
Keesokan harinya, sehabis sholat shubuh, Luna jalan-jalan di sekitar rumah di temani oleh adiknya Lintang. Sebenarnya Dion yang ingin menemani, hanya saja Luna menolak dengan alasan apa kata tetangga jika sampai Luna jalan bareng sopir pribadinya, berduaan. Jadinya, Lintang lah yang menemani. Sedangkan Dion, ia diam di rumah dan sibuk dengan laptopnya. Bibi Imah dan Bibi Neni membantu Bunda Naira untuk memasak dan bersih-bersih rumah sedangkan Ayah Lukman, dia tengah ada di belakang rumah, membersihkan pekarangan.
Rencananya, sehabis sarapan pagi, Dion akan kembali ke Bandung untuk bekerja, karena ia sudah berhenti kerja sebagai sopir. Namun ia janji akan datang ke Jember lagi menjenguk Luna saat hari pengajian empat bulanan kehamilan Luna yang kurang dua Minggu lagi.
Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni, mereka juga akan kembali ke Jakarta untuk membersihkan rumah Luna yang di tinggal begitu saja, terlebih Luna masih belum tau kapan dia akan kembali ke Jakarta. Bibi Imah dan Bibi Neni akan pulang bareng rombongan karyawan resto yang masih ada di Jember dan menginap di penginapan yang tak jauh dari rumah Luna.
Luna sudah menghubungi Anggi, jadi nanti travelnya akan ke rumah Luna dulu sebelum pulang ke Jakarta. Sedangkan Dion, ia akan pulang naik pesawat untuk mempercepat sampainya. Jadi gak buang-buang waktu di jalan. Mobilnya yang sebelumnya di pakai buat Dion buat antar Luna ke Jember, kini masih di pakai oleh Noah. Dan entah ada di mana sekarang, karena sampai detik ini, Noah belum menghubungi Luna sama sekali.
Jam tujuh, semua makanan sudah tersaji di ruang tengah, karena ruang makannya gak terlalu luas, jadi makannya di ruang tengah aja sambil duduk di lantai. Ya mereka semua makan lesehan.
Luna yang sudah selesai jalan-jalan pagi dan sudah selesai mandi juga ikut gabung sama mereka semua.
"Nak Dion, jadi pulang hari ini?" tanya Ayah Lukman.
"Iya, Om. Habis sarapan langsung berangkat, tadi sudah pesan mobil online, mungkin dua puluh menit lagi sampai," jawab Dion.
"Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai hubungi Luna, biar orang-orang di sini terutama Om bisa tenang kalau dengar Nak Dion sudah sampai di rumah dengan selamat," ucapnya memberitahu.
"Iya ,Om. InsyaAllah, nanti saya akan langsung hubungi Luna," balasnya.
"Bibi Imah sama Bibi Neni, yakin mau pulang hari ini? Gak mau menginap lagi?" tanya Bunda Naira ramah, walaupun baru kenal gak terlalu lama, namun mereka sudah cukup akrab. Terlebih Bunda Naira tau, jika selama di Jakarta, mereka berdua sudah memperlakukan Luna dengan sangat baik sekali. Jadi, Bunda Naira pun juga memperlakukan Bibi Imah dan Bibi Neni seperti saudaranya sendiri, karena mereka pun hampir seumuran.
"Yakin, Ibu Naira," jawab Bibi Imah, ia memanggil Ibu Naira, karena Bunda Naira, gak mau di panggil Nyonya.
"Ya sudah, saya gak maksa. Tapi jika memang ada waktu, kalian bisa datang ke sini. Rumah ini sangat terbuka buat kalian semua," tutur Bunda Naira dan mereka pun menganggukkan kepala.
"Lintang gak mau ikut Kakak ke Bandung?" tanya Dion ke Lintang, calon adik iparnya itu.
"Enggak, Kak. Kapan-kapan aja, kalau Mbak Luna mau ke Bandung, baru Lintang ikut. Itupun kalau Lintang pas lagi liburan sekolah, karena kalau gak liburan, Lintang gak bisa, takut ketinggalan pelajaran," jawab Lintang sopan.
"Owh, ya sudah kalau lagi sekolahnya libur, terus pengen ke Bandung, telfon Kakak aja, nanti Kakak jemput," sahut Dion dan Lintang pun menganggukkan kepalanya.
Mereka pun sarapan sambil mengobrol santai. Selesai makan, mereka masih sempat untuk minum teh sambil menunggu mobil yang di pesan Dion datang.
