
Setelah berjam-jam, Ariel dan Noah pun akhirnya tiba di kediaman Ariel dan Luna. Rasanya pinggang mereka mau patah karena duduk berjam jam di dalam mobil. Namun pada akhirnya mereka senang karena tiba dengan selamat sampai tujuan.
Ariel dan Noah berjalan menuju pintu utama, mereka mengetuk pintu dan membunyikan bell rumah, tak lama kemudian pintu pun terbuka. Dan betapa kagetnya Bibi Imah melihat majikannya sudah pulang.
"Bi, Luna sudah sampai?" tanya Ariel.
"Non Luna kan belum balik ke Jakarta, Tuan," jawabnya membuat Ariel dan Noah melongo. Bagaimana mungkin mereka belum sampai jika merkea pulang lebih dulu dari pada mereka.
"Bibi yakin?" tanyanya.
"Iya, lagian Non Luna belum menelfon Bibi kalau akan balik hari ini," sahutnya. Ariel menatap Noah dengan tatapan tajam.
"Kamu yakin Luna pulang hari ini?" tanya Ariel menatap ke arah sepupunya itu.
"Yakinlah, gak mungkin informant aku salah," balasnya dengan yakin sekali.
"Tapi kenapa Luna belum sampai rumah?" tanyanya kesal.
"Ya mana aku tau, mungkin mereka lagi istirahat. Atau gimana, kan kita gak tau. Lagian kamu dari tadi ngebut terus nyetirnya, bahkan kita juga gak istirahat sama sekali. Wajar jika kita sampai lebih dulu dari mereka," ujarnya, tak terima jika dirinya di salahkan.
Mendengar hal itu, membuat Ariel hanya bisa menghela nafas kasar.
"Bibi, aku boleh minta tolong," ujar Ariel sambil masuk ke dalam, karena dari tadi mereka bicara di luar pintu.
"Minta tolong apa, Tuan?" tanya Bibi Imah.
Sedangkan Noah, ia ikut masuk ke dalam dan tiduran di sofa untuk meluruskan pinggangnya yang terasa mau patah setelah perjalanan jauh.
"Tolong telfon Luna ya, Bi. Tanyakan dia ada di mana, soalnya aku khawatir banget," pintanya meminta tolong.
"Baik, Tuan."
Bibi Imah langsung mengambil Hp di kamarnya lalu membawanya ke ruang tamu, lalu ia menelfon Luna. Untungnya terhubung, membuat Ariel bernafas lega.
"Nanti kalau di angkat, tolong di pengeras suaranya di aktivkan ya, Bi. Tapi jangan bilang kalau aku ada di rumah," ucapnya lagi dengan suara pelan. Bibi Imah mengerti, ia memencet tombol pengeras suara.
"Halo, Bi. Assalamualaikum," sapa Luna lebih dulu setelah mengangkat panggilan dari Bibi.
"Waalaikumsalam. Gimana kabarnya, Non?" tanyanya sambil sesekali menghadap ke arah Ariel yang ikut mendengarkan perbincangan istrinya itu.
"Alhamdulillah Baik, Bi. Bibi gimana kabarnya? Oh ya, Bibi Neni gimana, sudah sembuh?" tanyanya.
"Kabar Bibi, baik, Non. Bibi Neni juga sudah sembuh, kemaren sore sudah di bawa ke dokter. Katanya cuma kelelahan aja, suruh istirahat," sahutnya.
"Oh gitu, syukurlah."
"Non Luna kapan balik ke Jakarta, Bibi kangen," ujarnya membuat Ariel tersenyum karena Bibi Imah mengerti apa yang ia maksud.
__ADS_1
"Aku sudah balik dari tadi siang, Bi. Cuma sekarang masih ada di Yogya."
"Loh ngapain di Yogya, Non?"
"Nginep di hotel, Bi. Capek rasanya, perutku kram, jadinya aku berhenti di hotel dulu, buat istirahat, dan akan melanjutkan perjalanan besok pagi."
"Non Luna pulang bareng siapa?" tanya bibi Imah.
"Sama Mas Dion, Bi. Sama sopir lagi. Tapi tenang aja, aku sama Mas Dion walaupun nginep di hotel, tapi kami tidur terpisah," ujar Luna, takut Bibi Imah berfikir negatif.
"Oh, syukurlah. Kira kira Non Luna sampai Jakarta, kapan?"
