
Selama tinggal dengan Luna, Diana lebih banyak diam. Ia bahkan gak sholat lagi karena memang Luna tidak tau, jika sebenarnya Diana sudah di ajari sholat sejak dini oleh Ariel. Luna hanya sholat berdua dengan Dion, sedangkan Diana, saat waktunya sholat shubuh, tidak di bangunin. Dan bahkan waktunya sholat dhuhur, ashar, maghrib dan isya pun di biarin nonton tivi, kadang lihat youtube di hp biar diem dan tidak rewel.
Pola asuh Luna dan Ariel jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Luna sendiri juga tidak tau karena memang Ariel tidak memberitahu hal itu. Diana sendiri tidak sholat, karena memang dia tidak akan sholat kalau gak di ajak, atau tidak di ingatkan, anak kecil usia dua tahun mana ngerti kapan waktu sholat. Bahkan dia aja cuma ngikutin gerakan Ariel selama ini. Namun Diana selalu konsisten dan tidak pernah bolong. Setiap kali Ariel sholat, Diana pasti ada di sampingnya dan ikutan sholat.
Selama tiga hari ini, Diana lebih sering diam di rumah menemani Luna. Mereka tidak jalan-jalan layaknya saat Diana bersama dengan Ariel.
Sebenarnya Luna ingin mengajak Diana ke taman, atau ke Mall atau ke tempat bermain untuk anak-anak, hanya saja Dion melarang karena Luna yang tengah hamil besar, bahkan Luna juga tidak di izinkan keluar sendirian karena takut jika Luna kenapa-napa. Bukan melarang, tapi Dion takut misal terjadi apa-apa dengan kandungannya.
Dion sangat menjaga Luna dan anak yang kini masih ada dalam kandungan Luna.
Alhasil, Luna gak bisa berbuat apa-apa. Selain hanya bisa diam dan menemani putrinya di rumah. Tapi jika malam hari, jika Dion gak capek. Dion akan mengajak Luna dan Diana jalan-jalan sekedar kulineran dan keliling kota.
Walaupun sudah berhari-hari tinggal bersama mereka, namun Dion dan Diana belum juga akrab, Diana juga mendadak bisu, dan lebih sering menganggukkan kepala atau menggelengkan kepalanya. Diana seperti merasa takut berada di tempat yang tidak ia kenali.
Apalagi tidak ada Ariel di sampingnya, walaupun Luna Mama kandungnya, tapi mungkin karena lama tidak ketemu, jadinya Diana merasa LUna seperti orang asing baginya. Walaupun saat di apartemen Ariel, Diana dan Luna tampak akrab, itu karena ada Ariel jadi Diana merasa aman, mengobrol dengan Luna. Tapi saat Ariel gak ada, Diana merasa dia seperti harus melindungi dirinya sendiri dari orang lain.
Entahlah, mungkin dia emang anak kecil, tapi ada kalanya dia emang merasa takut dan was was terhadap orang sekitar kecuali dengan Ariel, seorang.
"Diana mau maem apa, Nak?" tanya Luna.
Diana hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Kenapa? Hemm? Kok dari kemaren diam terus?" tanya Luna dengan lembut.
Diana tidak menjawabnya dan hanya memilih diam melihat hp. Mungkin jika Ariel tau, dia akan marah besar membiarkan Diana main hp siang malam.
Anak kalau sudah kecanduan Hp, selain bisa merusak mata, juga bikin ketagihan. Kalau sudah ketagihan, akhirnya malah ingin main hp terus, malas sholat, malas belajar dan malas untuk melakukan hal hal yang positif. Inginnya main hp terus, dan itu yang tidak di sukai oleh Ariel. Bahkan Ariel aja, main hp saat Diana tidur. Jika tidak, jangan harap ia akan megang hp sampai waktu lama kecuali dalam keadaaan darurat. Itu pun misal darurat, Ariel hanya megang sebentar saja, hanya hitungan detik.
Ariel berusaha untuk menjadi orang tua terbaik buat putrinya.
"Diana kangen Papa Ariel?" tanya Luna pelan.
Kali ini, Diana menganggukkan kepalanya.
Melihat hal itu, Luna tersenyum miris. Melihat putrinya yang seakan tidak betah tinggal bersamanya, membuat hati Luna terluka. Sebagai seorang Ibu yang sudah melahirkan Diana, dirinya seakan merasa gagal karena tidak bisa mengambil hati putrinya sendiri.
__ADS_1
"Kita telfon Papa ya, mau?" tanyanya dan Diana menganggukkan kepalanya lagi.
Setelah itu, Luna mengambil hpnya dari tangan Diana dan vidio call Ariel.
Tak lama kemudian, telfon pun terhubung.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, Lun. Diana mana?" tanyanya, yah Ariel sudah dari kemaren menunggu telfon dari Luna karena perasaannya yang gelisah terus sedari kemaren.
" Ada di samping aku," ucap Luna sambil memberikan hpnya pada Diana.
"Papa," panggil Diana dengan air mata yang sudah berembes.