__ADS_1
"Nak Dion, terima kasih ya, sudah ada buat Luna selama ini," ucap Bunda Naila lagi. Karna kata Luna, Dion itu baik dan selalu ada untuknya, sama seperti Bibi Imah dan Bibi Neni.
"Sama-sama, Tan. Saya juga senang bisa ada di saaat Non Luna Butuh," balasnya, tanpa sadar mengucap kata Non.
"Kok panggil Non lagi, kamu kan sudah aku pecat jadi sopir aku, Mas," ujar Luna cemberut membuat mereka yang ada di sana terkekeh mendengarnya.
"Hehe ya, Maaf. Kebiasaan jadinya suka lupa," sahut Dion terkekeh.
"Hemm, awas manggil Non lagi. Aku akan ngambek dan gak mau ngomong lagi sama Mas Dion," tuturnya masih memajukan bibirnya yang malah terlihat semakin menggemaskan.
"Iya, aku usahakan, gak manggil Non lagi. Okay." Dion menatap ke arah Luna, ia sedih karena harus berjauhan dengan Luna, karena entah kenapa Dion selalu ingin ada di dekatnya.
Dion benar-benar jatuh hati sama Luna, tapi ia juga gak punya alasan yang kuat untuk terus menginap di rumah orang tua Luna, dirinya hanya orang luat, terlebih Luna juga sudah memecatnya. Alasan apalagi yang harus ia katakan. Lagian Dion juga gak mungkin terus menerus mengabaikan pekerjaannya, ia harus segera kembali dan menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menggunung itu.
Lintang, Ayah Lukman dan Bunda Naira, lebih suka Dion ketimbang Ariel. Entah kenapa, mereka lebih nyaman aja. Bukan karena Dion lebih kaya dan merupakan seorang sultan, tapi karena Dion itu sangat ramah sama mereka dan mau makan lesehan, makan apa yang mereka makan, dan mau membantu Ayah Lukman di sawah tanpa rasa jijik dan lain sebagainya.
Dion juga sangat baik sama Lintang, bahkan tanpa mereka tau, Dion juga diam diam memberikan uang buat Lintang sebesar lima juta. Katanya buat jajan Lintang, awalnya Lintang menolak tapi karena Dion memaksa, akhirnya Lintang pun mengiyakaan dan menerima uang itu.
Beberapa menit kemudian, mobil online yang di pesan Dion pun datang. Dion langsung segera pamitan ke mereka semua.
"Ya, semoga aja. Untuk itu, Nak Dion harus sering sering datang ke sini, karena kalau kami yang kesana, selain gak tau jalan, juga gak punya kendaraan, bingung juga karena kami hanya orang desa, tidak pernah pergi keluar kota. Takutnya malah kesasar kalau nekat," tutur Ayah Lukman di selangi candaan biar gak terlalu kaku.
"InsyaAllah, Om. Saya akan sering sering datang ke sini," balas Dion tersenyum.
"Bibi Imah, Bibi Neni. Terima kasih ya atas semua kebaikan kalian selama ini. Aku janji, jika ada waktu, Aku akan sering-sering menjenguk Bibi Imah dan Bibi Neni. Jangan lupa juga sering kirim kabar, biar gak putus silaturahmi ya, Bi," ucap Dion pamitan kepada Bibi Imah dan Bibi Neni.
"Iya, Mas. Mas Dion hati-hati ya di jalan. Jangan lupa hubungi Bibi kalau sampai hiks hiks ...." Bibi Imah dan Bibi Neni menangis, bagaimanapun mereka sudah cukup dekat selama beberapa bulan terakhir ini. Dan saat ini, Dion tak lagi kerja sama Luna, itu artinya buat mereka bertemu pun susah karena Dion akan kembali ke Bandung.
"Iya, Bi. Nanti aku pasti akan menghubungi Bibi IMah dan Bibi Neni," ujar Dion berusaha untuk tersenyum.
Terakhir ia pamitan ke Luna.
"Lun, terima kasih untuk semua kebaikan kamu selama ini. Kamu juga mengajarkan banyak hal sama aku, kebaikan, berbagi kepada sesama tanpa melihat status sosial, belajar arti kesabaran, belajar bagaimana menjadi orang yang tegar, di siplin waktu, dan fokus ibadah. TErima kasih untuk semuanya, jika kelak kamu sendiri, izinkan aku menjadi orang pertama yang mendaftar untuk bisa bersama kamu membina rumah tangga," ucap Dion yang langsung membuat Ayah Lukmah berdehem.
