Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Penyesalan Itu Mulai Ada


__ADS_3

Pulang kerja, lagi-lagi Laras ada di depan resto, seakan sengaja ingin menampakkan diri di depan Ariel. Ariel yang melihat Laras berdiri di depan restorannya, hanya bisa menghela nafas. Ia gak mungkin pura-pura buta atau melewati Laras begitu saja. Tapi ya sudahlah, mungkin ini terakhir kalinya. Karena besok sepeda Laras sudah datang. Ariel juga sudah menelfon temannya dan mereka janji, jam enam pagi itu sepeda sudah di antar, bahkan sudah ada di depan rumah kontrakan Laras.


"Belum dapat taxi lagi?" tanya Ariel basa-basi.


"Belum, Mas," jawab Laras yang tersenyum malu. Tapi entah kenapa, senyuman Laras gak memberikan efek apa-apa, berbeda jika Luna yang senyum, rasanya hatinya menghangat begitu saja.


"Iya sudah, ayo ikut aku," ucap Ariel, dan Laras pun mengangguk antusias. Ia gak mau menjadi wanita yang sok jual mahal, ujung-ujungnya nyesel. Mending seperti ini saja, toh bukan dirinya yang minta, tapi Ariel yang nawarin.


Ariel dan Laras pun berada di dalam mobil, Ariel mengemudikan mobilnya dan mendengarkan musik kesukaannya. Laras pun ikut menikmati musiknya, ia emang suka musik pop gitu yang agak mellow-mellow dikit.


Saat ada yang jual terang bulan, ia jadi ingat dengan Luna. Dulu Luna sebelum nikah suka banget jajan terang bulang isi coklat dan kacang, kadang beli cilok, bakso, mie ayam, roti bakar isi coklat, dan apa saja yang di jual, pasti di beli. Namun sejak menikah, ia gak pernah lagi lihat Luna beli jajanan di pinggir jalan. Jangankan makan di pinggir jalan, bahkan Luna juga gak pernah memesan makanan padanya, bahkan setiap kali ia menawari pun, Luna akan menolaknya dengan halus.


Ia juga tak pernah lihat Luna makan lahap seperti dulu. Yang di makan, hanya roti yang rendah kalori, jus buah, jus sayur, dan nasi merah, itu pun dengan porsi yang sedikit sekali. Entah kenapa mikirin hal itu membuat dada Ariel merasa sesak.


Dirinya yang sudah buat Luna seperti itu, dirinya juga yang melarang Luna makan ini dan itu. Sedangkan dirinya bisa makan apa aja yang ia mau, sedangkan untuk Luna, Ariel benar-benar sangat membatasinya. Ia selalu menuntut kesempurnaan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Luna selama ini. Tanpa memikirkan apakah Luna nyaman dengan perlakuannya selama ini. Mengingat hal itu, entah kenapa mata Ariel mendadak perih, ia ingin menangis tapi malu karena ada Laras di sampingnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Laras. Ariel menggelengkan kepalanya, ia malas untuk menjawab pertanyaan Laras. Ariel segera berbelok ke gerobak yang jualan terang bulan itu. Lalu ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Melihat Ariel turun dari mobil, Laras pun ikut turun.


"Kamu rasa apa?" tanya Ariel tanpa basa-basi.


"A ... aku melon, Mas. Sama strawberry," jawab Laras kaget, untungnya ia langsung menangkap maksud dari pertanyaan Ariel sehingga bisa menjawabnya dengan cepat.


"Isi coklat dan kacang tiga yang ukuran jumbo, sama isi melon sama strawberry satu yang ukuran jumbo juga," ucap Ariel memberitahu. Tukang terang bulan pun langsung menganggukkan kepala. Ia mengambil dua kursi plastik agar Ariel sama Laras bisa duduk.


Ariel sibuk memainkan hpnya sendiri, ia melihat foto-foto Luna yang ada di galeri, Laras yang mengintip ke layar Hp Ariel pun hanya bisa mencebik. "Masih bersama aku aja, yang di ingat masih Luna," gerutu Laras dengan suara kecil hingga tak ada yang bisa mendengar suaranya kecuali dirinya sendiri.


Ariel emang benar-benar tak memperdulikan keberadaan Laras yang duduk di sampingnya, ia hanya fokus menatap foto istrinya itu. Tadi siang, ia sempat vidio call sama Luna bentar, karena Luna harus perawatan wajah dan tubuhnya agar selalu tampak mulus, putih dan tak ada cacat sedikitpun.


Dan Ariel pun memakluminya, karena jika Luna cantik, tentu dirinya yang senang karena Luna adalah istrinya. Ariel juga berjanji gak akan selingkuh, karena Luna sudah sempurna di matanya, cantik, dan juga penurut. Baginya, sangat rugi cowok di luar sana jika sampai sellingkuh hanya karena terjerat kecantikan wanita di luar sana. Padahal jika mereka mau, mereka bisa merawat istrinya secantik mungkin hingga tak lagi bisa berpaling.