"Kenapa, Nak? Diana kenapa, kok nangis?" tanya Ariel berusaha tampak biasa aja, padahal hatinya gemuruh, Diana jarang menangis, bahkan dia hampir tidak pernah menangis saat bersama dengan dirinya. Tapi kenapa, kenapa sekarang ia melihat Diana menangis saat berjauhan dengannya. Hati Ariel rasanya begitu sesak melihat wajah cantik putrinya yang kini memerah. Ingin rasanya ia berlari dan memeluknya saat ini juga.
"Papa, ulang," tuturnya dengan wajah serak, sedangkan air mata terus bercucuran. Luna yang melihatnya pun begitu sesak, tak percaya jika Diana seperti ini karena tidak betah tinggal bersama denganya.
"Iya, Papa jemput kamu sekarang ya. Jangan nangis lagi ya, Sayang. Papa jemput sekarang, okey," tuturnya dengan lemut. Walaupun perjanjiannya seminggu, tapi Ariel sudah gak peduli. Ia akan jemput Diana sekarang juga Ia tak akan biarkan Diana terus tertekan berada di tempat Luna.
"Iya, Papa janji. Tapi Diana gak boleh nangis lagi, okay."
"Iya. Epetan ya Pa. Iana angen," ujarnya lagi sambil menghapus air matanya.
"Iya, Papa akan cepet ke sana. Iya sudah Papa matikan dulu ya, Nak. Papa akan segera jemput Diana sekarang."
"Iya, Papa."
"Assalamualaikum."
"Alam." tutur Diana yang masih belum bisa menjawab dengan benar.
Setelah itu, Diana memberikan hpnya pada Luna. Ia kini mulai tampak ceria, ia tak sabar menunggu papanya datang untuk menjemput dirinya.
Sedangkan Luna hanya tersenyum miris, dirinya yang dulu mengandung Diana sembilan bulan, dia yang berjuang sendirian, bahkan di saat dirinya hamil pun, dirinya mendapatkan cobaaan yang sangat luar biasa dari Papanya Diana. Mendapatkan ujian yang bertubi-tubi, dan ia bahkan hampir mati karena melahirkan Diana.
__ADS_1
Tapi sekarang, wajah Diana mirip Papanya, dan kini Diana pun juga lebih dekat dengan Papanya. Entah kenapa, Diana merasa ini tidak adil baginya.
Kenapa? Kenapa harus Ariel yang bisa merebut hati putrinya, kenapa bukan dirinya?
Padahal Ariel gak ada, waktu dirinya hamil, dia bahkan gak ada, saat dirinya ngidam. Dia gak ada, saat kakinya bengkak karena usia kehamilannya semakin membesar.
Ariel hanya bisa menyumbang sper_ma, hanya itu. Selebihnya, dirinyalah yang berjuang sampai Diana lahir ke dunia.
Di saat Luna galau memikirkan Diana, berbeda dengan Ariel, kini ia tengah pergi untuk menjemput Diana. Ariel juga sudah menitipkan Dania pada Noah, karena ia tak mungkin membawa Dania ke sana. Takutnya nanti malah rewel di jalan, apalagi Dania terlihat mengantuk sekali, setelah habis main dari pantai.
Dania mungkin kelelahan dan sekarang butuh istirahat.
Sepanjang jalan, Ariel terus konsentrasi menyetir agar tidak samapi mencelakai orang lain atau pun dirinya sendiri, ia menggunakan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di tempat Luna. Luna juga udah mengirim lokasinya hingga memudahkan Ariel bisa sampai tujuan tanpa harus kebingungan cari alamatnya.
Sedangkan Diana, ia kini tengah menunggu di depan pintu. Bahkan Diana menolak saat Luna meminta Diana masuk ke dalam.
"Diana, nunggu di dalam ayo Nak." ajak Luna dan Diana menggelengkan kepalanya. Ia hanya ingin menunggu papanya, hanya itu.
Karena tak mau, akhirnya Luna ikut ikutan duduk di kursi yang ada di depan rumahnya untuk menemani Diana. Ia mana tega membiarkan Diana duduk sendirian seperti orang susah.
Diana seperti sudah mengantuk, karena memang ini sudah siang, namun Diana berusaha tahan menunggu Ariel datang.
"Bobok di dalam yuk," ajak Luna sekali lagi dan Diana tetap menolaknya.
Setelah hampir tiga jam menunggu, akhirnya Ariel pun tiba juga. Ariel segera keluar dari dalam mobil, dan melihat Ariel datang, Diana langsung berlari menghampiri Papanya.
Ariel juga langsung menangkap tubuh putrinya itu dan memeluknya dengan erat, ia memberikan banyak ciuman di wajah Diana. Walaupun cuma beberapa hari gak ketemu, tapi rasanya sudah seperti bertahun tahun lamanya, waktu seakan begitu lambat sampai ARiel bahkan tidak mampu untuk menunggu lebih lama lagi.
"Papa, angen," ucap Diana sambil menangis lagi.
"Papa juga kangen, Sayang. Maafin Papa ya, Nak. Maaf sudah jauh dari kamu," ucapnya meminta maaf. Diana menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua berpelukan dan melupakan Luna yang menatap iri ke arah mereka.
Andai dirinya masih istrinya Ariel, mungkin dirinya juga bisa ikutan pelukan bareng mereka, bukan hanya jadi penonton seperti ini.
__ADS_1