Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pilih Kasih


__ADS_3

Ardi, Ariel dan Noah menunggu bersama Bibi Imah. Ariel bahkan mencengkram kursi rodanya, entah apa yang ia rasakan saat ini. Ardi yang melihat hal itu pun berjongkok di depan kursi roda.


"Kamu kenapa?" tanya Ardi dengan lembut.


"Kamu mau menemani istrimu?" tanyanya. Ardi menyebut kata istri, karena putranya belum mendapatkan surat cerai dari pengadilan agama.


"Maaf ya, papa gak bisa berbuat apa-apa. Papa gak mungkin mengganggu dokter yang ada di dalam, hanya untuk meminta mereka membukakan pintu biar kamu bisa masuk. Nanti malah menganggu konsentrasinya. Sabar ya, Nak. Kamu doakan aja semoga istrimu baik-baik di dalam sana. Semoga Allah memberikan kelancaran agar Luna bisa melahirkan dengan mudah," tutur Ardi dan Ariel mengedipkan matanya. Ardi senang karena mendapatkan respon dari Ariel, walaupun tidak terlalu pesat, tapi setidaknya ada kemajuan.


"Itu tas siapa Bi?" tanya Noah melihat di samping Bibi ada dua tas besar.


"Oh ini tas berisi keperluan dede bayi dan Non Luna, Tuan," sahutnya.


Mendengar kata keperluan dede bayi, Noah langsung melihat ke arah Ardi.

__ADS_1


"Om sudah membelikan hadiah buat Cucu Om?" tanyanya.


"Sudah, tapi ada di rumah. Belum sempat Om kasih. Seharusnya sudah Om kasih beberapa hari yang lalu, tapi karena sibuk mengurus Ariel, Om lupa." sahutnya.


"Ada di mana Om? biar aku ambilkan," tuturnya.


Noah sendiri emang sengaja belum membelikan baju buat keponakannya itu, karena ia sendiri belum tau jenis kelaminnya, ia ingin membelikan baju pink, yang semuanya serba pink. Tapi takutnya malah yang lahir cowok. Jadi, Noah akan menunggu, baru setelah tau  jenis kelaminnya, ia akan memborong baju untuk keponakann kesayangannya.


Belum sempat Ardi menjawab, Bibi Imah langsung membuka suara.


"Oh Luna sudah beli ya," ujar Noah.


"Enggak, Tuan. Tapi ini di belikan," sahutnya.

__ADS_1


"Sama keluarga Luna?" tebaknya. "Wah Om kalah nih, besannya yang ada di Jember aja sudah membelikan lebih dulu. Om yang jaraknya lebih dekat, malah belum sempat ngasih," godanya, sebenarnya Noah hanya ingin mencairkan suasana aja, biar gak tegang. Dan juga bisa mengalihkan fikiran Ardi yang masih terlihat sangat marah.


Ingin rasanya Bibi Imah bilang kalau yang membelikan itu adalah Dion. Namun karena takut mereka akan marah, Bibi Imah pun langsung bungkam.


"Enggak papa. Om tidak peduli, siapa yang lebih dulu ngasih, yang penting niat tulusnya dan doanya." tutur Ardi.


"Om benar. Mau aku ambilkan sekarang?" tanyanya.


"Besok aja, kamu juga pasti sudah lelah dari tadi nyetir sambil ngebut kayak gitu. Om takut kamu kenapa-napa. Nanti malah, Om yang di salahkan sama keluarga kamu. Besok pagi aja kalau mau di ambil, di sana ada dua dus besar. Kamu bawa aja ke rumah Luna, jangan di bawa ke sini. Kan yang di sini, sudah di siapkan sama Luna. Dan Luna juga mungkin hanya di rawat satu Minggu. Kalau di bawa ke sini, malah nanti ribet sendiri, karena harus di bawa pulang lagi ke rumah Luna," sahutnya.


Dan Noah pun mengangguk setuju.


"Keluarga Luna sudah di kabari, Bi?" tanya Noah lagi.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Dan mungkin saat ini mereka sudah ada di bus, kemungkinan besok sore sudah sampai." Bibi Imah tau, karena Luna yang memberitahunya kalau besok orang tuanya akan datang.


"Oh, syukurlah. Luna ingat sama orang tuanya, tapi Luna malah lupa sama suaminya sendiri. Padahal Ariel jauh lebih berhak tau akan kelahirannya buah hatinya," gerutu Noah kesal. Namun ia tak menampakkkannya dan memilih diam. Ia tak mau membuat suasana semakin memanas.


__ADS_2