
Sejak Ariel sadar, Luna tak lagi pergi untuk menjenguknya. Ia memilih untuk diam di rumah, nonton tivi, tidur-tiduran, lihat vidio, baca novel, main sosmed, rujak'an, ngobrol sama Bibi Imah dan Bibi Neni, sesekali kadang nelfon atau vidio call Dion dan keluarganya yang ada di jember. Kadang juga mengaji berjam-jam lamanya.
Ya, seperti itulah aktivitas yang di lakukan oleh Luna. Karena memang ia terlalu malas untuk keluar ataupun pergi ke resto dan mengecek keadaan Resto saat ini.
Empat hari sudah sejak Ariel sadar, dan Luna memilih untuk menghindar, karena ia terlalu malas untuk berdebat dengannya. Karena baginya, itu hanya sia-sia belaka, selama Ariel belum menyadari kesalahannya dan terus meminta kesempatan padanya, kesempatan yang tak akan pernah bisa diberikan oleh Luna. Terlebih Luna tak lagi mencintai Ariel. Jadi, buat apa memberikan kesempatan, jika pada akhirnya endingnya akan sama, terluka lagi karena keegoisannya.
Saat ini, Luna tengah tidur siang, Hpnya di charger sejak tadi pagi karena baterainya tinggal dua persen. Ia juga sengaja mematikan HPnya agar baterainya cepat full. Namun, di saat Luna lagi nyenyak-nyenyaknya tidur. Bibi Imah datang dan membangunkannya.
"Non, bangun Non. Gawat, Non," ucapnya panik.
"Ada apa sih, Bi?" tanya Luna dengan mata tertutup. Ia sangat mengantuk sekali, dan rasanya matanya seperti di kasih lem.
"Non, Nyonya Ila meninggal dunia," jawab Bibi Imah memberitahu.
"Jangan bercanda deh, Bi," sahut Luna tak percaya. Ia membuka matanya dan menatap Bibi yang memang terlihat sangat panik sekali, bahkan ada raut wajah sedih juga di sana.
__ADS_1
"Bibi gak mungkin berbohong tentang kematian, Non. Bibi tadi di telfon Tuan Noah, Tuan Noah sendiri yang meminta Bibi untuk memberitahu Non Luna. Saat ini Tuan Noah dan Tuan Ariel juga sedang dalam perjalanan menuju kediaman Tuan Besar," ujar Bibi dengan wajah sedih.
"Mama Ila meninggal beneran, Bi?" tanya Luna, ia bahkan sudah tidak mengantuk lagi. Ia cukup kaget mendengar keseriusan Bibi yang mengatakan jika Mama mertunya meninggal.
"Iya, Non. Meninggalnya sejam yang lalu, di Rumah Sakit Khodijah."
"Tapi bagaimana bisa, emang Mama meninggal kenapa?" tanya Luna.
"Katanya Nyonya Besar meninggal bunuh diri, Non."
"Bibi serius, Non. Makanya ayo siap-siap Non. Bibi juga mau ke sana, mau lihat Nyonya Besar untuk terakhir kalinya."
"Bentar, Bibi. Aku masih kaget." Luna masih tak menyangka, jika Mama mertuanya yang terkenal baik itu mati bunuh diri. Sebenarnya ada masalah apa, sampai Mama Ila memilih mengakhiri hidupnya.
"Ayo, Non. Cepat."
__ADS_1
Luna pun akhirnya menganggukkan kepala, dengan lemas ia berjalan menuju kamar mandi. Ia memilih untuk cuci muka dan sikat gigi aja. Setelah itu, Luna segera ganti baju. Ia memilih baju warna hitam dan hijab hitam. Bagaimanapun ia kini tengah berduka, jadi gak pantas jika menggunakan baju yang cerah.
Luna mengambil Hpnya yang di charger dan mengaktifkannya. Benar saja, ada beberapa pesan dari Noah. Di pesan itu mengatakan jika saat ini Mama Ila tengah meninggal dan pemakamannya akan di laksanakan nanti jam setengah satu siang sehabis sholat dhuhur.
Membaca pesan itu, Luna menitikkan air mata. Ia gak menyangka, jika Mama mertuanya akan meninggal secepat. Jika sampai Mama iLa meninggal karena ulahnya tempo hari, maka Luna gak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia menyesali keputusannya yang tega mempermalukan suaminya, tanpa memikirkan dampak dari apa yang sudah ia lakukan.
Luna segera menaruh HPnya di tas, ia juga membawa dompet serta tisu. Lalu setelah itu, ia memakai kaos kaki dan sandal. Tak lupa jam tangan ia pakai di pergelangan tangan kirinya. Terakhir ia menyemprotkan parfum di bajunya. Baru setelah itu, ia pergi bersama Bibi menuju kediaman Papa Ardi dan Mama Ila.
Luna hanya pergi berdua dengan Bibi Imah, karena Bibi Neni gak bisa ikut. Dia harus menjaga rumah dan menyelesaikan pekerjaannya yang belum kelar. Dan lagi, Bibi Neni merasa pusing, jadi ia gak bisa ikut perjalanan jauh menggunakan mobil. Luna pun tak memaksanya. Toh ada Bibi Imah yang menemani perjalananya.
Luna dan Bibi Imah pergi menggunakan mobil online. Ya, dia memesan secara online, karena ia gak mungkin menyetir sendiri ke sana. Bisa-bisa, ia malah kenapa-napa di jalan.
Sepanjang jalan, Luna terus menangis. Bagaimanapun ia sudah menganggap Mama Ila seperti Mamanya sendiri. Selama ini Mama Ila juga sangat baik padanya. Mendengar kematian secara mendadak gini, rasanya Luna masih tak percaya. Terlebih Mama Ila meningal karena mengakhiri hidupnya sendiri. Sefrustasi itukah, Mama Ila. Sampai memilih meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Bibi Imah pun ikut sedih dan menangis, walaupun Bibi Imah gak akrab dengan Mama Ila, tapi bagaimanapun Bibi kenal dengannya dan Mama Ila, merupakan majikannya juga.
__ADS_1
Akhirnya Luna dan Bibi Imah pun hanya bisa menangis sepanjang jalan, sang sopir yang melihat penumpangnya menangis, tak berani buka suara. Ia memilih diam dan fokus menyetir.