Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Luna Akan Balik Ke Jakarta


__ADS_3

Acara pengajian berjalan lancar, mereka mulai pulang satu persatu, setiap anak di kasih bingkisan berupa peralatan sekolah dan ada amplop juga yang berisi dua ratus ribu per anak. Para pengurus pun juga di kasih bingkisan, pengurus wanita di kasih bingkisan mukenah dengan uang berisi satu juta, dan pengurus laki-laki di kasih bingkisa sarung dang baju koko dengan uang sebesar satu juta.


Sedangkan tetangga, mendapatkan bingkisan kue dan uang senilai dua ratus lima puluh ribu. Tentu mereka senang, bagi orang kampung uang segitu sangatlah banyak. Malah mereka berharap Luna sering bikin selametan di sini, agar mereka pun ketibang rezeki.


Orang-orang yang ikut bantu bantu Luna di rumah juga mendapatkan hadiah uang, yah bagaimanapun Luna gak mau mereka mengeluarkan tenaga begitu saja, harus ada upah yang mereka dapatkan. Walaupun cuma seratus ribu, tapi mereka cukup senang, toh awalnya mereka ikhlas bantu, gak berharap dapat apa-apa dari Luna, tapi karena Luna ngasih, maka mereka pun juga tak ragu untuk mengambilnya. Bukankah rezeki gak bisa ditolak.


Jam satu siang, semua kursi sudah tersusun rapi dan kini sudah di kembalikan ke Mak Ijah, pemilik kursi, tentu ada harga yang harus di bayar, bagaimanapun Mak Ijah emang membuka bisnis menyewakan terop dan kursi bagi mereka yang membutuhkan.


Dan kini tak ada lagi kursi yang berjejer di halaman rumah, semuanya sudah bersih bahkan sampah-sampahpun juga sudah tak ada, mereka bergotong royong menyapu bersama hingga cepat terselesaikan.


Dan kini mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan tinggal Luna, Lintang, Bunda Naira dan Ayah Lukman.


"Masih ada sisa nasi sektiar dua puluhan," ucap Lintang memberitahu.


"Nanti kasih ke tetangga aja, yang gak kebagian," ujar Luna yang duduk sambil berselonjor di lantai.


"Iya, mbak," jawab Lintang sambil duduk di sana. Di temani es teh dan beberapa kue.


"Kamu masih ada uang, Nak?" tanya Ayah Lukman.


"Iya, Yah. Apa Ayah butuh uang?" tanyanya khawatir jika Ayahnya tak memegang uang.


"Ayah ada kok pegangan. Ayah cuma khawatir sama kamu, takut jika uang kamu habis karena kan hari ini kamu pasti habis banyak," ucap Ayah Lukman mengungkapkan kekhawtirannya.


"Ah soal itu, Ayah tenang aja, tabungan aku masih banyak.  Jadi jangan khawatir," ucap Luna meyakinkan karena memang saat ini uangnya cukup banyak, apalagi ia mendapatkan kiriman ung seratus juta dari Dion, katanya itu buat dede bayi karena gak bisa hadir. Awalnya  Luna menolak tapi karena Dion memaksa, jadinya Luna terima aja, toh dia gak minta, tapi di kasih.


"Syukurlah, Ayah lega dengernya," tutur Ayah Lukman. Mereka pun mengobrol santai di ruang tamu meleps rasa lelah.


"Oh ya, tadi seseorang bilang sama ayah kalau suamimu hadir di pengajian tadi," ucap Ayah Lukman memberitahu.


"Benarkah? Kok aku gak tau?" tanya Luna.


"Ia, tapi dia datangnya bersama saudaranya yang bernama Noah itu. Tapi mereka gak mendekat, mereka duduk di bawah pohon, di pinggir jalan. Dan setelah pengajian selesai, mereka buru-buru pulang, mungkin takut ketahuan, terus diusir. Jadinya mereka langsung pergi setelah selesai berdoa."


"Oh gitu, syukurlah, aku juga lagi gak mood soalnya bertemu dengan dia," sahut Luna cuek.


"Kamu itu jangan terlalu cuek, bagaimanapun dia itu ayah dari janin yang kamu kandung, Nak. Dia berhak untuk mengetahui apapun yang berkaitan dengan anaknya."


"Aku tau, Ayah. Tapi aku belum siap jika harus bertemu dengannya, nanti jika aku  sudah melahirkan, terserah jika dia mau lihat bayinya, tapi sekarang, aku gak mau ketemu dia dulu," ujar Luna mengungkapkan perasaannya.


"Baiklah, terserah kamu." Ayah Lukman pun tak mau terlalu ikut campur dengan kehidupan putrinya, karena dialah yang merasakan rasa sakitnya, dialah yang tau apa yang terbaik buat hidupnya, dan Ayah Lukman hanya bisa  mendukung selama itu bisa membahagiakan putrinya.


"Kak Dion kapan mau datang, Mbak?" tanya Lintang mengalihkan perhatian mereka.


"Nanti sore, paling lambat nanti malam," jawab Luna, entah kenapa kalau membahas Dion, hati Luna menghangat.


"Wah, Kak Dion pasti bawa banyak oleh-oleh," ujar Lintang yang tak sabar bertemu dengan Dion, walaupun baru satu kali bertemu, tapi mereka cukup akrab.

__ADS_1


"Pastinya, dong. Mana mungkin Mas Dion gak bawa oleh-oleh, dia aja tadi pagi ngasih Mbak uang seratus juta," ucap Luna santai, membuat Lintang, Bunda Naira dan Ayah Lukman kaget.


