
Seminggu sudah Noah ada di Dubai, dan nanti sore, ia akan kembali ke Indonesia. Sebelum pulang, Ariel mengajak Noah jalan-jalan, kapan lagi mereka bisa bercengkrama seperti ini lagi.. Sedangkan Ariel sendiri belum tau kapan, ia akan pulang. Sedangkan Noah, ia juga tidak bisa setiap hari pergi ke Dubai. Selain harus menyiapkan ongkos yang banyak, pekerjaannya di Indonesia pun juga tidak bisa ditinggal terlalu lama.
"Kamu gak kangen sama putrimu?" tanyanya.
"Kangen, sangat kangen. Tapi aku gak mau ganggu hubungan Luna dan Dion. Terlebih aku belum siap jika harus lihat Luna jadi milik pria lain," ucap Ariel tersenyum pahit
"Hemm ... aku juga sudah lama tidak komunikasi dengannya. Bahkan yang berkaitan dengan Luna, semuanya aku hapus. Termasuk nomor Bibik Imah dan Bibi Neni. Bukan di hapus sih, lebih tepatnya tak blok."
"Kenapa?" tanya Ariel sambil menoleh ke arah Noah.
"Ya gak papa. Aku cuma gak ingin ada hubungan dengan mereka lagi."
"Hemm ... kamu gak kangen, pengen lihat keponakanmu?" tanyanya.
"Kangen sih sebenernya, tapi males mau ke sana."
"Putriku cantik banget sekarang."
"Emang kamu tau wajahnya seperti apa?"
Ariel menganggukkan kepalanya. "Aku tau. Setiap hari Luna akan mengirim foto Diana ke emailku. Bahkan sehari tiga kali, kadang bisa lebih."
"Wah benarkah? Coba kulihat."
__ADS_1
Ariel memberikan hpnya ke Noah.
"Namanya Diana Ariella Alfarizy?" tanya Noah.
"Ya, namanya cantik kan?"
"Cantik sih, cuma kenapa harus Diana. Itu artinya Dion dan Luna, kan?" tanyanya.
"Enggak papa kok. Aku ikhlas. Yang penting setelahnya ada namaku dan nama keluarga besar kita. Itu aja aku udah seneng banget. Lagian kan, Dion ayah sambung putriku. Wajar jika Diana juga memakai singkatan dia dan Luna."
"Kamu gak cemburu?"
"Bohong jika aku gak cemburu. Tapi aku belajar untuk ikhlas."
"Kamu sejak kapan tau kalau Luna sering ngirim foto Diana ke email kamu?"
"Lalu kamu balas?"
"Enggaklah. Aku gak mau ganggu hubungan Luna sama Dion. Kamu tau kan, dulu hubungan aku hancur karena orang ketiga. Dan aku gak mau, rumah tangga Luna dan Dion hancur gara-gara orang ketiga. Terlebih orangnya itu aku. Aku gak mau merusak kebahagiaan Luna."
"Tapi kamu yakin mereka sudah menikah?"
"Ya, bukannya mereka yang bilang, akan menikah jika Luna sudah selesai masa iddah. Lagian Luna sangat mencintai Dion, begitupun sebaliknya. Jadi gak ada halangan buat mereka untuk tidak bersatu."
__ADS_1
"Kamu sendiri, kenapa gak nikah juga?"
"Enggak mudah melupakan semuanya begitu saja. Aku masih trauma dengan pernikahan. Lagian hidup seperti ini sangat menyenangkan."
"Kamu mau jadi duda selamanya?"
"Enggak tau, lihat nanti aja. Biar Allah aja yang nentukan masa depan aku bagaimana. Aku pasrah aja."
"Kamu gak ingin lihat putrimu secara langsung? Kamu gak merindukannya?"
"Mana ada seorang Ayah yang tidak merindukan putrinya? Aku rindu, rindu setengah mati. Tapi aku bisa apa? Aku gak mau jadi duri dalam rumah tangga mantan istriku. Hhhh bilang mantan aja, rasanya berat. Kadang aku masih belum percaya, jika Luna bukan lagi istriku."
"Lalu kamu gak ingat dengan Laras. Mungkin Laras juga sudah melahirkan?"
"Aku ingat, sangat ingat. Tapi aku masih belum siap bertemu Laras. Setiap kali ingat Laras, hatiku bergemuruh. Aku selalu menyayangkan kenapa Laras hadir dalam hidup aku. Untuk itu, aku tidak bisa menemuinya dalam waktu dekat. Tapi suatu saat aku pasti akan datang pada mereka. Bukan untuk menikahinya, melainkan untuk bertemu dengan anakku. Aku juga mengirim uang ke rekening Laras tiap bulannya. Jadi, aku rasa itu sudah cukup."
Ariel emang belum tau apa yang terjadi sama Laras sebenarnya, dan ia menganggap jika Laras baik-baik aja bersama keluarganya.
"Iya sudah, jika emang itu keputusan kamu. Aku bisa apa. Tapi aku harap, kamu jangan lama-lama di sini, susah kalau aku kangen."
"Ck ... kamu aja selalu vc aku. Apanya yang kangen.
"Haha iya juga ya."
__ADS_1
Mereka pun terus mengobrol, karena setelah ini, mereka pasti akan kesulitan untuk bertemu dan ngobrol secara langsung seperti ini.
Jadi sebelum Noah pulang ke Indonesia. Ariel ingin benar-benar memanfaatkan kebersamaan mereka berdua.