Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
18 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Setelah dua jam berada di apartemen Ariel. Akhirnya Luna dan Dion pulang membawa Diana. Awalnya Diana gak mau, ia terus menolak dan memeluk Ariel. Ariel pun juga enggak melepaskan Diana ke tangan mereka, terlebih Luna tengah hamil besar, ia takut jika di sana Diana akan di abaikan. Tapi sekali lagi, ia tidak mau menjadi orang yang egois, Luna aja rela berbulan bulan lamanya tidak bertemu dengan putrinya, masak dirinya tega menolak permintaan Luna yang hanya ingin hidup bersama dengan Diana selama seminggu lamanya. Toh hanya seminggu, setelahnya, ia boleh jemput Diana di kediaman mereka.


Ariel berusaha memberikan pengertian untuk putrinya itu, walaupun awalnya tidaklah mudah, tapi lama kelaman, akhirnya Diana luluh dan mau ikut Luna pulang ke kediaman mereka.


Setelah kepergian Diana, Ariel merasa apartemennya begitu kosong. Biasanya dia selalu bersama Diana, dua puluh empat jam. Tapi sekarang, Diana sudah pergi bersama Mamanya. Rasanya Ariel seperti kehilangan separuh nyawanya. Tapi ia harus berusaha untuk kuat, hanya seminggu, dan setelah itu, ia akan menjemput Diana agar tinggal bersama dirinya lagi.


Untuk melupakan rasa kesepiannya, Ariel mengambil piring dan gelas kosong yang ada di ruang tamu, yang di pakai barusan dan langsung mencucinya. Setelah itu, ia langsung menelfon Noah dan menanyakan keberadaannya ada di mana. Ternyata Noah sudah dalam perjalanan pulang menuju apartemen dan mungkin sepuluh menit lagi mereka sampai. Akhirnya Ariel pun gak jadi buat menyusul mereka berdua, ia memilih menunggu kedatangan mereka aja.


Sambil nunggu, Ariel pun menonton vidio di hpnya, ia mendengarkan ceramah dari ustad favoritnya. Saat ia lagi asyik-asyiknya mendengarkan ceraman, pintu apartemen terbuka. Noah datang bersama dengan DAnia dan dua boneka besar yang ia bawa dengan susah payah.


"Papa, Papa. Oneka. Ania unya oneka ecar," ucapnya dengan suara yang tidak semua orang mampu memahaminya. Namun Ariel yang sudah terbiasa hidup dengan Diana, mampu memahami maksud dan ucapan putri keduanya itu.


"Wah, bonekanya besar sekali, Dania. Pasti di beliin Om Noah ya?" tanyanya sambil menghampiri DAnia yang meronta-ronta minta turun dari gendongan Noah


"Ya," jawabnya sambil menghampiri Ariel dan memeluknya.


Noah menaruh dua boneka besar itu ke atas sofa lalu dirinya duduk dengan santai di sana sambil melihat keakraban ayah dan anak, yang kini ada di hadapannya.


"Diana mana?" tanya Noah.


"Sudah di bawa Luna," jawabnya pelan.


"Kamu yakin Diana aman sama mereka?" tanyanya dengan ragu.


"Entahlah," jawabnya, karena Ariel sendiri pun kadang bimbang dengan keputusannya saat ini, bukan tidak mau percaya dengan pola asuh Luna, hanya saja ia takut, takut misal Diana kenapa napa.


"Jujur aja, aku merasa khawatir dengan Diana. Masalahnya, mereka hanya tinggal berdua tanpa ada ART atau lainnya. Misalnya Dion pergi kerja, hanya tinggal Luna dan Diana. Sedangkan Luna saat ini tengah hamil besar, apa Luna bisa menemani Diana dengan kondisi seperti itu?" tanyanya dengan pelan.


"Aku bingung, Noah. Aku bingung, aku bisa apa. Sedangkan Luna juga berhak atas Diana. aku gak mungkin menolak permintaan mereka. Terlebih hampir setahun ini, Diana bersama aku terus. Dan sekarang, Luna cuma minta waktu seminggu aja buat tinggal bareng Diana. Apa mungkin aku tega menolak keinginan mereka, terlebih Luna. Yang mungkin sudah sangat merindukan putrinya," tutur Ariel membuat Noah bungkam.

__ADS_1


"Iya juga sih, pasti jadi kamu serba salah."


"Hmm, aku cuma berharap seminggu akan cepat berlalu. Dan selama Diana gak ada, aku akan fokus memberikan perhatian aku ke Dania. Mungkin Tuhan memberikan jarak untuk aku dan Diana, agar aku bisa fokus menjaga Dania yang selama ini hampir tidak pernah aku perhatikan. Aku hanya mengirim uang, tapi aku jarang memberikan perhatian padanya secara utuh."


"Iya juga sih, sebelulm Ardi dan Lestari mengambil Dania, kamu bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin buat menjaga dan memberikan perhatian kamu untuk Dania."


"Iya."


"Kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Noah.


"Loh, gak nginep?" tanya Ariel.