__ADS_1
Dion yang melihat itu, hanya merasa malu.
"Maaf, Om," ucap Dion dengan muka memerah menahan malu. Luna pun yang tadinya sedih malah jadi ketawa.
"Mas hati-hati ya di jalan, jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai. Dan masalah jodoh, biarkan Allah yang menentukan. Jika memang kita ada jodoh, pasti gak akan kemana. Untuk saat ini, cukup kita saling mendoakan aja, dan biarkan aku menyelesaikan masalahku terlebih dahulu dan menenangkan hati dan fikiran aku," balas Luna yang membuat Dion menganggukan kepala.
"Aku akan selalu berdoa, semoga kamulah jodohku," ujar Dion yang lagi lagi mendapatkan tatapan mematikan dari Lukman. Bagaimana tidak, anaknya aja belum cerai, sudah bahas jodoh.
"Hehe maaf ya, Om. Anaknya Om terlalu cantik, baik, sholehah, sabar, tulus dan sempurna sampai membuat hati saya meleleh, tapi tenang aja, saya gak akan mengajak Luna menjalin hubungan sebelum masalah Luna selesai," ujar Dion menjelasksan. Yang lainnya pun hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kamu gak mau pulang, itu sopirnya sudah menunggu dari tadi loh," sindir Ayah Lukman.
"Hehe iya, Om."
Dan setelah itu, Dion pun langsung pamitan dan pergi dari sana. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia masih menatap ke arah Luna.
Setelah merasa puas, barulah Dion masuk ke dalam, lalu ia membuka kaca jendela mobil.
Padahal mobil sudah mulai di hidupkan dan siap jalan. Namun Dion masih sempat sempatnya bilang, "LUN, I LOVE YOU," ucapnya sebelum akhirnya mobil itu pergi dan membuat Luna malu akan tindakan Dion yang terlalu bar bar.
"Ya ampun itu anak, Luna aja masih status istri orang. Dia malah seenaknya bilang gitu," ucap Ayah Lukmah geleng-geleng kepala.
"Ya namanya anak muda, Yah. Yang penting kan mereka gak selingkuh dan Dion tau apa yang harus dia lakukan. Dion juga gak akan mengajak Luna pacaran jika status Luna masih istri orang. Dia hanya mengungkapkan perasaannya saja, gak lebih," bella Bunda Naira, yang emang suka jika kelak Dion akan jadi menantunya menggantikan posisi Ariel.
Baru mereka akan masuk ke dalam, travel datang untuk menjemput Bibi Imah dan Bibi Neni.
Awalnya Anggi yang turun dari Bus Travel, namun setelah itu, anak anak yang lain pun ikut turun, akhirnya mereka pun mengobrol di ruang tamu. Luna sendiri gak merasa keberatakan, malah ia senang karena bisa mengobrol dengan mereka. Karena kemaren, Luna belum sempat mengobrol karena insiden yang memalukan itu yang di buat oleh dirinya sendiri.
Bunda Naira, di bantu Bibi Imah dan Bibi Neni langsung buat teh hangat dadakan.
Ruang tamu pun sampai penuh karena mereka pada masuk semua. Lintang dan Ayah Lukman pun menemui mereka sebagai keluarga Luna.
Setelah hampir sejam, barulah Anggi pamit pulang, tentu Bibi Imah dan Bibi Neni juga pamitan karena mereka berdua akan ikut travel Anggi.
__ADS_1
Luna juga menitip mereka berdua dan meminta sang sopir untuk mengantarkan Bibi Imah sama Bibi Neni sampai depan rumah dengan selamat. Tak lupa Luna juga memberikan bonus buat sang sopir. Luna juga menitipkan uang buat Anggi, agar nanti saat mereka berhenti di kafe, atau di manapun, bisa jajan biar gak ngantuk selama di jalan. Apalagi itu perjalanan yang cukup jauh, tentunya akan berhenti beberapa kali. Jadi Luna memberikan uang yang cukup banyak agar semuanya kebagian.
Luna juga tak lupa memberikan dua kunci, kunci rumah miliknya dan kunci kontrakan milik Laras untuk di bersihkan. Untuk kontrakan Laras sendiri, Luna masih bingung mau di buat apa sedangkan sisa kontrakan masih banyak, jadi sangat di sayangkan jika di biarkan begitu saja. Mungkin nanti bisa di fikirkan kembali setelah Luna kembali ke Jakarta.