing aku hilang," ucapnya.


"Iya, tidu aja sana."


Dion yang emang sudah tau letak kamar Luna, gak malu malu lagi langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ah rasanya sangat mantap. Belasan jam duduk rasanya pingganyanya mau patah.


Dion mematikan lampunya, lalu menaruh bantal di atas mukanya, agar bis segera terlelap.


Sedangkan di ruang tamu, Lintang datang bersama Bunda Naira dan Ayah Lukman.


"Loh Kak Dion mana?" tanya Lintang.


"Tidur, capek banget kayaknya. Wajahnya pucat tadi," jawab Luna dengan suara tenang agar tidak menganggu tidur Dion yang mungkin sudah terlelap.


"Owh, itu apa Mbak?" tanya Lintang sedangkan Bunda Naira dan Ayah Lukman duduk di ruang tamu.


"Ini jam tangan buat kamu, ada sertifikatnya juga," ujar Luna sambil memberikan jam tangan mahal.


"Assek, mahal banget ini. Nah kan harganya aja dua puluh satu juta, gila, mahal pol," serunya kesenangan.

__ADS_1


"Dek, jangan keras keras kasihan Mas Dion, baru tidur," ucap Luna memperingati. Lintang pun cengengesan karena gak sengaja berbicara dengan suara keras.


"Ini ada jaket buat Ayah, Bunda sama Lintang." Luna memberikan jaket kepada mereka bertiga.


"Loh Ayah di beliin juga?" tanyanya.


"Iya, Yah. Ini ada  namanya, Buat Calon Ayah Mertua," ucapnya membuat Ayah Lukman terkeken.


"Nak Dion itu, padahal putri Ayah belum cerai, sudah mau jadi mantu aja," guraunya.


"Itu pasti karena Kak Dion dah cinta mati sama Mbak Luna, Yah. Makanya gitu," tutur Lintang ikut angkat suara.


"Cinta mati apaan?" ucap Luna tak terima.


"Iya yalah, bayangkan, kemaren Mbak Luna di kasih uang seratus juta, itu baru kemaren sedangkan yang kemaren kemarennya, belum lagi sekarang, bawa hadiah banyak banget. Biuh, dia benar benar gak perhitungan kalau dah masalah uang," tutur Lintang, yang kagum dengan calon kakak iparnya itu. Yang gak pernah mikir mikir kalau buat ngeluarin uang.


"Mungkin dia bingung mau ngabisin uang, makanya di hambur hamburkan," ujar Luna bercanda.


"WAh, kalau bingung, bisa minta bantuan ke aku. Aku siap bantu," balas Lintang, yang siap empat lima kalau di suruh buat ngabisin uang.


"Ini ada sarung buat Ayah sama Lintang. Ini juga ada sejadah dan mukenah buat Bunda. Dan ini topi buat Ayah, Bunda sama Lintang kalau mau pergi ke sawah atau pergi ke suatu tempat bir gak kepanasan," ucap Luna memberikan ke mereka satu persatu.


"Wah, ini ada sepatu buat kamu, Dek," ujar Lintang memberikan sepatu buat Lintang, sepatu mahal seharga dua belas juta lima ratus.


"Astaga, harga sepatunya," Lintang lagi lagi di buat kaget dengan harga sepatu yang ia pegang saat ini. Padahal sepatu miliknya paling mahal dua ratus ribu, ini dua belas juta. Lintang jadi takut sendiri yang mau pakai, takut hilang atau di curi orang.


"Nak, apa gak papa Nak Dion membelikan ini buat kita semua?" tanya Bunda Naira.


"Enggak papa, Bun. Santai aja, uang Mas Dion mah gak akan habis cuma buat beli ginian," ujar Luna santai. Toh dia juga gak minta, Dion sendiri yang emang mau membelikannya.


"Ini ada sepatu juga buat Ayah, sepatu buat bisa di bawa ke sawah, agar kaki Ayah gak terluka. Dan ini sandal buat Ibu, lumayan buat ke pesta, gak tinggi juga, enak di pakai." Luna memberikan sandal dan sepatu buat Ayah dan Bundannya.


"Dan ini ada kue dari luar negeri juga." Luna mengeluarkan kue yang di kemas sampai cantik sekali, bahkan untuk membuka bungkusnya aja gak tega, tapi kalau gak di buka bungkusnya, gimana isinya mau di makan.


"Itu di koper satunya," ujar Luna sambil menunjuk ke koper satunya yang belum di buka.


"AStaga, itu buat Mbak Luna semua?" tanyanya.


"Iya dong, khusus buat aku."


"Gila, itu apaan isinya, Mbak. Aku jadi penasaran, pengen lihat," ucapnya.


"Enggak, mau aku buka nanti aja pas di Jakarta."


"Ck ... pelit," ujar Lintang, padahal dirinya sangat penasaran banget isi koper satunya, tapi sayanngya Luna gak mau membukanya, bikin orang jadi penasaran aja.


"Mending makan nih kuenya, enak loh, jarang jarang makan kue dari luar negeri," tutur Luna mengalihkan fikiran adiknya yang sedari tadi menatap ke koper satunya yang belum kebuka.


"Hemmm ...." Lintang pun hanya bisa pasrah dan mulai mencicipi kue mahal itu.


"Enak, lembut dagingnya terasa," ucap Bunda Naira.


