Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Melewati Masa Kritis


__ADS_3

Saat mereka pada diam, tiba-tiba dokter berlarian keluar untuk mengambil dua kantong darah. Saat dokter mau masuk kembali, barulah Ardi langsung menghentikannya.


"Dok, bagaimana keadaan menantu dan cucu saya?" tanyanya.


"Kondisinya cukup kritis, Pak. Ibu Luna mengalami pendarahaan yang cukup serius." sahutnya dan saat ia ingin masuk lagi, Ardi masih menahannya.


"Bisakah jika putra saya masuk, Dok. Dia suaminya." pintanya memohon, sambil menunjuk ke arah Ariel.


"Tapi di dalam sudah ada suami dari pasien, Pak," tuturnya merasa heran, di saat genting seperti ini, masih ada yang mau lelucon.


"Itu bukan suaminya, Dok. Itu calon suami barunya. Saat ini, yang masih sah jadi suaminya itu putraku dan dia adalah ayah dari anak yang di kandung oleh manantuku," ucapnya menjelaskan.


"Bapak kalau mau bercanda, jangan di sini," omelnya kesal dan langsung masuk ke dalam, tak lupa menutup pintu rapat-rapat. Dokter itu kesal karena ada yang mengaku-ngaku di saat kondisi darurat seperti ini. Sudah jelas dari tadi ia melihat pasiennya sama suaminya itu sangat kompak dan saling support. Ia juga melihat mereka seperti saling menyayangi satu sama lain. Lalu gak mungkin, kan. Mereka yang terlihat romantis itu, merupakan istri orang dan selingkuhannya.

__ADS_1


Dokter itu langsung memberikan dua kantong darah ke dokter lainnya, namun sayangnnya beberapa detik kemudian, Luna yang emang sudah pingsan sedari tadi mengalami kejang-kejang.


"Ini sebenarnya kenapa? Apa yang salah? Saat di cek semuanya baik-baik aja, tapi kenapa Luna malah mengalami pendarahaan dan kejang-kejang seperti ini." tutur dokter yang merasa ini tidak masuk akal sama sekali.


Dokter yang tadi mengobrol dengan Ardi, langsung menatap ke arah Dion.


"Maaf, saya mau nanya, apakah Bapak adalah suaminya?" tanya dokter itu pelan. Membuat dokter yang lain merasa heran, jelas jelas, mereka itu sepasang suami istri karena memanggil sayang dari tadi. Kenapa masih di pertannyakan.


Dion ingin menjawab iya, tapi ia tidak mau berbohong.


"Ya Allah. Jadi benar, suami pasien yang sebenarnya itu ada di luar," ujarnya merasa menyesal karena tidak mempercayai bapak bapak tadi.


Yang lain pun merasa terkejut, tak menyangka jika pada akhirnya yang menemani dari awal, bukanlah suaminya melainkan selingkuhannya.

__ADS_1


Akhirnya dokter itu pun meminta Dion keluar dari sana, dan menyuruh Ariel masuk ke dalam.


Ariel yang melihat kondisi Luna pun menitikkan air mata. Dengan susah payah, ia menggenggam tangan Luna. Sungguh kekuatan cinta itu nyata adanya. Ariel yang hanya mengalami kemajuan dengan mengedipkan mata dan menggelengkan kepalanya, tapi kini sudah mengerti yang terjadi di sekitarnya.


Ia tahu, jika saat ini Luna tengah berjuang antara hidup dan mati.


"Istriku, kamu harus kuat. Aku menyayangi kamu. Maafin aku sudah menyakiti kamu selama ini. Maaf tidak ada di saat kamu membutuhkan aku. Saat ini aku ada di sini, sesuai yang kamu mau. Bukankah kamu ingin aku yang menemani kamu saat kamu melahirkan. Sekarang aku ada di sini, dan ayo kita berjuang bersama." Ariel hanya mengucapkan kata itu dalam hati, karena ia susah sekali untuk bicara. Namun air mata terus mengalir membuat dokter dokter di sana ikut terbawa suasana, namun mereka tak mungkin fokus terhadap Ariel dan luna. Mereka harus menyelamatkan Luna sedangkan bayi mereka sudah lahir dari tadi sebelumm pendarahan itu, hanya saja kondisinya sangat kritis sekali karena terlalu lama menyangkut di leher rahim.


"Tuhan, ampuni dosa dosaku, dan dosa istriku. Ampuni semua kesalahan dan kekhilafan kami. Ampuni kami ya Rabb, dan biarkan istriku sehat kembali agar dia bisa merawat anak kami. Bagaimanapun anak kami sangat membutuhkan dia sebagai sosok ibunya. Biarkan rasa sakit itu, aku yang mengalaminya, tapi jangan istriku. Dia sudah terlalu lelah dengan semua rasa sakit yang ia alami selama ini, biarkan kini aku yang ambil alih rasa sakit itu." Ariel terus menangis. Sedangkan Luna, dia sudah berhenti kejang-kejang dan pendarahan juga mulai berhenti.


Entah apa karena yang kini menemani dan mendampinginya adalah suami sahnya, sehingga Luna bisa melewati masa kritisnya atau karena memang keajaiban Tuhan.


Setelah memastikan kondisi Luna baik-baik aja, Ariel pun bernafas lega. Hanya saja, Luna yang terlalu lelah membuat dirinya masih belum bisa sadarkan diri.

__ADS_1


Semua dokter pun bisa bernafas lega, andai tau dari awal, jika Ariel lah yang merupakan suami sahnya, mungkin dari awal pula mereka meminta Ariel yang menemani istrinya, dan mungkin kejadian ini gak akan terjadi.


Karena bisa jadi, Luna yang mengalami kesusahaan saat proses kelahiran berlangsung, ada campur tangan Ariel di dalamnya. Bisa jadi ia gak ridho, sehingga Tuhan mempersulit proses kelahirannya.


__ADS_2