
Keesokan harinya, setelah menginap semalam di rumah Bunda Naira. Dion dan orang tuanya pun pamit pulang, namun sebelum pulang, Dion mengambil uang cash cukup banyak, dimana Dion memberikan siang seratus juta untuk ia berikan buat Bunda Naira, sepuluh juta buat Lintang, dan buat saudara mereka satu jutaan, bua tetangga mereka kanan, kiri, depa, belakang, satu jutaan.
Sengaja Dion menghambur-hamburkan uang itu, buat mereka karena tidak ada yang bisa Dion berikan selain itu. Sekalian, Dion juga menitipkan Bunda Naira dan Lintang kepada semua orang yang kumpul di sana.
Sekarang Ayah Lukman sudah tiada, tidak ada kepala rumah tangga yang biasanya menjaga dan melindungi mereka. Jadi, Dion berharap dengan apa yang ia beri, mereka semua mau menjaga, melindungi dan membantu misal Bunda Naira atau Lintang berada dalam kesulitan.
Setelah berbasa-basi kesana-kemari, akhirnya Dion pun pulang bersama kedua orangtuanya.
Sedangkan Luna, ia sudah selesai semua dengan pekerjaannya dan menuju pulang. Ia sudah gak sabar untuk bertemu sang suami, ia ingin minta maaf karena sudah tidak menghubunginya akhir-akhir ini. Tapi sekarang, semua masalah sudah terselesaikan. Dan ia bisa fokus melayani suaminya lagi, karena ia pastikan setelah ini, resto akan kembali maju dan berkembang. Dan seperti biasa, ia akan menitipkannya kepada Anggi, sedangkan dirinya cukup memantaunya dari jarak jauh.
__ADS_1
Akhirnya setelah siang malam, ia berjuang. Setelah rasa lelah yang mendera sekujur tubuhnya, setelah ia di buat pusing tujuh keliling, setelah dirinya hampir di buat putus asa. Namun nyatanya, Allah masih mau membantunya sekali lagi, Allah masih mau memberikan kesempatan agar resto itu kembali maju dan tidak jadi gulung tikar.
Walaupun rasanya tubuhnya terasa sakit semua, namun Luna tidak menghiraukannya. Ia ingin segera pulang, mengecas hpnya dan setelah itu menelfon sang suami. Ia tak sabar untuk mendengar suara suaminya yang akhir-akhir ini sudah tidak lagi ia dengar.
Sedangkan di tempat yang berbeda, setelah kepulangan Dion dan orang tuanya. Bunda Naira kembali diam dan mengurung diri di kamar. Walaupun dirinya berkata ikhlas pada semua orang, namun nyatanya itu tidaklah mudah. Ada sebagian hatinya, yang masih belum mau menerima takdir yang datang padanya. Ia masih belum percaya dan berharap jika ini adalah mimpi.
Lintang sendiri, ia hanya diam memikirkan masalah Luna. Ia masih belum menyangka jika saudaranya itu telah di butakan oleh duniawi hingga lupa apa yang harus ia utamakan
Dirinya emang cinta duniawi juga, tapi tidak sampai lalai akan kewajibannya. Tapi Luna, ia bahkan bisa di katakan sudah gagal menjadi seorang istri dan seorang Ibu
__ADS_1
"Jika Ayah masih ada, mungkin Mbak Luna bisa di ceramahi panjang lebar karena sudah mengabaikan suaminya. Tapi sayang, Ayah sudah gak ada.
Ayah, baru kemaren, Ayah pergi. Tapi rasanya aku sudah kangen sekali sama Ayah. Kenapa Ayah pergi secepat ini. Sebenarnya apa yang terjadi sama Ayah, sampai Ayah terkena serangan jantung?
Ayah, aku sejujurnya belum menerima kepergian Ayah, rasanya ini seperti mimpi. Begitu cepat keadaan memutarkan balikkan kehidupan ini. Padahal sebelum tidur, Ayah masih baik-baik aja, masih bisa bercanda, tapi kenapa paginya Ayah sudah tiada.
Ayah bahkan sebelumnya gak ada tanda-tanda sakit, Ayah sangat sehat segar bugar, tapi kenapa Ayah? Kenapa Ayah terkena serangan jantung mendadak? Bagaimana ini bisa terjadi?" banyak hal yang di fikirkan oleh Lintang, sampai detik ini ia masih belum tau apa yang terjadi sebenarnya, jadi ia belum mengerti apa yang menyebabkan Ayahnya hingga berakhir menurup mata selamanya.
Mungkin jika dia tau, tak menutup kemungkinan ia akan membenci Luna dan Dion karena menjadi penyebab Ayahnya meninggal
__ADS_1