"Mungkin Lusa, Bi."
"Kok lama, Non?"
"Aku mau ke rumah Mas Dion dulu, tadi orang tuanya nelfon Mas Dion, terus aku di suruh ke sana, sekalian mampir. Aku juga mau ngunjungi wisata di Bandung, kan yang pas kita pergi, gak semua wisata kita kunjungi, Bi. Iya kan?" tanyanya.
"Ia, Non. Jadi Non Luna masih lusa nih sampai Jakarta?"
"Iya, Bi. Kalau gak ada hambatan," jawabnya. Membuat Ariel menahan rasa amarah, sedangkan Noah hanya terkekeh. Ia tau, jika ARiel pasti cemburu karena Luna menginap di hotel bareng laki laki lain, walaupun mereka tidur terpisah, tetap saja mereka libur bersama. Terlebih Luna akan jalan jalan bersama laki-laki yang kini tengah dekat dengannya. Sedangkan Ariel di sini gak bisa berbuat apa apa. Selain hanya bisa menahan rasa amarahnya.
"Ini pengeras suaranya sama Bibi di hidupkan ya?" tanyanya karena suaranya seperti mantul.
"Iya, Non. Soalnya Bibi nelfon sambil masak, jadi biar denger, hpnya Bibi hidupkan pengeras suaranya."
"Oh gitu, masak apa Bi?" tanyanya, tanpa menaruh rasa curiga.
"Tapi kok aku gak denger Bibi lagi menggoreng, gak ada suaranya Bibi masak." ujarnya heran.
"Mungkin gak kedengeran, Non."
"Oh gitu, iya sudah. Aku matikan dulu ya, Bi. Mau istirahat."
"Siap, Non."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan setelh itu, Bibi Imah pun mematikan telfonnya. Bibi Imah melihat ke arah Ariel yang terlihat kesal dan seperti menahan rasa amarah yang luar biasa, membuat Bibi Imah yang melihatnya pun jadi ketakutan.
"Bi, tolong siapakan makan malam ya, Bi. Aku belum makan soalnya, sekalian buatin aku jus alpukat ya, Bi. Esnya dikit aja." pinta Noah, mencoba untuk mencairkan suanasa karena ia melihat wajah Bibi Imah pucat, mungkin Bibi Imah ketakutan melihat wajah majikannya yang kini tengah emosi.
"Alpukatnya gak ada, Tuan. Bibi belum beli," ucapnya jujur.
"Adanya apa, Bi?" tanyanya.
__ADS_1
"Enggak ada Buah apa apa di kulkas, Tuan. Bibi belum belanja, karena Bibi gak tau jika Tuan akan pulang hari ini," sahutnya takut.
"Hmm gitu, ya sudah buatkan es teh aja, ada kan?" tanyanya.
"Ada, Tuan."
"Ya sudah, es teh dua ya, Bi."
"Baik, Tuan."
Dan setelah itu, Bibi pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan es teh. Sengaja Noah memesan yang dingin dingin agar bisa menghilangkan api membara yang tengah membakar jiwa saudaranya itu.
"Sialan Dion, istri orang bukannya di bawa pulang, malah di bawa jalan jalan," umpat Ariel setelah Bibi pergi dari sana.
"Kamu gak denger, istrimu itu perutnya lagi kram, wajar jika mereka berhenti dulu di hotel, dari pada kenapa napa, emang kamu mau anakmu meninggal di jalan Hah?" tanyanya kesal karena Ariel sedari tadi emosi mulu.
"Terus itu kenapa masih mampir ke rumah orang tuanya Dion, emang Luna apanya mereka?" tanyanya.
"Ya gak papalah, sekalian mampir, toh mereka melewati Bandung. Sekalian bisa istirahat lagi di sana. Toh Luna juga gak keberatan buat ke sana. Hitung hitung sekalian liburan," jawab Noah yang menjawab terus dari tadi.
"Tapi mereka itu orang tuanya Dion, gak ada hubungannya sama Luna. Dan apa tadi, masih mau jalan jalan di Bandung. Kenapa harus ngajak Dion, kenapa bukan ngajak aku, yang jelas jelas suaminya dan ayah dari anak yang di kandungnya. Gitu Luna nyalahin aku bareng Laras, nyatanya dia sendiri juga lagi menikmati masa masa berduaan dengan laki laki lain," ucapnya dengan nada marah.
