
Malam harinya, sehabis sholat magrib. Luna mengajak Bibi Imah untuk pergi ke rumah Laras dengan jalan kaki, soalnya Dion sudah pulang jam lima sore tadi. Bibi Neni gak di ajak karena takut Ariel pulang dan di rumah gak ada orang. Jadi Bibi Neni pun tetap diam di rumah, dan hanya Luna dan Bibi Imah saja yang pergi.
"Non Luna capek?" tanya Bi Imah karena sedari tadi, Luna hanya diam saja.
"Enggak, Bi. Bibi Imah capek?" tanya Luna balek.
"Enggak, Non."
"Nanti pulangnya beli Es kelapa ya, Bi. Sama bakso beranak jumbo, tapi makan di rumah aja sama Bibi Neni, kasihan kalau Bibi Neni makan sendirian."
"Iya, Non. Oh ya, Non. Kunci kontrakan masih di pegang Non Luna kan?"
"Masih, Bi. Kenapa?"
"Gimana kalau Non masang kamera di rumah kontrakan Non Laras?"
"Apa itu gak keterlaluan, Bi. Kok kesannya Laras itu penjahat ya, Bi."
"Iya juga sih, Non."
"Mungkin nanti aja, Bi. Misal aku menemukan gelagat yang aneh, baru aku pakai. Makasih ya Bi, idenya. Karena jujur aku gak kefikiran ke sana," ucap Luna sambil terssenyum ke Bibi Imah. "Tapi aku akan tetap beli untuk aku pasang di mobil Mas Ariel, bukan hanya CCTV tapi juga perekam suara," gumam Luna dalam hati.
Jalan kaki di malam hari gini, membuat Luna dan Bibi Imah cukup menikmatinya, walaupun sedikit sepi tapi hawa dingin tidak membuat mereka ampai kemigil. Malah mereka merasa fress karena udara yang menerpa tubuh mereka.
__ADS_1
"Bibi gak nelfon keluarga Bibi di kampung?"
"Sudah, Non. Tadi siang Bibi nelfon mereka. Bukan hanya nelfon tapi vidio call," jawab Bibi Imah tersenyum saat mengingat wajah ceria mereka. Bahkan Bibi Imah vidio call hampir dua jam lamanya, karena tadi siang, Bibi gak masak siang, karena makanan yang tadi pagi masih ada. Sedangkan Luna dan Dion makan di restoran, jadinya Bibi Imah dan Bibi Neni makan yang tadi pagi. Jadinya Bibi Imah cukup santai, ia juga membantu pekerjaan Bibi Neni sehingga pekerjaan Bibi Neni pun juga cepat selesai berkat Bibi Imah.
"Gimana kabar keluarga Bibi?" tanya Luna
"Alhamdulillah, Non. Mereka semua baik."
"Syukurlah, kalau Bibi kangen sama mereka dan ingin pulang. Gak papa, izin aja. Aku pasti ngizinin Bibi pulang."
"Enggak deh, Non. Kapan-kapan aja pulangnya, lagian Bibi sudah puas kok vidio call sama mereka hampir tiap hari, bahkan chatan sama mereka semua."
"Oh, aku sebenarnya pengen pulang Bi. Kangen keluarga di kampung."
"Kenapa Non gak pulang, mumpung Tuan Ariel memberikan Non Luna kebebasan, iya kan."
"Iya, Non."
Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan rumah kontrakan Laras, tapi lagi-lagi rumah itu tertutup rapat, bahkan lampu pun tak di hidupkan.
"Kayaknya Non Laras belum pulang ya, Non."
"Iya, Bi. Kira-kira kemana ya?"
__ADS_1
"Hpnya masih belum aktiv, Non."
"Belum, Bi."
"Punya Tuan Ariel juga?"
"Iya, Bi. Punya Mas Ariel juga gak aktiv sejak tadi siang."
"Kemana ya mereka?"
"Entahlah, Bi. Iya sudah ayo pulang, Bi. Percuma juga di sini, kalau Laras gak ada."
"Iya, Non."
Akhirnya mereka pun pulang, hati dan perasaan Luna semakin tak menentu, begitupun dengan Bibi Imah. Sepanjang jalan, mereka saling diam, tak ada yang bicara seakan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Bi, beli es kelapa dan bakso dulu," ujar Luna setelah lama saling diam.
"Iya, Non," Bibi Imah tak banyak bicara seperti saat berangkat tadi, karena ia tau hati majikannya itu sedang tidak baik-baik saja.
Mereka berjalan ke arah angkringan, "Pak es kelapanya ya tiga, sama Bakso jumbo beranak tiga, bumbunya di pisah," ucap Luna sambil duduk di kursi plastik begitupun dengan Bibi Imah.
"Di bungkus semua, Mbak," tuturnya.
__ADS_1
"Iya, Pak."
Sambil menunggu, Luna memainkan hpnya mencoba untuk menelfon dan mengirim pesan kepada Ariel dan juga Laras. Sungguh, Luna berharap, mereka tidak berada di satu tempat yang sama. Luna berharap, Laras pergi karena ada kepentingan lain, begitupun dengan Ariel. Luna berusaha untuk berfikir positif walaupun nyatanya, fikiran negatif lebih dominan menguasai fikirannya.