"Enggak, aku masih ada banyak kerjaan soalnya."


"Oh gitu, iya udah hati-hati di jalan. Dan terima kasih sudah ajak Dania jalan-jalan."


"Hmm, lagian aku sudah menganggap anak kamu seperti anakku juga. Iya udah aku pergi, InsyaAllah, misal aku ada waktu, besok aku akan ke sini lagi."


"Iya."


"Aku pergi, Assalamualaikum."


"Waalaikumslam." Setelah itu, Noah pun segera pergi dari sana, namun sebelum pergi. Noah masih sempat sempatnya mencium pipi Dania.


Setelah kepergian Noah, Ariel pun main berdua dengan Dania. Noah benar-benar memanfaatkan waktu untuk memberikan banyak kenangan untuk mereka berdua.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Luna sangat bahagia sekali karena kini akhirnya bisa bersama dengan Diana lagi. Saat ini, mereka dalam perjalanan pulang, Diana terpaksa duduk di belakang sendirian karena Dion melarang Luna untuk memangku Diana di depan, apalagi perut Luna yang besar, membuat Dion ketakutan jika sesuatu terjadi pada janin yang Luna kandung.


Awalnya Luna menolak, tapi karena Dion tak ingin di bantah, akhirnya Luna pun hanya bisa diam dan mengiyakan. Untungnya, Diana tidak rewel dan duduk anteng sendirian. Sepanjang jalan,  Diana hanya diam tidak berceloteh. Wajahnya juga terlihat sendu, namun tidak menangis.

__ADS_1


Luna yang diam diam melihat Diana dari kaca spion, merasa hatinya begitu terluka.


"Seharusnya, Diana tidak ikut denganku. Karena aku lihat, Diana tidak bahagia sekali dan terlihat tertekan. Tapi aku juga ingin menghabiskan waktuku bersama dengannya. Maafkan Mama ya, Nak. Mama janji, setelah Mama puas main sama kamu, Mama akan meminta Papamu untuk segera menjemputmu. Untuk saat ini bersabarlah untuk beberapa hari ke depan," gumam Luna dalam hati.


"Kenapa, Sayang? Kok wajahnya sendu?" tanya Dion melihat raut wajah Luna yang terlihat berbeda, tak tampak bahagia seperti saat mereka datang untuk menjemput Diana.


"Gak papa, Mas. Aku cuma capek aja, apa ini masih lama?" tanyanya.


"Sejam lagi sampai, sabar ya."


"Iya, Mas."


Setelah itu, mereka saling diam. Sesekali Luna masih melihat ke arah belakang dan melihat Diana yang masih diam menundukkan kepalanya. Diana tidak memakai sabuk pengaman, karena Luna lupa menyiapkannya. Lagian dia gak tau kalau pada akhirnya, Diana akan duduk sendirian di belakang. Luna sebenarnya ingin menemani Diana, tapi Dion mencegahnya karena jika Luna duduk di belakang, maka dirinya sama seperti seorang sopir.


Jadi mau tak mau, Luna lagi lagi mengalah, namun sepanjang jalan, ia terus memperhatikan Diana, takut Diana ketiduran dan jatuh.


Setelah perjalanan tiga jam lebih, akhirnya mereka pun sampai juga di kediaman mereka.


Luna langsung turun dan membuka pintu belakang, lalu dengan susah payah, dirinya menggendong Diana.


"Sayang, biar aku aja ya yang gendong Diana. Kamu kan lagi hamil besar," tutur Dion lembut. Bukan dirinya gak suka Luna menggendong Diana, hanya saja, ia benar-benar tak ingin anaknya kenapa napa jika Luna mengangkat beban yang berat-berat.


Apalagi anak yang ada dalam kandungan Dion, adalah anak pertamanya dan cucu pertama dari keluarga Erlangga Mahabrata. Dan anak ini sudah banyak yang menantikannya. Misal sampai kenapa napa, bukan hanya dirinya yang kecewa, tapi juga seluruh keluarga besarnya.


"Tapi Mas .... " Luna seakan tak rela jika harus memberikan Diana pada Dion.


"Kamu gak percaya padaku? Bukankah Diana saat ini juga merupakan putriku?" tanya Dion yang membuat Luna diam.


"Aku tidak akan melukainya, aku hanya membantu kamu membawanya ke dalam rumah. Apa keinginan aku terlalu berlebihan? lagian aku juga ingin dekat dengan Diana. Dari dia lahir, sampai sekarang, aku bahkan belum bisa mengambil hatinya. Lalu salahkah aku jika aku juga ingin memanfaatkan waktu ini  untuk dekat dengan putriku?" tanya Dion yang membuat Luna sulit untuk jawab.

__ADS_1


"Baiklah, Diana kamu yang gendong," ujar Luna mengalah. Lalu memberikan Diana pada Dion. Diana hanya diam, tidak menangis, atau berbicara. Dia diam layaknya orang bisu.


Setelah itu, Luna berjalan lebih dulu dan membukakan pintu buat mereka.


__ADS_2