"Se ... seratu juta?" tanya Lintang gagap, karena mendengar uang sebanyak itu.


"Iya, katanya buat dede bayi. Aku awalnya nolak, tapi karena dia maksa, dan sudah terlanjur di kirim juga, ya aku terima. Lagian uang seratus juta buat dia yang merupakan seorang sultan sama kayak uang seratus ribu, atau mungkin cuma sepuluh ribu," balas Luna membuat mereka jadi menerka-nerka seberapa kayanya seorang Dion.


"Apakah Kak Dion lebih kaya dari Mas Ariel?" tanya Lintang lagi.


"Jauh, lah. Mas Dion mah hartanya tak terhitung," sahut Luna gak melebih-lebihkan, tapi melihat dari istanaa tempat tinggalnya, asisten yang kerja di rumahnya, dan juga melihat usaha yang di kelola oleh Dion, bisa di pastikan hartanya pun sangat berlimpah ruah.


"Astaga, pasti dia gak pernah merasa kekurangan uang ya, pengen beli apa aja, tinggal nunjuk tanpa melihat harganya," ucap Lintang.


"Hmmm ... beda sama kita ya, Lin. Tapi kita harus bersyukur, walaupun tak punya harta yang berlimpah ruah, tapi setidaknya kita gak sampai merasakan kelaparan," ujar Luna.


"Benar, Nak. Kalau kita lihat ke atas terus, maka kita pasti akan merasa kurang dan kurang, tapi jika kita lihat ke bawah, maka kita akan bersyukur. Lagian punya banyak harta juga gak enak, hisabnya banyak, pertanggung jawabannnya nanti itu yang berat, karena akan di tanya hartanya dari mana dan di buat apa saja, beda sama yang hartanya pas pasan, mereka tau kemana aja harta yang ia punya, paling-paling buat makan," tutur Ayah Lukman menasehati putrinya.


Mereka terus mengobrol hingga jam setengah dua, Luna memutuskan untuk mandi lebih dulu, sholat dhuhur lalu bobok siang. Sedangkan Lintang, ia memilih untuk bermain game, karena ia sudah sholat tadi di musholla bersama ayahnya. Bunda Naira sendiri, ia akan nyapu dulu dan bersih bersih ruang tamu, baru setelah itu, ia akan mandi lalu sholat, karena ia juga belum sholat dhuhur.


Jam empat sore, Luna bangun dari tidurnya karena terganggu dengan suara hp Luna.


Luna mengangkatnya dengan mata yang terpejam.


"Assalamualaikum, Lunaku."


"Waalaikumsalam."


"Lagi apa?"


"Maaf ya, aku ganggu ya."


"Hmm  ..."


"Aku cuma mau bilang mungkin aku bisa ke sana besok pagi."


"Kenapa?"


"Ada terkendala di pesawatnya, harus ganti pesawat."


"Oh okay."


"Gak papa, kan?"


"Enggak papa kok, santai aja."


"Ia sudah, kamu tidur dulu aja lagi, maaf ganggu ya."


"Aku udah gak bisa tidur, udah gak ngantuk," ucap Luna yang membuka matanya dan menatap langit-langit rumah.

__ADS_1


"Gimana tadi acaranya?"


"Alhamdulillah, lancar."


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Sebenarnya aku pengen ada di sana, tapi ya mau bagaimana lagi, masalahnya kita beda negara, kalau beda kota aja enak, aku langsung otw."


"Enggak papa, Mas. Aku ngerti kok. Aku juga yang salah ngasih kabar dadakan. Tapi yang penting kan doanya."


"Iya, kalau doa. Aku pasti gak pernah lupa doain kamu dan calon anak kita."


"Calon anak kita?" ulang Luna.


"Kalau kamu jadi pisah sama Ariel, kan aku yang akan menjadi ayah sambungnya karena aku akan daftar pertama buat nikahin kamu."


"Astaga."


"Kenapa?"


"Enggak papa,"


"Aku harap, kamu gak nolak aku nanti misal aku datang melamar."


"Aku aja belum cerai, Mas. Sudah bahas melamar."


"Ya, kan aku cuma ngomong dulu, jangan nolak aku kalau aku datang melamar."


"Ya ya ... lihat aja nanti," ujar Luna tersenyum malu.


"Kamu kapan balik ke Jakarta?"


"Besok saat Mas ke sini, nanti aku ikut Mas ke Jakarta. Enggak papa, kan aku ikut?"


"Enggak papa, aku seneng. Aku akan mengantar kamu sampai selamat."


"Tapi kan Mas di Bandung."


"Ya gak papa, nganterin kamu dulu ke Jakarta, baru Mas balik ke Bandung."


"Oh. Rencananya aku mau langsung mendaftarkan surat cerai. Dulu kan aku nikahnya di Jakarta, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya."


"Apa perlu Mas carikan pengacara?"


"Boleh, kalau Mas gak keberatan."


"Aku gak keberatan sama sekali, aku malah senang bisa bantu kamu."


"Syukurlah."

__ADS_1


Mereka terus mengobrol hingga setengah jam dan setelah itu, barulah Luna menyudahinya karena baterai hpnya sisa sedikit.


Setelah mengeces hp, Luna segera ambil wudhu untuk sholat ashar. Selesai sholat, ia memberitahu keluarganya bahwa Dion akan sampai besok pagi, takutnya mereka berharap akan datang hari ini.


__ADS_2