"Iya, Ayah baru tau ada roti isi daging gini, tapi rasa dagingnya itu, renyah dan aromanya juga bikin nagih," Ayah Lukman ikut berkomentar.


"Emang beda ya kalau kue murah sama yang mahal," ujar Lintang sambil menikmati kue mahalnya, kapan lagi bisa makan kue sultan gini kalau gak di beliin sama Dion.


"Oh ya, Ayah, Bunda. Aku akan pulang nanti ikut Mas Dion." ucapnya sebenarnya sudah ngasih tau kemaren, cuma Luna ngasih tau sekali lagi, takutnya mereka lupa.


"Bajunya sudah di siapkan?"


"Sudah tadi pagi," jawabnya.

__ADS_1


"Kalau ada di Jakarta, jangan lupa sering telfon Ayah dan Bunda, karena Bunda pasti kangen banget sama kamu," tutur Bunda Naira, berat rasanya melepas putrinya kembali ke Jakarta, karena mau pulang lagi pasti nunggu lama.


"Iya, Bun. Kali ini aku akan sering nelfon Ayah dan Bunda kok, gak akan kayak dulu lagi."


"Jangan lupa von aku juga ya, Mbak," tutur Lintang.


"Siap," jawab Luna terkekeh.


"Kamu jadi mengajukan surat cerai di pengadilan?" tanya Ayah Lukman.


"Jadi, Yah. Nanti di bantu sama Mas Dion. Dia yang akan mencarikan pengacara buat aku," sahut Luna.


"Wah, pasti Kak Dion  gak sabar tuh nunggu Mbak Luna segera resmi bercerai dengan Mas Ariel," goda Lintang.


"Tapi walaupun sudah pisah, tetap mereka gak boleh nikah, harus nunggu Mbakmu lahiran dulu," ucap Bunda Naira.


"Wah, masih lama dong," ujar Lintang, entah kenapa malah dia yang kecewa. Mungkin Lintang juga berharap jika Dion segara jadi kakak iparnya.


"Sabar, jika emang jodoh gak akan kemana," tutur Ayah Lukman.


"Nah bener kata Ayah, kalau sudah jodoh, gak akan kemana, gak akan lari, gak akan ketuker. Kalau memang Mas Dion ditakdirkan jadi suami aku menggantikan posisi Mas Ariel. Aku yakin, pada akhirnya aku pasti akan menikah dengannya, jadi santai aja," ucap Luna.


"Mbak Luna santai, tapi kayaknya Kak Dion nih yang sudah gak sabar pengen nikahin Mbak Luna," godanya membuat Luna malu sendiri.


"Oh ya kamu sudah ngasih tau Ariel kalau mau ke Jakarta?" tanya Bunda Naira.


"Enggak, Bun. Biarlah, nanti juga tau sendiri," balas Luna.


"Terus itu rumahnya gimana yang di Jakarta?"


"Sesuai perjanjian akan jadi milik aku, sama resto juga. Karena di sini kan Mas Ariel yang selingkuh. Mama Ila dan Papa Ardi juga setuju itu jadi milik aku."


"Terus Mas Ariel dapat bagiain apa, Mbak?" tanya Lintang.


"Mas Ariel kan punya banyak saham, ya dapat dari sana uang. Jadi misal Restonya jadi milik aku, Mas Ariel tetap dapat gaji bulanan dari saham yang sering ia beli di beberapa perusahaan besar," jawabnya membuat Lintang mengangguk anggukkan kepala.


"Kamu gak bilang ke mertua kamu kalau mau pulang hari ini?" tanya Ayah Lukman.


"Sudah, Yah. Aku ngirim pesan ke Papa Ardi, soalnya nomernya Mama Ila gak aktiv, sudah beberapa hari ini off terus," sahutnya.


"Apa Mama Mertuamu lagi sakit?" tanya Bunda Naira curiga.


"Enggak tau, Bun. Tapi Papa Ardi gak bilang apa apa kok, dia balas pesan aku, cuma suruh hati hati aja di jalan," balasnya.


"Semoga aja Mama mertua kamu baik baik aja," ucap Bunda Naira tulus mendoakan besannya itu.


"Aamiin." jawab mereka semua.


"Laras kira kira gimana nasibnya, dia kan hamil anaknya Ariel?" tanya Bunda Naira kepo.


"Aku gak tau, Bun. Aku juga akhir akhir ini gak dapat kabar apa apa dari Laras," jawab Luna.


"Katanya sih aku denger denger, Laras di kurung di rumahnya gak boleh keluar ma Om Rahman," ucap Lintang memberitahu.


"Kamu tau dari siapa?" tanya Luna.


"Ya dari temen aku, kan rumahnya gak jauh dari rumahnya Mbak Laras," jawab Lintang.


"Hmmm tapi dia gak papa kan?" tanya Luna khawatir. Bagaimanapun ia tau jika Bapaknya Laras itu sedikit kasar.


"Enggak papa kok, kalau emang ada sesuatu ya pasti rame, tapi tiap hari adem ayem di rumahnya, gak ada teriakan atau apapun," sahut Lintang lagi menjawab pertanyaan Luna.

__ADS_1


"Syukurlah." Luna pun senang mendengarnya.


Mereka terus mengobrol santai sambil menikmati kue yang di bawa oleh Dion. Sedangkan Dion sendiri, ia masih tidur dan gak denger apa apa.


__ADS_2