Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ikatan Batin


__ADS_3

Lima hari sudah Ariel dan Noah ada di Jember. Nanti sore, Ardi akan datang lagi ke Jember karena berkas-berkas untuk pernikahannya sudah selesai dan setelahnya, Ardi dan Lestari akan siap untuk menikah secara agama dan negara.


Namun sejak tadi malam, Ardi merasa sangat gelisah sekali. Bahkan ia tidak bisa tidur, ia selalu teringat akan Diana.


Memang beberapa hari ini, Ariel tidak menelfon atau Vidio call Luna, karena dia tak ingin menganggu acara Luna.


Tapi entah kenapa rasa rindu ini menggebu-gebu bahkan kehadiran Dania di sisinya pun tak bisa mengalihkan pikirannya.


"Kamu kenapa?" tanya Noah yang merasa heran melihat wajah cemas Ariel. Bukan hanya wajah cemas tapi Ariel nampak gelisah seperti cacing kepanasan. Enggak mau diam, ke sana kemari seakan tengah gusar memikirkan sesuatu.


"Aku kangen Diana," ucapnya jujur.


"Ya udah telpon aja, atau Vidio call Luna biar kamu bisa lihat wajah Diana. Atau kalau kamu mau, kamu bisa ke rumah Luna sekarang juga."


"Aku gak mau ganggu Luna. Acaranya kan sekarang."


"Kamu tau dari mana?"


"Aku lihat di story' dya kemaren."

__ADS_1


"Hemm apa mungkin kamu gelisah karena Luna akan segera resmi jadi tunangan orang."


"Gaklah. Ya kali aku gelisah cuma masalah seperti itu. Luna sudah bukan lagi urusan aku. Dia hanya Ibu dari anakku. Enggak lebih."


"Yakin?" cibirnya.


"Iya," tegas Ariel agar Noah percaya. Karena memang nyatanya, ia bener bener GK da perasaan apapun pada Luna


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Luna menelfon Ariel.


Ariel pun langsung mengangkatnya.


"Apa? Kok bisa?"


"Ya Tuhan ... iya sudah aku akan segera ke sana."


Lalu Ariel mematikan Hpnya.


"Kenapa?" tanya Noah melihat wajah Ariel yang pucat.

__ADS_1


"Diana masuk rumah sakit. Noah aku minta tolong, jaga Dania ya. Nanti sore kan Ardi datang. Kamu bisa langsung kasih Dania ke Ardi dulu. Aku buru-buru soalnya."


"Oh okay okay. Misal ada apa-apa, langsung telfon aku."


"Iya."


Dan setelah itu, Ariel langsung mengambil dompetnya dan segera pergi dari sana. Untungnya mobil sewaan mereka masih ada di tempat parkir, jad Ariel bisa langsung pergi tanpa ribet harus memesan mobil dulu.


Sepanjang jalan, Ariel terus merasa was-was. Takut, gelisah dan banyak lagi lainnya.


Kadang Ariel bingung, kenapa setiap kali Diana di jaga oleh Luna, ada aja yang terluka. Sebenarnya Luna itu becus apa gak jaga Luna.


Ariel merasa greget sendiri, bener bener greget. Lalu cuma sekali dua kali gak papa. tapi jika sudah berkali-kali, maka Ariel pun merasa gemes sendiri. Karena ia berfikir, jika Luna terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai lupa jika dia merupakan seorang ibu satu anak.


Ariel menyetir dengan kecepatan tinggi, ia bahkan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai rumah sakit dan melihat keadaan Diana.


Setelah mengemudi hampir dua puluh menit, ia akhirnya pun sampai juga di rumah sakit tempat Diana di rawat.


Rumah sakit ini juga adalah tempat dulu ia pernah di rawat saat ia tertimpa banyak musibah hingga tubuhnya pun tidak mampu untuk menopang rasa sakitnya, beban fikirannya.

__ADS_1


Ariel memarkirkan mobilnya secara asal, lalu ia segera berlari dan masuk rumah sakit. Ia tak perlu bertanya lagi, karena tadi Luna sudah memberi tahu kamar dimana Diana di rawat.


__ADS_2