Mendengar hal itu, membuat Noah hanya bisa menghela nafas.
"Luna ngajak Dion karena memang kebetulan bareng Dion. Mau ngajak kamu, lah kamu aja sama Luna sekarang lagi marahan. Lagian itu mungkin keinginan dede bayinya yang pengen jalan jalan. Sudahlah, jangan marah gitu. Lagian mereka loh gak kayak kamu dan Laras. Yang menjalani hubungan secara diam diam. Aku percaya sama Luna, dia gak mungkin menghianati pernikahannya. Dia itu wanita baik baik, dia gak akan sampai melewati batas. Lagian dia gak berdua sama Dion, ada sopir di antara mereka. Jadi santai aja kali," tuturnya.
"Kamu enak bilang santai, karena bukan kamu yang merasakan. Aku mana mungkin bisa santai, sedangkan sekarang istriku sama laki laki lain di luar sana. Bahkan mereka juga akan pulang lusa. Astaga, itu artinya masih dua hari lagi mereka sampai di rumah ini. Aku bahkan rela ngebut ngebut di jalan, biar bisa segera ketemu Luna di sini. Tapi apa yang aku dapat, cuma kekecewaaan darinya," ujarnya frustasi.
"Sudahlah, kamu emangnya mau apa, mau nyusul Luna ke Yogya dan bikin suasana semakin menjadi runyam. Saat ini aja, Luna sudah benci banget sama kamu. Jangan sampai kamu menambah kebencian Luna hingga Luna muak sama kamu dan dia menjauhkan kamu dengan anak yang ada dalam kandungannya," omelnya membuat Ariel benar-benar frustasi. Ingin sekali ia menjemput Luna ke Yogya, tapi ia juga takut, takut jika Luna semakin menbencinya karena ia menyurul Luna ke sana.
"Aku harus gimana sekarang?" tanyanya dengan suara lemah.
"Tunggu aja mereka di sini. Nanti jika sudah tiba waktunya, mereka juga pasti pulang, lagian ini kan rumah Luna. Enggak mungkin Luna gak pulang ke rumah ini," sahutnya sambil memainkan hpnya. Seakan akan ia tak terlalu bermasalah walaupun Luna gak pulang cepat. Ia ingin memberikan Ariel pelajaran, biar tau rasanya gimana jika pasangan kita berduaan dengan orang lain.
"Huh." Ariel menjambak rambutnya dan menghentakkan kakinya di lantai dengan keras. Hingga membuat Noah meringis mendengarnya. "Pasti sakit," gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, Bibi datang membawakan dua es teh.
"Makasih ya, Bi," tuturnya sopan.
"Iya, Tuan."
Setelah menaruh minuman di atas meja, Bibi Imah kembali ke dapur untuk masak makan malam buat mereka. Karena sebenarnya Bibi Imah belum memasak, tadi terpaksa berbohong karena terpaksa, gara gara keadaan yang tak berpihak padanya.
"Minum dulu gih, biar otakmu gak panas, biar reda tuh amarahnya," ujar Noah sambil mengambil segelas es teh dan meminumnya. Ariel pun melakukan hal yang sama, ia bahkan menghabiskan segelas es teh, membuat Noah yang melihatnya pun hanya bisa menatapnnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Noah bahkan tak bisa menghabiskannya sekaligus, tapi berbeda dengan Ariel, mungkin karena di kuasai amarah hingga dengan mudah menghabiskan minumannya.
__ADS_1
Ariel berdiri, ia jalan bolak balik ke sana kemari, seakan bingung harus melakukan apa. Mungkin ia ingin pergi menjemput Luna, tapi ia takut, takut jika akan membuat suasana yang sudah mencekam semakin mencekam karena ulahnya.
"Seperti inikah rasanya saat aku bersama dengan Laras, Lun? Rasanya gak enak, takut dan gelisah. Aku juga khawatir takut kamu kenapa napa di sana. Aku juta takut, takut jika kamu akan terjebak oleh keadaan hingga kamu melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan bersama dengan Laras. Walaupun aku yakin, kamu gak akan melakukan hal yang hina itu. Aku percaya, iman kamu tak setipis aku. Kamu pasti bisa menjaga batasan kamu sebagai istriku. Oh Tuhan, jaga Lunaku di mana pun dia berada," gumam Ariel dalam hati.