"Mas, ini." Lamunan Ariel terbuyarkan saat mendengarkan suara tukang terang bulannya.

__ADS_1


"Berapa, Mas?" tanya Ariel.


"Seratus ribu, Mas," ucapnya. Karena memang Ariel memesan yang jumbo dan memesan empat terang bulan. Tiga terang bulan yang rasa coklat ama kacang, dan satu terangbulan milik Laras, rasa melon dan strawberry.


Ariel memberikan uang seratus ribu yang ia ambil dari dompetnya. "Makasih ya, Mas."


"Sama-sama."


Dan setelah itu, Ariel dan Laras pun masuk ke dalam mobil. "Ini buat kamu," ujar Ariel sambil memberikan terang bulan milik Laras.


"Terima kasih, Mas."


"Hm."


Setelah itu, Ariel menaruh terang bulan milik luna di atas dashboardnya. Lalu ia pun mulai menghidupkan mobilnya dan membelah jalanan untuk mengantarkan Laras ke kontrakannya sebelum akhirnya ia pulang menuju rumahnya sendiri.


Laras sendiri pun merasa senang, walaupun terlihat sepele, tapi entah kenapa Laras sangat bahagia sekali. Ia seperti di antar jemput, lalu di beliin terang bulan, besok di belikan sepeda motor. Cewek mana yang gak klepek-klepek jika di perhatikan seperti ini. Belum apa-apa, Ariel sudah begitu perhatian, bagaimana jika dirinya jadi pacar, apalagi istri.


"Kenapa kamu?" tanya Ariel melihat Laras menggeleng-gelengkan kepalanya.


"'Enggak papa, Mas. Hanya sedikti pusing aja," bohongnya.


"Mau beli obat di apotek?" tanyanya.


"Enggak usah, Mas. Lagian mana ada apotek buka jam segini."


"Ada kok, yang dua puluh empat jam. Kita beli dulu ya obatnya, nanti bisa kamu minum setelah mau tidur, biar gak pusing lagi," ujar Ariel. Dan Laras pun hanya bisa mengangguk pasrah.


Bagaimana mungkin Laras gak klepek-klepek jika Ariel memperlakukan dirinya seperti ini. Perhatian Ariel benar-benar membuat dirinya seperti terbang di atas awan. Rasanya sangat menyenangkan sekali.


Sedangkan Ariel melakukan itu, hanya karena Laras itu sahabat istrinya aja. Dan ia gak mau Luna sedih jika tau sahabatnya sakit. Tidak ada alasan yang lebih dari itu.

__ADS_1


Namun sayangnya, Ariel gak sadar, jika sikapnya yang perhatian itu, bisa menumbuhkan rasa cinta di hati Laras dan bisa jadi itiu akan jadi bomerang untuk dirinya sendiri suatu saat nanti, jika sikapnya terus seperti itu.


Sesampai di apotek, Ariel menyuruh Laras tetap berada di dalam mobil. Sedangkan Ariel ia keluar membeli obat dan juga membeli sebotol air mineral. Lalu ia kembali ke mobil dan memberikan itu kepada Laras.


"Ini obat dan airnya. Nanti makan terang bulannya dulu, baru minum obat terus tidur," ujar Ariel dan Laras pun mengangguk patuh. Melihat hal itu, Ariel hanya geleng-geleng kepala.


Saat Ariel fokus menyetir, hpnya berbunyi ternyata Luna menelpon. Ariel pun memakai headset bluetooth, agar suara Luna tidak terdengar oleh Laras.


"Assalamualaikum, Sayang," sapa Ariel lebih dulu.


"Waalaikumslam, Mas ada di mana, kok belum pulang?" tanyanya dari seberang sana.


"Aku sudah dalam perjalanan pulang kok, ntar lagi sampai," sahut Ariel.


"Oh, aku fikir masih ada di resto. Ya sudah hati-hati di jalan ya."


"Iya, Sayang. I love you." tutur Ariel


"Too." jawab Luna singkat, membuat Ariel cemberut karena ia merasa Luna gak mencintai dirinya seperti dirinya yang mencintai Luna. Entah kenapa ia kesal jika Luna seakan cuek padanya.


"Kenapa, Mas?" tanya Laras melihat wajah Ariel yang cemberut.


"Enggak papa," jawab Ariel, karena ia malas untuk menceritakan apa yang ia rasakan pada Laras.


Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di depan kontrakan Laras.


"Makasih ya, Mas."


"Ya sama-sama," balas Ariel tak ada senyuman di sana.


"Hati-hati," ujar Laras sambil mengambil terang bulannya, obat dan sebotol air yang Ariel belikan untuknya.

__ADS_1


Ariel hanya menganggukkan kepala, lalu ia melajutkan mobilnya ke rumahnya yang tak jauh dari sana.


__ADS_2